<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824</id><updated>2012-02-16T02:53:31.705-08:00</updated><title type='text'>BUKU KEHIDUPAN</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-5593597973368378871</id><published>2008-03-23T19:11:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T11:04:25.023-08:00</updated><title type='text'>BUKU KEHIDUPAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Q2p7Csus8FQ/R-nnbXPNOhI/AAAAAAAAACk/LpsNlbW6u3Q/s1600-h/namewritten_textmedium.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181927303546747410" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="188" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Q2p7Csus8FQ/R-nnbXPNOhI/AAAAAAAAACk/LpsNlbW6u3Q/s400/namewritten_textmedium.jpg" width="262" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah kembali dari dunia Narapati 15.000 tahun lalu Dimas dibayangi oleh mimpi-mimpi yang membuatnya kembali bertanya siapa dirinya sebenarnya. Pencariannya kali ini mendapatkan jawaban yang mengejutkan. Dirinya ternyata seorang Narapati. Masih tersisa pertanyaan besar setelah kepulangan mereka. Dimana dunia tengah tempat sekarang Narapati tinggal. Bersama Raji dan Pafi, Dimas berusaha mencari dimana dunia tengah berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas tidak sadar kalau pencariannya telah mengundang bahaya. Bahaya yang tidak hanya untuk dirinya, tapi untuk seluruh Narapati. Bangsa Amukhsara menyerang asrama. Mencari Buku Kehidupan yang selama ini disembunyikan Narapati dengan rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas harus bertempur mati-matian melawan Amukhsara. Tetapi Dimas tidak sendirian, banyak Narapati lain yang sudah siap membantunya. Dimas tersadar, kalau selama ini dia hidup dikelilingi oleh Narapati. Bangsa yang tahu dari mana dirinya berasal. Terlebih lagi dimana orang tuanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-5593597973368378871?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/5593597973368378871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=5593597973368378871' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/5593597973368378871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/5593597973368378871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/sinopsis.html' title='BUKU KEHIDUPAN'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Q2p7Csus8FQ/R-nnbXPNOhI/AAAAAAAAACk/LpsNlbW6u3Q/s72-c/namewritten_textmedium.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-5450869513312433416</id><published>2008-03-23T19:09:00.000-07:00</published><updated>2008-03-24T22:41:18.529-07:00</updated><title type='text'>BAGIAN 14 - PEMBAWA BUKU KEHIDUPAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pak Narso telah dimakamkan di dekat rumahnya. Dimas masih saja memandangi tanah merah yang penuh dengan taburan bunga. Raji dan Pafi setia mendampinginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin sendirian dulu” Dimas meminta waktunya. Raji dan Pafi mengerti. Keduanya meninggalkan Dimas sendirian di depan makam pak Narso. Hati Dimas masih terasa sakit sekali. Air matanya mengalir pelan. Tangannya segera mengusapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya akan selalu ingat nasehat-nasehat kakek.” Dimas menjejakan kaki kanannya tiga kali. Batu-batu hitam muncul dari dalam tanah menutupi makam pak Narso kemudian saling merekat menjadi sebuah makam batu. Dimas meninggalkan makam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam asrama Raji dan Pafi sedang duduk bertiga bersama Prabu Narayala di ruang belajar. Pembicaraan mereka bertiga berhenti saat Dimas menghampiri mereka bertiga. Dimas mengambil duduk di depan Prabu Narayala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan saya, telah meninggalkan Bapak Narayala” Mendengar kalimat Dimas Raja Narapati itu menghela nafasnya. Tangannya mengusap pipi kanan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bereaksi seperti manusia lainnya. Aku menganggap kau memang memerlukan waktumu sendirian. Sekarang yang terpenting adalah kau harus melanjutkan hidupmu sendiri. Kematian kakekmu bukanlah hal yang sia-sia. Dia telah meninggalkan begitu banyak kebaikan. Dan kau adalah bukti paling kuat dari warisannya.” Dimas hanya menunduk. Ada perasaan malu teringat dirinya yang begitu emosional. Tapi umurnya baru empatbelas tahun. Reaksi apa yang diharapkan dari anak seumur itu selain emosi yang meluap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadamu, Dimas. bagaimana dengan perasaanmu hari ini” Prabu Narayala mencari situasi yang tepat untuk berbicara dengan Dimas. Sepertinya Prabu Narayala tahu kalau hatinya begitu terguncang dan sedih dengan semua kenyataan baru yang begitu beruntun ditemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya baik-baik saja Bapak Narayala!” Dimas mengusap air matanya yang masih basah di pipinya. Pafi dan Raji memandang Prabu Narayala. Matanya mencari isyarat apakah mereka diminta meninggalkan ruangan. Ternyata Prabu Narayala malah meminta mereka tetap duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baguslah kalau begitu. Aku ingin bertanya kepadamu, Apakah kau ingat dimana Buku Kehidupan disembunyikan ?” Prabu Narayala Dimas diam. Kepalanya refleks menggeleng. Prabu Narayala tersenyum. Dia sudah tahu Dimas akan menjawab tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, terima kasih untuk kejujuranmu. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang harus kau tahu.” Prabu Narayala memandang Dimas lekat. Dimas telah  siap menerima berita apapun setelah berita pahit tentang kedua orang tuanya kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku Kehidupan yang selama ini disembunyikan adalah kau nak. Kau lah buku kehidupan itu. Buku kehidupan yang selama ini dicari oleh Amukhsara.” Dimas tersentak kaget. Matanya menatap Prabu Narayala. Dia berusaha mencari kebohongan dalam matanya. Tetapi tidak ditemukan apa yang dicarinya. Prabu Narayala berkata jujur. Cincin kebenaran di tangannya bersinar merah, artinya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menyampaikan hal ini karena aku tidak mau kau merasa bahwa apa yang terjadi hari ini telah benar-benar berakhir. Hari ini hanyalah sebuah permulaan untuk akhir yang sangat besar. Karena itu aku memintamu bersama Raji dan Pafu ikut pindah ke dunia tengah. Dunia manusia sudah tidak aman lagi untuk kalian bertiga.” Prabu Narayala berhenti memegang pundak Dimas dengan kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku Kehidupan dulunya tersimpan di dalam tubuh ayahmu Tapa Aji. Sebelum pertempurannya dengan Raja Sanaisbin dia berhasil memindahkannya ke dalam tubuhmu dengan sebuah upacara rumit. Ketika kau datang bersama Narasimha Sighram ke Cakravartin, tubuhmu dalam keadaan bersinar sangat terang. Kehadiranmu di Cakravartin sudah diketahui oleh Amukhsara. Mereka mengejarmu sejak saat itu. Aku berpikir tidak aman bagimu berada di Cakravartin. Karena itu setelah mendapatkan pertimbangan kau diputuskan untuk disembunyikan di dunia manusia. Nyai Janis seperti yang kalian kenal adalah bangsa Minoan. Bangsanya juga pindah ke dunia tengah setelah gunung Santorini menghancurkan negerinya. Nyai Janis di negerinya adalah seorang pengelola panti asuhan bagi anak-anak yatim piatu. Aku memintanya untuk pindah ke Jogjakarta dan menjagamu. Kemudian kami mencarikan kau teman untukmu berada di dunia manusia agar kau menjalaninya tidak kesepian. Kemudian dia membawa Raji dan Pafi yang sebaya denganmu dari panti asuhannya di Minoan untuk menemanimu disini. Sejak saat itulah kalian bertiga bersahabat. Dan perkiraanku tidak salah. Kalian menjadi sahabat dekat. Bukan hanya karena persamaan kalian yang yatim piatu, karena hati kalian sudah menjadi satu saat kalian dipertemukan pertama kali saat usia kalian masih dua tahun. Raji dan Pafi langsung memelukmu saat itu, seperti sebuah pelukan pertemuan antara tiga saudara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas berusaha membendung air matanya sekuat tenaga. Prabu Narayala berhenti sejenak memberikan waktu untuknya meluapkan perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak saat itu Amukhsara kehilangan jejakmu. Untuk sementara kau aman bersama Raji dan Pafi di asrama. Nyai Janis berusaha sekuat tenaga memenuhi semua kebutuhan kalian bertiga dan memastikan kalian bertiga terus bersama. Semuanya aman sampai umur kalian beranjak tigabelas tahun. Tahun awal pendewasaan seorang Narapati yang ditandai dengan perubahan-perubahan mendasar pada tujuh cakranya. Proses ini membuka tujuh cakra kalian secara liar dan tidak terkendali. Perubahan itu juga yang membawa kalian kepada pak Narso yang juga seorang Narapati dan membantu kalian bertiga mengendalikannya. Narapati sudah tahu pak Narso tinggal tidak jauh dari asrama sejak asrama ini dibangun. Perubahan pendewasaan Narapati biasanya mengundang perhatian. Banyak mahluk gaib biasanya tertarik dengan lonjakan energy yang kalian timbulkan, termasuk Amukhsara. Tetapi bukan itu yang mengundang Amukhsara menuju tempat ini. Perjalanan kalian ke negeri Narapati 15.000 tahun lalu yang telah mengundang Amukhsara. Lonjakan energy akibat pembukaan gerbang waktu mengguncang dunia tengah seperti sebuah gempa yang sangat hebat. Amukhsara kemudian melacak sumber guncangan dan menemukan asrama ini. Kedatangan dua gendrawa waktu itu tidak lagi bisa dihindari. Gendrawa adalah sekutu Amukhsara. Mereka kemudian melaporkan keberadaanmu di asrama ini. Kemudian seluruh asrama dalam ancaman Amukhsara. Aku bangga sekali kau putuskan tidak mau meninggalkan asrama demi keselamatanmu sendiri. Persahabatan kalian telah membangun pribadi yang kesatria dalam diri kalian. Tapi untuk kali ini ikutlah ke Medanggan Raya. Semakin lama kau berada di tempat ini, semakin banyak bahaya yang datang. Yang bukan hanya mengancammu tetapi juga teman-temanmu yang lain. Mereka bangsa manusia, tidak memiliki kemampuan melindungi diri seperti bangsa Narapati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah saya bisa mengajak nenek saya ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik sekarang kau tanyakan dulu kepadanya.” Dimas mengangguk. Kemudian Dimas berjalan menuju ruangan makan dimana mbok Sinem sedang duduk ldi atas kursi. Tidak ada kata-kata lain yang terucap. Dimas langsung memeluknya. Mbok Sinem menciumi Dimas dengan penuh kasih. Seakan kangennya tumpah ruah di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya akan dipindahkan ke dunia tengah. Nenek ikut dengan saya.” Mbok Sinem hanya mengusap kepala Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia tengah adalah tempatmu nak. Kau punya tanggung jawab yang sangat besar disana. Tetapi nenek tidak bisa ikut denganmu ke dunia tengah. Kakekmu sejak dulu mempunyai cita-cita ingin hidup menjadi manusia biasa. Karena itu kami lari dari dunia tengah. Nenek mengikutinya karena nenek sangat mencintainya. Cintanya pada dunia manusia begitu besar. Karens itu nenek akan melanjutkan cita-citanya itu. Anak-anak asrama ini sangat membutuhkan nenek disini.” Hati Dimas miris mendengar jawaban Mbok Sinem. Pertemuannya yang baru saja harus diakhiri dengan perpisahan lagi. Dimas hanya menangis di pangkuan Mbok Sinem. Mbok Sinem mengerti betul perasaan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sering-seringlah jenguk nenek disini. Jagung rebus dan wedang jahe paling lezat akan selalu dibuatkan untuk kalian bertiga.” Dimas memeluk Mbok Sinem sekali lagi. Mbok Sinem bangun dari kursinya kemudian berjalan ke ruang tengah. Prabu Narayala sudah berdiri menunggu disana. Raji dan Pafi langsung memeluknya saat keluar dari pintu ruangan makan. Kemudian mereka bersama-sama berjalan menuju ruang belajar yang sudah dirapikan oleh prajurit-prajurit Narapati. Di dalam ruang belajar Nyai Janis sudah menunggu. Dimas berlari memeluk perempuan bule itu. Nyai Janis memeluk Dimas erat. Pelukan yang sejak dulu ingin dilakukannya. Raji dan Pafi berlari menyusul memeluk Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan kami yang selalu menyusahkan Nyai Janis.” Dimas melepaskan pelukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, kamu anak pintar Dimas. Kamu tidak pernah menyusahkan saya. Kamu juga Raji, Pafi. Tetaplah bersahabat. Karena itu yang menjadi kekuatan kalian bertiga.” Raji dan Pafi mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampaikan salam kami pada teman-teman”  Dimas meraih tangan Prabu Narayala yang sudah menjulur kepadanya. Raji dan Pafi berjalan menuju pintu gerbang yang telah dibuka lebar. Di depan pintu yang sudah terbuka telah menunggu seekor Narasimha dan dua ekor Garuda kencana bersama Arghapati. Mata Pafi dan Raji menatap tidak percaya menyaksikan seluruhnya dengan mata sendiri apa yang diceritakan Dimas mengenai Dunia Narapati dan mahluk-mahluk gaibnya. Pintu gerbang tertutup. Perjalanan selanjutnya adalah dunia tengah. Dunia yang belum pernah dikenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji, ikutlah Arghapati bersama Garuda kencananya, Pafi ikutlah naik Garuda bersama Kerthapati, dan kau anakku ikutlah bersamaku” Prabu Narayala menempatkan masing-masing menjadi dua orang dalam setiap kendaraan hewannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji dengan bersemangat menaiki Garuda kencana bersama Arghapati yang menyambutnya dengan senyum. Pafi yang agak ragu-ragu duduk di atas punggung Garuda yang memekik rendah ketika dirinya duduk di atas punggungnya. Kerthapati tersenyum melihat Pafi yang tersentak mendengar pekikan sang Garuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia bilang senang bertemu kembali denganmu nona” Kerthapati menjelaskan arti pekikan sang Garuda. Pafi tersenyum kecut tidak mengerti maksud dari Kerthapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semuanya naik, Garuda kencana yang ditunggangi Raji dan Pafi segera mengepakan sayapnya mengangkasa, sedangkan para Narasimha berlari menuruni tangga kuil yang sangat panjang kemudian bergerak ke utara ke arah lereng gunung bromo dimana kemegahan Medanggana Raya berdiri tegak. Petualangan baru saja dimulai, kini Dimas, Pafi dan Raji harus menghadapi dunia baru yang sama sekali belum mereka kenal. Dunia yang memberikan mereka tempat dan kedudukan yang tinggi tetapi juga berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung…….&lt;br /&gt;Buku 3 Bintang Satuasra&lt;br /&gt;Buku 4 Angkorwat&lt;br /&gt;Buku 5 Sang Narayana&lt;br /&gt;Buku 6 Pertempuran Dua Kuil&lt;br /&gt;Buku 7 Kakawin Pralaya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-5450869513312433416?