Selasa, 11 Maret 2008

BAGIAN 7 - TUGAS BARU

“Narapati, ternyata kita juga adalah Narapati.” Raji melompat-lompat tidak tentu arah. Dimas memandang sahabatnya. Ada perasaan ikut gembira ada juga cemas. Narapati yang dikenalnya adalah Narapati 15.000 tahun lalu. Sekarang Narapati sudah tinggal di dunia tengah. Dunia yang amat berbeda dengan yang sekarang dijalaninya. Ada harapan dia akan bisa bertemu kembali dengan kedua orang tuanya. Tapi pertanyaan besar kemudian timbul dalam pikiran Dimas. Bagaimana mereka bisa terdampar begitu jauh di asrama ? Di dunia manusia. Pertanyaan itu masih disimpannya sendiri. Dimas tidak mau mengganggu kegembiraan Raji. Ruang bangsal sepi. Kebanyakan anak-anak sudah pergi ke ruang makan. Hanya tinggal Dimas dan Raji.

“Ayo kita makan dulu!”

Raji menyusul Dimas yang sudah keluar dari bangsal. Makanan malam ini sepertinya kalah menarik dengan berita Narapati. Raji seperti kelihangan jurus sapu jagatnya. Tangannya menyendok dengan gaya yang aneh. Pafi sebal sekali melihatnya.

“Kau ini kenapa sih, gayamu menyebalkan sekali.”

“Aku sedang membiasakan diri menjadi seorang…..” Tangan Dimas segera menutup mulut Raji yang nyaris saja membuat semua janji mereka dengan pak Narso pecah.

“Kau harus hati-hati Raji, jangan terlalu berlebihan menunjukannya di tempat umum.” Dimas melepaskan tangannya dari mulut Raji.

“Eh..maafkan aku.”

Beberapa pasang mata memperhatian kejadian itu. Mbok Sinem tersenyum melihatnya. Drama tidak berlanjut panjang. Semuanya sibuk kembali dengan makanannya.

Di ruang makan sekarang sudah ada kebiasaan baru, mencuci piring masing-masing setelah makan. Semua bermula dari ulah Dimas menghipnotis Aryo dan gengnya mencuci piring mereka sendiri setelah makan beberapa waktu yang lalu. Malam ini pun kebiasaan baru itu masih berlangsung. Nyai Janis sangat senang dengan perubahan baik itu. Setelah semua anak selesai mencuci, Nyai Janis meminta semuanya untuk tetap berada di meja makan.

“Dengarkan baik-baik besok kita semua akan menghadiri upacara penobatan Raja di keraton. Jadi berpakaian yang bagus-bagus. Sekolah diliburkan selama sehari”

Semua anak-anak bersorak-sorai gembira. Penobatan Raja bukan hal yang terjadi setiap tahun. Ini kesempatan langka yang tidak semua orang bisa berada pada waktu yang sama.

“Tumben sekali Nyai Janis baik begini” Raji masih tidak percaya. Dari dulu dia sangat tidak percaya kalau orang bule seperti Nyai Janis tertarik dengan kebudayaan Jawa. Mereka lebih tertarik mengeruk harta tanah ini.

“Kau salah Raji, Nyai Janis selalu memperhatikan pengetahuan kita tentang budaya kita sendiri. Kita tidak akan diajak melihat upacara larung di pantai Parang Kusumo kalau dia tidak peduli.” Dimas baru kali ini membela Nyai Janis. Itu cukup mengherankan Raji dan Pafi. Tapi apa yang dikatakan Dimas memang ada benarnya.

“Aku setuju denganmu Dimas. Lagi pula Nyai Janis pasti tahu kalau penobatan Raja bukan sesuatu yang terjadi setiap tahun. Ini kesempatan langka seumur hidup. Tentu dia tidak mau peristiwa ini disia-siakan begitu saja.” Kata Pafi. Sepertinya mulai ada perubahan pandangan terhadap Nyai Janis. Raji masih agak kurang suka dengan perubahan itu. Nyai Janis masih tetap tidak menyenangkan.

“Eh lebih baik kita bicarakan hal lain saja. Tentang Narapati” Raji makin tertarik dengan tema itu. Yang lain pun merasakan yang sama. Narapati dan dunia tengah menjadi hal yang makin menarik. Sama seperti saat mereka masuk ke dunia Narapati 15.000 tahun lalu. Dunia yang mereka pikir memiliki sesuatu yang lain.

“Apakah menurut kalian Nyai Janis juga adalah seorang Narapati ?” Dimas memulai topic mereka tentang Narapati. Raji langsung cemberut, karena topiknya kembali lagi tentang Nyai Janis.

“Mungkin saja, dia kan pernah berusaha membaca pikiranku. Artinya dia punya kemampuan seperti kita. Ditambah kedua tamu misteriusnya waktu itu.” Kata Pafi yang begitu senang melihat Raji kelihatan sebal dengan tema mereka. “Bagaimana menurutmu Raji ?” tambahnya.

Raji tidak mau menjawab, dia diam saja. “Ini kan tema Narapati juga. Kalau benar Nyai Janis adalah seorang Narapati, berarti asrama ini dikelilingi oleh Narapati. Artinya ada sesuatu di asrama ini. Pak Narso bilang hanya Narapati yang memiliki ijin saja berada di dunia manusia. Biasanya mereka adalah telik sandi, petugas pemantau, atau prajurit pencari Narapati yang menyebrang.” Dimas berusaha membuat tema mereka lebih menarik di telinga Raji. Benar saja Raji tertarik memberikan pendapatnya.

“Mungkin di asrama ini ada satu gerbang dari Sembilan gerbang itu. Dan pintu gaib di ruang belajar itu lah gerbangnya.” Kata Raji.

“Mungkin juga, itulah kenapa kita melihat ada orang masuk melalui pintu itu. Seperti pintu-pintu di ruang keinginan. Kita bisa kemana saja yang kita mau. Dan kalau kita bisa membukanya kita bisa masuk ke dunia tengah.” Gagasan Dimas mulai mengkhawatirkan Pafi.

“Ayo kita ke ruang belajar!” Raji makin bersemangat.

“Tunggu! Aku masih tidak yakin dengan pintu itu. Aku tetap merasakan getar menyeramkan di sana.” Dimas kembali tidak yakin dengan gagasannya.

“Tapi kan kita melihat sendiri tamu Nyai Janis masuk melalui pintu itu.” Raji berusaha meyakinkan. Tapi Pafi pun sepertinya sependapat dengan Dimas. Dia tidak ingin mereka mencari pintu itu lagi. Raji kecewa sekali dengan kedua sahabatnya. Dimas terus berusaha menjelaskan. Tapi Raji sudah tidak tertarik lagi mendengarnya. Akhirnya mereka putuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.

--- *** ---

Jalan-jalan di Jogjakarta begitu ramai oleh penduduk yang berbondong-bondong menuju alun-alun keraton. Janur dan panjer berjajar di sepanjang jalan Mangkubumi dan Malioboro hingga terus ke alun-alun. Tidak ada pasar yang buka, sekolah, kantor-kantor pemerintah meliburkan diri. Suasana di dalam keraton begitu khidmat. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Di luar keraton, ramai penduduk memenuhi alun-alun. Semua orang berdesak-desakan ingin melihat Raja mereka. Raja yang tidak Cuma bertahta di keraton, tetapi telah bertahta di hati mereka semua.

Dimas berjalan kaki bersama anak-anak rombongan dari asrama. Beberapa orang yang tampaknya rombongan kesenian jalanan berpakaian penari bersama peralatan gamelannya berjalan sambil menabuhkan alat-alat gamelan mereka. Para penari berjoget menghibur pejalan kaki yang berduyun-duyun menuju alun-alun utara. Kesenian seperti itu sangat jarang tampil di jalan. Pemerintah Hindia Belanda melarang pertunjukan di jalanan. Tetapi hari ini diberikan kelonggaran sehari. Ibu-ibu penjual pecel menggendong bakul rotan mereka dengan setumpuk sayuran di atas tampah yang diusung di atas kepala mereka. Penjual makanan lainnya pun tidak mau ketinggalan memanfaatkan kesempatan keramaian ini untuk mengais rejeki. Di depan gerbang alun-alun utara prajurit-prajurit keraton berjaga dengan pakaian khas mereka. Anak-anak asrama masuk ke dalam alun-alun menyatu bersama kerumunan orang yang telah berbaris di depan keraton. Orang-orang berpakaian hijau banyak berdiri di sudut-sudut kosong keramaian. Dua orang menghampiri Dimas saat memasuki alun-alun.

“Selamat datang Yang Mulia. Saya Heritha Radhnana dan ini Niepethin Sonar.” Kedua orang itu memberikan salam. Dimas tidak mengenal sama sekali keduanya, tetapi Dimas tahu mereka dari Kerajaan Laut Selatan. Raji dan Pafi sudah maklum dengan perilaku Dimas yang tiba-tiba senyum sendirian dan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

“Siapa yang kau lihat Dimas ?” tanya Raji penasaran. Matanya terus mencari arah kepada siapa Dimas sedang berbicara.

“Dua orang Senopati dari Kerajaan Laut Selatan” jawab Dimas pelan.

“Memangnya ada apa mereka disini ?”

“Keraton Jogjakarta punya hubungan kuat dengan Kerajaan Laut Selatan.” Pafi menjawabnya sebelum Dimas.

“Hubungan kuat, memangnya pernah terjadi apa antara Kerajaan Laut Selatan dengan Keraton Jogjakarta ?” Raji masih belum mengerti maksud Pafi.

“Keraton Jogjakarta punya hubungan dengan Kerajaan Laut Selatan dimulai saat masa Panembahan Senapati. Semuanya terjadi karena tapabrata yang dilakukan oleh sang Panembahan di gua Ngejungan.” Dimas berhenti, dia tidak melanjutkan jawabannya. Matanya kembali beralih kepada dua orang senopati Kerajaan Laut Selatan. “Mereka memintaku untuk ikut.”

“Ikut kemana ?” tanya Raji

“Masuk ke dalam keraton.” Dimas tidak sempat lagi menjelaskan yang lain. Tiba-tiba tubuhnya sudah menghilang dari hadapan Raji dan Pafi. Raji dan Pafi berusaha menyeruak ke dalam kerumunan orang.

Dimas menerobos kerumunan dengan mudahnya dan masuk ke dalam lingkungan keraton tanpa terlihat oleh siapapun. Heritha Radhnana dan Niepethin Sonar telah membuatnya tidak terlihat.Sebuah kursi kosong di antara kursi para tamu ikut berjejer di barisan paling depan paling dekat dengan kursi Raja. Tidak ada yang tahu kenapa kursi itu disediakan. Tapi bagi Dimas dia tahu siapa yang sekarang sedang duduk di atasnya. Wajah yang dikenalnya. Perempuan itu tersenyum kepada Dimas. Dimas membalasnya dengan senyum pula. Tidak ada perubahan sama sekali Ratu Kerajaan Selatan tetap cantik seperti terakhir Dimas bertemu dengannya 15.000 tahun lalu. Barisan tamu undangan duduk rapi menyaksikan acara penobatan. Dimas teringat balai agung yang begitu megah di kerajaan Narapati. Kesakralannya tidak jauh berbeda dengan yang sekarang disaksikannya di keraton Jogjakarta. Kerajaan terakhir di Jawa yang masih berdiri ini memiliki banyak hal yang diwariskan dari leluhurnya di Narapati.

“Selamat berjumpa lagi Dimas! Bagaimana kabarmu?” Ratu Kerajaan Selatan menyapa. Perempuan cantik itu bangkit dari duduknya menghampiri Dimas yang berada di halaman.

“Saya baik saja gusti ratu.”

“15.000 tahun aku menanti bertemu lagi denganmu Dimas. Hari ini akhirnya Sang Pencipta mengabulkannya.”

“Mengapa gusti ratu ingin bertemu dengan saya ?” Dimas bertanya dengan polos. Perempuan itu tersenyum.

“Karena aku harus menyampaikan hal penting untukmu. Kau harus berjanji padaku dulu kalau kau akan melaksanakannya dan tidak bertanya alasan aku memintamu berjanji.” Dimas mengangguk setuju atas permintaan Ratu Kerajaan Selatan.

“Baiklah, dalam keadaan apapun. Kau harus Merahasiakan apapun yang aku katakan. Kau tidak boleh membicarakannya dengan siapapun dengan apapun. Setiap kau langgar janjimu sebuah bintang akan keluar dari punggung telapak tanganmu sebagai sebuah peringatan. Bintang itu akan hilang kalau dalam 7 hari kau tidak lagi melanggar janjimu. Bila kau langgar janjimu lagi sebelum bintang di tanganmu hilang, maka bintang kedua akan muncul. Dan baru akan hilang setelah 14 hari kau tidak melanggar janji lagi. Apakah kau mengerti Dimas ?”

Seperti disambar petir di siang hari, Dimas terpasung dalam janji yang sudah dia sanggupi. Dimas tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun. Dia tidak mengerti mengapa dirinya diminta berjanji seperti itu.

“Dengarkanlah baik-baik, “Tidak terbit tidak terbenam di kaki puncak kahyangan. Sahabat tua membawa cerita. Tentang teman sang bintang yang menanti di bumi. Membawa kelahiran kembali pada yang telah mati.” Kau harus mencari tahu sendiri artinya. Setelah kau mendapatkan artinya, simpanlah baik-baik. Jangan sampai terpisah dari ragamu.”

“Baiklah gusti ratu.” Perempuan itu berbalik meninggalkan Dimas kembali ke kursinya. “sampaikan salamku pada Raji dan Pafi.” Perempuan itu tersenyum lagi. Prosesi penobatan Raja masih terus berlangsung dengan khidmat. Dimas kembali ke dalam kerumunan orang-orang dan menerobos hingga ke belakang alun-alun. Di sana Raji dan Pafi sedang duduk asyik di bawah pohon menikmati pecel.

“Raji, Pafi!” Dimas berlari menghampiri mereka.

“Kau melihat hingga ke dalam ?” tanya Pafi

“Iya, aku melihat Sri Sultan. Juga Ratu Kerajaan Selatan.” Jawaban Dimas segera saja menarik perhatian keduanya.

“Kau bertemu dengan Ratu Kerajaan Selatan ?” Pafi setengah tidak percaya dengan ucapan Dimas.

“Jadi benar keraton Jogja ada hubungan dengan Kerajaan Selatan ?” Raji membuang bungkus pecelnya. Dimas hanya mengangguk dan tersenyum.

“Apa yang dia katakan?” Raji begitu ingin tahu.
“Dia hanya menyapaku dan menitipkan salam pada kalian.” Dimas menjawab singkat. Apa yang telah dibicarakannya dengan Ratu Kerajaan Selatan dibuangnya jauh-jauh dari pikirannya seakan ingin melupakannya agar tidak bisa bercerita kepada kedua sahabatnya. Pafi tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dimas. Pikirnya tidak mungkin Dimas dipanggil secara khusus kalau tidak ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Tapi Pafi juga tahu sahabatnya yang satu ini selalu punya alasan yang sangat baik untuk tidak memberitahu apa yang didengarnya.

BAGIAN 6 - SAHABAT TUA

Hari ini malam bergerak lambat. Dimas tidak menguasai dirinya. Pikirannya terus melayang membawanya ke sebuah tempat. Dimas tidak yakin apakah dirinya sedang bermimpi atau memang nyata sedang berada di sebuah tempat yang tidak pernah dikunjunginya, tapi seperti begitu mengenalnya.

“Mahameru!” begitu bisiknya pelan. Matanya memandang sebentuk kerucut yang begitu tinggi di belakangnya. Seolah nama tempat itu begitu saja keluar dari mulutnya. Setiap hal yang dilihatnya seperti langsung mendapatkan sebuah nama dalam ingatannya.

Pagi begitu dingin di kaki Mahameru dekat tepian sungai Glidik yang mengalir jernih dari mata airnya yang turun dari lereng gunung. Sejak fajar menyingsing dentuman-dentuman laksana petir menggema di pagi yang begitu cerah. Sesekali getaran menjalari bumi mengguncang semua yang berdiri tegak di atasnya. Tak satupun kicauan burung terdengar atau ada hewan yang keluar setelah semalaman meringkuk nyaman dalam sarangnya. Tampaknya pagi itu bukan pagi yang mereka biasa tunggu dengan tidak sabar menyambut kehangatan mentari muda. Dimas memandang langit yang bersemu kemerahan.