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/5450869513312433416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=5450869513312433416' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/5450869513312433416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/5450869513312433416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/bagian-14-pembawa-buku-kehidupan.html' title='BAGIAN 14 - PEMBAWA BUKU KEHIDUPAN'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-8284750305622272474</id><published>2008-03-23T19:08:00.000-07:00</published><updated>2008-03-24T22:42:02.188-07:00</updated><title type='text'>BAGIAN 13 - PERTEMPURAN DI ASRAMA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Asrama menjadi senyap sekali. Seakan semua suara tertelan. Di dalam asrama tidak ada yang tahu asrama telah dikelilingi oleh Amukhsara. Seluruh anak asrama dan para pembantu kecuali Dimas, Raji dan Pafi telah diungsikan ke dalam ruang keinginan. Kamar rumah Gandrung cukup memberikan tempat yang aman untuk sementara. Dimas, Raji dan Pafi kelihatan gelisah berada di dalam ruangan rumah Gandrung. Ruangan yang semua cukup luas ternyata menjadi begitu sempit dengan begitu banyak anak-anak asrama berada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus keluar dari tempat ini!” Dimas berbisik pada Raji dan Pafi. Matanya menyapu ruangan memastikan tidak ada yang memperhatikan pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana caranya ? Terlalu banyak anak-anak yang melihat kita kalau kita keluar. Akibatnya bisa buruk. Mereka akan mengikuti tindakan kita.” Tangan Pafi memegang naskah yang dulu disimpannya diruangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cerobong sampah!” sahut Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita belum pernah mencobanya. Kita tidak tahu akan keluar dimana” Pafi ragu-ragu. Tidak kalau kau baca yang ini. Dimas menarik tangan Pafi. Dimas membacakan tulisan aksara Sinar Avedi itu. “Semua jalan keluar adalah pintu yang sama”. “Kau percaya sekarang ?” Pafi mengangguk setuju. Mereka bertiga segera menuju dapur. Anak-anak yang lain tidak terlalu memperhatikan mereka bertiga. Dengan perlahan Dimas masuk ke dalam lubang pembuang sampah. Disusul Raji dan Pafi. Saat keluar mereka sudah berada di ruang keinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akan kemana dulu ?” tanya Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsal putra di lantai dua saja.” Usul Raji. Dimas mengangguk setuju. Kemudian mereka membuka sebuah pintu dan menyebutkan bangsal putra di lantai dua. Di balik pintu bangsal putra telah di hadapan mereka. Dari jendela Dimas bisa melihat bayangan hitam yang masih mengelilingi asrama. Dua larik sinar merah meluncur deras dan membuat dentuman keras di udara kosong. Sejauh ini pagar gaib yang dibuat melingkari asrama masih mampu menahan mereka. Tetapi itu tidak akan berlangsung lama. Amukhsara terus-menerus menggedor perlindungan. Semakin lama terasa sihir-sihir perlindungan Narapati makin lemah. Beberapa Narapati penjaga telah bersiaga penuh. Kegelapan malam memperjelas terang lampu-lampu asrama yang menyala di dalam. Tiba-tiba dua larik sinar merah meluncur. Kemudian meledak di udara kosong. Bangunan asrama bergetar hebat. Debu-debu rekahan dinding bertaburan di udara. Dimas merasakan getaran di seluruh ruangan seolah gempa sedang terjadi. Mereka berlari keluar ruangan kemudian menuruni tangga ke lantai bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kalian lakukan ? Kalian seharusnya berada di ruang perlindungan” Kriyandita menangkap kedatangan Dimas, Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami harus membantu kalian. Kami memiliki kemampuan yang sama dengan bibi semua. Kami bisa menjaga diri kami sendiri.” Sahut Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk berlatih. Di depan sana adalah musuh nyata yang kita hadapi.” Kata Sukmaratih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul senyata ancaman yang akan kami hadapi sepanjang hidup kami. Lebih baik menghadapi mereka sekarang.” Kata-kata Dimas menutup debat mereka. Seolah kalimat Dimas tidak dapat lagi dibantah. Sukmaratih dan Kriyandita tidak berkata apa-apa lagi. Dimas segera mengambil posisi disebelah Nyai Janis berada di sebelahnya di dalam ruangan depan. Pak Narso juga berada di sana. Matanya menatap bangga pada ketiga anak asuhnya.Sukmaratih dan Kriyandita berjaga di depan dekat pintu utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mereka akan berhasil menembus perlindungan gaib ?” Pafi tampak lebih khawatir dari pada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum, perlindungan gaib yang dibuat Prabu Narayala sangat kuat. Mereka akan butuh waktu yang lama untuk menembusnya.” Nyai Janis berusaha memberikan keyakinan pada Pafi. Tapi wajah pak Narso menunjukan ketidakyakinannya. Dimas, Raji dan Pafi melihatnya dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa bantuan belum datang juga ? Apakah prajurit jaga gerbang itu berhasil memberitahu Cakravartin?” Kriyandita melihat belum juga ada bantuan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah kita berdoa saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian sudah terkepung. Kalian tidak akan bisa menahanku untuk masuk.” Suara dari luar asrama menggema hingga ke dalam. Sebuah dentuman terdengar lagi. Seluruh gedung terasa berguncang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya pintu gaib telah rusak akibat serangan gendrawa kemarin.” Kata Sukmaratih. Dari luar pintu Garangjiwo dan Lakunogo mundur dan berjaga di depan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pelindung gaib akan tembus! Bersiaplah!” Garangjiwo berteriak memperingati semua yang berada di dalam. Semuanya bersiaga melepaskan serangan. Dua larik sinar merah kembali meluncur dengan cepat. Dalam hitungan detik dentuman mengguncang kembali bangunan asrama. Pelindung gaib benar-benar sudah hancur. Bayang-bayang hitam melompati pagar bergerak dengan cepat. Garangjiwo melepaskan serangannya. Dua sinar biru meluncur deras menghantam dua bayangan hitam. Seketika keduanya terjengkang dan terkapar di atas tanah terbakar hangus. Bayangan hitam yang lain kelihatan tidak peduli dua temannya mati terkapar. Mereka terus maju membalas menyerang. Empat larik sinar merah melesat mengarah pada Garangjiwo dan Lakunogo. Keduanya merunduk menghindari serangan yang langsung menghantam pintu di belakang mereka. Dua daun pintu jati lepas dari engselnya terdorong beberapa meter dari tempatnya. Garangjiwo dan Lakunogo melakukan serangan balik. Beberapa bayangan hitam ambruk. Jantung Dimas berdegup kencang. Pintu terbuka lebar. Sekarang mereka benar-benar tidak terlindung lagi. Namun tiba-tiba terdengar suara geram marah begitu keras. Tidak jelas datangnya dari mana. Tapi terasa dekat sekali suara itu seolah berasal dari dalam asrama. Garangjiwo dan Lakunogo melihat hal yang tidak diduga mereka. Pagar-pagar asrama bergerak seperti dua tangan menghalau bayangan-bayangan hitam yang berusaha masuk ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumah Pelindung! Ternyata asrama ini adalah Rumah Pelindung.  Asrama ini benar-benar menyimpan banyak kejutan. Terlalu banyak sihir-sihir Sinar Avedi disini.” Garangjiwo tetap melakukan serangan-serangannya kearah bayangan-bayangan hitam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumah ini benar-benar marah setelah pintunya dihancurkan.” Kata Lakunogo. Sanaisbin tidak menduga kalau asrama itu adalah rumah pelindung yang diciptakan dengan sihir-sihir Sinar Avedi. Rumah itu bergerak melawan menghalangi pasukan bergerak masuk. Tidak satupun kesempatan diberikan oleh Rumah Pelindung membuat pasukan Amukhsara tercerai-berai. Sanaisbin memutuskan masuk sendiri. Tubuhnya melayang masuk diantara gerakan pagar tangan Rumah Pelindung yang berusaha menghalaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Narso, serahkan tali pusar Jayapati!” Dimas terkejut bukan main. Suara Sanaisbin terdengar saat melayang masuk ke dalam. Suara itu begitu mengerikan dan terdengar sangat berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak akan menyerahkannya.” Pak Narso berteriak keras menolak permintaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, aku akan mengambil paksa darimu. Nasibmu akan sama dengan anakmu Jayapati dan istrinya.”  Suara itu bergema kembali. Dalam sekejap dua larik sinar merah menghantam Garangjiwo dan Lakunogo. Kedua menahan dengan perisai gaib. Tenaga serangan terlalu kuat untuk mereka. Garangjiwo dan Lakunogo terlempar menabrak dinding di dalam ruangan. Keduanya meringkuk menahan sakit akibat benturan. Nyai Janis dan Pafi membantunya. Sebuah bayangan dengan jubah menutup hingga kepala melayang masuk ke dalam. Baju yang compang-camping dan tidak menapak ke lantai menyiratkan kalau itu bukan manusia. Sukmaratih dan Kriyandita maju melakukan serangan. Dua sinar biru dan putih meluncur deras menyerang bayangan itu. Tapi dengan mudah serangan itu dipatahkan. Kedua tangannya membelah ke kanan dan ke kiri. Tubuh Sukmaratih dan Kriyandita terlempar jauh ke dalam koridor. Keempat prajurit khusus dilumpuhkan dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hadapilah aku Sanaisbin” Pak Narso menghadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Serahkan benda itu Narso, kau akan aku ampuni” Sanaisbin melayang berhenti di depan pak Narso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak akan pernah mendapatkannya.” Pak Narso meluncurkan serangan. Dua buah sinar hijau melesat cepat kearah Sanaisbin. Sanaisbin melepaskan dua laris sinar merah menyongsong serangan pak Narso. Kedua sinar itu berbenturan di udara. Seluruh ruangan asrama kembali berguncang hebat. Pak Narso terjengkang. Pak Narso bangkit lagi. Tangannya sudah siap melepaskan serangan. Dua larik sinar kuning melesat dari tangan Sanaisbin. Pak Narso melepaskan serangannya. Dua larik sinar putih meluncur menyongsong serangan Sanaisbin. Benturan hebat kembali terjadi. Tapi kali ini keduanya sinar itu bersimpul di tengah. Saling dorong terjadi antara pak Narso dengan Sanaisbin. Tetapi kekuatan tubuh tua pak Narso bukan tandingan Raja Amukhsara itu. Sinar putih dari tangan pak Narso terdorong habis menghantam tubuhnya sendiri. Tubuh pak Narso terlempar menghantam dinding dengan keras. Darah keluar dari mulut, hidung dan telinganya. Dimas dan Raji menangkap tubuhnya sebelum jatuh terkulai ke lantai. Pak Narso hanya tersenyum melihat Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Se..la..matkan dirimu nak” Pak Narso menutup matanya untuk yang terakhir kali. Dimas menangis sejadinya. Raji memeluk tubuh tanpa nyawa itu dengan erat. Air matanya mengalir tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Narso!” Pafi berlari menghambur ketubuh pak Narso yang sudah tidak bernyawa. Tiba-tiba Dimas bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau harus membayar kematiannya!.” Dimas berjalan menghadang Sanaisbin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan Dimas! Dia bukan tandinganmu!” Nyai Janis berusaha mencegah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, Kau anak Jayapati! Hahaha, mencari biji malah pohonnya sekalian datang kepadaku.” Dimas tidak  mengerti apa yang dikatakan oleh Sanaisbin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau telah membunuh ayahku Tapa Aji dan ibuku Kasih. Sekarang kau membunuh lagi orang-orang yang aku sayangi. Kau harus membayarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keberanian yang sama yang aku lihat sebelum ibumu terkapar.” Sanaisbin melayang mendekat. Wajahnya tetap tersembunyi di balik kerudungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menerjang dengan serangan dua larik sinar kuning. Sanaisbin hanya menghindar. Kemudian Sanaisbin membalas serangan. Dua larik sinar merah lepas dari kedua tangannya. Dimas menyongsong serangan dengan dua larik sinar kuning dari kedua tangannya pula. Benturan itu membuat Dimas terjengkang ke belakang, tetapi masih sanggup berdiri. Sanaisbin terdorong mundur hingga ke depan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kilasan bayangan muncul di depan mata Dimas dengan cepat. Kemudian bayangan itu bergulung menjadi kabut dan menyerap masuk ke dalam kepala Dimas. Sejenak Dimas merasakan linglung. Sebuah ingatan masuk ke dalam kepalanya. Dimas melihat ibunya, Kasih berdiri tegak mengawasi seluruh sudut halaman rumahnya. Beberapa bayangan muncul dari kegelapan malam yang hanya diterangi oleh dua lampu obor bambu. Semua bergerak mendekati rumah, tetapi ketika sudah berjarak sepuluh langkah dari tempat berdirinya Kasih semua bayangan itu terpental ke belakang diikuti lecutan sinar merah dari menghantam mereka. Beberapa selamat dengan menghindari lecutan itu tetapi yang lain hangus terbelah dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku telah pasang pagar halilintar di sekeliling rumahku, tidak akan ada mahluk dari dunia tengah maupun dunia gaib yang mampu menembusnya. Pergilah kalian semua sebelum binasa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih berkacak pinggang mengusir semua tamunya yang tak diundang itu. Tiba-tiba dari tempat yang agak gelap melesat dua larik sinar merah ke arah Kasih, sebelum menyentuhnya dua sinar itu bertumbukan dengan sesuatu yang kasat mata dan menimbulkan dentuman keras. Bumi bergetar hebat Kasih terpelanting menghantam pintu rumah. Dadanya terasa sakit dan sesak, kemudian bangkit dan menata kembali posisi berdirinya. Sesaat kemudian melesat lagi dua larik sinar merah ke arahnya, kali ini Kasih tahu bahwa pagar halilintarnya akan segera hancur, dia menyiapkan segenap tenaganya dan menghempaskan telapak tangannya ke depan. Bersamaan dengan itu dua larik sinar biru keluar dari telapak tangannya menyongsong dua sinar merah yang melesat ke arahnya. Dentuman kecil sempat terdengar  tanda pagar halilintar akhirnya bisa ditembus, kemudian saat kedua sinar itu bertemu dentuman yang lebih besar menggelegar diikuti dengan terpentalnya ke belakang Kasih menghantam pintu rumah yang langsung jebol dan menghantam bilik ruang tamu. Kasih hanya mengeluarkan suara pelan sebelum akhirnya rebah dengan darah yang membasahi seluruh dadanya keluar dari mulutnya. Matanya masih melihat dengan tatapan yang penuh kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapa Aji menghampiri istrinya dan memangku kepalanya di pahanya. Dia tersenyum melihat Kasih yang tersenyum juga kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku telah berhasil jeng, sekarang semua tergantung usaha Sighram”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapa Aji membisikannya ke telinga Kasih. Mendengar suara suaminya Kasih hanya tersenyum dan mengangguk dan menutup matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, aku akan melakukannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapa Aji melepaskan istrinya dan disenderkan ke dinding. Tapa Aji bangkit dan menyongsong musuh yang sudah berdiri di halaman yang langsung mengurungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Narapati serahkan Buku Kehidupan” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah suara yang sangat menakutkan menggema dari belakang para pengurung Tapa Aji yang segera menyurut ke belakang dua langkah. Sesosok bayangan hitam dengan jubah yang sudah compang camping bergerak melayang menghampiri Tapa Aji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sanaisbin” Tapa Aji dalam hati bergetar menyebutkan nama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Serahkan Buku Kehidupan itu” Sanaisbin menyorongkan tangannya yang berkuku panjang dengan daging yang sudah sobek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau menginginkannya, kau harus mengambilnya sendiri ke dalam tubuhku. Itu pun kalau kau sanggup” Tapa Aji menantang Sanaisbin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, kita lihat ada apa di dalam tubuhmu”&lt;br /&gt;“PHONHIDHATH RAHA….