“Pagi bermega ?” semburat merah muncul di langit barat. Kumpulan atap ilalang terlihat begitu dekat. Dikelilingi ladang yang sudah selesai panen. Desa-desa di kaki Mahameru tampak sepi tanpa denyut kehidupan pagi. Tidak ada satu orang pun berada di jalan. Tampaknya semua penduduk lebih memilih berkumpul dengan keluarga mereka masing-masing, pikir Dimas. Tetapi ada dua orang sedang berada di depan sebuah rumah. Seorang laki-laki muda bolak-balik gelisah di depan sebuah rumah kayu beratap alang-alang. Bolak-balik di depan seorang lelaki tua yang sedang asyik menghisap cangklongnya sambil tersenyum melihat perilaku anak muda di depannya. Dari dalam rumah terdengar suara seorang perempuan mengerang kesakitan diselingi suara yang lain seperti memberi semangat. Dimas berjalan menghampiri rumah itu.

“Kelihatan sedang ada sesuatu di dalam rumah, dan kedua lelaki itu sedang menunggunya.” Pikir Dimas.

“Tenang Karto, istrimu sedang ditangani oleh yang sudah berpengalaman, anak dan istrimu pasti selamat” lelaki tua itu mencoba menenangkan anak muda tersebut sambil mengangkat kakinya dari lantai dan menyatukan dengan tubuhnya yang duduk di atas dipan kayu. Cuaca yang dingin pagi hari memaksanya menekukan badan mengurangi rasa bekunya seluruh kulit karena usia yang sudah tidak muda lagi. Tampak sekali wajahnya menyiratkan rasa cemas yang berusaha disembunyikannya sambil terus berpegangan pada dipan yang sedang didudukinya kalau-kalau getaran bumi kembali mengguncang lagi. Tatapan cemas Karto tidak juga hilang walaupun mendengar apa yang diucapkan lelaki tua tadi. Kepalan tangannya memukul-mukul udara kosong seperti berusaha menekan gundah dalam hatinya. Wajah anak muda itu seperti begitu dikenal Dimas. Garis wajahnya tidak asing. Tetapi kali ini tidak ada satu namapun yang muncul dari kepalanya.

“Mana aku bisa tenang Ayah, aku khawatir sekali dengan Swarti, aku tidak tega mendengarnya kesakitan seperti itu. Sudah sejak fajar tadi anakku belum juga lahir.” Kepala Karto berusaha melongok ke dinding rumah yang tertutup dengan harapan tatapannya bisa menembus dinding kayu rumahnya dan melihat keadaan yang terjadi di dalam. Lelaki tua yang dipanggil ayah oleh Karto tadi juga menyadari apa yang sedang terjadi. Gejala alam yang tidak biasanya sejak pagi yang mengiringi kelahiran cucunya membuatnya juga cemas dan mencoba mereka-reka apa yang sedang terjadi.

Gerakan-gerakan gelisah yang dilakukan Karto seketika terhenti oleh sebuah ledakan yang sangat luar biasa kencang disusul oleh getaran bumi yang mengguncang lebih dahsyat dari sebelumnya. Keterkejutan Karto segera teralih pada saat yang bersamaan oleh jerit tangis seorang mahluk mungil yang baru saja lahir. Sesaat kemudian tidak ada suara lagi yang terdengar kecuali suara tangisan bayi yang baru saja lahir. Kemudian udara terasa begitu padat, ranting dan daun-daun terdorong angin ke timur. Lalu suasana menjadi hening, awan hitam menggulung dari barat bergerak terus ke timur menutupi seluruh langit pagi yang baru saja menikmati mentari muda. Langit kembali menjadi gelap gulita. Dimas terkejut bukan main melihat perubahan yang begitu cepat. Matanya terus memperhatikan.

Tiba-tiba saja whooooooottttt…….. seberkas cahaya meluncur cepat dari deburan awan hitam yang menggulung menerobos masuk ke dalam rumah dan …………….semua terhenti, Karto berdiri tegak tak bergerak, sedangkan ayahnya yang meniupkan asap rokoknya ke udara yang juga berhenti mendadak seakan waktu berhenti berputar.

“Hei apa itu! Kedua orang itu tidak bergerak.” Dimas berlari masuk ke dalam rumah itu. Sebuah bola cahaya bergerak turun lambat di atas seorang bayi merah. Bola cahaya putih itu kemudian masuk ke dalam tubuh bayi itu. Sesaat kemudian seluruh tubuh bayi itu bersinar begitu terang. Kulitnya yang merah berubah menjadi putih keemasan.

*******

Dari dalam seorang perempuan tua keluar melalui pintu dengan senyum sumringah.

“Laki-laki” perempuan itu menyambut Karto dengan pelukan lega. Karto begitu bahagia

“Alhamdulillah” wajahnya begitu gembira, dadanya terasa bergolak tak kuasa menahan rasa bahagia. Serta merta Karto menembus masuk ruangan dimana istrinya berbaring lemah bersisian dengan seorang bayi laki-laki. Tatapan bahagia begitu memuncak di mata Karto yang mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Kemudian matanya beralih kepada bayi mungil yang tertidur pulas disamping istrinya. Diraihnya bayi itu ke dalam gendongan tangannya, wajahnya begitu berseri-seri melihat geliat sang bayi yang tampak cerah bersinar terang. Dimas berdiri di pojok ruangan terus memandangi kegembiaraan keluarga itu menyambut kehadiran anggota keluarga baru.

“Anakku, kau aku namakan Jayapati” Karto memberi nama kepada anakknya. Sang bayi menangis keras setelah Karto memberikan nama, seluruh tubuh bayi Jayapati memancarkan sinar terang keemasan dan sebuah lambang huruf muncul di dahi bayi Jayapati. Karto terpaku melihat bayi Jayapati dalam gendongannya yang bersinar sangat terang. Di sekelilingnya dilihat kedua orang tua Karto dan dukun beranak sudah duduk bersimpuh dengan kedua tangan bersalam di depan dada.

“Ayah, ada apa dengan anakku, Jayapati. Mengapa kalian semua duduk bersimpuh seperti itu ?” tanya Karto.

“Karto, berbahagialah anakmu adalah sang terpilih.” Jawab ayah Karto.

“Sang Terpilih, apa maksud ayah ?” tanya Karto penuh kebingungan sambil terus menggendong Jayapati.

“Menurut cerita legenda Narapati, bangsa yang dulu tinggal di lembah Sunda, tetapi kemudian terpaksa berpindah ke dunia tengah tepat saat terjadinya banjir besar yang menenggelamkan seluruh peradaban Narapati ke dalam lautan yang sekarang disebut Nusantara, adalah bangsa terpilih untuk menjadi penjaga Buku Kehidupan yang menuliskan semua nasib bangsa-bangsa di dunia tengah. Buku Kehidupan tersimpan di perut bumi pada saatnya akan diserahkan kepada sang penjaga untuk membawanya, dan sang Candramukha akan mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk melepaskan Buku Kehidupan dan menyerahkannya kepada sang Terpilih. Sang terpilih akan memiliki tanda gaib dikening berupa hurup kuno Narapati yang hanya akan muncul saat seluruh tubuhnya mengeluarkan sinar keemasan.” kata ayah Karto.

“Tapi, aku bukan bangsa Narapati, anakku bukan keturunan bangsa Narapati.” Kata Karto dengan wajah masih bingung.

“Kau keturunan bangsa Narapati Karto, karena aku dan ibumu adalah bangsa Narapati. Tetapi kami memutuskan pindah ke dunia manusia untuk mendapatkan kehidupan yang lebih tenang. Maafkan kami baru menceritakannya kepadamu sekarang, karena kami terikat janji untuk tidak menceritakan apapun tentang dunia tengah kepada siapapun di dunia manusia. Tetapi tampaknya aku harus melanggar janjiku karena sekarang kau memiliki tanggung jawab besar untuk membesarkan sang Terpilih.” Kata ayah Karto. Karto menatap tidak percaya kepada ayahnya, kemudian pandangannya dialihkan kepada Jayapati anaknya yang sudah kembali normal. Kemudian Karto meletakan bayi Jayapati di samping istrinya yang tampak cemas.

“Apa maksudnya dengan menjadi Sang Terpilih kang Karto ?” tanya Swarti istrinya yang masih terbaring lemah.

“Aku sendiri tidak tahu dek.” Kata Karto pelan.

“Pada waktunya nanti Sang Terpilih harus menemui semua kewajiban yang telah dituliskan kepadanya, dan hanya dia sendiri yang tahu dan dapat menemukannya.” Kata ayah Karto

“Yang terpenting sekarang adalah Jayapati harus terlindung. Kita semua harus merahasiakan hal ini sampai Jayapati cukup dewasa.” Ayah Karto kembali menambahkan sambil menatap kepada istrinya dan memberi isyarat. Ibunda Karto segera ingat kepada dukun beranak yang masih berada di ruangan lain menunggu. Ayah Karto meraih cucunya dari pembaringan dan menggendongnya. Suasana berubah ceria dengan suka cita seluruh keluarga menyambut kehadiran Jayapati di tengah mereka.

“Sang terpilih ? Narapati ?” Semua yang dilihatnya menjadi samar kemudian hilang sama sekali. Dimas mendapati dirinya kembali berada di atas tempat tidur.

“Karto, Swarti, Jayapati” Dimas bangkit dari tempat tidurnya. Ruangan bangsal masih gelap. Malam belum lagi beranjak pagi. Matanya melihat Raji yang masih meringkuk pulas. Dimas berusaha terus mengingat mimpinya tadi. Kali ini mimpinya berbeda. Tidak lagi menyeramkan ataupun menyedihkan. Dimas sempat berpikir, apakah bayi itu adalah dirinya. Tapi kemungkinan itu dibuangnya jauh-jauh. Nama yang diberikan kedua orang tua bayi itu adalah Jayapati. Tapi ada kesamaan dengan mimpinya yang lalu. Buku Kehidupan ! Mereka bicara tentang Buku Kehidupan.

“Aku belum menceritakan semua tentang mimpi-mimpiku kepada pak Narso. Mungkin lebih baik aku bercerita kepadanya.” Dimas melangkah ke depan jendela. Sesaat matanya melihat empat titik merah di kegelapan. Sinar merah itu hanya berputar-putar mengelilingi pagar. Dimas terus mengawasi gerak titik-titik merah itu. Tengkuknya merinding. Kakinya segera melangkah kembali ke tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Pagi ini Dimas kusut sekali. Wajahnya masih terlihat mengantuk sisa malam yang tidak bisa dilanjutkan tidurnya sampai pagi. Pafi melihat hal tidak biasa ini. Matanya menilik lebih tajam ke wajah Dimas. Dimas berusaha menyembunyikan wajahnya. Tetapi mulutnya yang menguap beberapa kali tidak bisa membohongi Pafi.

“Kau tidak tidur semalam ya ?” tanya Pafi

“He eh” jawab Dimas singkat. Mulutnya kembali menguap.

“Memangnya kau mimpi lagi yah. Kenapa aku tidak tahu ?” tanya Raji yang biasanya selalu membangunkannya saat dia gelisah dalam mimpinya.

“Iya, kali ini tidak seram jadi aku tidak terbangun kaget. Tetapi semalam aku tidak bisa tidur lagi. Aku melihat dua pasang mata menyala merah berkeliling di luar pagar asrama.”

“Apa! Maksudnya mahluk yang tempo hari menyerang kita ?” Raji terkejut sekaligus merinding. Dimas hanya mengangguk.

“Terus kau mimpi apa semalam ?” Pafi lebih tertarik dengan mimpi Dimas. Baginya kehadiran mahluk itu kembali bukan hal yang mengejutkan. Memang menakutkan, tetapi dengan langkah Nyai Janis menebar garam dan merica di sekeliling pagar asrama sudah memberi tanda yang jelas kalau mahluk itu akan datang lagi.

Dalam keadaan masih mengantuk Dimas menceritakan semua hal mengenai mimpinya. Kali ini bukan dilakukannya karena memang dirinya sedang ingin menceritakannya. Tetapi karena Dimas sedang berusaha mengusir rasa kantuknya. Dengan bercerita pikirannya jadi lebih bekerja dan bisa mengusir kantuknya.

“Aku akan menceritakannya kepada pak Narso setelah kita pulang dari sekolah nanti.”

“Mungkin lebih baik begitu. Lagi pula kita sudah berjanji menceritakan apapun kepada pak Narso. Dan selama ini kita belum sempat menceritakan mengenai mimpi-mimpimu dengan lengkap kepadanya. Siapa tahu dengan menceritakannya secara lengkap, pak Narso bisa memberikan jawaban arti dari mimpi-mimpi itu.” Kata Pafi.

“Yah, aku rasa juga begitu. Aku yakin pak Narso juga menyimpan jawaban tentang tamu-tamu Nyai Janis.”

“Aku juga penasaran tentang tamu-tamunya Nyai Janis. Kau dengar mantra yang terdengar dari dalam kantor Nyai Janis ?” kata Raji.

“Aku mendengarnya, tapi tidak begitu jelas. Karena pikiranku teralih oleh kedatangan mahluk-mahluk itu.” Kata Dimas.

“Sudahlah, kita bahas lagi masalah ini nanti di tempat pak Narso.” Dimas mengangguk setuju usulan Pafi. Raji juga tidak lagi bertanya. Mereka terus berjalan menyusuri jalan menuju sekolah. Sesekali berpapasan dengan orang-orang dan saling menyapa ramah. Khas Jogjakarta. Penuh tata krama dan keluwesan.
---- *** ----

Siang hari terasa teduh, awan kelabu mengambang di angkasa. Belum ada tanda-tanda akan hujan, tapi udara sangat sejuk. Rumah pak Narso sudah menjadi tempat yang akrab. Dimas, Raji dan Pafi hampir setiap hari lebih suka menghabiskan waktu mereka di tempat pak Narso. Kalau PR mereka sudah selesai. Pak Narso dan Mbok Sinem terlihat lebih senang kalau mereka bertiga datang. Dimas sudah bulat dengan tekadnya. Ada hal yang ingin diceritakannya, tapi dia juga ingin mengetahui lebih jauh mengenai pak Narso dan Mbok Sinem. Pengetahuannya begitu luas mengenai semua hal yang ditanyakan kepadanya. Dimas merasa ada sesuatu yang juga disembunyikan oleh Pak Narso. Dan hari ini adalah saat yang tepat untuk mendapatkannya. Entah dari mana datangnya keyakinan itu. Matanya menatap gurat wajah yang semalam muncul dalam mimpinya. Seraut wajah muda yang masih tampak jelas di garis wajah pak Narso. Ada kemiripan antara pak Narso dengan Karto pemuda yang ada dalam mimpinya. Pemuda yang menanti menjadi seorang ayah dari seorang yang terpilih. Sejenak Dimas menarik nafas panjang. Pak Narso sendiri tampak santai dengan cangklongnya.

“Saya ingin menceritakan sesuatu yang penting tentang mimpi-mimpi saya pak. Saya harap pak Narso bisa membantu saya memecahkan arti mimpi itu.”

Pak Narso memberikan perhatian kepada Dimas. Hatinya begitu senang akhirnya Dimas mau percaya penuh kepadanya. Dirinya tahu arti penting mimpi-mimpi Dimas bagi kelanjutan perjalanan mereka sendiri. Tapi ada hal yang sudah dia tahu dan harus tetap dipegangnya sampai waktunya tepat. Dimas mulai menceritakan secara lengkap mimpi-mimpinya. Belum ada tanggapan apapun dari pak Narso. Tetapi air muka pak Narso berubah drastis saat Dimas menceritakan mimpinya di kaki gunung Mahameru. Pak Narso seperti tercekat, diam tak bisa mengeluarkan kata-kata apapun. Dimas benar-benar menelanjangi siapa dirinya sebenarnya. Tetapi tetap pak Narso mempertahankan rahasia yang lain. Yang harus tetap dijaganya demi keselamatan Dimas.

“Apakah pak Narso kenal dengan Karto ?” Pertanyaan Dimas langsung menyentak pak Narso. Dirinya tidak menduga pertanyaan Dimas yang begitu langsung ke pokok masalah. Sejenak pak Narso terdiam. Dimas sudah mendapatkan jawabannya dari diamnya pak Narso. Pafi dan Raji masih tidak mengerti apa yang dimaksud Dimas. Karena Dimas memang belum menceritakan adanya kemiripan wajah dari pak Narso dengan Karto yang dalam mimpi Dimas. Pak Narso menghela nafasnya dalam-dalam seakan sedang mengangkat beban yang begitu berat dalam hatinya. Dia tahu kalau sekarang dirinya sedang diminta hal yang sama oleh Dimas, Kejujuran.

“Baiklah nak Dimas.” Suara pak Narso begitu berat.

“Sepertinya saya juga harus memberikan sikap yang sama seperti yang saya minta kepada anak semua, Jujur. Karto, pemuda dalam mimpi nak Dimas adalah saya. Waktu itu istrinya Swarti, atau yang anak kenal semua mbok Sinem sedang dalam persalinan. Jayapati adalah anak kami yang lahir pada saat Krakatau meletus dengan dahsyat tahun 1883. Mimpi nak Dimas tentang perang di lembah Krakatau adalah perang yang benar-benar terjadi pada tahun yang sama. Tetapi bukan perang yang terjadi di dunia ini. Perang itu terjadi di dunia tengah, dimana Narapati sekarang tinggal. Kami adalah bangsa Narapati.” Seperti petir di siang bolong pengakuan pak Narso cukup mengagetkan Raji dan Pafi. Tetapi bagi Dimas itu hanya sebuah penguatan dari dugaannya saja yang didapatnya semalam.

“Jadi pak Narso dan Mbok Sinem adalah Narapati ?” Raji seperti masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.

“Kenapa bapak merahasiakannya dari kami ?” tanya Pafi

“Saya bukanlah narapati lagi, sejak saya dan keluarga memutuskan untuk tinggal di dunia manusia. Keberadaan Narapati di dunia manusia sangat dibatasi dan diatur dengan ketat. Penyebrangan tanpa ijin dan persetujuan dari kerajaan maka akan dikenai hukuman mati. Jika seorang Narapati hendak pindah dari dunia tengah ke dunia manusia, dia harus melepaskan semua hal yang membuat dirinya seorang Narapati.”

“Memangnya apa yang membuat seorang Narapati berbeda dengan manusia biasa.” Tanya Raji yang makin kebingungan dengan Narapati dan Manusia.

“Narapati memiliki kemampuan mengolah pikirannya dan tujuh cakra di dalam tubuhnya. Semua itu terjadi secara alamiah, bahkan sejak lahir. Manusia biasa tidak dapat menggunakan energi dari alam untuk melakukan banyak hal. Bila pindah ke dunia manusia, maka kerajaan Narapati akan mencabut semua kemampuan itu sehingga kemampuan setara dengan manusia biasa. Keberadaan seorang Narapati yang masih dengan kemampuan aslinya di dunia manusia akan sangat berbahaya dan bisa disalahgunakan. Hanya pejabat yang sudah ditunjuk dapat melintas gerbang.”

“Maksud pak Narso Itu artinya kami adalah juga Narapati ?” Dimas mendapatkan kesimpulan yang makin mengarahkannya kepada semua penyebab keanehan yang dialaminya. Bahwa dia berada di dunia yang bukan tempatnya berasal. Pak Narso menjawab hanya dengan mengangguk. Antara gembira dan cemas, itulah yang dirasakan oleh Dimas.

“Itu sebabnya Ratu Kerajaan Selatan memanggil kami Narapati saat datang ke tempatnya.” Raji teringat saat pertama di gua Ngejungan.

“Lalu mengapa kami berada di sini ? di dunia manusia bukan di dunia tengah?” Pertanyaan Dimas membuat pak Narso terkejut. Tidak ada jawaban yang bisa disiapkan untuk pertanyaan itu. Lidahnya kelu dan suaranya tertahan diujung tenggorokan.

“Saya….saya…tidak tahu nak. Bapak hanya tahu anak diantarkan secara bersamaan oleh seorang perempuan tua. Perempuan itu pergi begitu saja tanpa pesan setelah menyerahkan anak kepada Nyai Janis. Sedangkan nak Raji dan nak Pafi dibawa Nyai Janis sejak masih bayi.” Jawaban pak Narso mengaburkan harapan Dimas. Raji dan Pafi seperti terhenyak akan kenyataan itu. Selama ini mereka tidak pernah berusaha mencari tahu bagaimana mereka bisa tiba di asrama ini. Mereka selalu beranggapan kalau mereka dititipkan ke asrama karena kedua orang tua mereka telah meninggal. Suasana menjadi murung. Pak Narso merasakan betul kesedihan mereka.

“Bagaimana cara ke dunia tengah ?” Raji masih kembali memompa semangatnya. Walaupun harapan tentang orang tua sudah berakhir. Tetapi Dunia tengah tetap menjanjikan hal baru dan menyenangkan.

“Narapati yang sudah berada di dunia manusia tidak akan bisa kembali ke dunia tengah. Kalau dia tidak tahu dimana letak Sembilan gerbang. Sembilan gerbang itu dijaga ketat oleh mahluk gaib bernama Nandiswara.”

“Nandiswara, apakah sama dengan lodaya bersayap mahakala ?” Dimas teringat patung-patung harimau bersayap yang menjaga Sembilan satuasra.

“Tidak, tidak sama. Nandiswara yang dimaksudkan adalah patung Sapi yang berada di pintu gerbang itu. Patung itu telah diberi sihir-sihir yang akan bisa mengenali siapapun yang telah mendapatkan ijin melintas gerbang.”

“Apakah pak Narso sudah tidak punya kekuatan Narapati lagi ?” Pafi mengalihkan perhatian mereka semua. Pak Narso mengerti betul maksud Pafi. Ceritanya akan membuat Dimas dan Raji makin ingin tahu dan membawa mereka ke sana. Dimas membiarkan arah pembicaraan beralih.

“Saya masih memilikinya. Karena itu kerajaan Narapati masih mencari keluarga saya. Keberadaan saya dan keluarga harus disembunyikan karena kami adalah pelarian buronan kerajaan Narapati. Kami pindah ke dunia manusia tanpa ijin. Tapi kami tahu aturan yang seharusnya dan kami tidak pernah menggunakan kekuatan kami di dunia manusia. Tapi kami tetap orang bersalah. Karena itu kami mengubah nama kami.”

“Lalu dimana Jayapati, putra bapak ?” tanya Dimas

“Dia sudah meninggal duabelas tahun yang lalu”

“Meninggal ? maafkan kami pak Narso” Dimas merasakan dadanya tiba-tiba saja sesak dan tidak terbendung. Air matanya hampir saja buyar di matanya. Dia tidak mengerti mengapa harus merasakan hal ini. Dia tidak tahu siap Jayapati. Tapi mengapa seakan kematiannya membawa sejuta duka dalam hatinya. Raji dan Pafi tertunduk sedih.

“Tapi, bukankah dia adalah sang terpilih, pembawa Buku Kehidupan ?” pertanyaan Pafi membantunya mengalihkan perhatian.

“Dia tewas mempertahankan Buku Kehidupan dalam sebuah pertempuran melawan Sanaisbin, Raja bangsa Amukhsara.” Pak Narso mengalihkan pertanyaan Pafi pada hal lain. Dia tahu kalau dia tidak akan mampu menjawab pertanyaan berikutnya. Karena apa yang harus dia pertahankan akan pecah.

“Amukhsara ?” Raji memindahkan topik mereka. “Jadi Narapati tidak menempati dunia tengah sendirian. Maksud pak Narso ?” Pafi memastikan kesimpulannya benar.

“Ya benar. Itulah yang dimaksud Ratu Kerajaan Selatan tentang Hitam dan Putih, Baik dan Jahat, Benar dan Salah. Sebagian Narapati harus berkorban menjadi tumbal berdirinya dunia tengah. Mereka kemudian berubah menjadi bangsa yang berbeda dan menamakan dirinya Amukhsara. Perang abadi antara hitam dan putih di dunia tengah seperti halnya di dunia manusia.”

“Mengapa Buku Kehidupan begitu penting hingga diperebutkan ?” tanya Raji

“Karena siapa yang menguasai Buku Kehidupan maka dialah yang menentukan nasib dan masa depan. Benar dan Salah hanyalah ditentukan oleh siapa yang paling berkuasa atas dunia dan siapa yang punya kekuatan menentukan nasib yang lain.” Dimas menjawab pertanyaan Raji.

“Berarti sekarang Buku Kehidupan telah dikuasai oleh bangsa Amukhsara ?” Pafi terdengar khawatir dengan dugaannya sendiri.

“Belum, buku itu masih aman disimpan oleh Narapati. Disembunyikan di tempat yang tidak diketahui oleh Amukhsara.”

Ketiganya bernafas lega mendengar jawaban pak Narso. Pak Narso menatap dalam kepada Dimas. Ada isyarat yang ditangkap oleh Dimas tapi tidak dimengerti olehnya. Isyarat yang pernah dia lihat dulu saat pertama kali menceritakan kejadian-kejadian aneh yang dialaminya. Isyarat yang juga tertangkap dari mata Mbok Sinem.

“Apakah dua mahluk yang datang pada malam itu adalah Amukhsara pak Narso ?” Dimas teringat serangan dua mahluk hitam di belakang kantor Nyai Janis.

“Bukan, mereka bangsa Gendrawa. Mereka termasuk sekutu Amukhsara. Saya tidak tahu mengapa mereka bisa kesini. Bangsa Gendrawa memang suka muncul di dunia manusia. Mereka sangat pandai menyerupakan diri seperti manusia. Biasanya mereka menyamar menjadi seorang lelaki yang baru saja meninggalkan istrinya pergi. Biasanya hanya terjadi di desa-desa dekat tempat tinggal para Gendrawa, di lereng gunung.”

Masih banyak pertanyaan dalam pikiran Dimas. Tetapi matahari telah condong ke barat. Dimas teringat aturan baru yang ditetapkan Nyai Janis untuk mereka. Raji dan Pafi juga sama enggannya meninggalkan rumah pak Narso. Masih banyak hal yang ingin ditanyakan. Pak Narso pun menyarankan mereka untuk segera kembali ke asrama. Tidak ada pilihan lain selain pulang. Tapi pak Narso berjanji akan melanjutkannya besok. Ketiganya melangkah pergi meninggalkan rumah pak Narso dengan sejuta tanya baru yang terus berkembang dalam pikiran mereka. Tapi lebih dari itu, kenyataan baru bahwa mereka bertiga adalah Narapati memberikan harapan, kesenangan, kesedihan, khawatir dan semua perasaan yang bercampur aduk. Akankah banyak kesempatan terbuka luas di sana atau justru hidup akan lebih sulit. Semuanya terus berputar dalam pikiran Dimas.

Minggu, 09 Maret 2008

BAGIAN 5 - NYAI JANIS

Purnama berlalu, latihan-latihan yang diterima Dimas, Raji dan Pafi telah semakin menyempurnakan kemampuan mereka. Setiap waktu petualangan dan pengalaman yang menakutkan dijalani Dimas, Raji dan Pafi. Tetapi dari semua petualangan yang mereka alami bagi Dimas harus kembali berhadapan dengan Nyai Janis dengan semua pertanyaannya adalah yang paling melelahkan. Pagi-pagi setelah sarapan nasi goreng buatan mbok Sinten, Nyai Janis kembali memanggil Dimas ke ruangannya. Dengan langkah gontai dan berat seperti dibebani ribuan ton besi kakinya melangkah menuju ruangan Nyai Janis. Dalam kemalasannya menemui Nyai Janis sebenarnya ada rasa penasaran yang mencuat dipikirannya.

Ketidakmengertian Dimas akan keanehan Nyai Janis yang belum lama diperlihatkannya membuatnya berpikir penasaran. Selama ini Nyai Janis terlihat wajar dan tidak menunjukan keganjilan apapun dalam sikapnya. Tetapi semenjak mimpi-mimpinya makin sering mengunjunginya sejak sebulan terakhir, Dimas merasa ada perubahan yang sangat jelas dari sikap Nyai Janis. Bukan sikap menyebalkan yang membuatnya merasa aneh, tetapi sikap Nyai Janis yang makin ingin tahu mengenai mimpi-mimpinya. Selain itu sepertinya dia seperti bisa membaca pikiran orang-orang sebelum diungkapkan dalam kata-kata sekalipun. Sejak pemanggilan dirinya yang pertama kali sebulan yang lalu, sudah 9 kali Nyai Janis memanggil dirinya secara pribadi dan menanyakan mimpi-mimpi apa yang dilihatnya dan nyaris setengah memaksa dia meminta Dimas menceritakan semuanya dengan detil.

Hari ini adalah yang ke sepuluh Dimas dipanggil oleh Nyai Janis ke kantornya. Pertanyaannya tetap sama, dan jawaban yang diberikan juga tetap sama. Sejauh ini mimpi-mimpi yang dialami Dimas masih sama, walaupun ada yang lain, Dimas merasa tidak ingin menceritakannya karena hal itu akan membuatnya makin sering menemui orang yang sekarang paling malas ditemuinya. Lega rasanya lepas dari ruangan Nyai Janis. Lepas dari semua pertanyaan nyai Janis sekarang bagi Dimas mulai menjadi sebuah kenikmatan yang luar biasa yang setara dengan rasa lapar yang terpuaskan oleh makanan yang sangat lezat. Rasa bebas dari segala pertanyaan yang paling tidak nyaman untuk dijawabnya membuat Dimas menarik napas panjang begitu memasuki pintu bangsal. Kakinya bergegas ke ruang belajar dimana dua sahabatnya seperti biasa telah menunggu di ujung pojok ruangan.

Raji dan Pafi mengerti apa yang dirasakan Dimas, karena itu tidak ada satu orang pun yang memulai pertanyaan mengenai apa yang terjadi di ruangan Nyai Janis. Mereka membiarkan Dimas memulai pembicaraan dan tampaknya Dimas pun tidak tega melihat rasa penasaran kedua ahabatnya begitu memuncak di ujung kepala mereka.

“Pertanyaan yang sama, dan jawaban yang sama” Keluh Dimas.

“Kau tidak menceritakan mimpi aneh yang lain yang baru saja kau alami” Raji bertanya dengan suara agak mendesis. Dimas menggelengkan kepala.

“Tidak, aku tidak ingin menceritakannya, lagi pula tidak ada gunanya bukan. Selama ini Nyai Janis selalu berkilah mengenai tujuannya membantu mengurangi beban di kepalaku, tapi nyatanya perbuatannya malah justru membuat kepalaku tambah pusing.” Keluh Dimas terdengar nelangsa.

“Sudahlah, Dimas jangan ditanyai lagi, lebih baik kita kembali kembali ke bangsal. Sudah terlalu banyak kelelahan hari ini”. Kata Pafi yang terdengar dewasa dan justru aneh di mata teman-temannya yang lain. Biasanya dia yang paling bersemangat untuk bertanya-tanya tanpa peduli apakah orang yang ditanya bersedia menjawab atau tidak. Tapi akhirnya semua setuju untuk meninggalkan ruangan dan kembali ke tempat tidurnya.

Pagi sebelum fajar mengufuk di timur, hal aneh terjadi dengan tiba-tiba. Kabut yang begitu tebal menyelimuti seluruh kota Jogjakarta dengan cepat, tak jauh berbeda dengan yang terjadi di asrama. Dingin udara yang tidak biasanya terasa menusuk tulang, mengkerutkan kulit yang memaksa setiap orang untuk menambahkan kulit keduanya semakin tebal demi mendapatkan kehangatan. Untungnya hari itu hari minggu, sehingga semua penghuni asrama merasa bisa bermalas-malasan. Tapi tidak demikian yang dirasakan Dimas yang sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ada perasaan aneh mengalir dalam hatinya yang membawanya bangkit dari tempat tidur dan melawan rasa kantuk dan dingin yang menusuk-nusuk. Dimas bergerak ke tempat tidur Raji yang masih melingkar seperti seekor kucing yang keletihan bermain.