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanaisbin menggerakan tangannya ke udara kemudian dua sinar hijau keluar dari tangannya bergerak ke arah Tapa Aji berusaha membelit seluruh tubuh Tapa Aji. Tapa Aji tidak tinggal diam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“EKHARA SOBIENH…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tangannya dengan telapak terbuka bergerak memutar-mutar di depan kepalanya yang mengeluarkan sinar putih berputar-putar menyerap semua sinar hijau Sanaisbin. Tapi tanpa diduga Sanaisbin berkelebat ke arah Tapa Aji dan kedua tubuh mereka bertumbukan. Dalam tumbukan itu sebuah bayangan hitam keluar dari tubuh Sanaisbin dan menyerap masuk ke dalam tubuh Tapa Aji. Tubuh Sanaisbin yang telah ditinggalkan rohnya ambuk ke tanah, sementara di dalam tubuh Tapa Aji terjadi pertempuran dua jiwa. Tubuh Tapa Aji menggeliat dan bergulung-gulung di atas tanah beberapa saat sebelum akhirnya berhenti. Tubuh Tapa Aji bangkit dan tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“HA…HA…HA…aku akhirnya menguasai BUKU KEHIDUPAN, HA…HA…HA… dan sekarang dunia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Tapa Aji yang telah dikuasai Sanaisbin terus tertawa tanpa henti. Semua pengepung tadi langsung duduk berlutut menyembah. Belum usai rasa puas yang dimenangkan oleh Sanaisbin, tiba-tiba terdengar suara lemah dari dalam rumah yang tak lain suara Kasih yang mendayu lembut seperti sebuah tembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika kempompong tak lagi menjadi kupu-kupu, Sang Angkara hanya dapat dibunuh oleh anaknya sendiri”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih tak lagi melanjutkan kata-katanya, kedua matanya terpejam menyusul suaminya pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sekarang milikku! Aku Sanaisbin! Raja dari segala raja dunia tengah. Aku menguasai buku kehidupan. Takdir dunia tengah ada ditanganku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanaisbin melayang menghampiri Dimas yang terkulai duduk dengan mata yang nyaris terbalik. Ingatan yang masuk ke dalam kepala membuatnya kehilangan konsentrasi. Sanaisbin tepat berada di depannya. Raji dan Pafi menyadari bahaya melakukan serangan menghalau Sanaisbin. Serangan mereka dengan mudah di halau Sanaisbin. Sanaisbin dengan mudah mendorong Raji dan Pafi ke belakang. Dimas masih duduk lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, bangkit. Dia ada di depanmu!” Raji berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanaisbin telah siap melancarkan serangannya. Sesaat Sanaisbin melihat benda yang dicarinya tergantung di leher Dimas. Tiba-tiba Sanaisbin seperti kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Tubuhnya seperti terpecah menjadi dua bagian. Dia mundur menjauhi Dimas. Kemudian mencoba mendekatinya lagi. Hal yang sama terjadi padanya. Tubuhnya seolah akan terpecah dua. Tidak ada yang mengerti apa yang terjadi pada Sanaisbin. Dimas masih terkulai lemas dengan mata yang memutih. Sanaisbin kemudian menyiapkan sebuah serangan dari jauh. Dia sadar dirinya tidak bisa menyentuh Dimas sama sekali. Sebelum serangan Sanaisbin meluncur, sebuah bayangan berkelebat menyambar tubuh Dimas kemudian meletakannya di bawah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah tahu sejak dulu aku lah lawanmu yang seimbang, Naraphala” Prabu Narayala sudah berada di dalam ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak Narayala!” Raji dan Pafi berteriak gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku anak-anak. Lama sekali memperbaiki pintu gaib itu. Sekarang pasukan Narapati sudah masuk ke tempat ini.” Prabu Narayala tersenyum. Dimas yang masih terkulai dipapah Raji ke dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Narayala, kau tidak bisa menghalangiku lagi.” Sanaisbin geram sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, aku masih bisa menghalangimu Naraphala” Sanaisbin melepaskan serangannya. Dua larik sinar hijau meluncur kearah Prabu Narayala. Dengan cekatan Prabu Narayala melepaskan serangannya. Dua larik sinar keemasan lepas dari kedua tangannya bertemu di udara kosong. Kedua sinar itu saling bersimpul kemudian saling mendorong. Puluhan pasukan Narapati keluar dari ruang belajar keluar menuju halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasukan Narapati akan datang dengan jumlah yang lebih besar lagi Naraphala” Sanaisbin melihat gerakan pasukan Narapati yang makin banyak jumlahnya mulai menyerang pasukannya. Sanaisbin melepaskan serangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak akan mengalah Narayala, aku akan datang lagi” Sanaisbin melayang keluar asrama kemudian menghilang bersama seluruh pasukannya di kegelapan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan tunggu, selalu setiap saat aku menunggumu datang” Suara Prabu Narayala mengecil saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Wajahnya berubah sendu. Kemudian matanya beralih kepada Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak apa-apa nak ?” Dimas masih setengah sadar dengan mata yang mulai terbalik. Prabu Narayala meletakan kedua telapaknya di kening Dimas. Asap putih keluar dari kedua telinga Dimas. Sesaat kemudian Dimas pulih kembali. Dua prajurit Narapati membantu Garangjiwo dan Lakunogo. Sukmaratih dan Kriyandita berjalan tertatih dari ujung koridor. Ruangan asrama begitu berantakan.Setelah sadar Dimas berlari menghampiri pak Narso. Wajahnya nanar memandang lelaki tua yang sudah tak bernyawa itu. Kesedihan memayungi seluruh asrama. Dimas terus memeluk tubuh pak Narso. Raji dan Pafi menunduk sedih di sampingnya. Sesaat Dimas memandang pada Prabu Narayala. Bibirnya gemetar. Prabu Narayala hanya terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak Narayala, apakah Jayapati dan Tapa Aji adalah orang yang sama ?” suara Dimas bergetar. Semua yang melihat menahan nafas mendengar apa yang ditanyakan Dimas. Pafi sudah berlinang air mata melihatnya. Prabu Narayala sejenak diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul nak, Jayapati adalah orang yang sama dengan Tapa Aji. Dia putra pak Narso, kakekmu.” Dimas balas memeluk lelaki tua itu. Jawaban Prabu Narayala menjadi isyarat berkekuatan halilintar yang menyentak Dimas dengan amat keras. Nafasnya terengah menahan sesak yang mendobrak dadanya. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari kenyataan setelah tidak memiliki keluarga kemudian harus kehilangan lagi keluarga yang baru saja ditemukan. Tidak ada satu pun dalam ruangan itu yang merasa akan sanggup menanggung beban kesedihan yang dialami Dimas. Nyai Janis hanya tertunduk mengusap air matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kakek tidak pernah bilang pada saya. Mengapa kakek merahasiakan semua ini dari saya ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku yakin, kakekmu melakukannya demi keselamatanmu. Dia sangat sayang padamu sehingga dia harus menahan semua kerinduannya demi keselamatanmu.” Kata-kata Prabu Narayala membangkitkan kenangan Dimas saat bersama dengan pak Narso. Dimas memegang kalung hitam di lehernya. Dia teringat saat pak Narso memberikan kalung itu kepadanya. Kalung yang disebutnya telah berjodoh denganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa prajurit Narapati mendekati tubuh pak Narso. Dimas seperti sudah tidak bertenaga lagi. Kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Raji dan Pafi membantunya berdiri. Tubuh pak Narso diangkat beberapa prajurit Narapati. Dari caranya terlihat penghormatan yang diberikan kepada Pak Narso. Cara menghormati seorang pahlawan Narapati. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-8284750305622272474?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/8284750305622272474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=8284750305622272474' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/8284750305622272474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/8284750305622272474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/bagian-13-pertempuran-di-asrama.html' title='BAGIAN 13 - PERTEMPURAN DI ASRAMA'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-9113071047984403099</id><published>2008-03-19T02:12:00.000-07:00</published><updated>2008-03-24T02:23:17.025-07:00</updated><title type='text'>BAGIAN 12 - GERBANG MAHAMERU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kabut masih menyelimuti Mahameru yang tenang dan mistis. Penduduk desa di kaki gunung tertinggi di Jawa itu tidak mengetahui telah terjadi pertarungan hebat di puncaknya. Yang tampak dan terlihat hanyalah gumpalan kabut dan awal tebal menyelimuti Mahameru selama berhari-hari. Tidak ada yang berani pergi naik ke lereng. Tidak ada kayu bakar yang bisa diambil. Tidak ada hewan yang bisa diburu. Mahameru terlalu berbahaya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik dinding tipis kasat mata, sebuah gerbang candi berdiri di puncak Mahameru. Ribuan anak tangga terpahat menurun hingga ke bawah hingga ke sebuah pelataran yang cukup luas. Jalan batu dengan pagar setinggi pinggang melingkari gunung hingga bertemu lagi di ujung pelataran. Kemudian anak tangga turun lagi hingga ke dasar lembah. Tujuh orang berjaga di pelataran mengelilingi sebuah patung sapi nandiswara. Dua ekor garuda raksasa bertengger di dua buah pilar yang berdiri di kiri dan kanan pelataran. Penjagaan terlihat sangat waspada. Tidak ada satu pun prajurit penjaga bersantai-santai. Rupanya apa yang sedang terjadi di asrama telah membawa dampak yang luas hingga ke dunia tengah. Sembilan gerbang lintas batas di jaga dengan ketat. Jumlah prajurit jaga yang biasanya hanya tujuh kini diperkuat menjadi duapuluh satu orang. Para prajurit jaga di pelataran kini sedang menunggu kawan-kawan mereka yang akan membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian ada yang tahu kenapa tiba-tiba ada penambahan pasukan jaga ?” tanya seorang prajurit bertubuh paling pendek diantara yang lain kepada teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu, kita Cuma diperintahkan untuk menyisir lereng dan memastikan tidak ada penyusup yang masuk.” Prajurit bertubuh gendut menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hal seperti ini belum pernah terjadi sejak terakhir duabelas tahun yang lalu. Beritanya Amukhsara sekarang sedang berusaha masuk dunia manusia. Karena itu semua Sembilan gerbang diperketat penjagaannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu kita sekarang dalam keadaan perang ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum, kita hanya dalam keadaan waspada yang ditingkatkan karena ada gerakan Amuksara yang sangat dekat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waduh, aku belum ketemu istriku sudah satu purnama lagi. Masak aku harus perpanjang lagi disini. Bisa pusing aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bawah pelataran beberapa prajurit yang dijanjikan telah datang. Mereka menanjak menapaki anak tangga dengan cepat. Prajurit jaga yang menunggu mereka begitu senang akhirnya bantuan akan datang. Mereka bisa berjaga lebih santai sekarang. Tetapi bau yang aneh memancar ke seluruh pelataran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahan! Mereka bukan prajurit bantuan. Mereka para gendrawa yang menyamar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah penyamaran terbongkar, para prajurit yang disangka bala bantuan berubah menjadi para gendrawa yang sangat besar dengan mata merah menyala. Dua taring yang keluar dari sisi bibirnya begitu kelihatan haus darah. Dua garuda yang bertengger mengepakan sayapnya. Dua prajurit menunggani punggungnya membawa kedua garuda itu melayang meluncur ke bawah menyerang sekelompok gendrawa yang terus menanjak cepat. Serangan-serangan cakar-cakar garuda menyobek beberapa gendrawa. Dua gendrawa tersungkur dan jatuh berguling di atas tangga. Tubuhnya yang besar menghantam beberapa gendrawa lain di bawahnya. Yang lain berada di atas terus menanjak ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha ketujuh prajurit itu tidak seimbang dengan jumlah ratusan gendrawa yang mengepung mereka. Dalam waktu singkat mereka sudah terdesak hebat. Beberapa gendrawa telah berhasil naik ke pelataran dan mulai mengarah gerbang lintas ke dunia manusia. Dua orang prajurit berjaga di depan gerbang menghalangi mereka. Serangan-serangan prajurit itu tidak terlalu banyak berarti. Mereka mulai kelelahan menghalau para gendrawa itu. Di saat kritis dari arah utara segerombol burung garuda datang dengan cepat. Dalam waktu singkat burung-burung itu menyerang para gendrawa. Beberapa prajurit melompat dari pungung garuda ke atas pelataran membantu prajurit di sana. Seorang gendrawa telah berhasil membuka gerbang. Prajurit-prajurit Narapati yang baru saja tiba menghambur menyerang gendrawa-gendrawa yang masih berdiri di depan gerbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik gerbang persis di ruang belajar asrama pintu gaib terbuka. Sukmaratih mendengar bunyi keras di dalam ruangan belajar. Kriyandita dan Sukmaratih segera berlari ke ruang belajar. Ruangan belajar telah hancur berantakan. Buku dan rak betebaran tidak karuan. Seorang prajurit Narapati sedang bertempur melawan dua gendrawa yang telah berhasil masuk ke dalam ruang belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat tutup kembali gerbang. Jangan biarkan yang lain masuk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prajurit Narapati di balik gerbang berhasil menutup kembali gerbang. Sukmaratih dengan sebuah serangan menghantamkan serangannya kearah pintu yang telah tertutup. Lukisan dinding di atasnya hancur berantakan. Sebagian dinding juga jebol hingga tembus ke ruangan di baliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas, Raji, Pafi, Nyai Janis dan Pak Narso masuk ke dalam. Mereka sangat terkejut melihat dua mayat gendrawa tergeletak di tengah ruangan yang sudah hancur berantakan. Tidak lama kemudian Garangjiwo dan Lakunogo datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi ?” tanya Garangjiwo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para gendrawa berhasil menembus masuk gerbang.” Sukamartih menunjuk dua mayat gendrawa di sampingnya. Seoranga prajurit jaga gerbang yang sempat bertempur dengan dua gendrawa itu mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya prajurit jaga di gerbang Mahameru.” Prajurit itu memberikan salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ceritakan apa yang terjadi prajurit!” Lakunogo memberi perintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ratusan gendrawa tiba-tiba saja datang menyerang. Kami pikir mereka adalah prajurit tambahan yang telah dikirim