“Ji….Ji… bangun…..” Dimas menggoyang-goyang bahu Raji yang susah sekali membuka matanya yang seakan sudah terjahit rapat dengan kelopaknya. Raji dengan malas dan memelas mencoba membuka matanya.

“Ada….apa…” Kata Raji terdengar agak berat.

“Aku merasakan ada yang aneh, ayo kita lihat keluar” Dimas menarik selimut yang menutup kaki Raji. Kontan Raji menggigil dan berusaha menarik kembali selimutnya.

“Ayo… kau akan kehilangan hal yang menarik kalau tidak ikut” Dimas mendesiskan suaranya agar tidak terdengar yang lain yang juga sedang meringkuk melawan dingin.

Dimas berusaha memotivasi Raji agar ikut dengannya. Raji serta merta bangkit dan mengikuti Dimas tanpa peduli lagi rasa dingin yang menusuk-nusuk tulang. Rasa ingin tahu dan tak ingin kehilangan hal yang menarik mendorongnya untuk melawan semua kantuknya. Mereka berdua kemudian berjalan ke bangsal perempuan dimana Pafi sudah berdiri di depan pintu.

“Dimas, kabut ini aneh sekali seperti tidak wajar, apakah kau juga merasakan ada yang aneh ?”

Pafi berbicara agak mendesis. Kepala menengok kesana kemari menyapu seluruh koridor kalau-kalau ada orang.

“Ya…aku kira akan terjadi sesuatu, ayo kita keluar” Dimas menganggukan kepalanya.

Dimas dan Raji bergerak ke arah pintu keluar dekat musholla diikuti Pafi dari belakang. Ketiganya berjalan menyusuri lorong nyaris tidak terlihat lagi karena tebalnya kabut yang rupanya sudah memasuki seluruh ruangan asrama. Jejak langkah mereka terhenti di pintu asrama yang menghadap kantor Nyai Janis seberang luar asrama.

Kesunyian begitu pekat menyelimuti seluruh asrama, semua penghuninya seperti tersirap pulas. Pandangan nyaris tak sanggup menjangkau lebih dari sepuluh meter. Dimas tetap berdiri di balik pintu kaca dan terus memandang ke arah pintu masuk kantor Nyai Janis. Tangannya memberi isyarat tangan kepada Raji dan Pafi agar berhenti. Seakan sedang menunggu sesuatu yang akan datang. Hatinya berdesir kemudian berdegup kencang ketika tiba-tiba keluar dari tebalnya kabut dua orang laki-laki tinggi, satu orang masih terlihat muda dan yang lainnya sudah terlihat berumur tua. Rambutnya yang putih tertutup sorban warna gading dengan jubah seperti pakaian dari wilayah timur tengah. Dimas terus mengikuti gerak-gerak tamu misterius yang kemudian berdiri di depan pintu kantor Nyai Janis. Tak ada gerakan ketukan atau suara ucapan salam, tapi seperti sudah ditunggu kedatangannya, pintu kantor Nyai Janis terbuka lebar diikuti masuknya kedua orang misterius tadi.

“Siapa orang itu ?” Raji menoleh kepada Dimas.

“Aku tidak tahu, tapi rasanya aku mengenal mereka dari apa yang mereka kenakan” Dimas menjawab Raji dengan tetap menatap tajam ke arah pintu kantor Nyai Janis.

“Kau pernah melihat mereka ?” Pafi menyelak di antara Dimas dan Raji. Raji yang terdorong ke samping karuan saja merasa tidak suka dan menunjukan wajah cemberutnya kepada Pafi.

“Ya, mereka seperti orang yang pernah kita lihat sewaktu pulang sekolah dan yang menyapa kita dipinggir sungai, sewaktu kita sedang makan ikan bakar”

“Ya aku ingat, mereka adalah orang yang sama dengan orang yang tadi masuk ke kantor Nyai Janis” tambah Pafi sambil tetap memperhatikan semua yang terjadi di depan kantor Nyai Janis.

“Lebih baik kita mendekati kantor Nyai Janis, untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan” Pafi memberikan usul.

Sekelebat pikiran Dimas setuju seketika dan mengajaknya bergeraknya untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam ruangan Nyai Janis. Tetapi keraguan menderanya, sebentar keraguan itu ditepisnya dan rasa ingin tahunya mengemuka di seluruh kepalanya yang diikuti gerakan tangan membuka pintu dan bergerak mengendap keluar asrama diikuti yang lainnya yang kelihatannya setuju dengan gerakan yang dilakukan Dimas. Beruntung kabut masih tebal sehingga ketiganya dapat bergerak dengan leluasa. Mereka bergerak ke belakang kantor Nyai Janis yang memiliki jendela menghadap kebun jagung pak Narso. Jendela yang sering dipandang Dimas setiap kali Nyai Janis memanggilnya. Dimas mengendap-endap seperti setengah merangkak kemudian berjongkok persis di bawah jendela. Diikuti yang lainnya yang bersusah payah setengah merangkak karena Pafi tampaknya kesulitan dengan rambutnya yang panjang yang terus menerus disibakannya menghindari tanah, tetapi perbuatannya justru membuat rambutnya menumpuk di wajah Raji yang kelabakan mengibaskannya sambil merengut. Hampir saja Raji mengeluarkan makian yang terhenti oleh telapak tangan Pafi yang menutup mulutnya. Tangan Pafi yang bekas menyentuh tanah, karuan saja membuat mulut Raji penuh dengan remah-remah tanah humus. Raji menepis tangan Pafi sambil melotot dan membersihkan mulutnya. Dimas yang melihat ulah ketiga sahabatnya hanya dapat mengulum senyum.

“Ah…jendelanya tidak terbuka” kata Dimas dalam hati

Bagaikan perjalanan terpanjang selama hidupnya, akhirnya Raji menarik nafas lega sambil menutup mulutnya bersender disebelah Dimas, diikuti Pafi. Dimas terlihat mengkerutkan dahinya, kekhawatirannya sedari tadi muncul karena dilihatnya jendela yang tertutup sehingga mereka mungkin tidak bisa mencuri dengar apa yang terjadi di dalam. Ketiganya saling berhimpitan dibawah jendela. Untungnya masih ada ventilasi udara di atas jendela yang bisa menjadi jalan keluar suara-suara di dalam ruangan cukup terdengar. Tapi aneh, tidak ada satu suara pun di dalam yang berbunyi, walaupun keempat remaja itu sudah berusaha seksama mendengarkan dengan menempelkan telinga mereka ke tembok, tetap saja tidak ada suara yang mereka dengar. Dalam kebingungan itu, tiba-tiba Dimas merasa ada sesuatu dalam kepalanya sedang bercakap-cakap, tersamar oleh banyaknya hal yang dipikirkan olehnya. Sadar akan sesuatu yang terjadi dikepalanya, Dimas menghentikan upayanya untuk mendengarkan dengan telinganya, dia mencoba memejamkan matanya dan berkonsentrasi dengan suara-suara yang sedang bercakap-cakap di kepalanya. Melihat keadaan itu Raji dan Pafi memandang heran dengan apa yang dilakukan Dimas, Pafi menarik alisnya mencoba mendapatkan jawaban dari Raji, tapi kemudian mereka tersadar dan segera tahu apa yang telah terjadi. Dimas telah mendengar semuanya melalui pikirannya. Seperti yang selama ini yang diceritakannya.

“Baiklah Nyai, saya rasa cukup sekian dulu, kami mohon pamit” Suara seorang lelaki yang terdengar begitu berat dan mantap.

“Baiklah tuan, selamat jalan” Dibalas suara seorang perempuan yang sudah dikenal dengan baik, Nyai Janis.

Sekejap kemudian semua suara lenyap dan tak ada apapun yang terdengar di dalam kepala Dimas. Bersamaan dengan itu Dimas membuka matanya dan melihat ke kiri dan kanan dimana Raji dan Pafi sedang menatapnya penuh tanya dan menunggu jawabannya. Tetapi Dimas malah bergerak kembali dengan setengah merangkak dan memberi isyarat mengajak kedua sahabatnya meninggalkan tempat itu sambil tetap mengendap-endap. Seperti mengerti isyarat Dimas, Raji dan Pafi mengikutinya dari belakang. Raji berusaha menjaga jarak dengan Pafi yang masih saja tetap sibuk dengan rambutnya. Sesampainya di dalam ruangan bangsal, semua sudah tampak tidak sabar ingin mendengar apa yang diketahui Dimas tadi.

“Apa yang kau dengar tadi, ayo ceritakan pada kami” Pafi bertanya lebih dahulu dengan agak mendesak.

Dimas agak menghela nafas, “Aku hanya mendengar bagian akhir ketika mereka mengucapkan kata perpisahan”

“Jadi mereka saling kenal ?” Pafi mencoba menyimpulkan.

“Ya, kelihatannya begitu” Dimas menjawab pendek.

“Apakah kau tidak sempat mendengar yang lain?” Raji mencoba mengajak Dimas mengingat-ingat yang lain.

“Tidak, pembicaraan sebelumnya terlalu kabur dengan isi pikiranku sendiri. Jadi aku tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Sepertinya ruangan Nyai Janis telah ditutupi oleh sesuatu sehingga mengaburkan apapun yang ada di dalam.” Dimas menjawabnya dengan tetap berusaha mencoba mengingat kata-kata yang sempat didengarnya diantara banyak pikiran yang berseliweran di kepalanya saat itu. Lelah, Dimas menyenderkan badannya ke tembok dan duduk jongkok di lantai.

“Kau kenapa Dimas ?” Raji ikut berjongkok dan mencoba mendapatkan jawaban.

“Kau sakit, ayo lebih baik kita kembali ke kamar” Pafi segera membantu memapah Dimas dari sebelah kanan dan dibantu pula oleh Raji dari sebelah kiri.

Upaya Dimas berkonsentrasi mendengarkan suara melalui kemampuan pikirannya telah membuatnya terlalu lelah. Mereka bertiga akhirnya kembali ke kamarnya masing-masing. Kelelahan yang dialami Dimas memang berbeda dengan yang terjadi pada kedua sahabatnya. Apa yang dilakukannya untuk mendengarkan tadi menyita energinya. Mencoba kembali tidur, tetapi ragu karena sebentar lagi waktu subuh akan datang. Walaupun lelah, matanya tak bisa diajak untuk tidur, sementara Raji sudah kembali melingkar di kasurnya, akhirnya Dimas memutuskan untuk duduk dekat jendela memandang halaman depan yang berkabut dan sedikit demi sedikit lenyap.

Suara Azan subuh terdengar berkumandang dari Musholla. Udara tidak sedingin sebelumnya, kabut pun sudah lenyap. Di bangsal anak laki-laki dimana Dimas tidur, Nyai Janis masuk dan membangunkan seluruh isi bangsal.

“Kom…kom…wekken…. Het is zonnig, goede morgen Raji… hoe gaat het ?”

Nyai Janis yang biasa membangunkan berkata ramah kepada Raji. Raji nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya

“goede morgen nyai Janis, heel goed, dank u”

Raji yang masih sangat mengantuk karena semalam keluar bersama Dimas dan Pafi, terlihat begitu malas untuk segera bergegas membereskan tempat tidurnya. Di sebelahnya Dimas pun membereskan tempat tidurnya dengan mata yang kelihatan masih mengantuk.

“Kau tidak tidur lagi tadi ?”

Dimas diam sejenak tak menjawab pertanyaan Raji dan kemudian menjawabnya dengan gelengan kepala. Pikirannya masih agak kacau mengenai hal yang dilihatnya sebelum subuh tadi. Dahinya berkerut berusaha mengingat dan menyakinkan diri tentang apa yang sudah didengarnya.

“Eh…mmm aku tidak tidur lagi, karena aku pikir waktu subuh sudah dekat”

Dimas terdiam dan tanpa melanjutkan kata-katanya dia segera menyambar handuk yang ada di sampingnya meninggalkan Raji yang dalam kebingungan. Raji bergegas menyambar juga handuknya dan mengejar Dimas.

“Eiiiii…. Tapi apa ? kok belum selesai gitu sudah ditinggal” Wajah Raji agak merengut menunjukan cemberut kesal penasaran.

“Nanti saja ceritanya, hari ini kita akan jalan-jalan kemana ?” Dimas mengalihkan pembicaraan.

“Hari ini Nyai Janis akan mengajak kita semua main ke parang kusumo, katanya hari ini ada larung di sana.” Kata Raji.Dimas hanya menggangguk dan berjalan terus menuju kamar mandi.

Hari ini adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu anak-anak yang tinggal di asrama. Mereka begitu tidak sabar mengunjungi tempat-tempat lain selain asrama dan sekolah. Nyai Janis akan membawa semua anak-anak asrama untuk berjalan-jalan. Dimas dan Raji sudah siap dengan semua bekalnya.

“Kau bawa uang berapa ?” kata Raji sambil menghitung-hitung uang di tangannya.

“Sepuluh goelden” Jawab Dimas sambil membetulkan tas punggungnya yang telah penuh dengan beberapa peralatan untuk perjalanan mereka.

“Wah…. Kau masih punya banyak, aku Cuma 80 sen, itu pun setelah ditambah 50 sen pemberian Nyai Janis. Aku tidak pandai menabung seperti kau” Raji agak nyengir kuda.

“Makanya, jangan jajan melulu, Tabungkan uangmu di celengan, bukannya diperut” Pafi mengomeli Raji yang hanya tersenyum getir mendengarnya.

“Ayo kita harus berangkat cepat, atau kalian ingin menunggu Nyai Janis teriak dulu !” Seru Pafi melotot dengan wajah galak sambil menggendong bekalnya.

Sebuah angkutan sudah siap di halaman asrama, sudah banyak anak-anak menaiki kendaraan pinjaman dari keresidenan. Nyai Janis cukup punya banyak kenal orang berpengaruh di pemerintahan. Perjalanan dimulai dengan melalui jalan-jalan di dalam kota Jogjakarta menuju arah kota Bantul di selatan. Perlu waktu satu setengah jam perjalanan untuk sampai ke pantai yang sering digunakan masyarakat jawa untuk kegiatan ritual.

Sepanjang perjalanan di atas truk, Dimas cenderung lebih diam dari biasanya. Pemandangan sawah disepanjang perjalanan mereka makin membantunya untuk menerawangkan lamunannya. Semua mimpi-mimpinya yang aneh dan tidak dia mengerti, bahasa yang tidak dia pahami.Sementara Raji begitu asyik duduk di samping seorang gadis kecil. Wajahnya mesam-mesem mengumbar senyum kepada gadis kecil itu. Melihat tingkah Raji, Pafi merengut keras. Pandangannya dialihkan kepada Dimas yang sedang melamun memandang persawahan yang sudah matang.

“Jepang kalah, Republik merdeka”

Tiba-tiba Dimas berbisik pelan, Pafi yang sedang asyik memandangi hamparan permadani keemasan sawah-sawah yang siap panen sempat mendengar bisikan Dimas.

“Kalimat apa yang barusan kau ucapkan, Dimas?”

Pafi mengalihkan tatapannya ke arah Dimas yang matanya terlihat kosong dan menerawang, seakan Pafi tidak tampak di hadapannya. Pafi mendorong bahunya ke belakang, Dimas tampak kaget dan memandang Pafi bingung.

“eh…ya… ada apa” Dimas terlihat sadar dan terpecah dari lamunannya.

“Aku bertanya padamu, kalimat apa yang baru saja kau ucapkan tadi” Pafi mengulang kembali pertanyaannya.

“eh… apa ya….” Dimas kelihatan bingung dan menggaruk-garuk kepalanya.

“Aku sendiri tidak tahu artinya, aku mendengarnya dari mimpi yang paling sering diucapkan, jadinya aku hafal” Dimas masih menggaruk-garuk kepalanya, rasanya seperti ribuan kutu rambut telah bersarang di ubun-ubunnya.