Medanggana Raya untuk memperkuat penjagaan. Karena mereka menyamar seperti prajurit Narapati. Tetapi kami curiga karena bau kentang busuk yang mereka tebarkan. Akhirnya kami menghadang mereka. Tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Beberapa gendrawa berhasil melumpuhkan dua teman saya. Untuk saat itu saya sempat melihat ada pasukan garuda datang membantu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus memberi kabar pada Cakravartin” kata Garangjiwo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mungkin, aku telah menghancurkan gerbang itu dari sini. Kita tidak bisa membukanya lagi. Kecuali diperbaiki dari sana.” Kata Sukmaratih lesu. Semua terkejut, mereka kini sendirian. Cakravartin tidak bisa membantu mereka karena gerbang lintas telah rusak dan tidak bisa dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu kita harus mengirim orang pergi ke gerbang terdekat. Pintu Merapi adalah yang paling mungkin.” Kriyandita memberikan usul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku saja yang pergi!” Lakunogo mengajukan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan! Kau sangat dibutuhkan disini. Pertahanan kita akan terlalu lemah kalau kau yang pergi. Lebih baik prajurit jaga gerbang ini yang pergi.” Jari tangan Garangjiwo menunjuk prajurit jaga gerbang Mahameru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya akan jalankan!” jawab Prajurit jaga gerbang itu dengan tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhati-hatilah, karena di lereng Merapi juga banyak pemukiman gendrawa.” Sukmaratih member pesan kepada prajurit jaga gerbang itu. Prajurit itu mengangguk. Beberapa saat kemudian prajurit itu berangkat meninggalkan asrama. Sedikit darah yang mengalir dari luka di pahanya membuat semua yang ada diruangan belajar itu khawatir. Apakah prajurit itu sanggup mencapai gerbang Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kita harus mengungsikan anak-anak ke tempat yang aman. Nyai apakah disini ada ruang bawah tanah untuk perlindungan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak Kriyandita! Satu-satunya gudang bawah tanah hanyalah tempat penyimpanan stok makanan. Itu pun kondisinya sangat tidak sehat.” Nyai Janis mengangkat bahunya. Wajahnya terlihat sedih. Keselamatan anak-anak asuhnya dalam ancaman. Dimas, Raji dan Pafi berunding diluar sepengetahuan mereka. Kemudian Dimas mengambil bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami ada tempat perlindungan yang aman.” Semua mata menatap Dimas dengan penuh tanda tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu tempat seperti apa Dimas ?” tanya Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tempat perlindungan yang dibuat oleh Gandrung. Tempat itu kami menyebutnya ruang keinginan.” Penjelasan Dimas mengejutkan semua orang. Bagaimana Dimas bisa mengenal Gandrung. Orang yang membangun asrama ini jauh belasan tahun lalu. Juga ruang keinginan yang hanya ada di legenda Sinar Avedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ceritanya panjang. Kami mengenal Gandrung sewaktu secara tidak sengaja kami menemukan gerbang menuju dunia Narapati 15.000 tahun lalu. Gerbang yang sama yang baru saja dihancurkan oleh bibi Sukmaratih. Di kota Sundabuana kami bertemu dengan Gandrung. Gandrung banyak menunjukan kepada kami ruang-ruang rahasia yang pernah dibangun bangsa Sinar Avedi di bawah kota Sundabuana. Kemudian secara tidak sengaja pula kami menemukan ruangan keinginan yang dibuat oleh Gandrung di asrama ini. Kami menemukan dengan menggunakan cincin kebenaran ini.” Dimas menunjukan cincinnya. Semuanya makin terkejut tidak percaya dengan penjelasan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari saya tunjukan dimana ruangan itu berada.” Dimas, Raji dan Pafi berjalan menuju pintu ruang keinginan. Garangjiwo, Lakunogo, Sukmaratih, Kriyandita dan Nyai Janis mengikuti mereka. Nyaris tidak percaya tiga anak kecil di depan mereka sudah melalui begitu banyak petualangan. Di samping pintu gudang bawah tanah Dimas, Raji dan Pafi berhenti. Kemudian menyorongkan cincin mereka ke dinding di sebelah pintu itu. Sebuah pintu gaib terlihat. Setelah kepalan mereka di tempelkan di dinding. Pintu itu terbuka. Mereka kemudian masuk menuruni tangga. Apa yang berada di bawah nyaris tidak dapat dipercaya. Ruang keinginan benar-benar ada. Dimas menunjukan ruang rumah Gandrung yang akan dijadikan tempat berlindung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kita pindahkan anak-anak malam ini. Bahan makanan akan dipasok setiap hari.” Garangjiwo memberikan keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak perlu dipasok. Dengan pintu keinginan kita bisa masuk ke ruangan gudang penyimpan bahan makanan.” Pafi mengucapkan tujuannya. Lalu membuka pintu disebelah pintu ruang rumah Gandrung. Di balik pintu sebuah ruangan gelap dengan banyak tumpukan bahan makanan. Semua baru percaya kalau ruang keinginan benar-benar menunjukan tempat yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi anak-anak harus tetap berada di dalam ruangan rumah Gandrung ini. Mereka tidak boleh berada keluar. Karena bisa berbahaya kalau mereka membuka pintu-pintu ini.” Nyai Janis mengungkapkan kekhawatirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian juga harus ikut berada di ruangan ini.” Lakunogo meminta Dimas, Raji dan Pafi. Saat mereka akan protes Lakunogo menggelengkan kepalanya. Ketiganya tidak bisa membantah lagi. Mereka akhirnya harus ikut tinggal bersama anak-anak asrama lain di dalam ruangan itu. Satu per satu semua anak-anak dipindahkan ke dalam ruang rumah Gandrung. Mereka bertanya-tanya kenapa harus pindah. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak banyak yang terjawab. Untuk sementara semua anak-anak asrama aman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-9113071047984403099?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/9113071047984403099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=9113071047984403099' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/9113071047984403099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/9113071047984403099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/bagian-9-para-pelindung.html' title='BAGIAN 12 - GERBANG MAHAMERU'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-9014448742973765443</id><published>2008-03-11T20:45:00.000-07:00</published><updated>2008-03-23T19:07:44.318-07:00</updated><title type='text'>BAGIAN 11 - TALI PUSAR JAYAPATI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Udara lebih sejuk setelah pertemuan semalam terjadi. Ada berkas-berkas indah menari di kepala Dimas. Dia menemukan kembali kedamaian pelukan ayahnya. Lembut belaian kasih ibunya. Walaupun hanya sepenggal, paling tidak ada setetes kasih yang pernah dirasakan dan bisa diingatnya. Dimas lebih suka menyendiri belakangan ini. Raji dan Pafi mengerti kebutuhannya. Mereka berdua membiarkan Dimas mengambil waktunya sendiri. Halaman gersang sisa serangan belalang malah tampak lebih indah dengan ingatan pahit ini. Air matanya mengalir tanpa bisa dibendung. Tangannya buru-buru menghapusnya. Bangsal masih sepi, anak-anak masih menghabiskan waktu mereka di ruang belajar. Matanya melihat seorang penjaga berada di halaman asrama. Jendela tempatnya berdiri biasa memandang, kini menjadi penjara yang begitu membosankan. Tapi hatinya ditegarkan demi teman-temannya. Mereka belum tahu kalau kemalangan yang sekarang mereka alami adalah karena dirinya. Pertama kalinya Dimas merasa telah membebani begitu banyak orang. Menempatkan mereka pada posisi yang berbahaya. Andai saja hanya dirinya yang harus berhadapan dengan para Amuksara, mungkin sesak di dadanya tidak akan seberat ini. Rasa bersalah juga menghinggapinya telah membawa Raji dan Pafi ke dalam konflik ini.  Keselamatan kedua sahabatnya yang begitu berharga kini harus berada di ujung tanduk. Walaupun dia tahu Raji dan Pafi sangat tidak mempermasalahkan hal itu. Dimas hanya menatap prajurit yang berjalan-jalan berputar-putar di depan asrama. Tidak tampak apapun yang mencurigakan yang membuatnya bersikap lebih waspada. Sesaat kemudian dia teringat kata-katanya sendiri. Dia akan berada di asrama bersama teman-temannya menghadapi semuanya. Dimas memutuskan untuk bergabung dengan teman-temannya yang lain di ruang belajar. Kakinya melangkah pasti keluar dari ruangan bangsal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa prajurit khusus Narapati telah ditempatkan di dalam asrama. Setiap malam mereka bergantian menjaga dan berkeliling asrama. Anak-anak asrama yang lain hanya tahu kalau mereka adalah polisi yang punya kemampuan dukun. Suasana sebenarnya tidak terlalu mencekam. Berkat kemampuan para prajurit khusus Narapati yang membawa cair suasana. Canda tawa dan gurauan bergema di dalam ruangan-ruangan.  Ruang makan yang biasanya penuh dengan meja dan kursi kini berubah menjadi panggung hiburan. Anak-anak duduk di lantai memperhatikan sebuah pertunjukan wayang orang yang diperagakan beberapa anak, termasuk Raji di dalamnya. Suara riuh bergemuruh di dalam ruangan. Nyai Janis, pak Narso dan para pembantu ikut menyaksikan. Sukmaratih dan Kriyandita berjaga di sudut ruangan. Dimas langsung bergabung dengan anak-anak lain. Belum pernah Nyai Janis mengijinkan acara seperti ini sebelumnya. Ini adalah kali pertama asrama begitu hangat dan bersahabat. Padahal mereka semua sedang ditengah sebuah kecemasan. Mungkin itu sudah menjadi sifat alamiah manusia. Mereka akan saling menghibur memberikan semangat saat keadaan terburuk menimpa. Mungkin ini yang disebut sifat alami untuk kelangsungan hidup. Yang dipikirkan hanya bagaimana meningkatkan kualitas mental yang lain agar bisa meneruskan hidup dan berjuang untuk kelangsungan hidup jenis mereka. Mungkin ini pula yang menghindarkan manusia dari kepunahan walaupun sama-sama melewati masa yang sama dengan Mamoth ataupun Singa bertaring panjang yang telah punah ribuan tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan selesai. Anak-anak diminta untuk kembali ke bangsal mereka masing-masing. Dimas menghampiri Raji yang baru menyelesaikan perannya. Tak lama kemudian Pafi ikut bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau hebat Raji! Kau memang berbakat sekali di pertunjukan seperti itu. Selamat ya!” Mendapatkan pujian dari Pafi seperti mendapat kunjungan sultan keraton. Hal yang jarang terjadi. Hidung Raji langsung membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh hehehe terima kasih! Tapi tanpa yang lain aku tidak bisa seperti itu. Mereka yang membantuku kelihatan bagus.” Kata Raji merendah. Komentar yang jarang pula didengar Pafi. Biasanya Raji selalu pamer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi benar Pafi bilang. Kau memang hebat sekali tadi. Anak-anak tadi lebih banyak memujimu.” Dimas ikut memuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita kembali ke kamar tidur!” kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian tega sekali! Sudah berapa lama coba kita tidak berkumpul seperti ini. Masak harus cepat-cepat kembali. Aku bisa bengong sendirian di kamar.” Pafi menolak kembali lebih awal ke kamar. Dimas paham benar maksud Pafi. Tak tega melihat wajah Pafi yang begitu memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah. Kita ke ruang belajar saja.” Raji memberikan usul. Wajah Pafi berubah sumringah. Dimas pun setuju. Sudah dua hari mereka tidak berkumpul karena Dimas memilih untuk sendirian. Mereka pun pergi menuju ruang belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melepaskan kangen mengobrol bertiga memberikan energy baru bagi Dimas. Rasa terima kasihnya begitu besar mendapat dua sahabat yang selalu setia dengannya. Banyak cerita yang muncul dalam dua hari ini. Terutama bagaimana Raji melakukan latihan-latihan singkat bersama yang lain membuat pertunjukan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kau bisa ikut pertunjukan tadi ?” Dimas penasaran. Raji memang tidak banyak cerita tentang hal itu. Dan dia yakin karena Raji ingin memberikan ruang sendiri untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, aku awalnya tidak ikut. Secara tidak sengaja aku melihat latihan pertama mereka. Sambil lewat menirukan dialog mereka. Maksudku bercanda. Tapi bibi Sukmaratih malah memanggilku. Katanya caraku mengucapkan dialog itu begitu lucu. Aku kagum pada bibi Sukmaratih, selain seorang prajurit khusus ternyata pandai menjadi sutradara juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji menceritakan semua kelucuan yang terjadi selama latihannya. Dimas dan Pafi tertawa terbahak-bahak tiada henti. Bukan hanya karena ceritanya yang lucu tetapi juga cara Raji membawakan cerita yang begitu menyenangkan dan lucu. Cerita Raji menjadi pengobat yang ampuh bagi duka Dimas. Yang membuatnya makin menghargai persahabatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua hari Prabu Narayala kembali ke Cakravartin. Sebelum pergi dia memasang pagar-pagar pelindung melingkari seluruh asrama. Tetapi Dimas tidak bisa tidur semalaman. Ingatannya terus melayang. Hatinya terus ingin bertemu dengan pak Narso. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tetapi semuanya seperti tersumbat di dalam dada. Walaupun matanya dipaksa dipejamkan Dimas tetap tidak bisa tidur. Akhirnya kakinya tidak bisa lagi diperintah untuk tetap berada di atas kasur. Dimas melangkah keluar bangsal dengan hati-hati. Kali ini Raji tidak dibangunkan. Di luar bangsal Dimas mendengar percakapan. Dua suara perempuan jelas sekali terdengar. Kriyandita dan Sukmaratih masih berjaga di dalam. Dimas menghampiri keduanya. Tidak ada jalan lain kalau ingin menemui pak Narso yang tinggal di belakang dapur sekarang. Pak Narso dan Mbok Sinem menempati kamar Mbok Sinten yang terpaksa harus sekamar dengan mbok Sirem. Telinga Sukmaratih yang tajam segera mengetahui kedatangan seseorang dari lantai atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa itu!” Sukmaratih menanyakan identitas orang yang tak lain adalah Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya, Dimas.” Dimas menuruni tangga menghampiri keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa malam-malam masih keluar kamar ?” Kriyandita bertanya lebih lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bisa tidur, aku mau menemui pak Narso. Bibi semua tahu dimana pak Narso ?” Belum Kriyandita dan Sukmaratih menjawab, tiba-tiba suara pak Narso sudah berada di belakang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya disini nak Dimas. Ada apa nak Dimas mencari saya ?” Pak Narso muncul dari balik pintu ruang makan. Dimas senang sekali bertemu dengan pak Narso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian tidak boleh keluar dari asrama ini.” Sukmaratih melarang dengan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang bilang mau keluar. Kami akan duduk di ruang makan saja.” Dimas dan pak Narso masuk ke dalam ruang makan. Meja-meja dan kursi telah dikembalikan seperti semula setelah siang tadi digunakan untuk pertunjukan seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak Dimas tidak bisa tidur ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya pak, saya tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Isi kepala saya selalu saja berputar-putar. Entah apa yang saya pikirkan saya sendiri tidak mengerti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu karena hati nak Dimas yang resah. Nak Dimas harus menenangkan dulu isi hati nak Dimas baru pikiran bisa tenang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya pak, sudah saya coba tetapi tidak juga bisa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu cobalah kenakan ini. Mungkin ini bisa membantu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ini pak ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah tali pusar anak saya. Saya sering mengenakannya sewaktu dia rewel waktu kecil. Setelah dia mengenakannya dia lebih tenang.” Dimas meraih kalung hitam dari tangan pak Narso. Kalung yang begitu mirip dengan yang sekarang dikenakannya. Terbuat dari kain hitam. Dimas melingkarkan kalung itu di lehernya. Rasa hangat menjalar saat kalung itu menyentuh kulit dadanya. Rasa nyaman menjalar ke seluruh tubuhnya. Kalung hitam itu tiba-tiba bergerak menjadi satu dengan kalung hitam milik Dimas hingga akhirnya benar-benar menyatu. Dimas tidak mencegah lagi. Pak Narso hanya tersenyum melihat kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin kalung itu berjodoh dengan nak Dimas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak pak, kalung ini milik pak Narso. Ini kenang-kenang dari anak Bapak. Saya tidak boleh memilikinya. Bagaimana cara membuatnya terpecah lagi jadi dua ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya juga tidak tahu nak, Tapi saya yakin kalung itu memang berjodoh dengan nak Dimas. Mungkin isi kalung itu tahu siapa tuannya yang sebenarnya sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas tidak bisa berkata apa-apa lagi. Perasaannya begitu nyaman sekarang. Seolah semuanya telah lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa tali pusar ini memiliki kekuatan seperti itu pak Narso ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tali pusar itu adalah bagian dari tubuh anak saya Jayapati yang dipotong setelah tubuhnya dirasuki oleh kekuatan Buku Kehidupan. Jadi tali pusar itu memiliki sebagian kecil kekuatan Buku Kehidupan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas teringat hal yang dikatakan Prabu Narayala kalau dirinya adalah pemegang rahasia terakhir dimana Buku Kehidupan disembunyikan. Mungkinkah kalung ini akan membantunya mengeluarkan rahasia itu dari dalam tubuhnya ? Mungkin memang dirinya berjodoh dengan kalung itu karena dia yang menyimpan rahasia tempat persembunyiannya. Dimas masih mereka-reka dalam hatinya.&lt;br /&gt; Pak Narso kelihatan begitu bahagia telah menyerahkan kalung itu kepada Dimas. Seolah beban yang lama ditanggung telah terangkat dari pundaknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-9014448742973765443?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/9014448742973765443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=9014448742973765443' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/9014448742973765443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/9014448742973765443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/bagian-11-tali-pusar-jayapati.html' title='BAGIAN 11 - TALI PUSAR JAYAPATI'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-3032662071148118740</id><published>2008-03-11T20:44:00.004-07:00</published><updated>2008-03-23T19:06:49.669-07:00</updated><title type='text'>BAGIAN 10 - SANG PEWARIS</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hari-hari berjalan seperti biasa. Belajar di asrama, bermain di halaman tengah, makan, tidur. Berputar-putar hanya di asrama membuat Dimas, Raji dan Pafi merasakan kebosanan. Sekarang ditambah gudang bawah tanah yang penuh dengan lelembut, tidak ada yang berani mendekat. Kasihan Mbok Sinten dan Mbok Sirem yang biasanya dengan bebas mengambil bahan makanan. Pak Narso yang selalu diminta untuk mengambilnya. Nyai Janis benar-benar menempatkan asrama dalam status siaga tertinggi. Bila ada pelanggaran, hukumannya berada di ruang bawah tanah bersama para lelembut. Terang saja tidak ada satupun yang berani melanggar. Kebun pak Narso masih terlihat terlantar sekali. Pak Narso harus membajak ulang tanahnya dan menyemai bibit baru. Situasi yang sama di banyak ladang petani di tempat lain. Mereka harus menyemai ulang tanaman mereka yang hancur akibat serangan Belalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang belajar asrama, Dimas, Raji dan Pafi sedang mengerjakan PR mereka yang mulai bertambah banyak menjelang ujian akhir. Raji mulai pusing dengan semua tugas yang sedang dikerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waduh… pusing aku mengerjakan semua PR gila ini, sejak pulang sekolah tadi nggak selesai-selesai. Apalagi ini sejarah Londo ini, heran aku, kok bangsa ini mau aja dijadikan Negara boneka Belanda. Kalo Pak Tardjo nggak minta-minta, mungkin kita sudah jadi Negara yang berdiri sendiri” Raji terus menggerutu tentang PR sejarah nasional Negara Hindia Belanda yang sedang dikerjakannya. Sedangkan Dimas tampaknya tetap asyik dengan tangannya yang terus menuliskan PR nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak bisa diam apa…..berisik, memangnya kalau kita memiliki negara yang berdaulat sendiri akan ada perubahan yang lebih baik?”  Pafi mendelik menimpali gerutuan Raji sambil memandangnya menantang menunggu jawaban apa yang akan diberikan Raji kepadanya. Raji tak menyahut dan terlihat tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malas aku kerjakan PR bangsa londo ini, mendingan aku kerjakan sastra Jawa saja, karya bangsaku sendiri”  Raji menutup halaman buku sejarah belanda yang sedang digunakannya untuk membuat PR. Tangannya kemudian membuka buku lain tentang sastra jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kerjakan PR sastra Jawa, Dimas?” Raji melongokan kepalanya ke arah buku catatan yang sedang ditulis Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum, aku masih kerjakan sekarang” Jawab Dimas singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau benar-benar seperti tokek ya….gak bisa diam, aku kembali saja ke kamar, mendingan kerjakan di kamar” Pafi mendelik dengan wajah galak menatap Raji yang masih cengar-cengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas hanya tersenyum kecil diujung bibirnya dan kemudian berkonsentrasi kembali kepada pekerjaannya. Dia tahu kalau sudah begitu Raji bukanlah orang yang bisa dinasehati. Dia akan makin tidak peduli dengan omongan orang lain. Wajah malas mulai merambat di seluruh permukaan wajah Raji, tangannya mulai ogah-ogahan menulis dan ketika semuanya mencapai puncak ubun-ubun. Tapi Pafi urung mengerjakannya di kamar teringat begitu banyaknya anak perempuan lain yang pasti lebih berisik dari Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sudah menunjukan pukul 12 malam, Dimas, Pafi dan Raji tak tampak akan segera mengakhiri belajarnya. Walaupun guratan kelelahan sudah tampak di wajah mereka, mereka tetap menulis seakan sedang dalam dunianya sendiri. Saking asyiknya menulis, ketiganya tidak lagi berbicara satu sama lain. Mereka tak sadar kalau tiba-tiba saja di seberang meja tempatnya menulis muncul 2 sosok manusia dewasa entah dari mana datangnya. Ketika keasyikannya terganggu oleh bayangan yang menutupi kertas bukunya sontak Dimas dan Pafi bangkit dari duduknya dan berjengit kaget, sementara Raji langsung terjengkang dari kursinya. Matanya melotot dengan dada yang berdegup begitu kencang, tangan gemetaran menahan rasa takut yang mulai menjalar ke ubun-ubunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hantu, adalah kata yang pertama keluar dari pikirannya, kakinya bergerak mundur dengan gemetar mendorong kursi yang berada di belakangnya. Bunyi derak kursi yang tergeser membuat suasana yang dirasakan Dimas makin mencekam. Dalam ketakutan yang sangat, dua wajah yang muncul di depannya menarik ingatan akan kejadian aneh yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Setelah kejadian kesurupan masal dua hari kemarin, tidak ada lagi dalam pikiran mereka selain mahluk halus. Seketika degup jantungnya makin keras saja, suaranya tercekat, Pafi tangannya sempat mengayun pelan dan sebuah kursi yang berada di sebelahnya melayang mengarah deras ke arah dua orang misterius itu. Salah seorang misterius yang berwajah sudah agak tua tersenyum sambil mengibaskan tangannya. Kursi yang melayang ke arahnya seketika berhenti dan turun dengan lembut di sampingnya. Dimas  tanpa sadar bergerak tidak karuan yang seketika itu pula diikuti dengan melayangnya benda-benda yang berada di dalam ruangan belajar itu meluncur deras ke arah dua orang misterius tersebut. Namun seketika itu juga benda-benda itu seperti tertahan di udara dan berhenti mendadak kemudian turun perlahan di atas lantai. Tidak ada satupun yang jatuh menyebabkan bunyi keras di lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kalian takut Narapati, kami datang bukan bermaksud menyakiti”  seorang yang lebih muda menerjemahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua yang berjubah putih dengan sorban di kepalanya menjulurkan tangannya untuk menenangkan Dimas, Pafi dan Raji yang sudah bangkit berdiri. Dimas merasa seperti ada yang menggenggamnya begitu kuat yang memaksanya duduk di kursi yang berada di belakangnya. Sekuat tenaga dia melawan, tetapi tidak ada daya yang mampu melepaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akh…akh…. apa yang kalian lakukan kepada kami ?” Dimas berteriak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang mari kita duduk, ada yang akan aku beritahukan kepadamu, aku Prabu Narayala dan ini Kerthapati” Orang tersebut memperkenalkan dirinya dan temannya yang langsung menghaturkan sembah dengan dua telapak tangan disatukan. Dimas seperti tidak percaya mendengar nama itu. Nama yang diingatnya untuk seorang lelaki muda yang tenang dan sangat penuh pertimbangan. Bukan wajah dengan garis yang nyata dari kulit muda yang sudah mengendur dengan cambang dan janggut putih yang panjang. Dimas menatap lebih jelas ke wajah orang itu. Tapi mana mungkin. Hatinya menolaknya. Tidak mungkin Prabu Narayala masih hidup. Dia hidup 15.000 tahun lalu. Orang itu menangkap keraguan di wajah Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku memang Prabu Narayala, dan aku masih hidup. Sejak pertemuan kita terakhir di balairung keraton Narapati 15.000 tahun yang lalu bersama Sinar Avedi Agung Au Co dan Ratu Kerajaan Selatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang tahu pertemuan itu kecuali yang hadir di sana. Tangan Dimas langsung memberikan salam sembah begitu mengenali sosok dibalik wajah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan saya Gusti Prabu, saya tidak mengenali wajah Gusti Prabu.” Raji dan Pafi ikut memberikan salam. Narapati, kembali hadir di depan mereka. Antara percaya dan tidak, bahkan Pafi harus mencubit tangannya sendiri untuk memastikan kalau dia tidak sedang bermimpi. Seperti hantu yang datang dari masa lalu, kedatangan Prabu Narayala benar-benar tidak terduga. Dimas tidak berharap kalau dia akhirnya bertemu dengan pemimpin tertinggi Kerajaan Narapati itu. Ruangan belajar tiba-tiba berubah menjadi sangat gelap. Tidak ada satupun yang terlihat. Hanya terdengar suara Prabu Narayala saja dalam kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku datang karena telah tiba waktunya bagimu untuk tahu apa yang sedang terjadi dan hubungan semua ini denganmu nak. Maafkan aku telah meminjam apa yang paling berharga darimu. Sekarang aku akan kembalikan kepadamu”  Sesaat kemudian kembali terang. Hanya Dimas dan Prabu Narayala saja berada di tempat itu, bukan lagi berada di dalam ruang belajar. Melainkan di sebuah jalan desa yang dipagari pohon bambu apus. Sampah-sampah daun bambu berserakan tertiup angin di atas jalan. Rumah-rumah gedek dengan pagar dari bambu berjejer di ujung pertigaan jalan. Langit cerah tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, walaupun awan putih tebal sudah menggantung di angkasa. Seorang lelaki memanggul pikulan berisi penuh rumput di kedua ujungnya berjalan kearah mereka. Hewan-hewan ternak berkeliaran dengan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita berada dimana ?” Dimas merasa tiba-tiba seperti terlempar ke sebuah dunia yang lain. Ada hal yang dikenalnya, tetapi semuanya samar diingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita berada di ingatanmu duabelas tahun yang lalu. Ingatan yang aku ambil sementara dari kepalamu nak. Untuk tujuan keselamatanmu.” Kata Prabu Narayala. Lelaki itu kelihatan berubah, wajahnya terlihat lebih muram. Ada perasaan berat dalam hatinya harus menunjukan anak usia tigabelas tahun kenyataan pahit tentang masa lalunya. Masa lalu yang harus diingatnya dengan cara yang sangat menyakitkan. Mereka kemudian berjalan menuju sebuah rumah yang agak jauh dari pemukiman lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah rumah yang sederhana dipinggir kali kecil. Seorang lelaki sedang duduk di dipan di beranda rumahnya sambil memangku seorang anak laki-laki berumur dua tahun. Sebuah kalung kain hitam terikat di lehernya, sama persis dengan yang sekarang dikenakan oleh Dimas. Mulutnya asyik menikmati singkong rebus sambil memandang seorang perempuan cantik berperawakan langsing sedang menjemur pakaian-pakaian yang baru saja dicucinya. Sesekali perempuan itu menengok ke arah anak lelaki itu dan tersenyum kemudian melambai-lambaikan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas…Dimas…. Ibu di sini…” perempuan itu memanggil-manggil dan melambai-lambaikan tangannya kepada anak lelaki yang berada di pangkuan lelaki dewasa di beranda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas terhenyak mendengar perempuan itu memanggil nama anaknya. Kakinya seperti hendak melangkah menghampiri perempuan itu. Matanya mulai berkaca melihat pemandangan yang dilihatnya. Dia melihat sosok kecil dirinya yang sedang dipangku oleh orang yang tidak lain adalah ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tuh..tuh… ibu…Dimas.. lihat… itu ibu sedang menjemur pakaian” Lelaki dewasa itu menunjuk-nujuk perempuan yang sedang menjemur pakaian itu mencoba mengarahkan pandangan mata si anak kepada ibunya. Selesai menjemur semua cuciannya kemudian perempuan itu bergerak menghampiri suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakang mau makan sekarang ? aku akan siapkan ya” Perempuan itu menyapa suaminya. Lelaki itu mengangguk. Kedua tangannya sibuk memindahkan Dimas dari pangkuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas disini sebentar dengan ayah ya…. Ibu mau menyiapkan makanan dulu” Perempuan itu menyentuh lembut pipi anaknya kemudian masuk ke rumah. Belum lama  perempuan itu masuk ke dalam rumah, tiba-tiba seorang lelaki datang tergopoh-gopoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakang Tapa Aji, tolong…tolong