“Apakah kau ceritakan hal ini kepada nyai Janis?” Pafi kembali bertanya

“Tidak…tidak, tentu saja aku tidak menceritakannya, aku pikir dia juga tidak akan mengerti artinya” Jawab Dimas yang alasan sebenarnya karena dia tidak mau ditanya lebih jauh lagi oleh Nyai Janis.

“Kau sudah menanyakannya kepada pak Narso maksud dari kalimat itu kan?” Pafi memberikan saran.

“Sudah, aku malah sudah meminta pak Narso untuk mendengarkan, tapi beliau bilang dia tidak mengerti maksudnya. Tapi katanya dia tidak mengenal kata Jepang.” Dimas kemudian menjelaskan panjang lebar perihal diskusinya dengan pak Narso membahas kata asing itu.

Sepanjang perjalanan dinikmati dengan mengobrol dan tingkah polah Raji yang lucu yang kadang-kadang disahuti garang oleh Pafi. Tak terasa akhirnya mereka sampai di parang kusumo saat kerumunan besar sedang mengarak sesuatu ke arah pantai. Rupanya hari itu ada upacara larung persembahan untuk laut selatan. Semua anak-anak turun dari angkutan diiringi teriakan-teriakan Nyai Janis memberikan perintah kepada seluruh anak-anak. Dimas, Raji dan Pafi segera berlari menuju pantai yang masih lumayan jauh tanpa mempedulikan teriakan-teriakan Nyai Janis. Rasa khawatir ketinggalan acara larung lebih mendorong untuk ikut-ikutan berkerumun dengan penduduk yang sedang melakukan upacara itu.

“Upacara apa ini pak namanya” Pafi bertanya kepada seorang lelaki tua di sebelahnya yang sedang mengamati seluruh prosesi upacara. Dimas dan Raji menengok ke arah lelaki tua itu menunggu jawaban dari pertanyaan Pafi yang juga menyentil rasa ingin tahu mereka.

“Ini namanya upacara larung persembahan buat Nyai Roro Kidul” Lelaki tua itu menjawab singkat.

Semuanya manggut-manggut tetapi bagi Dimas setelah lelaki tua itu menyebut nama Nyai Roro Kidul, ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Dalam pandangannya yang jauh ke arah sesajen yang sedang dilarung, terlihat pemuda-pemuda berbadan tegap dengan pakaian prajurit mataram berwarna hijau seperti mengawal para pelarung.

“Yang memakai pakaian hijau-hijau itu siapa pak?”

Dimas menunjuk ke arah kerumunan pelarung. Lelaki tua itu mencoba mengikuti arah telunjuk Dimas yang menuju ke arah kerumunan pelarung. Matanya menyipit mencoba meyakinkan pandangannya dan menyamakan dengan pertanyaan yang diajukan Dimas. Tapi kemudian dahinya mengkerut bingung, karena tak ada orang yang dimaksud Dimas. Tidak ada yang berbaju hijau-hijau. Hatinya sejak awal sudah menyangkal akan ada pelarung yang berani berpakaian hijau, karena warna tersebut sangat keramat dan tidak ada yang berani memakainya. Apalagi saat larung persembahan untuk Nyai Roro Kidul yang identik dengan warna hijau.

“Siapa yang anak mas maksud ? tidak mungkin di saat seperti ini ada yang berani berpakaian dengan warna hijau” Lelaki tua itu kembali menatap Dimas setelah yakin dengan jawabannya. Raji dan Pafi juga merasakan keheranan yang dirasakan oleh lelaki tua itu, tetapi mereka berdua segera mengerti dan maklum dengan apa yang sedang dilihat oleh Dimas. Belakangan mereka berdua mulai terbiasa melihat kemampuan Dimas dalam melihat yang gaib. Raji segera mencoba mengalihkan perhatian lelaki tua itu agar tidak bertambah keheranan.

“Ah….kamu selalu salah menyebutkan warna, itu warna biru bukan hijau. He..he… maafkan teman saya ini pak, kadang-kadang sering salah membedakan antara biru dan hijau”. Raji berusaha tertawa dan matanya dikedipkan ketika menatap Dimas, diikuti Pafi yang ikut-ikutan tertawa bingung. Dimas paham dengan apa yang dimaksud Raji. Daripada diperpanjang akan malah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru, habislah liburan mereka hanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

“Iya pak… saya salah lihat” Dimas nyengir masam yang diikuti dengan gerakan menarik tangan Raji.

“Terima kasih pak atas penjelasannya, kami permisi dulu” Pafi yang menyadari keadaan segera melenggang menyusul Dimas dan Raji. Ketiganya segera saja saling berbisik-bisik membahas apa yang barusan dilihat Dimas.

“Benar, aku melihat mereka berpakaian hijau-hijau dengan celana pendek selutut ditutupi kain, persis seperti seorang senopati lengkap dengan blangkonnya” Dimas menjelaskan kembali apa yang sampai sekarang masih dilihatnya.

“Apakah mungkin mereka prajurit dari Kerajaan Selatan” Pafi memandang kerumunan pelarung yang masih mendorong-dorong sesajen mereka ke laut.

“Mereka kelihatan berbeda, tidak seperti yang aku dan Raji lihat sewaktu di gua Ngejungan.” Dimas melihat memperhatikan terus orang-orang yang dilihatnya.

“Seperti apa mereka ?” Pafi bersemangat sekali mendapatkan detil penjelasan. Belum sempat Dimas menjawab pertanyaan Pafi, tiba-tiba beberapa lelaki berbaju hijau-hijau yang dilihat Dimas menoleh dan menatapnya. Kesemuanya bergerak ke arah Dimas dan teman-temannya meninggalkan kerumunan para pelarung. Hati Dimas langsung saja menclos. Raji dan Pafi melihat ekspresi Dimas yang tiba-tiba tegang menjadi cemas.

“Dimas kenapa, apa yang mereka lakukan ?”

Raji yang sedari tadi mencoba berpikir apa yang tadi dibicarakan Dimas menggoyang-goyang pundak Dimas. Raji dan Pafi sangat cemas, mereka tahu bahwa ada yang sedang dilihat Dimas dan membuatnya ketakutan. Lelaki-lelaki yang berpakaian hijau-hijau itu serempak berhenti hanya dua meter dari hadapan Dimas. Mereka semua menghaturkan sembah dengan menyatukan telapak tangan mereka di depan dada dan menundukkan kepala dengan bahu dibungkukan.

“Selamat datang di Parang Kusumo, Yang Mulia” Kata seorang dari mereka.

Dimas yang mendapatkan haturan sembah seperti itu menjadi bingung, ketakutan yang tadi dirasakannya berubah menjadi rasa heran.

“Apakah paman semua adalah prajurit dari Kerajaan Selatan ?” tanya Dimas yang terlihat seperti ngomong sendirian. Raji dan Pafi mengerti kalau di hadapan Dimas sekarang ada orang-orang yang dimaksud oleh Dimas.

“Benar Yang Mulia, kami sedang melakukan upacara penerimaan larung dari penduduk.” Jawab lelaki yang paling depan.
“Kami harus kembali kepada upacara. Mohon maaf kami harus mengundurkan diri.” Lelaki itu memberikan hatur sembah. Belum sempat menjawab haturan sembah tersebut Dimas melihat mata lelaki tersebut melihat ke arah belakangnya dan tersenyum lalu bergerak mundur. Tanpa berkata-kata lagi kesemua lelaki berpakaian hijau-hijau itu menjauh dari Dimas yang mencoba menoleh ke belakangnya mencari tahu siapa yang baru saja dilihat lelaki tersebut.

“Kenapa kau menoleh ke belakang, ada apa ?” Raji ikut menoleh ke belakang, mencari apa yang coba dilihat Dimas.

“Dimas…Dimas….apakah orang yang berbaju hijau itu masih ada ?” Pafi mengguncang-guncang bahu Dimas yang seperti sedang mengumpulkan semua nyawanya yang tercerai berai di ubun-ubunnya.

“Ah….eh.. tidak…tidak…. Mereka sudah pergi, entah kenapa mereka pergi. Aku tadi sempat melihat dari sudut matanya memandang ke arah belakangku. Itulah mengapa aku menoleh ke belakang, karena aku pikir pasti ada sesuatu yang dia lihat dan membuatnya pergi.” Dimas menunjuk-nujuk bagian belakang sembari menjelaskan kepada ketiga temannya.

“Tapi aku lihat dari tadi, tidak ada apapun di belakang kita” Pafi menolehkan kepalanya ke belakang

“Lelaki yang berpakai hijau-hijau tadi menyapaku. Mereka adalah prajurit Kerajaan Selatan. Mereka memanggilku Yang Mulia.” Dimas menjelaskan sambil memegang tengkuknya.

“Benarkah ! Tapi mengapa mereka memanggilmu Yang Mulia ?” Pafi menghentikan kalimatnya dengan telunjuk yang mengarah malas ke Dimas.

“Entahlah ! mungkin karena pertemuanku dengan Ratu Kerajaan Selatan waktu itu. Akupun tidak tahu”

“Tapi kenapa Raji tidak melihat mereka ? bukankah kau dan Raji bersama-sama ke tempat itu ?” tanya Pafi.

“Mungkin karena mereka tidak mau terlihat selain Dimas, seperti orang-orang yang di gerbang sekolah itu.” Raji mengatakannya dengan tengkuk merinding. Kemungkinan yang sekarang ditemui Dimas adalah mahluk halus, pikirannya mengembara membayangkan wujud seram mahluk-mahluk gaib.

“Lebih baik kita mengikuti rombongan larung itu lagi, kita bahas hal ini di asrama saja” Dimas mengalihkan perhatian kedua sahabatnya untuk segera bersenang-senang. Pembahasan mereka akan yang baru saja terjadi akan menghabiskan waktu liburan mereka yang sudah sangat sempit karena habis waktu di jalan. Pukul tiga sore memutuskan meminta semua anak-anak untuk kembali, setelah berleha-leha di warung pinggir pantai yang menyediakan jajanan dan minuman. Sebelum magrib akhirnya mereka tiba kembali di asrama.

Bulan tidak tampak malam ini, Dimas sedang asyik duduk di beranda asrama memandang halaman yang lumayan terang oleh jejeran lampu minyak yang sengaja ditempatkan di tengah halaman yang disanggah oleh sebatang bambu. Pikiran terus melayang berputar-putar menarik-narik kejadian demi kejadian yang dialaminya belakangan ini. Pertemuannya dengan orang-orang misterius dan keanehan yang ditunjukan oleh Nyai Janis membuat hatinya penasaran. Dari arah pintu Raji datang menghampiri sambil membawa dua gelas wedang jahe dan pisang rebus dari kebun pak Narso.

“Ini, aku bawakan makanan, tadi aku ke dapur merayu mbok Sinem mengeluarkan harta karunnya, dan yang aku dapat ya ini….pisang rebus”

Raji menyodorkan sepiring pisang rebus dan meletakannya di atas meja bersamaan dengan dua wedang jahenya. Raji mengambil gelasnya dan menyeruput air jahe yang sudah hangat-hangat kuku. Nikmat rasa wedang itu tergambar jelas dari ekspresi Raji yang matanya terpejam merasakan aliran air jahe hangat melalui kerongkongannya. Seketika rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya mendorong udara dingin yang sedari tadi berusaha mendesak masuk ke pori-porinya.

Melihat ekspresi kenikmatan Raji yang seperti setengah terbang, Dimas juga segera menyambar gelasnya dan meminum wedang jahenya. Dia mengerti kenapa Raji sampai seperti itu, karena wedang buatan Mbok Sinem memang luar biasa enak. Aroma serai, kayu manis dan sedikit cengkeh membuat wedang itu betul-betul minuman ajaib pengusir dingin. Selesai dengan wedangnya Raji menatap Dimas, tatapannya seperti kosong sedang menerawang ke arah yang lain. Tiba-tiba…

“Aku pikir, Nyai Janis….menyimpan suatu rahasia yang sangat besar” Dimas dengan mata masih menerawang ke langit berbicara kepada Raji yang sudah kembali asyik dengan pisang rebusnya yang kedua.

“mmm….mmm… fyaa… memang kelihatannya demikian” Raji menimpali dengan mulut penuh mengunyah pisang rebus.

“Dan aku yakin itu ada hubungannya dengan mimpi-mimpiku, karena dia begitu ingin tahu apa saja yang terjadi di dalam mimpi-mimpiku itu”

Suara Dimas mulai terdengar bersemangat, matanya tidak lagi kosong menerawang ke langit. Bersamaan dengan itu dari arah dalam pintu sesosok bayangan muncul dengan kain menutupi kepalanya. Raji yang melihat arah kedatangannya tercekat dan memuncratkan semua pisang rebus yang dikunyahnya dan melongo ketakutan. Dimas yang belum sempat menyadari kehadiran bayangan itu segera mendengar suara yang sudah dikenalnya.

“Aku sudah menduga, pasti kalian belum tidur dan berada di sini. Sedari tadi aku gelisah sekali tidak bisa tidur” Pafi muncul dari belakang dan membuka kain yang menutupi kepalanya.

“Raji kau kenapa ?” Dimas keheranan melihat mulut Raji yang berantakan penuh dengan kunyahan pisang rebusnya.

“Tidak, tidak apa-apa… aku hanya tersedak tadi” Jawab Raji menutupi kekagetannya tadi.

“Kau pikir aku hantu ya…. He..he.. makanya jangan selalu berpikir hantu” Kata Pafi meledek. Raji cemberut marah menatap Pafi yang masih tersenyum sinis menatapnya dari ujung matanya.

“Aku sedang berpikir mengenai kejadian-kejadian aneh yang selama ini kita alami” Dimas segera melerai kedua sahabatnya yang sudah memulai bibit pertengkaran. Belum sempat Dimas melanjutkan kata-katanya, dengan tiba-tiba kabut menebal ke seluruh halaman sampai masuk ke dalam bangunan asrama. Suhu udara turun dengan sangat drastis hingga ketiganya langsung menggigil menahan rasa dingin yang menusuk tulang. Wedang yang mereka minum tak terasa lagi pengaruhnya. Dimas, Raji dan Pafi saling pandang. Mereka teringat fenomena yang sama pernah terjadi beberapa waktu yang lalu. Tanpa banyak berkata-kata mereka tampak sudah saling mengerti untuk bergerak menuju kantor Nyai Janis.

“Ssssst… jangan berisik….jalan pelan-pelan” kata Dimas setengah berbisik kepada Raji dan Pafi.

Mereka bertiga mengendap-endap dipinggir bangsal kemudian berhenti tepat di dekat pintu bangsal yang bisa memandang langsung ke arah pintu kantor Nyai Janis. Dimas bergerak merayap menuju bawah jendela diikuti Pafi dan Raji. Ketiganya menyender di dinding persis di bawah jendela yang terbuka. Kali ini mereka bertiga dapat mendengar suara dari dalam. Dimas menutupkan jari telunjuknya di depan bibirnya sebagai isyarat untuk tidak bersuara kepada kedua temannya. Raji dan Pafi mengangguk mengerti. Mereka memandang ke arah kebun jagung Pak Narso sambil terus berkonsentrasi mendengarkan suara-suara dari dalam kantor nyai Janis.

Tiba-tiba Raji melotot dengan mulut menganga dan suara yang tertahan di leher sambil menunjuk ke arah kebun jagung pak Narso. Pafi dan Dimas mengikuti arah yang ditunjuk Raji. Keduanya berteriak histeris, dua sosok tinggi hitam dengan bulu di seluruh tubuhnya, rambut panjang acak-acakan dengan sorot mata merah menyala di hiasi 4 taring yang keluar dari sisi bibirnya. Kedua mahluk itu bergerak ke arah ketiganya. Tetapi tiba-tiba terdengar suara yang diiringi kilat merah menerjang kedua mahluk itu.

“VADHARNAHA”

Kedua mahluk itu terjengkang beberapa meter ke belakang sehingga merusak kebun jagung pak Narso. Keduanya bangkit dan bergerak kembali ke arah Dimas, Raji dan Pafi yang sudah saling berangkulan ketakutan.

“PHOBOSERRAHA”

Sebuah suara kembali terdengar dari dalam kantor Nyai Janis diikut dengan 2 larik sinar kuning terang menghantam kedua mahluk itu dan kali ini keduanya tidak terjengkang tetapi langsung terbakar. Kedua mahluk itu menjerit-jerit kesakitan dan kemudian hilang.

Dimas, Raji dan Pafi langsung melarikan diri dari tempat itu tanpa menoleh lagi ke belakang.

“Kau lihat tadi mahluk yang menyerang kita, hah…hah…hah.” Kata Pafi

“Mataku tak berhenti melihatnya, hiiyyyy…….” Kata Raji yang masih terlihat terkejut.

“Aku tidak terlalu memperhatikan dua larik sinar merah dan kuning yang menerjang mahluk itu.” Kata Dimas

“Kenapa kau tadi tidak menyerang saja mahluk itu.” Kata Raji.

“Memang kau pikir tadi kau bisa apa saat melihat mahluk itu.” Pafi menggerutu dengan mata melotot.

“Sudah, kita memang belum siap menghadapi mahluk seperti itu karena kita memang tidak dipersiapkan untuk menghadapi yang sejenis itu.” Kata Dimas menenangkan kedua sahabatnya.

“Yang sekarang harus kita pikirkan adalah bagaimana menghadapi besok, karena pasti Nyai Janis akan memanggil kita besok.” Kata-kata Dimas membuat Raji dan Pafi langsung terdiam. Dimas kemudian mengajak kedua sahabatnya untuk kembali ke bangsal tidur dan tanpa banyak kata-kata mereka semua kembali ke bangsal asrama.

Makan pagi sebelum berangkat sekolah, seperti biasa Pafi sudah berada di ruang makan duduk sendirian sebelum akhirnya Dimas dan Raji menyusul beberapa saat kemudian. Setelah mengambil sarapan pagi yang sudah disiapkan secara perasmanan oleh para pembantu asrama. Dimas dan Raji segera melangkah bergabung dengan Pafi yang sedang asyik menikmati sarapannya. Tak biasanya pagi ini mereka bertiga tidak saling bicara, dalam menikmati sarapan mereka sesekali saling melirik seperti menunggu ada yang memulai bicara lebih dulu.

“aaku…” “kemarin…..” “kenapa…” Pafi, Dimas, Raji secara bersamaan mencoba memulai pembicaraan, sesaat ketiganya diam.

“Kau dulu” kata Pafi. “Tidak kau duluan saja” Kata Raji. “Aku duluan, nanti tidak ada yang mulai” Kata Dimas. “Tidak, aku duluan” kata Pafi menyela. “Baiklah…kau duluan” kata Dimas dan Raji bersamaan.

“Aaku ….. “ Pafi agak ragu meneruskannya.“Aku bingung”

Pafi meneruskan tetapi pada kata terakhir suaranya seperti ban yang sedang kempis, mengecil dan menghilang. Dimas dan Raji mengkerutkan alisnya tak mendengar kata terakhir yang diucapkan Pafi.

“Kau kenapa…tadi” Raji meminta Pafi mengulanginya lagi. Pafi langsung cemberut dengan mulut terkatup.

“Aku bingung dengan kejadian semalam” kata Pafi agak ketus.
“Aku juga tidak mengerti, bagaimana kita sudah tidur di tempat tidur kita masing-masing” Kata Raji.

Pafi mendenguskan hidung dalam kebingungannya. Tetapi belum sempat mereka bertiga membahasnya tiba-tiba datang pak Narso menghampiri.

“Kalian ditunggu Nyai Janis setelah sarapan selesai” kata pak Narso tanpa banyak berkata lagi kembali pergi meninggalkan Dimas, Raji dan Pafi dalam keadaan saling melongo dan memandang dengan penuh tanda tanya.

“Sepertinya kita akan kena hukuman kali ini” .Kata Pafi pelan sambil menengok ke sekeliling ruangan makan yang telah memandangi mereka bertiga.

Selesai sarapan pagi Dimas, Raji dan Pafi segera beranjak menghadap ke ruangan Nyai Janis dengan membawa serta tas sekolah mereka. Sesampainya di dalam ruangan kantor, Nyai Janis telah menunggu duduk manis di belakang mejanya.

“Duduklah kalian” Nyai Janis mempersilahkan ketiganya yang sebelumnya saling memandang akhirnya duduk di depan meja.

“Well, langsung kepada pokok masalah. Semalam bukanlah tindakan yang bertanggung jawab. Andaikan tamu-tamu saya tidak bertindak cepat, kalian pasti sudah jadi santapan mahluk-mahluk itu” Nyai Janis berdiri dari kursinya dan menyilangkan tangannya di depan dada. Dimas, Raji dan Pafi hanya tertunduk diam. “Siapakah tamu-tamu nyai Janis” kata Dimas dalam hati tapi urung ditanyakan karena khawatir nyai Janis bertambah marah.

“Sebagai hukumannya, sejak hari ini kalian tidak lagi saya ijinkan keluar asrama pada hari libur kecuali pada hari sekolah, harus sudah kembali pulang dari sekolah sebelum jam 5 sore dan seluruh asrama tidak boleh keluar dari bangunan asrama jika jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Pak Narso akan menjadi pengawas kalian selesai dari sekolah. Mengerti !” Nyai Janis menatap ketiganya. Dimas, Raji dan Pafi terperanjat kaget mendengar keputusan itu, tetapi urung menyampaikan protesnya dan menarik nafas lesu dan tertunduk.

“Saya harap kalian berjanji tidak menceritakan kejadian semalam kepada siapapun. Baiklah, saya kira kalian cukup mengerti hal ini untuk keselamatan kalian juga. Nah sekarang berangkatlah ke sekolah”
Dimas, Raji dan Pafi dengan langkah lesu meninggalkan kantor Nyai Janis. Beban tas mereka hari ini rasanya seperti sekarung beras yang sangat berat.
Saat mereka keluar dari halaman asrama, terlihat pak Narso dan para pembantu asrama sedang menaburkan sesuatu ke sekeliling pagar asrama. Bubuk berwarna putih dan hitam.

“Paling tidak kita masih boleh bertemu pak Narso, jadi latihan-latihan kita bisa tetap dilakukan dengan pak Narso.” Raji masih terlihat optimis diantara ketiganya. “Hei lihat Apa yang sedang mereka taburkan ?” Raji melihat pak Narso dan pembantu lainnya sedang menebarkan bubuk ke sekeliling Asrama.

“Sepertinya garam dan merica” Kata Pafi pelan. Suaranya masih terdengar melas setelah mendengar hukuman yang mereka terima.

“Dari mana kau bisa menduga itu garam dan merica” Raji kembali bertanya, sedangkan Dimas tetap diam mengamati. Hatinya sedang malas untuk berbicara memikirkan hukuman yang bakal memangkas semua kegiatannya.

“Mbok Sinem pernah bilang kepadaku, kalau kedua bumbu dapur ini berguna untuk menjadi pagar gaib dari serangan mahluk halus, seperti yang kita lihat tadi malam. Dan sepertinya hal ini akibat yang terjadi semalam” Sambung Pafi. Ketiganya akhirnya keluar dari pagar asrama dan berangkat menuju sekolah dan sepakat untuk menyimpan semua kejadian semalam menjadi rahasia mereka bertiga. Walaupun rasa penasaran tentang tamu-tamu Nyai Janis tetap menggunung di dada mereka dan menimbulkan pertanyaan baru mengenai siapa sebenarnya Nyai Janis.

Senin, 03 Maret 2008

BAGIAN 4 - NASKAH KOSONG

Aryo tidak pernah berhenti mengawasi. Sepertinya dia ingin sekali menangkap basah Dimas. Dimas tahu setiap kali diikuti. Dimas seringkali membuat Aryo lupa kalau dia kepergok Aryo. Meninggalkan Aryo yang dalam posisi kebingungan. Pernah sekali Aryo nyaris melihatnya membuka pintu ruang keinginan. Untungnya dia tidak sempat melihatnya.

Siang itu pada hari libur, Dimas, Raji dan Pafi akhirnya bisa masuk ke dalam ruang keinginan setelah berulang kali menunggu kesempatan. Mereka bertiga memutuskan untuk menghabiskan waktu masing-masing sendirian. Pafi masuk ke dalam ruang perpustakaan besar di Batavia. Hari minggu perpustakaan itu tutup sehingga Pafi dengan bebas membuka buku-buku yang ingin di bacanya. Raji menuju pelabuhan Sundakelapa dimana banyak kapal-kapal dagang berlabuh. Sedangkan Dimas menghabiskan waktunya di dalam ruangan rumah Gandrung.

Dimas melangkah mendekati naskah kosong itu. Sudah beberapa hari sejak menemukannya dia tidak pernah menyentuh sekalipun naskah itu. Hatinya ragu bisa kembali menemukan hal yang pernah dilihatnya sekilas. Dimas meraih naskah itu dan melepaskan ikatannya. Naskah itu terbuka dengan mudah dan dibaringkan di atas meja. Sesaat kemudian muncul tulisan-tulisan yang bergerak liar. Dimas terpekik senang melihatnya. Dalam hatinya berharap agar tulisan itu tidak menghilang lagi. Tulisan-tulisan itu tetap bergerak liar terus menerus. Lalu Dimas mengucapkan sebuah mantra pembukanya. Mantra yang sering diucapkannya di Sundabuana.

“Ingdorthium thor savantharau anglashiatvan” Perlahan semua aksara itu melambat dan menyusun menjadi kalimat.

“Berjanjilah membacanya sendiri, mengetahuinya untuk sendiri, membaginya hanya untuk sendiri” Tulisan itu hanya berhenti disitu. Dimas terdiam bingung. Lalu dia ingat kalimat pembuka yang membuat semua pintu-pintu di ruang keinginan muncul.

“Aku berjanji membacanya sendiri, mengetahuinya untuk sendiri, membaginya hanya untuk sendiri” Dimas mengucapkan janjinya. Seluruh kalimat itu perlahan pudar berganti sebuah naskah yang panjang dengan banyak tulisan.

“Sahabatku, aku hanya memintamu membaca sendiri, mengetahui untuk sendiri dan membaginya hanya untuk sendiri karena apa yang aku ceritakan hanyalah milikmu dan hakmu sendiri. Cerita ini aku mulai dari sahabat tua yang membawa cerita kepadaku tentang sebuah negeri tidak terbit dan tidak terbenam. Di kaki puncak tertinggi dimana kahyangan dewa-dewi bersemayam. Saat kegelapan datang di barat. Petir menggelegar berhari-hari. Terang datang di timur. Menghentikan waktu. Menerangi dunia tengah. Membawa kelahiran bintang. Bintang yang telah menjadi gelap. Dan hanya tersisa teman lahirnya di bumi. Bintangmu telah hitam sahabatku. Bintang yang selalu kau cari. Bintang yang selalu kau rindu. Bintang yang membawa kehidupanmu. Kau harus membawa terangnya kembali dengan membawa teman lahirnya. Menyucikan kembali lahirnya. Membebaskan jiwanya. Membawa kembali pada kelahiran yang kedua. Terbebas dari tujuh cabikan jiwa. Hanya dengan menyatukan bintang dengan teman lahirnya sang jiwa kembali utuh. Kegelapan hanya akan tenang bersama terang.”

Dimas hanya diam. Dia hanya teringat kalimat terakhir yang sangat mirip dengan naskah ramalan Sinar Avedi. Pikirannya bertanya mengapa Gandrung mengingatkan kembali tentang naskah itu. Dimas menggulung kembali naskah itu dengan tali pengikat. Tangannya menggaruk-garuk meja. Matanya menerawang. Kilasan-kilasan saat mereka sedang makan bersama di meja yang sama terlihat jelas. Ibu Gandrung yang sangat cantik dan lembut membagikan makanan untuk mereka. Dimas tertawa melihat Gandrung menjatuhkan sambal di hidungnya. Dia blingsatan akibat pedasnya. Lamunan Dimas pecah oleh kedatangan Raji dan Pafi.

“Kalian sudah datang. Bagaimana disana ?” Dimas bangkit dari kursi.

“Wow hebat-hebat sekali. Tidak banyak perbedaan antara kapal-kapal di Sunda Kelapa dengan yang aku lihat di pelabuhan kota Rajatapura. Aku heran mengapa kita bisa dikuasai oleh Belanda. Padahal kebudayaan dan kemampuan maritim kita tidak kalah hebat dengan Belanda.”

“Kau sendiri bagaimana Pafi”

“Aku menemukan ini! Aku pergi ke perpustakaan pusat di Batavia. Ternyata di sebuah ruangan khusus seperti tempat penelitian naskah, banyak sekali disimpan naskah-naskah kuno bangsa ini. Yang satu ini sengaja aku ambil karena naskah ini memiliki hurup yang mirip dengan naskah Sinar Avedi. Tapi aku tidak tahu isinya. Mungkin kau bisa bacakan.” Pafi menyodorkan sebuah naskah yang telah dibikin dengan kulit buku yang baru. Naskah itu cukup tebal. Tiap naskah diselingi oleh kertas baru dengan tulisan romawi bahasa Belanda. Sepertinya peneliti naskah ini telah berhasil menterjemahkan isi dari naskah kuno itu. Naskah itu memiliki aksara yang mirip dengan aksara Sinar Avedi, hanya sedikit ornamen dan garis panjang yang membedakannya.

“Caturyuga Nusantara” Dimas memulai kalimat pertamanya.

“Empat Jaman. Jaman Emas, Jaman Perak, Jaman Perunggu, Jaman Besi. Naskah ini menceritakan empat buah jaman yang pernah dilalui oleh Nusantara. Babad Narapati, Babad Sarwajala, Babad Sundapura, Babad Sriwijaya, Babad Mataram, Babad Majapahit, Babad Walisanga, Babad Tunjung Putih, Babad Kaliyuga. Naskah ini dibagi menjadi Sembilan babad. Kau yakin menemukannya di perpustakaan pusat ?” Dimas agak terkejut dengan isi naskah itu.

“Iya, ada dalam sebuah bungkusan kertas yang bertuliskan ditemukan di Ciseukeut, Teluk Lada. Memangnya kenapa ?” Pafi belum mengerti keterkejutan Dimas. Raji masih mengkerutkan dahinya tanda belum mengerti.

“Naskah ini memiliki cerita mengenai seluruh sejarah Nusantara sejak Jaman Narapati hingga sekarang bahkan masa depan. Babad Sarwajala bercerita tentang peradaban sesudah Narapati setara waktunya dengan Mesir kuno. Babad Sundapura tentang peradaban di Jawa pengaruh dari India. Babad Sriwijaya tentang kerajaan Sriwijaya di Sumatra, Babad Mataram tentang kerajaan Mataram Hindu di Jawa, Babad Majapahit tentang awal mula dan berakhirnya Majapahit di Jawa. Babad Walisanga tentang kerajaan-kerajaan islam. Babad Tunjung Putih tentang penguasaan bangsa kulit putih. Babad Kaliyuga tentang peradaban masa depan.”

“Babad Kaliyuga maksudmu seperti Jangkha Jayabaya ?” sela Raji.

“Ya, seperti itulah, tetapi ini lebih terbagi-bagi. Ramalan yang seperti itu ada di Babad Kaliyuga.” Dimas membuka bagian mengenai babad kaliyuga.

“Siapa yang membuat sejarah selengkap ini ?”Dimas membuka halaman demi halaman mencari nama pembuatnya.

“Pasti orang-orang yang pernah hidup pada masa aksara itu berada. Sekarang kan kebanyakan kita menggunakan aksara hanacaraka. Kemungkinan buku ini berasal dari jaman Narapati” Pafi mengungkapan dugaannya.

Kau harus menyimpannya. Disana ada sejarah bangsa ini yang sangat penting. Belanda bisa menyembunyikannya.” Dimas memberikan saran.

“Mungkin kita simpan saja dulu di ruangan ini. Aku tertarik menelitinya.” Pafi menutup kitab itu dan menyimpannya di atas meja.