ketiwasan kakang…” Lelaki muda itu terengah-engah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang..tenang Garung… tarik nafasmu dulu…. Lalu ceritakan apa yang terjadi” Tapa Aji berusaha menenangkan. Garung menarik nafasnya, suaranya masih terengah-engah. Setelah nafasanya mulai normal kemudian dia menceritakan apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, ayo kita ke sana” Tapa Aji segera bangkit menggendong Dimas dan memanggil istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jeng…jeng Kasih kemari dulu sebentar” Tapa Aji memanggil dengan lembut. Istrinya mendengar panggilan suaminya segera muncul di depan pintu rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa kakang” Istrinya tampak bingung kemudian melihat Garung sedang terengah-engah penuh keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada ketiwasan di dekat rumah Garung, aku harus ke sana. Jaga Dimas dulu, lakukan seperti yang biasa aku beritahukan” Tapa Aji dengan singkat menjelaskan dan menyerahkan Dimas ke dalam gendongan istrinya yang mengangguk mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapa Aji dan Garung segera berangkat meninggalkan Kasih berdua dengan Dimas. Sesampainya di tempat yang dimaksud Garung, orang-orang sudah berkerumun. Jalan menuju tempat kejadian menjadi agak sulit karena semua orang ingin melihat. Garung segera berteriak-teriak menyebut-nyebut nama Tapa Aji yang membuat kerumuan itu terbelah memberi jalan. Di tempat kejadian terlihat sesosok mayat lelaki yang tergeletak di pinggir rumpun pohon bambu dengan mata melotot terbelalak dan mulut seperti menganga sedang berteriak ketakutan. Matanya seperti menyiratkan ketakutan yang amat sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa dia ? sepertinya bukan orang dari desa ini” Kata Tapa Aji sambil memeriksa mayat tersebut dan mencari bekas-bekas yang mungkin bisa dijadikan petunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan, setahu saya dia berasal dari desa tetangga di barat sana” Garung memberikan penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia sudah meninggal sejak semalam” Tapa Aji berbicara sendiri. Dalam pikirannya kemudian menghubungkan dengan angin kencang yang semalam berhembus tiba-tiba yang dirasakannya dengan bulu kuduk yang merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segera angkat mayat ini, segera hubungi desa tempat orang ini berasal dan uruskan penguburannya dengan layak. Saya minta saudara-saudara mulai malam ini tidak keluar malam melebihi lewat tengah malam. Sekarang semuanya silahkan pulang ke rumah masing-masing”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapa Aji segera meninggalkan tempat dengan diikuti seluruh warga yang ikut bubar. Tapa Aji segera kembali ke rumahnya dan bergegas menemui istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa disana kakang Tapa Aji” Kasih terlihat gelisah duduk di ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tampaknya persembunyian kita telah diketahui oleh Amukhsara, kita harus segera melakukan upacara pamungkas untuk mencegah yang lebih penting jatuh ke tangan mereka. Segera siapkan semuanya jeng, akan segera memberi kabar ke Cakravartin”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapa Aji meminta istrinya untuk menyiapkan keperluan upacara yang diminta. Kasih segera bergerak gesit menyiapkan semuanya, Dimas ditinggalkannya duduk di dekat suaminya. Tak lama kemudian sebuah dipan yang lengkap dengan semua perlengkapan upacara telah siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akan melakukan upacaranya menjelang tengah malam, kita harus membuat pagar gaib berlapis untuk melindungi proses ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih mengangguk mengerti, air matanya mengalir deras tanpa suara. Tapa Aji memeluk istrinya dengan erat. Kasih wanita yang tegar. Dia tahu apa yang harus dihadapinya. Walaupun ketika saatnya tiba, rasa sedinya tak dapat ditahannya, tetapi pikirannya tetap jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas memandangi kedua orang tuanya dengan hati yang harus. Dia begitu disayang oleh mereka. Dimas ingat kehangatan itu. Hatinya basah oleh cinta kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;Menjelang tengah malam Tapa Aji duduk bersila di hadapan semua perlengkapan upacaranya. Sebuah batu hitam berbentuk piramida berada di hadapan antara dirinya dan Dimas yang dia dudukan di hadapnnya. Sementara Kasih berdiri tegak di halaman rumah dengan pakaian lengkap seorang prajurit Narapati menunggu sesuatu yang akan datang malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sighram, muncul lah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapa Aji mengucapkan mantra yang diikuti dengan kemunculan seekor harimau putih seukuran kuda besar di sebelah Tapa Aji. Harimau itu menggeram lembut ke arah Tapa Aji dan Dimas. Tapa Aji mengikatkan keranjang di atas punggung harimau itu. Kemudian meletakan Dimas yang bersinar keemasan di dalamnya. Tapa Aji kemudian berbicara dengan Sighram. Sang harimau hanya mengaum kecil tanda patuh. Kemudian pergi menghilang bersama Dimas kecil di atas punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebuah siraman air ditengah gurun yang panas, semua hal yang selama ini hilang kembali terang dan jelas. Dimas mengingat kembali seluruh ingatannya. Ingatan yang dikenangnya begitu perih menyakitkan. Semuanya menjadi gelap. Dan mereka kembali berada di dalam ruangan belajar. Dimas memandang bergantian kepada Raji dan Pafi. Bertanya dalam hati apakah nasib kedua orang tua mereka sama dengan yang dialami kedua orang tuanya. Tetapi Raji dan Pafi terlihat tidak mengerti apapun yang telah terjadi. Bagi mereka seolah Dimas tidak bergerakan kemanapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau datang kepadaku diantar oleh seekor Narasimha. Harimau Putih kendaraan ayahmu. Lalu aku mengirim pasukan Narapati ke tempat ayah dan ibumu berada. Tetapi tidak ditemukan apapun disana. Kedua orang tuamu tidak ditemukan disana. Hanya satu yang aku tahu, sejak saat itu kau berada dalam bahaya. Karena Raja bangsa Amukhsara, Sanaisbin terus mencarimu. Karena kau menyimpan sesuatu yang diinginkan oleh Sanaisbin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang diinginkan oleh Raja Sanaisbin dari saya ?” Dimas masih belum mengerti keterkaitannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rahasia dimana Buku Kehidupan disembunyikan. Rahasia yang hanya kau sendiri mengetahuinya. Rahasia itu diturunkan ayahmu Tapa Aji. Sekarang rahasia itu tersimpan di suatu tempat di dalam tubuhmu. Hanya kau sendiri yang bisa mengeluarkannya” Kata-kata Prabu Narayala menyengat Dimas. Dirinya menjadi pemegang rahasia dimana Buku Kehidupan berada. Buku yang begitu sangat diinginkan oleh Raja bangsa Amukhsara dan membuatnya menjadi yang paling dicari oleh mereka. Dimas Narapati paling dicari oleh bangsa Amukhsara. Sebuah kenyataan yang menakutkan. Prabu Narayala sangat tahu akibat dari kenyataan itu. Bisa saja Dimas akan ketakutan dan tidak bisa menjalani hidupnya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena itu kau selalu dikelilingi oleh prajurit-prajurit Narapati terbaik yang melindungimu setiap saat.” Hal itu membuat Dimas cukup bisa menepis ketakutannya. Tetapi bukan itu yang menjadi pikirannya. Bagaimana dengan Raji dan Pafi. Prabu Narayala bangkit dan memegang tangan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran Dimas tentang cerita yang disampaikan Prabu Narayala. Tetapi pertanyaan itu hilang begitu saja di ujung lidahnya. Dan akhirnya hilang saat Pafi lebih dulu bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bolehkah saya bertanya sesuatu bapak Narayala ?” Pafi meminta ijin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanyakanlah Pafi.” Prabu Narayala memberikan ijin. “Kami tidak mengerti tentang Amukhsara. Apakah Bapak Narayala bisa menjelaskan kepada kami tentang Amukhsara ?” Prabu Narayala tersenyum mendengar pertanyaan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Amukhsara adalah bangsa yang terbentuk dari pecahan Narapati yang telah menjadi sesat. Keberadaan mereka merupakan akibat dari syarat yang diminta oleh dunia tengah itu sendiri. Dunia tengah tidak akan bisa berdiri tanpa adanya kesimbangan dua pilar. Hitam dan putih, siang dan malam, baik dan jahat, benar dan salah. Amukhsara memiliki kemampuan yang sama dengan Narapati. Mereka bisa menggunakan kekuatan-kekuatan alam untuk kepentingan mereka. Tetapi kekuatan itu hanya terbatas pada Amukhsara yang berasal dari Narapati. Jumlahnya tidak banyak hanya kurang dari seratus ribu orang. Mereka adalah Narapati pertama yang harus menjadi korban perubahan itu. Seperti yang saya sudah bilang Amukhsara dipimpin oleh seorang Raja bernama Sanaisbin. Keberadaan mereka di dunia tengah sama pentingnya dengan keberadaan Narapati. Karena mereka menjadi jahat bukan karena kemauan mereka, tetapi karena mereka mengorbankan diri mereka untuk menjadi demikian. Di dalam dunia tengah tercipta dua buah buku yaitu Buku Kehidupan dan buku kematian. Kedua buku mencatat semua kejadian yang terjadi di dunia tengah. Pada mulanya kedua buku tersebut tersimpan di kuil Cakravartin di kota Sunda Buana. Kemudian tenggelam ke dasar laut bersama dengan kota Sunda Buana. Tetapi Amukhsara berniat menguasainya. Mereka menginginkan Buku Kehidupan. Karena Buku Kehidupan mencatat semua yang akan terjadi di masa depan. Bila Buku Kehidupan dibiarkan maka masa depan akan berjalan sesuai hukum alam. Tetapi hukum alam bisa diubah jika ada seseorang menuliskan masa depan yang diinginkan ke dalam Buku Kehidupan. Karena itu sangat berbahaya kalau Buku Kehidupan dikuasai oleh Amukhsara. Narapati berusaha mempertahankan Buku Kehidupan tidak jatuh ke tangan Amukhsara. Buku Kehidupan dipindahkan oleh Narapati dari kota Sunda Buana. Setiap seribu tahun buku itu dipindahkan ke tempat yang baru. Kemudian di tanam ke dalam perut gunung Krakatau. Setelah sebelumnya disimpan di dalam perut gunung Merapi. Pada saat Krakatau meletus tahun 1883 buku tersebut keluar sebelum waktunya. Kemudian terjadilah perang hebat antara Narapati dan Amukhsara di lembah Krakatau. Sejak saat itu buku itu memiliki kemauan sendiri untuk berada di mana. Amukhsara terus berusaha mengejar keberadaan Buku Kehidupan. Kehadiran Amukhsara ke dunia manusia selalu ditandai oleh sebuah bencana ataupun musibah yang besar beberapa hari sebelumnya. Serangan belalang ini merupakan tanda kehadiran mereka di tempat ini pada beberapa hari mendatang. Ini adalah tanda yang diberikan oleh alam untuk kita bersiap diri. Mereka adalah mahluk hidup. Segala yang hidup bisa mati. Menghadapi Amukhsara sama seperti menghadapi manusia biasa. Hanya saja mereka memiliki kemampuan yang sama dengan Narapati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan Prabu Narayala sudah lebih dari cukup menurut Pafi. Pikirannya sekarang begitu terang. Kabut gelap mengenai Amukhsara mulai terbuka. Keyakinannya timbul. Ternyata Amukhsara bukanlah mahluk halus dan masih memiliki tubuh kasar yang bisa mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari nak, kita akan jalan-jalan sebentar, banyak yang harus kau lihat, sudah saatnya kau tahu mengenai duniamu yang sebenarnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala membalikan badannya berjalan ke lukisan dinding gunung bromo dan gunung semeru. Pintu gaib muncul menggantikan lukisan itu. Kerthapati membuka pintu. Sebuah cahaya temaram menyeruak dari balik pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pintu gaib itu” Pafi berbisik pelan. Dimas dan Raji melihat pintu yang selama ini mereka selidiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala membimbing Dimas, Pafi dan Raji masuk ke dalam pintu itu. Tanpa banyak tanya ketiganya mengikuti masuk pintu. Di balik pintu mereka menemui sebuah ruangan berdinding batu hitam yang dihiasi obor-obor di kiri kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari kita keluar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala memegang pundak Dimas dan membimbingnya menuju sebuah sebuah relung seperti gerbang yang tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buka…………..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala mengibaskan tangannya ke arah tembok berelung di depan mereka, tembok di depan mereka tergeser dan sinar bulan yang indah di langit yang bening masuk memenuhi ruangan. Mereka bergerak menuju pintu, tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya di luar Dimas, Pafi dan Raji berdecak kagum. Mereka berada di puncak  sebuah bangunan batu berbentuk segi empat setinggi bukit dengan ribuan anak tangga menurun ke bawahnya. Terdapat empat pilar persegi yang tersusun dari potongan-potongan batu hitam dengan relief-relief menjulang tinggi di setiap sudut di dasar bangunan. Begitu megah dan menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita berada dimana sekarang ?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas masih ternganga keheranan, sementara Raji bergerak ke sana kemari ke pinggir balkon. Prabu Narayala tersenyum melihat ekspresi wajah Raji yang takjub. Takjubnya mereka bukan karena kehebatan pemandangan yang mereka lihat. Dunia Narapati 15.000 tahun lalu jauh lebih hebat. Yang menjadi kekaguman adalah dunia yang berjalan dengan waktu yang sejajar dengan dunia manusia dan benar-benar nyata. Mereka hanya pernah mendengar dongeng-dongeng dan cerita-cerita mahluk-mahluk gaib. Dunia di balik dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sekarang berada di dunia Narapati, di atas puncak kuil agung Caturbhasa Mandala di gunung Mahameru, dan kita sedang menghadap gunung bromo di depan sana”. Prabu Narayala menujukan jarinya ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia Tengah? Apakah dunia Tengah berbeda dengan dunia manusia?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas mengawali pertanyaannya dari ribuan pertanyaan yang nantinya akan ditanyakan kepada Prabu Narayala yang sudah siap pula dengan ribuan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia tengah berbeda dengan dunia manusia juga berbeda dengan dunia gaib. Dunia manusia menempati matra ruang pertama, Dunia tengah di matra ruang kedua dan Dunia gaib di matra ruang ketiga. Dan masih ada lima matra ruang lain dengan kehidupannya sendiri-sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bajra, Nagapasa,  Sangkha, Danda, Khadga, Dwaja, Cakra, dan Trisula.” Dimas teringat delapan ruang waktu yang pernah disebutkan oleh Ratu Kerajaan Selatan. Prabu Narayala tersenyum melihat Dimas mengerti maksudnya. Raji dan Pafi terbengong-bengong mendengar penuturan dari Prabu Narayala yang selalu tersenyum setiap kali menyelesaikan setiap kalimat dalam ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, nama-nama gunungnya sama”  Kali ini Pafi bertanya dengan suara yang mulai bergairah. Ketakutan yang tadi mereka rasakan serta merta hilang digantikan rasa takjub dunia lain yang mereka lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang Dunia Narapati memiliki wilayah yang sama dengan nama yang sama, yang membedakan hanyalah ruang. Dalam dunia Narapati, Laut Jawa tetaplah sebuah daratan luas dengan lembah-lembah sungainya. Swarnadwipa, Jawadwipa dan Barunadwipa adalah satu daratan yang satu. Bangsa Narapati pindah ke dunia baru tepat sebelum banjir besar datang, dimana ketiga pulau besar yang sekarang di dunia manusia bernama Sumatra, Jawa dan Kalimantan masih satu daratan. Berkat kalian, banyak rakyat Narapati yang selamat dan bisa menyebrang ke dunia tengah. Dunia Narapati memiliki sejarahnya sendiri, walaupun antara dunia Manusia dan Narapati ada kesamaan wilayah, tapi setiap sejarah yang dituliskannya memiliki jalan yang berbeda”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa dunia tengah dengan alam Gaib tidak sama saya masih tidak mengerti ?”  