“Bagaimana dengan naskah itu, apakah kau bisa memecahkannya ?” tanya Raji. Dimas diam. Dia memang sering menyembunyikan sesuatu dari kedua sahabatnya itu. Tapi tidak berbohong kepada mereka. Tetapi Dimas teringat janji yang diminta Gandrung.

“Buka saja” katanya berusaha menghindari untuk berbohong. Raji menarik tali gulungan naskah itu. Tidak ada apapun dari naskah itu. Naskah itu masih tetap kosong dan tidak berubah.

“Mungkin lain kali kita menyelidikinya lagi. Sepertinya waktu sudah sore.” Dimas menggiring kedua sahabatnya untuk pergi. Dia berusaha mencegah ada pembahasan lagi tentang naskah kosong itu. Pembahasan yang dia yakin akan membawanya melanggar Janji pada Gandrung. Raji dan Pafi menurut. Kelihatannya mereka berdua sudah puas dengan perjalanan mereka sendiri.

“Kita keluar dimana ?” tanya Raji.

“Di belakang huma saja” usul Pafi. Dimas dan Raji mengangguk setuju. Kemudian mereka bersama-sama menyebutkan tujuan mereka. Setelah pintu dibuka dan memastikan tidak ada orang yang melihat mereka keluar persis di belakang huma. Dengan mengendap-endap mereka kembali ke dalam asrama. Langit senja sudah mulai gelap. Kelelawar terbang meramaikan kelabu langit yang berbalut kabut ungu. Sebagian anak-anak yang bermain di halaman tengah telah meninggalkan permainan mereka. Ruang-ruang asrama mulai diterangi lampu-lampu.

Semalaman setelah selesai makan Dimas masih terus memikirkan isi naskah yang merupakan pesan Gandrung khusus kepadanya. Kedua tangannya di sandarkan di bawah kepalanya. Matanya menerawang ke atas seakan menembus dipan di atasnya. Dimas mengulang-ulang kalimat-kalimat dalam naskah itu. Tidak satupun yang dia mengerti. Biasanya dia bisa berbagi dengan kedua sahabatnya dan memecahkan bersama. Tapi kali ini kepalanya harus berpikir sendirian tanpa bantuan penalaran cerdas Pafi dan celetukan jenius Raji. Tetap tidak ada apapun yang menerangi kabut dalam pikirannya. Akhirnya Dimas menyerah. Dia memutuskan untuk memberi kesempatan tubuhnya untuk beristirahat dan menyerahkan semua waktu yang tersisa pada malam.




BAGIAN 3 - ORANG MISTERIUS

Suasana ruang belajar cukup sibuk dengan banyak anak-anak asrama yang sedang serius mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Dimas termasuk salah satu di antaranya. Dari arah pintu ruang belajar yang selalu tertutup datang orang yang tidak asing bagi Dimas yang langsung menghampiri. Raji baru saja masuk ke ruang belajar menghampiri Dimas yang sedang duduk mengerjakan tugas-tugasnya.

“Dimas, kamu dipanggil Nyai Janis, disuruh menghadap ke kantornya” kata Raji berbisik di sebelah Dimas. Dimas mengkerutkan dahinya, tidak pernah ada anak-anak asrama yang dipanggil secara khusus ke kantor nyai Janis, kecuali akan dihukum. Pikirannya terus berusaha mengingat kesalahan apa yang dibuatnya.

“Ada apa dia memanggilku ? aku salah apa ya….” Dimas bertanya kepada Raji.

“Entahlah, tadi dia hanya berpesan seperti itu” Raji hanya mengangkat bahunya.

“Apakah kau tadi dipanggil juga ?” tanya Dimas. Raji menggeleng. “Aku kebetulan berpapasan dengannya tadi. Dan dia berpesan agar aku mencarimu”

“Mungkin dia mengetahui kalau kita keluar malam. Atau Aryo mengadukan hal ini padanya” Dimas setengah berbisik kepada Raji.

“Rasanya tidak, kalau dia tahu tentu aku sudah dipanggil juga saat ini bersamamu” tegas Raji. Dimas menganggukan kepala setuju.

Dimas masih terus bingung saat dia berjalan meninggalkan Raji di ruang belajar dan terus pergi menyusuri lorong bangsal menuju kantor asrama yang letaknya di ujung dekat musholla. Dimas melihat sebuah pintu kayu jati yang tertutup, sejenak dia agak ragu untuk mengetuk pintu itu. Tapi keberaniannya segera dikumpulkan dan mengetuk pintu tiga kali. Dari dalam ruangan terdengar suara lembut menyuruhnya masuk.

“Masuklah…”.

Dimas mendorong pintu itu dan dilihatnya Nyai Janis sedang duduk dengan kacamatanya yang bundar kecil agak menggantung di hidungnya yang mancung. Di tangannya sebuah buku yang terbuka setengah, nampaknya sedang dibacanya ketika Dimas mengetuk pintu.

“Goede Morgen, Nyai” Dimas memberi salam agak ragu.

“Kemari nak, duduklah” Nyai Janis melambaikan tangannya kepada Dimas.
Kemudian menunjuk bangku yang berada di depan mejanya. Dimas duduk dengan wajah yang agak tertunduk.

“Apakah saya melakukan kesalahan Nyai ?”

Dimas mulai membuka kebingungannya dengan pertanyaan yang paling mungkin untuk mendapatkan kejelasan mengenai alasan pemanggilannya. Mendengar pertanyaan Dimas yang memang menurutnya paling logis, Nyai Janis tersenyum.

“Tidak nak, jangan khawatir, kamu tidak melakukan kesalahan apapun”

Nyai Janis berdiri dari duduknya berjalan menghampiri meja lain di sebelah kanan mejanya, merapat ke jendela yang langsung mengarah ke kebun jagung pak Narso. Tangan meraih kendi air dari tanah liat berwarna coklat gelap yang sudah kelihatan agak lembab. Air putih di dalamnya kemudian dituangkan ke dalam cangkir kaleng yang terletak di samping kendi. Setelah tiga perempat cangkir kaleng itu terisi, dia membawanya kembali ke mejanya semua dan menyorongkan cangkirnya ke hadapan Dimas yang kepalanya mengikuti setiap gerakan Nyai Janis.

“Minumlah dulu agar rasa khawatirmu hilang”.

Dimas menunduk dan meraih cangkir yang disodorkan Nyai Janis kepadanya lalu meminumnya. Segar rasanya air itu masuk membasahi kerongkongannya. Dimas heran dengan kesegaran air yang diminumnya, padahal setiap hari dia juga meminum air dari wadah yang serupa, kendi, tapi air yang sekarang diminumnya sungguh berbeda, membuat matanya seketika seperti berbinar cerah, badannya terasa ringan dan …….segar!

“Saya ingin mengetahui sesuatu darimu”

Nyai Janis mulai menampakan raut muka agak serius, tapi kemudian disamarkan dengan senyumannya. Dimas tertegun dan mencoba mendengarkan apa yang akan ditanyakan oleh Nyai Janis.

“Apakah kamu masih sering bermimpi mengenai kedua orang tuamu ?” Nyai Janis menatap tajam. Dimas sontak menaikan kepalanya yang agak menunduk, dan ketika matanya beradu pandang dengan Nyai Janis, segera ditundukan kembali kepalanya lebih dalam dari sebelumnya.

“Hah… dari mana dia tahu mengenai hal itu, apakah Raji yang menceritakannya. Aduuuuh… kenapa dia tanya mengenai hal itu” katanya dalam hati.

Hatinya tergetar marah bingung kepada siapa dia akan menuduh diantara kedua sahabatnya yang membocorkan cerita mengenai mimpi-mimpinya, dia yakin kalau salah satu atau kedua sahabatnya telah menceritakan semuanya kepada Nyai Janis.

“Hmm…. Kamu tak usah marah kepada Raji atau Pafi, dia tidak menceritakan apapun mengenai mimpi-mimpimu.” Nyai Janis tetap tersenyum.

Nyai Janis seperti tahu apa yang bergejolak di kepala Dimas dan berusaha menenangkannya. Kontan Dimas agak terkejut sekaligus heran, rasa marah yang tadi menggumpal di dadanya berubah menjadi keheranan, bagaimana Nyai Janis bisa tahu apa yang sedang dipikirkannya. Dalam keraguan antara ingin berterus terang, tak ingin orang lain kasihan kepadanya dan rasa malas harus menceritakan kembali apa yang selama ini selalu muncul dalam mimpi-mimpinya, Dimas mulai bicara agak terbata-bata.

“Eh… ya, itu…. Mimpi…. Emmm….semakin sering sejak sebulan terakhir ini” Dimas menjawab agak gagap.

“Baiklah, kelihatannya kamu belum siap untuk bercerita, tapi yakinlah saya hanya berniat membantu mengurangi beban pikiranmu” Nyai Janis berkata dengan lembut walaupun ada getar kecewa terasa.

“Sekarang kamu boleh kembali melanjutkan aktivitas kamu” Nyai Janis memberikan isyarat kepada Dimas untuk meninggalkan ruangan, segera saja Dimas bangkit.

“Terima kasih Nyai”

Dimas segera bergegas meninggalkan kantor Nyai Janis dan kembali ke ruang belajar melanjutkan PR sekolahnya. Di ruang belajar Dimas bertemu Raji dan Pafi yang sudah bersama Raji juga sedang mengerjakan PR nya. Raji yang melihat Dimas masuk ke ruangan mengerutkan dahi dan memberikan isyarat anggukan pertanyaan. Setelah duduk berhadapan Dimas memberitahukan apa yang terjadi di ruangan Nyai Janis dengan berbisik-bisik.

“Kalian tidak memberitahu apapun mengenai mimpi-mimpiku kepada Nyai Janis kan ?”. Raji mendengar pertanyaan itu berjengit kaget seraya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dimas percaya dengan sahabatnya ini.

“Bagaimana dia bisa tahu ? aku tidak pernah memberitahukan mengenai mimpi-mimpimu kepada siapapun. Aku berani bersumpah” Raji menegaskan kembali jawabannya.

“Aku juga, berani bersumpah” Pafi mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan.

“Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya dia bisa membaca pikiran orang lain, seperti kemampuan yang aku miliki. Mungkin dia membacanya dari kepala kalian tanpa kalian sadari.”

Raji mengangguk, “Mungkinkah dia memiliki kemampuan yang sama” pertanyaan yang juga terlintas di benak Dimas.

“Mungkin” Dimas mendesis hampir tak terdengar.

“ah… itu mungkin alasan mengapa dia selalu menatapku setiap aku mencelanya dalam hati, aduh….. gawat” Pafi meremas wajahnya yang ditundukan dengan telapak tangan kanannya.
“Kalau Nyai Janis juga bisa membaca pikiran orang lain, bisa gawat. Dia akan tahu semua hal yang kita lakukan dan kemana kita pergi.” Raji khawatir dengan kenyataan baru yang mereka temukan.

“Kita harus mencegahnya membaca pikiran kita.” Kata Pafi.

“Kita minta bantuan pak Narso untuk melatih kalian berdua menutup pikiran dari orang lain” Usul Dimas disetujui Pafi dan Raji. Mereka berencana akan mengunjungi pak Narso begitu selesai semua PRnya. Sesaat kemudian sudah terlarut dengan setumpuk PR yang belum sempat dikerjakannya kemarin-kemarin.

Sore hari seperti yang dijanjikan Dimas, Raji dan Pafi berangkat ke tempat pak Narso. Pak Narso sedang asyik duduk menghisap cangklong rokoknya. Ditemani segelas kopi buatan Mbok Sinem. Mbok Sinem tidak terlihat bersamanya. Mungkin sedang melakukan pekerjaan lain di dapur. Pak Narso tidak melihat kedatangan Dimas, Raji dan Pafi. Matanya asyik memandang kebun sayur di sebelah barat rumahnya.

“Selamat sore pak Narso!” Dimas menyapa. Lelaki tua itu melepaskan cangklongnya dari bibirnya. Wajahnya sumringah melihat kedatangan Dimas, Raji dan Pafi.

“Ah, kebetulan sekali. Saya tadi sedang berpikir akan menemui anak semua.” Pak Narso menggeser duduknya di atas bale-bale.

“Pak Narso ingin membicarakan sesuatu dengan kami ?” tanya Dimas

“Iya, tapi silahkah sampaikan dulu maksud kedatangan anak semua kesini” kata Pak Narso. Dimas duduk di sebelah pak Narso. Raji dan Pafi duduk disebelahnya.

“Begini Pak, tadi siang Nyai Janis memanggil saya. Awalnya saya pikir saya melakukan kesalahan. Tetapi ternyata Nyai Janis menanyakan tentang mimpi-mimpi yang saya alami. Kami tidak tahu dari mana dia tahu mengenai mimpi-mimpi saya itu.” Dimas berhenti melihat reaksi wajah pak Narso.

“Apakah nak Dimas hendak bertanya kalau saya memberitahukan hal ini kepadanya ? Saya tidak pernah membicarakan masalah ini dengan Nyai Janis.” Pak Narso merasa arah pembicaraan Dimas meminta kejelasan darinya.

“Bukan, bukan itu maksud kedatangan kami. Saya tahu kalau pak Narso tidak menceritakan apapun mengenai mimpi saya. Kami hanya menduga kalau Nyai Janis bisa membaca pikiran orang lain, seperti saya. Mungkin Nyai Janis tahu melalui cara itu. Kami khawatir dengan cara itu dia akan mengetahui semua hal yang pernah kami alami atau kami ketahui. Kami ingin pak Narso mengajari Raji dan Pafi bagaimana menutup pikiran mereka seandainya ada orang yang hendak membaca pikiran mereka.”

Pak Narso diam. Seperti biasa dirinya selalu merenung sejenak sebelum bicara. “Baiklah saya akan melatih nak Raji dan nak Pafi, tapi saya mengajukan syarat.” Pak Narso seperti menemukan cara untuk mendapatkan hal yang tadi ingin dibicarakan sejak awal. Pafi dan Raji saling pandang. Dalam hati Raji berharap syaratnya tidak dilarang untuk menggunakan kemampuannya lagi.

“Baiklah Pak Narso, kami setuju” kata Dimas setelah mendapat persetujuan dari Raji dan Pafi.

“Setelah saya ajari caranya, Anak semua harus jujur kepada saya. Anak semua harus menceritakan semua hal yang belum anak ceritakan pada saya.” Pak Narso menatap tajam kepada Dimas. Dimas, Raji dan Pafi saling pandang. Mereka tidak menduga syarat pak Narso begitu berat. Dimas meminta ijin berbicara dengan Raji dan Pafi menjauh dari pak Narso. Mereka bertiga terlibat pembicaraan serius. Beberapa saat kemudian mereka kembali menghampiri pak Narso.

“Baiklah pak Narso, kami telah sepakat menceritakan semua hal yang belum pernah kami ceritakan kepada pak Narso” kata Dimas singkat.

“Termasuk hal yang nak Dimas belum ceritakan kepada nak Raji dan Pafi ?” Dimas tercekat. Raji dan Pafi menatapnya dalam. Dimas tidak sanggup menatap kedua sahabatnya. Mata pak Narso hanyalah arah yang paling nyaman saat ini. Pak Narso seperti tahu semua hal yang disembunyikannya. Dimas berpikir dari mana pak Narso bisa tahu kalau dia menyimpan banyak hal yang belum diceritakan kepada Raji dan Pafi. Dimas menyerah. Pandangan Raji dan Pafi terlihat begitu kecewa. Dia merasa begitu bersalah kepada kedua sahabatnya. Semoga mereka memaafkannya dengan menceritakan semuanya pada mereka, katanya dalam hati.

“Baiklah, saya setuju” dengan suara berat Dimas menyetujui pak Narso. Akhirnya Dimas, Raji dan Pafi menceritakan semua pengalaman mereka di negeri Narapati kepada pak Narso hingga malam. Pak Narso mendengarkan dengan seksama semua cerita mereka. Mbok Sinem menambah kemeriahan suasana dengan singkong rebus dan wedang jahenya. Mereka terus bercerita sepanjang malam. Seakan tidak habis-habisnya. Sungguh terasa ajaib kelegaan yang mereka rasakan setelah menceritakan semua petualangan mereka di negeri Narapati kepada pak Narso. Mereka kini punya tempat yang mereka percaya untuk berbagi cerita, pengalaman dan nasehat. Ada perasaan Dimas apakah ini yang dirasakan kalau memiliki orang tua. Ada tempat mengadu, tempat bertanya, tempat berbagi kisah, tempat belajar, tempat mendapatkan kasih dan sayang. Alangkah bahagianya kalau dirinya memiliki orang tua. Tak terbayangkan penyesalan yang harus ditanggung jika menyia-nyiakan kasih sayang orang tua.