Raji yang sejak tadi sudah begitu bersemangat mengajukan pertanyaan. Prabu Narayala membelai kepala Raji dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak anakku, dunia tengah tidak sama dengan alam gaib. Dunia tengah memiliki ruangnya sendiri. Seperti kalau kau berada di dalam rumah. Tiap ruangan memiliki pintu keluar dan jendela untuk melihat. Dunia manusia, dunia tengah dan dunia gaib memiliki ruang yang saling berhimpit satu sama lain. Dan ada pintu diantara ketiga ruangan itu untuk melintas. Sebelum adanya sebuah perjanjian, melintas ruang matra yang lain sangatlah bebas. Kami sempat mengajarkan beberapa kepandaian kepada manusia yang mengalami kemunduran pada jaman itu. Sisa manusia yang selamat pada bencana 15.000 tahun lalu kehilangan ilmu pengetahuan mereka. Sehingga mereka kembali hidup di jaman batu. Kami mengajarkan mereka untuk membentuk kebudayaan dan masyarakat. Sampai terjadi undang-undang baru yang melarang semua bangsa Narapati mengajarkan apapun kepada manusia dan para Narapati dilarang melintas ke dunia manusia jika tidak diundang oleh manusia, kecuali atas perintah kerajaan, setiap gerbang menuju dunia manusia akan dijaga oleh Nandiswara. Jika hendak melintasi gerbang harus menunjukan ijin kerajaan, karena jika tidak maka para Nandiswara akan bertindak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya mulai tampak mengerti sekaligus bingung, Prabu Narayala tampak mengerti dengan kebingungan mereka dan dia kembali menjelaskan. Lalu Prabu Narayala mengeluarkan siulan yang khas dari mulutnya, entah bagimana dia membuat siulannya begitu kencang menggema, Dimas terkagum-kagum dengan apa yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana  Bapak  Narayala bisa mengeluarkan suara yang begitu keras dan menggema ?”  kata Dimas. Prabu Narayala tersenyum lalu dia menunjuk ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau nanti juga akan bisa melakukannya, lihat dibawah itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala menunjuk seekor harimau putih seukuran kuda jantan dengan pelana dipundaknya. Dimas terbelalak kaget dan merapatkan tubuhnya ke Prabu Narayala. Dari angkasa turun sepasang Garuda Kencana dan dua seorang penunggangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, ini adalah dengan harimau putih Narasimha namanya Ki Maungbajra, dan yang ini adalah Arghapati dan Wirapati beserta Garuda kencananya, namanya Pavakah dan Vihangah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelimanya menunduk dan memberikan salam, Dimas tidak mengerti kalau sujud tunduk hormat itu untuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangkitlah semuanya !”. Prabu Narayala meminta ketiganya bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah ! sebaiknya kita tinggalkan tempat ini, Dimas naiklah ke punggung Ki Maungbajra bersamaku! Raji kau naiklah bersama Arghapati, Pafi naiklah bersama Wirapati. Arghapati kau awasi jalan yang akan aku lalui dari udara, pastikan tidak ada yang mencurigakan, Kerthapati bawalah pesanku ini untuk penguasa pantai selatan jangan kembali sampai kau diperintahkan pergi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala menaiki punggung Narasimha dan kemudian menarik Dimas duduk di depannya. Arghapati dan Raji segera terbang bersama Pavakah, Wirapati dan Pafi juga terbang bersama Vihangah, sementara Kerthapati langsung saja menghilang seperti ditelan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk di atas Ki Maungbajra harimau putih yang sangat besar adalah hal yang sangat mendebarkan sekaligus menyenangkan bagi Dimas. Dimas mencoba menyentuh bulu lembut di pundak Ki Maungbajra, seakan Ki Maungbajra mengerti elusan lembut yang dilakukan Dimas, Ki Maungbajra mengaum menggema ke seluruh penjuru hutan Mahameru. Ki Maungbajra terus berlari ke arah barat, jauh di depan sepasang Garuda Kencananya terus mengangkasa mengawasi setiap kemungkinan mencurigakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kejauhan telah tampak bangunan-bangunan batu menjulang tinggi mengelilingi sebuah piramida berbentuk segi empat. Piramida bangunan paling tinggi di antara bangunan batu lainnya. Benteng setinggi 100 meter mengelilingi kota megah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat di depan sana, itu kotapraja Narapati “Medanggana Raya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="OLE_LINK4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="OLE_LINK3"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pilar-pilar obor dari bangunan batu mengelilingi setiap sudut kota. Medanggana Raya memang sebuah kota yang sangat besar, terlihat dari tingginya bangunan-bangunan dan luas benteng yang mengelilinginya. Relief-relief dan relung-relung berukir di setiap gerbang rumah-rumah dengan atap berbentuk limas segi empat dan kerucut-kerucut mengelilinginya. Di tengah kota terdapat Nadhisara, sebuah saluran air buatan yang besar yang membagi-bagi kota menjadi sektor-sektor. Jembatan-jembatan lengkung menghubungan setiap sisi nadisara. Patung-patung Garuda kencana berseling dengan Narasimha bertengger di setiap pilar-pilar penjaga jembatan. Pohon-pohon tumbuh teratur di setiap halaman rumah-rumah penduduk menambah keindahan pagi yang mulai menjalar di ufuk timur. &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Ki Maungbajra berhenti di depan gerbang batu dengan relung besar dan terukir relief-relief huruf-huruf kuno. Prabu Narayala mengibaskan tangannya sambil mengeluarkan suara yang agak berat dan lambat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buka…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerbang batu itu bergeser ke kiri dan ke kanan membuka perlahan. Ki Maungbajra bergerak memasuki pintu gerbang yang terbuka, sementara Pafi dan Raji sudah menunggu bersama Arghapati dan Wirapati beserta Garuda kencananya di balik gerbang. Mereka segera bergerak menuju kuil piramida di pusat kota. Prabu Narayala turun dari punggung Ki Maungbajra dan mengangkat Dimas turun dari punggung Ki Maungbajra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ki Maungbajra, kau boleh kembali ke tempat peristirahatanmu”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Maungbajra menggeram kecil kemudian berbalik meninggalkan tempat. Arghapati dan Wirapati mengelus-elus kepala kedua Garuda Kencana mereka. Kedua Garuda Kencana itu juga segera mengangkasa meninggalkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi sudah benar-benar sempurna menunjukan wajahnya walaupun matahari masih setengah hati membagi kehangatannya pada rumput-rumput yang sejak malam menggigil kedinginan. Sambutan pagi itu begitu meriah, daun-daun dengan sesaji embun dinginnya menyembul di ujung-ujungnya yang runcing, burung-burung dengan kicaunya begitu bergairah mengepakan sayap untuk pemanasan setelah semalaman meringkuk di hangatnya sarang yang bergantung di dahan yang yang daunnya sudah luruh karena meranggas. Disapu angin lembut yang membawa hangatnya mentari dedaunan kering meranggas di musim yang mulai kemarau. Kemegahan kota Medanggana Raya makin terlihat jelas, batang-batang pohon jati yang meranggas di seluruh kota membuat suasana kota begitu telihat penuh akan sejarah kejayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kini berada di sebuah ruangan yang merupakan bagian dari kuil utama di tengah kota. Kuil tersebut merupakan pusat segala kegiatan intelektual masyarakat Narapati di Medanggana Raya. Gerbang berbentuk segi enam setinggi duapuluh meter berbentuk pilar yang berelung ukiran di kaki kuil menembus masuk ke dasar bangunan. Memasuki ruangan pertama persegi enam yang sangat besar dengan tinggi melebihi 2 kali pohon kelapa dengan enam pilar besar menyangga langit-langitnya. Pada tiga dinding di depan, kiri dan kanan terdapat tiga ruang berarsitektur sarang lebah. Untuk mencapainya harus melalui tangga naik yang sangat lebar yang langsung dapat terlihat saat melalui gerbang utama. Sepertinya tangga itu adalah tangga utama yang menuju ruang-ruang lain pada bagian inti dan belakang kuil. Dua tangga lain berada di bagian dinding kiri dan kanan mengarah pada ruangan-ruangan pada bagian sisi kiri dan kanan kuil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan itu terlihat sepi, hanya kursi-kursi batu yang teratur rapi mengelilingi setiap pilar. Melihat lantai dan kursi yang begitu bersih mengkilat, jelas Dimas bisa menduga bahwa sebenarnya ruangan ini sangatlah ramai pada siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kuil ini disebut yang artinya pembuat kemakmuran. Dahulu kuil ini kami gunakan untuk kegiatan persembahan bagi Isvarah, Dia sang pencipta. Kemudian kami mengubahnya menjadi pusat kebudayaan dan belajar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak sekali istilah-istilah yang digunakan dalam bahasa sansekerta dan jawa kuno, apakah Narapati tidak mempunyai bahasa sendiri ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya…memang, kebudayaan Narapati adalah kebudayaan pertama. Beberapa bahasa kemudian berkembang menjadi sansekerta yang berkembang pesat di India. Bahasa Sunda, Jawa dan bahasa lainnya di nusantara. Narapati sempat bersentuhan dengan kebudayaan Hindu saat pemerintahan prabu Ajisaka di Jawa. Pada saat itu manusia Jawa baru memulai peradaban yang dibawa dari India, dibuatlah Undang-undang Ajisaka yang mengatur lalu lintas bangsa Narapati ke dunia manusia. Karena hal itulah akhirnya terjadi pertukaran budaya. Sampai akhirnya  Undang-undang Ajisaka diganti dengan Undang-undang baru, seperti yang aku sebutkan tadi, melarang semua bangsa Narapati mengajarkan apapun kepada manusia dan para Narapati dilarang melintas ke dunia manusia jika tidak mendapatkan ijin dari kerajaan. Untuk mencegah penyebrangan yang tidak sah kemudian ditempatkan penjaga khusus di 9 pintu gerbang yang disebut para Nandiswara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala tersenyum, sebelum pertanyaan kembali keluar dari mulut Dimas, Prabu Narayala kembali melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja kami melintas ke dunia manusia dengan ijin terlebih dahulu. Siapapun yang pernah melintas ke dunia manusia akan dapat terlihat jelas bekas-bekas di tubuhnya. Siapapun yang melintas tanpa ijin akan mendapatkan hukuman yang sangat berat” Dimas teringat pak Narso dan Mbok Sinem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jari telunjuk Prabu Narayala mengacung ke atas memberikan penekanan yang kuat pada kalimat terakhirnya. Tak terasa langkah mereka terus berjalan menapaki anak tangga menuju ruang pada lapisan kedua. Sesampainya pada depan ruangan, terhampar lorong persegi enam dengan kekosongan mutlak oleh kegelapan. Seakan tak dapat ditebak sampai mana ujungnya. Jari-jari Prabu Narayala menjentik membunyikan bunyi “klik” sambil mengucapkan kata “Aktu”. Dalam hitungan yang singkat seluruh lorong terang benderang oleh nyala obor di kiri dan kanan lorong. Jelas sekali sekarang semuanya terlihat. Di kiri dan kanan lorong terdapat pintu-pintu masuk persegi enam. Di setiap 2 pintu masuk diselingi oleh lorong persegi enam yang menghubungkan dengan lorong-lorong di bagian yang lain. Pada bagian ujung lorong terlihat sebuah ruangan yang sangat terang dan luas. Dimas, Pafi, Raji dan Prabu Narayala terus berjalan menuju ruangan paling ujung. Sesampainya di sana, ketiganya lagi-lagi berdecak kagum, kemegahan ruangannya yang dihiasi pancaran cahaya kuning dari obor-obor di sekelilingnya membuat ruangan ini tampak sangat indah. Enam Pilar menyangga sampai ke langit-langit ruangan. Di bagian tengah terdapat pilar bening seperti kaca yang menjulang setinggi pilar yang lain menembus langit-langit berdiameter 2 meter. Prabu Narayala membimbing Dimas mendekati pilar kaca itu. Tangannya bergerak menyentuh pilar dan mengucapkan mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tangga udara buka….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertiga bagian dinding kaca pilar yang berbentuk lingaran itu terbuka. Prabu Narayala membimbing Dimas, Pafi dan Raji masuk ke dalam pilar dan berdiri di atas sebuah lapisan batu berbentuk lingkaran yang lebih kecil dari lingkaran pilar. Alas batu yang mengkilat hitam penuh dengan ukiran tampak jelas sudah sangat sering di pakai. Prabu Narayala mengembangkan tangannya dengan telapak berada di atas, lalu dia menggumamkan mantra sambil mengangkat sedikit tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naik…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkaran batu bergerak naik ke atas sampai akhirnya menghilang dibalik langit-langit ruangan. Entah berapa tinggi  telah dicapai, yang pasti merasakan sensasi yang tidak nyaman di perutnya ketika dirinya terangkat dengan cepat ke atas. Tak lama kemudian mereka berhenti dan tiba di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Pintu pilar kaca segera terbuka setelah Prabu Narayala mengibaskan tanggannya. Kemudian mereka berjalan menuju relung yang tertutup. Seperti yang sebelumnya dilihat, Prabu Narayala mengibaskan tangannya dan mengucapkan mantra yang diikuti dengan terbukanya dinding relung. Mereka berdua bergerak menuju pintu yang telah terbuka. Di depan tampak seperti sebuah balkon dengan dinding batu setinggi pinggang orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari begitu hangat menyambut kedatangan mereka yang sekarang berada di puncak kuil Cakravartin. Kuil yang berada berada sebelah-sebelahan dengan kawah gunung Bromo. Medanggana Raya adalah kota yang berada di dalam kaldera Bromo purba. Bentangan bangunan kota dengan lansekap berundak-undak mengikuti bentuk lereng mengelilingi kawah dan Cakravartin. Setiap teras diisi oleh bangunan-bangunan rumah penduduk yang terbuat dari batu dengan atap-atap ukiran mengerucut. Pemandangan megah kota Medanggana Raya yang dikelilingi benteng setinggi seratus meter melingkar mengelilingi kota sampai ke tebing gunung Bromo. Dari tempat itu mereka dapat melihat puncak Mahameru yang menjulang tinggi. Dua kuil yang saling berhadap-hadapan Caturbhasa Mandala di lereng utara Mahameru dan Cakravartin di dalam kawah Bromo purba. Diantara keduanya membentang hamparan pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala berkata pelan dan menggiring Dimas dan kedua sahabatnya kembali