------ ***** ------

Hari minggu yang cerah, menyenangkan sekali hari ini setelah selesai semua PR kemarin kini saatnya untuk bersantai. Dimas dan Raji sudah bersiap dengan segala rencananya hari ini. Dengan semangat mereka berjalan keluar bangsal menuju kebun belakang pak Narso. Sesampai di huma di tengah kebun jagung, sudah tampak Pafi menunggu di bawah huma. Tidak ada janji apapun untuk berlatih bersama pak Narso. Hari minggu ini diputuskan untuk berwisata.

“Pafi, kamu sudah lama menunggu ?” Raji menyapa gadis tersebut yang terlihat cemberut menatap mereka.

“Pernah kah kalian datang tepat waktu ?” Sergah Pafi kepada Dimas dan Raji. Raji yang sudah sering mendengar sergahan seperti itu hanya cengengesan.

“Maafkan kami, kami agak terlambat karena aku tadi harus ke ruangan Nyai Janis” Dimas berusaha menjelaskan. Wajah berkerut dan agak heran membentuk di wajah Pafi.

“Apakah dia menanyakanmu lagi soal mimpi-mimpi itu ?” Tanya Pafi sambil mengambil posisi duduk. Suara agak lebih tenang. Tampaknya Pafi sudah mengira akan ada cerita panjang yang akan didengarnya dari Dimas. Wajah galak Pafi segera saja berubah menjadi rasa ingin tahu dan berusaha mengambil posisi nyaman untuk mendengarkan apa yang akan diceritakan Dimas.

“Ehm…. Ya… dia bilang aku tidak boleh lagi belajar terlalu malam, Dia menghawatirkan kesehatanku” Kata Dimas berbohong.

Mendapat jawaban yang tidak menarik itu, air muka Pafi segera berubah kembali galak, harapan mendengarkan berita yang fantastik lebur begitu saja dengan jawaban singkat Dimas.

“Ayo kita berangkat” Pafi segera beranjak dari tempatnya sambil menggendong bekalnya. Ketiganya akhirnya tidak lagi melanjutkan pembicaraan mengenai pemanggilan Dimas oleh Nyai Janis. Mereka mulai sibuk dengan pembicaraan mengenai hal-hal yang akan mereka lakukan di hari libur ini. Minggu ini rencana mereka akan bermain ke sungai code. Sungai yang cukup besar itu membelah Jogjakarta. Sungai itu menjadi tempat kehidupan rakyat di Jogjakarta.

Segar sekali wajah-wajah Dimas, Raji, dan Pafi setelah beberapa waktu bermain air di sungai. Tangan Raji menenteng beberapa ekor ikan hasil pancingan mereka di sungai. Tentu saja dengan sedikit bantuan pengendalian airnya. Cara yang dianggap Pafi terlalu mau cari gampang. Dimas sedang menyiapkan api unggun untuk membakar ikan hasil pancingan mereka. Dimas berusaha membuat api dari tumpukan kayu kering seperti yang pernah dipelajarinya pada kegiatan kepanduan di bangku sekolah dasar.

“Ini ikannya”

Raji menyorongkan seikat ikan yang sudah dibersihkannya di sungai. Dimas meraihnya dan kemudian menggantungnya di tiang kayu setinggi empatpuluh senti yang sudah ditancapkan di sisi api unggun. Kemudian mengambil satu persatu ikan-ikan itu dipasangkan pada sebuah tusuk satai dari bambu yang diletakan menggantung melintang di atas perapian. Seketika bunyi meretas dari arang yang tersiram tetesan air diikuti asap putih yang mengepul dari tengah-tengah tumpukan perapian. Kulit ikan yang melepuh dan mengkerut menebarkan aroma daging bakar membuat ketiganya begitu tak sabar ingin menyantapnya. Begitu matang segera saja ketiganya segera menyantap dengan lahap sambil meniup-niup mengurangi panas. Sungguh lezat sampai-sampai mereka tak saling bicara karena keasyikan menikmatinya. Dalam keasyikan yang luar biasa itu tak sadar bila ada dua orang dari kejauhan berjalan tepat ke arah mereka.

“Permisi nak, boleh kami sedikit bertanya ?” Seorang yang sudah tua mengajukan pertanyaan. Ketiganya yang sedari tadi tidak sadar akan kehadiran kedua orang itu, serentak kaget dan menoleh. Orang tua yang bertanya itu hanya tersenyum.

“Kalau kami mau ke Desa Code, kami harus melalui jalan yang mana ya ?” Orang tua tadi melanjutkan pertanyaannya. Dalam kaget itu Dimas menjawab seadanya “Oh…ke arah selatan pak, susuri saja sungai ini ke selatan, Desa pertama itu namanya Desa Code”

“Oh…terima kasih nak, kalau begitu kami permisi” Kedua orang itu kemudian pergi meninggalkan tempat ke arah selatan. Dimas saling pandang dengan Raji dan Pafi. Dan tiba-tiba saja bulu kuduk mereka merinding berdiri. Seperti sudah saling tahu apa yang harus dilakukan, semuanya segera membereskan semua barang bawaan mereka dan menghempaskan sisa ikan bakar yang belum habis mereka makan dan berlari sekencangnya.

“Dimas…tunggu!” suara Pafi yang sedikit tertinggal di belakang oleh gerak langkah Dimas dan Raji yang bergerak makin cepat meninggalkan api unggun. Setelah sampai pada sebuah jalan besar, ketiganya berhenti mencoba mengatur nafas mereka yang terburu-buru tak beraturan.

“Ah..hah..hah…kenapa kalian tiba-tiba larih ….hah…hah….” suara Pafi yang terengah-engah.

“Hufffhhhh…hah…hah… kamu kenapa juga ikut berlari hah…hah….” Raji balik bertanya.

“Ya….ahhh akhu….mengikuti kalian berlarih…..hah…hah….memangnya aku harus ngapain!” Pafi menyergah dengan wajah galak yang merah padam dengan penuh keringat.

“Sudah…sudah…hah…hah…kalian ada yang lihat dari manah…hah…hah… datangnya kedua orang tadih…hah…hah..” Dimas mencoba melerai di tengah kelelahannya juga. Tapi semua menggeleng memastikan tidak ada yang tahu dari mana kedua orang tadi datang.

“Apakah hah…kalian pernah melihat orang-orang itu sebelumnyah…hah….”

Dimas mencoba memastikan kembali. Semua terdiam tak ada yang sanggup mengingatnya dengan kepala yang berdenyut karena degup kerja jantung yang terpompa adrenalin ketakutan.

“Kalau tidak salah, orang itu pernah kita lihat sewaktu kita pulang sekolah minggu lalu, kita berpapasan dengan mereka di jalan menuju asrama” Yang lain mencoba menarik ingatan seminggu lalu dari kepala mereka.

“Ya, betul! Kita juga sempat kaget karena tiba-tiba saja mereka muncul” seru Pafi sambil memandang yang lain.

“Tapi siapa mereka ?” Raji mulai garuk-garuk kepala kebingungan.

“Apakah mereka orang yang sama dengan yang kau lihat di pintu gerbang sekolah dulu” Tanya Pafi kepada Dimas.

“Tidak, mereka orang yang berbeda. Yang aku lihat di gerbang sekolah keduanya masih tampak muda dengan pakaian jawa, sedangkan yang kita lihat tadi itu berpakaian dengan jubah” Tegas Dimas.

“Lebih baik kita kembali ke asrama” Dimas mengajak kedua sahabatnya untuk meninggalkan tempat yang diiringi anggukan Raji dan Pafi yang juga mengikuti. Dengan tenaga yang tersisa ketiganya melangkah gontai di jalanan besar yang sudah mulai teduh oleh bayangan pohon-pohon. Matahari sudah begitu jingga dan akhirnya lenyap di balik awan kelabu yang menjamur di cakrawala barat. Akhirnya mereka pun tiba di depan halaman asrama yang sudah terang oleh lampu-lampu teplok.

Suasana sore telah berubah menjadi malam, gelap yang menyelimuti asrama terasa begitu kental dengan bunyi serangga malam yang berterbangan tertarik cahaya-cahaya lampu dari dalam asrama. Ruang makan telah penuh dengan anak-anak asrama yang sedang bergiliran mengambil makanan perasmanan yang dijaga oleh pembantu-pembantu asrama. Dimas, Pafi dan Raji sedang dalam antrian dengan piring dan gelas mereka. Belum sempat sendokan nasi dari Mbok Sinem masuk ke piring Raji, tiba-tiba saja dari arah belakang Aryo dan kedua temannya datang menyerobot dan mendorong Raji ke samping, yang menyebabkan antrian di sebelah Raji ikut terdorong. Pafi tampak geram melihat yang dilakukan oleh Aryo dengan kedua temannya. Pafi dengan gerakan refleks menebaskan tangannya ke udara kosong, tetapi pada saat yang bersamaan Anip yang berada dibelakang Aryo terdorong ke depan yang tanpa sengaja mendorong tangan Aryo yang sedang memegang piring yang penuh dengan nasi sehingga jatuh ke lantai, sementara tangan Mbok Sinten yang telah siap menuangkan satu sendok kuah sayur panas tak ayal lagi tumpah di dada Aryo. Seketika aryo menjerit kepanasan dengan sayur yang penuh berantakan di atas dadanya dan sepiring nasi yang tumpah berantakan di atas kakinya.

“Aduh….aduh…..” Aryo berteriak kesakitan. Aryo dan ketiga temannya menjadi pusat perhatian di seluruh ruangan. Sementara Dimas, Raji dan Pafi tersenyum tipis.

“Kurang ajar kau Anip, aku hajar kau, aduh…panas…panas” Aryo memaki Anip sambil memegang dadanya yang basah dengan kuah sayur.

“Maafkan aku Yo, aku tidak sengaja. Tiba-tiba saja seperti ada yang mendorongku dari belakang” Anip memegang tangan aryo yang sudah menarik kerah bajunya.

“Kau yang melakukannya Pafi ?” Dimas berbisik kepada Pafi.

“Rasain dia, biar tahu rasa” Raji tampak senang melihatnya.

“Iya, aku tidak sengaja melakukannya. Tadi aku hanya kesal dan tidak sengaja mengeluarkan tenagaku” kata Pafi juga berbisik.

Dari kejauhan Nyai Janis bergegas menghampiri Aryo dan kedua temannya. Wajahnya tampak marah melihat lantai yang berantakan. Aryo masih saja mengeluh mengelus-elus dadanya yang masih terasa panas.

“Ada apa ini” mata Nyai Janis menatap Aryo yang sudah tertunduk dan melepaskan cengkramannya pada kerah Anip, lalu bergantian menatap Anip dan Amik yang sudah sejak tadi menunduk ketakutan. Namun tak lama kemudian Nyai Janis menatap Dimas, kemudian berganti ke pada Raji dan terakhir kepada Pafi. Cukup lama Nyai Janis menatap Pafi, sehingga membuat Pafi kikuk dan tidak nyaman. Seolah Nyai Janis tahu penyebab kejadian itu.

“Mbok Sirah, tolong dibersihkan” ayo lanjutkan makan kalian. Tanpa banyak menunggu lagi semua kembali pada makanan masing-masing. Dimas, Pafi dan Raji juga secara bergilir mengambil makanan ke dalam piring masing-masing.

“Tadi Nyai Janis menatapku lama sekali, seakan dia tahu” Pafi berbisik kepada Dimas sambil berjalan membawa piringnya ke meja.

“Sepertinya dia tadi mencoba memasuki pikiranku, tapi aku berhasil menahannya” kata Dimas dengan pelan.

“Apa yang kita rasakan kalau pikiran kita sedang dimasuki oleh pikiran orang lain ?” Raji bertanya.

“Kau akan merasakan rasa dingin di dalam kepalamu menjalar keseluruh bagian kepala, lalu kau akan merasa beku dan ketika sudah menjalar ke leher dan punggungmu, maka kau sudah dalam keadaan beku tidak lagi tahu apa yang sedang terjadi” Dimas menjelaskan.

“Darimana kau tahu semua itu ?” Tanya Raji penasaran

“Kami pernah mencobanya berdua” Pafi menjawab pertanyaan Raji.

“Kalian pernah mencobanya tapi aku tidak diajak, keterlaluan” Raji menggerutu marah.

“Kau sudah aku ajak, tapi kau malah memilih tidur” Dimas menjelaskan.

“Makanya kalau tidur jangan seperti bangkai, sudah merem tidak pernah bisa bangun lagi” Pafi mencela Raji.

“Lalu apakah kau tadi merasakan Nyai Janis membaca pikiranmu” Tanya Raji mencoba berusaha menerima.

“Iya, tadi aku juga merasakan rasa dingin persis dengan yang aku rasakan sewaktu latihan bersama Dimas, tapi hanya sebentar, aku bisa cepat menguasai diri. Aku tidak tahu kenapa” Pafi menjelaskan

“Itu karena aku masuk juga ke dalam pikiranmu menyelubungi pikiranmu sehingga tidak bisa ditembus Nyai Janis. Itu mengapa Nyai Janis menatapmu agak lama, karena dia berusaha terus masuk ke dalam pikiranmu tapi tidak juga bisa masuk” Dimas menjelaskan apa yang telah dilakukannya.

“Kau bisa melakukan itu ? sejak kapan kau bisa melakukannya” Tanya Raji bersemangat sambil memakan makan malamnya.

“Sejak setelah aku dipanggil oleh Nyai Janis tempo hari. Dia berusaha memasuki pikiranku dan aku menolaknya dengan menutup pikiranku. Untungnya aku banyak berlatih dengan pak Narso dan sering mencoba memasuki banyak pikiran anak-anak asrama, aku makin banyak tahu apa yang bisa aku lakukan dengan pikiran mereka dan pikiranku sendiri” Dimas membisikan kedua temannya ketika ada seorang anak melintasi meja mereka.

“Oh..aku mengerti sekarang, itu sebabnya aku sering melihat tiba-tiba ada anak berjalan seperti melamun atau tiba-tiba terdiam saat sedang melakukan PR di ruang belajar. Jadi mereka itu sedang kau baca pikirannya” Pafi menaikan alisnya.

“Iya, tapi aku tidak membaca semua pikiran dan mengubah apapun dari mereka, aku hanya bermain-main untuk mencoba-coba apa saja yang bisa aku lakukan dengan pikiran orang lain. Aku itu tidak baik, tapi aku tidak akan tahu sampai dimana kemampuanku ini tanpa mencobanya, makanya aku tidak bilang-bilang ke kalian.” Dimas menjelaskan untuk mencegah kedua sahabatnya salah paham atas apa yang telah dilakukannya. Mereka pernah melihat Dimas membuat Aryo dan gengnya mencuci piring bekas makan mereka beberapa waktu yang lalu. Dan itu hal terindah yang pernah mereka lihat tentang Aryo.

“Lebih baik kita lanjutkan pembicaraan kita di tempat lain yang lebih aman, bagaimana ?” Pafi mengusulkan idenya.

“Hmmmmm aku setuju” Raji mengangguk setuju dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

“Baiklah, kita harus saling menceritakan apa yang telah kita lakukan dengan kemampuan yang kita miliki. Sekarang kita segera selesaikan makan malam ini” Dimas menyetujui dan segera menyantap makanannya tanpa banyak bicara lagi. Sementara dari kejauhan tampak Nyai Janis terus memperhatikan mereka bertiga dengan seksama. Mata Nyai Janis tampak menyipit memandang sesuatu dengan penuh rasa ingin tahu. Sayang dia tidak bisa mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh Dimas dan kedua sahabatnya. Seperti ada sesuatu yang membuat mereka seperti tidak mengeluarkan suara sama sekali.