ke dalam ruangan. Dimas mengikuti gerakan Prabu Narayala memasuki ruangan dan dia tidak melihat beberapa orang sudah duduk menunggu di dalam ruangan itu. Prabu Narayala mempersilahkan Dimas, Raji dan Pafi duduk di antara mereka yang semuanya serentak berdiri dan menghaturkan sembah dengan telapak tangan saling menyatu  di depan dada. Sembah yang sempat dia lihat dilakukan oleh Arghapati, Wirapati dan Kerthapati kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duduklah semuanya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala meminta semuanya kembali duduk di tempatnya. Dimas menatap satu persatu orang-orang yang hadir, ada enam orang termasuk dirinya. Seorang lelaki muda berpakaian hijau-hijau yang diingatnya sewaktu berada di alun-alun utara keraton saat penobatan Sultan Hamengkubuwono IX. Juga seorang perempuan sangat cantik tampak duduk bersebelahan dengannya pakaian sangat indah berwarna biru laut. Dua laki-laki yang lain telah dikenal Dimas sebelumnya di kuil Caturbhasa Mandala, Wirapati dan Arghapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku perkenalkan, ini adalah utusan Kerajaan Laut Selatan dan Sinar Avedi Hoa-Binh”  Prabu Narayala mulai mengenalkan lelaki berpakaian hijau-hijau yang sudah pernah dilihat Dimas sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang Gusti! Saya NIEPETHIN SONAR, saya biasa dipanggil NIEPETHIN. Kita sempat bertemu dua kali.” Lelaki itu memperkenalkan diri dengan tangan kanan menyilang di dada sebelah kiri sambil membungkuk rendah. Kemudian disusul perempuan cantik di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang Gusti! Saya Cuu Long, Sinar Avedi Agung Au Co menitipkan salam.” Setelah melakukan gerakan hormat yang sama dengan Niepethin, Cuu Long kembali duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami semua adalah PAHOM NARENDRA – BATHARA SAPTHA PRABHU atau disebut Tujuh Pelindung. Yang bertugas melindungimu.” Prabu Narayala menatap Dimas yang masih kurang mengerti maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tujuh ? lalu yang dua lagi siapa ?” kata Dimas dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua yang lain adalah Pafi dan Raji, kedua sahabatmu Dimas”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala menjawab pertanyaan Dimas. Setelah melihat semua kemegahan kota Medanggana Raya. Tidak ada hal lain yang lebih mengejutkan kalau Raji dan Pafi termasuk di dalam kelompok yang bertugas melindunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pahom Narendra bertugas melindungi rahasia dimana buku kehidupan disembunyikan. Rahasia yang sekarang berada di dalam tubuhmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi saya tidak ingat sama sekali dimana rahasia itu” Dimas agak frustasi dengan kenyataan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat ini memang kau belum tahu, karena masih ada satu kunci yang harus ditemukan agar kau bisa mengetahuinya. Dan kunci itu hanya kau sendiri yang bisa menemukannya.” Kata-kata Prabu Narayala makin membuat Dimas bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, saatnya kita kembali. Niepethin sampaikan salamku pada Ratu Kerajaan Selatan. Cuu Long sampaikan salamku pada Sinar Avedi Agung Au Co.” Semua yang berada di ruangan memberikan salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Narayala mengucapkan mantra sambil mengusap kepala Dimas, Pafi dan Raji bergantian. Seketika ketiganya merasakan kedamaian yang luar biasa menghapus semua rasa sesak di dadanya. Beban yang terasa memuncak terasa ringan terangkat keluar dari kepalanya. Matanya melihat sekeliling ruangan yang terasa makin sempit, lama kelamaan wajah-wajah para Pahom Narendra lenyap dan akhirnya gelap gulita. Saat terang muncul mereka sudah kembali berada di ruangan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selain itu kalian juga perlu tahu, selama kalian tinggal di asrama ini aku menempatkan penjaga yang selalu membantu dan melindungi kalian bertiga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas sudah bisa menebak siapa penjaga yang dimaksud Prabu Narayala. Hal ini pernah dibahas bersama Raji dan Pafi. Tetapi pengungkapan ini tetap menjadi sangat penting buat mereka.Prabu Narayala melambaikan tangan kirinya kearah pintu ruang belajar. Dari luar ruangan masuk Nyai Janis, Garangjiwo dan Lakunogo. Kehadiran mereka bertiga walaupun sudah diduga sebelumnya tetap memberikan sedikit kejutan bagi Dimas, Raji dan Pafi. Kejutan bahwa akhirnya mereka semua saling membuka diri siapa sesungguhnya mereka. Raji masih agak sukar percaya Nyai Janis adalah juga seorang Narapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang Prabu Narayala!” Nyai Janis menyapa Prabu Narayala. Garangjiwo dan Lakunogo hanya memberikan hatur sembahnya. Nyai Janis kemudian menyapa Dimas, Raji dan Pafi bergantian. Suasana agak menjadi kikuk bagi Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian bertiga tentunya sudah mengenal Nyai Janis dengan baik. Nyai Janis adalah Narapati yang ditempatkan di asrama ini untuk menjaga kalian bertiga selama tinggal di asrama ini. Di dalam asrama ini hanya tinggal empat orang Narapati. Nyai Janis, Raji, Pafi dan kau sendiri nak. Dan tentunya ada dua orang lagi yang tentunya kalian bertiga sudah tahu kenal dengan sangat baik dan selalu membimbing kalian selama ini.” Dimas terkejut Prabu Narayala menyebutkan keberadaan dua orang Narapati yang lain. Dimas sudah mengerti yang dimaksud adalah Pak Narso dan Mbok Sinem. Tetapi mengapa kerajaan Narapati tidak menangkap keduanya kalau sudah mengetahui keberadaan mereka. Bukankah pak Narso bilang kalau mereka adalah buronan kerajaan Narapati. Nyai Janis mendekat berdiri di sebelah Dimas. Garangjiwo dan Lakunogo mengikutinya di belakang. Raji masih terus berusaha menyesuaikan hatinya. Menerima kenyataan kalau Nyai Janis adalah juga seorang Narapati. Sesuatu yang begitu tidak rela dia berikan. Dua orang perempuan muncul dari balik pintu. Keduanya segera menghaturkan salam sembah kepada Prabu Narayala. Prabu Narayala memperkenalkan keduanya kepada yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini Kriyandita dan Sukmaratih. Mereka akan ikut membantu mengamankan di dalam asrama.” Raji tersenyum semangat menyodorkan tangannya. Kriyandita dan Sukmaratih tersenyum geli melihat tingkah Raji. Sesaat lalu dia begitu ketakutan hingga jatuh ke lantai. Tetapi sekarang semangatnya berpijar mengalahkan matahari siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tempat ini sekarang sudah terlalu berbahaya untuk kalian bertiga. Dalam waktu dekat Amukhsara akan menemukan keberadaan kalian disini. Kalian harus dipindahkan segera. Untuk sementara tempat teraman adalah Medanggana Raya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, saya akan tetap berada disini. Saya tidak mau meninggalkan teman-teman saya di asrama dalam keadaan bahaya. Mereka teman yang selama sebelas tahun tinggal dan tumbuh besar bersama saya. Saya tidak akan menghianati mereka. Saya akan tetap disini bersama mereka.” Penolakan Dimas cukup mengagetkan. Pafi dan Raji memiliki pendapat yang sama mereka berdua memilih tinggal bersama di asrama. Prabu Narayala melihat bahaya yang sangat besar kalau membiarkan Dimas tetap berada di asrama. Bahaya yang tidak Cuma mengancam dirinya, tetapi juga seluruh Narapati dan dunia tengah. Tetapi Prabu Narayala melihat kesetiaan dan sikap ksatria yang ditunjukan Dimas. Suatu sikap yang akan amat diperlukannya nanti saat memimpin dunia tengah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-3032662071148118740?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/3032662071148118740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=3032662071148118740' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/3032662071148118740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/3032662071148118740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/bagian-10-tali-pusar-jayapati.html' title='BAGIAN 10 - SANG PEWARIS'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-6379572846732949598</id><published>2008-03-11T20:44:00.003-07:00</published><updated>2008-03-23T19:05:21.329-07:00</updated><title type='text'>BAGIAN 9 - BENCANA BESAR</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di ujung barat Jawa tahun 1940. Di tengah lautan luas, gugusan asap tebal membumbung tinggi ke udara. Krakatau meletus lagi. Letusan dahsyat berlangsung beberapa hari. Tidak sebesar letusan yang terjadi di tahun 1883, tetapi cukup membuat semua orang mengais kembali ingatan kengerian yang terjadi lebih dari setengah abad yang lalu itu. Cendawan abu mengembang hingga ribuan meter ke udara. Semua orang bertanya apakah krakatau akan menghancurkan dirinya kembali. Semua orang menanti cemas. Berharap bencana yang dulu pernah terjadi tidak terulang lagi. Cemas apakah sempat mereka menyelamatkan diri pada saatnya tiba nanti. Tapi krakatau kelihatan tidak peduli dengan semua keresahan yang disebabkannya. Dirinya sendiri juga sedang begitu gelisah dengan semua hal yang terjadi di bawah kakinya. Hal yang tidak terlihat oleh siapapun yang bernama manusia. Karena terjadi di balik lapisan tipis pandangan kasat mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita meletusnya Krakatau sampai juga ke asrama. Dimas mendengarnya dari cerita pegawai keresidenan yang sedang ngobrol di warung kopi. Cerita-cerita tentang hilangnya banyak gadis di desa-desa pantai kulon menambah aroma ketakutan. Pencarian besar-besaran terus dilakukan. Bahkan Pemerintah Hindia Belanda ikut turun tangan melakukan pencarian. Nyai Janis tiba-tiba mengumumkan lagi peraturan ketat. Anak-anak harus berangkat sekolah dengan berbaris bersama. Dikawal oleh dua orang polisi. Tidak ada yang boleh keluar dari lingkungan asrama setelah pulang sekolah. Tidak boleh keluar dari asrama setelah maghrib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aturan asrama ini makin lama makin ketat. Apakah masih karena kedatangan dua mahluk itu ?” Raji merasa dirinya yang paling terpenjara saat ini. Kesenangannya memancing di sungai hanya bisa dibayangkan saja sekarang. Hari libur pun semua anak tidak boleh meninggalkan asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan, bukan karena itu. Tapi karena ini. Kau sudah dengar Krakatau meletus lagi.” Dimas mengambil surat kabar lama buatan pribumi yang didapatnya dari pemberian guru di sekolah. Berita itu menjadi berita di halaman muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya tapi kan Cuma letusan kecil. Katanya itu Cuma erupsi biasa yang menunjukan aktifitasnya yang normal.” Pafi menanggapi biasa berita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi di sepanjang pantai kulon diberitakan banyak penculikan gadis-gadis. Lalu pengumuman mendadak dari Nyai Janis. Apakah kau tidak melihat kebetulan yang aneh ini ?” Dimas menunjuk sebuah berita di halaman tengah yang sangat kecil dan tidak terlalu menonjol untuk dilihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa maksudmu ?” tanya Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudnya mudah-mudahan kau tidak ikut diculik.” Jawab Raji asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak usah memberi komentar kalau tidak mengerti apa yang  dibicarakan!” mata Pafi mendelik memandang Raji. Raji Cuma cengar-cengir saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena menurut berita ini mereka hilang secara misterius.” Dimas berusaha menjelaskan maksudnya agak susah payah. Pafi tetap tidak terlalu tertarik mengurainya lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya kita belum bisa menduganya seperti itu. Karena siapa tahu saja ada penjahat yang memperdagangkan perempuan. Kita tidak tahu. Mungkin saja gadis-gadis itu sekarang sudah berada di Sumatra. Aku yakin tindakan Nyai Janis memperketat aturan karena masih tentang kemunculan dua mahluk seram itu.” Pafi tetap tidak mau menanggapi berita itu.Situasi ini telah membuat Pafi ketakutan. Dimas membaca wajahnya yang menjengit setiap dia membahas lagi masalah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku Pafi, aku tidak tahu kalau….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa Dimas, aku memang ketakutan. Karena aku tidak tahu yang sekarang kita hadapi. Tapi itu lebih baik buatku. Rasa takut ini membuatku lebih waspada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku juga Pafi.” Kata Raji. “Mungkin sebaiknya kita meminta nasehat pak Narso. Kita harus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan lain yang tidak terduga.” Pafi tidak menjawab ajakan Raji. Matanya justru beralih kepada Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Usul Raji mungkin lebih baik saat ini. Paling tidak kita tahu apa yang kita hadapi.” Dimas menyetujui usul Raji. Pafi tetap tidak berkata juga. Dalam hatinya diapun sesungguhnya setuju dengan usulan itu. Tapi dia tetap diam saja. Ada hal lain yang masih dipikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari sekolah semua anak asrama diwajibkan berbaris dan dikawal oleh dua orang polisi yang disewa oleh Nyai Janis. Pakaian tidak memakai seragam selayaknya petugas. Pakaian lebih mirip prajurit kraton dari pada polisi. Dimas memandangi kedua orang itu dengan seksama. Ada yang tidak biasa dari kedua orang itu. Ada sesuatu yang dikenalnya. Dimas berbisik-bisik dengan Raji. Pafi tidak mendengar apa yang dibisikan oleh Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji, kau lihat polisi itu. Dia seperti tidak asing yah. Kau ingat tidak ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji mengamati kedua orang itu. Tidak ada hal yang keluar dari kepalanya. Yang terdengar sejak tadi bunyi gas berkerubutan di perutnya. Jam wekernya sudah keras bunyinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian ini sedang membicarakan apa sih ?” Pafi protes tidak diikutkan dalam pembicaraan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kedua polisi itu, Dimas bilang mereka seperti tidak asing.” Raji yang berada di sebelah Pafi menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sendiri menduga mereka siapa ?” tanya balik Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana aku tahu, aku sendiri sejak tadi sudah mencari muka mereka di dalam kepalaku. Tapi hasilnya selalu paha ayam goreng dan sambal terasi.” Raji mengusap-usap perutnya yang sudah kelaparan. Pafi tidak bisa menahan tawanya. Walaupun sering bertengkar, lelucon Raji sering menghiburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pikir mereka bukan polisi, maksudku polisi dari pemerintah. Mereka adalah orang yang diminta oleh Nyai Janis mengawasi kita semua.” Kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih tidak mengerti.” Raji tetap tidak bisa mencerna omongan Dimas karena perutnya belum mencerna apapun siang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka adalah Narapati” Raji tersentak dengan jawaban Dimas. Tapi Pafi terlihat biasa saja dengan jawaban itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga berpikir begitu tadi. Kau ingat apa yang dikatakan pak Narso tentang ciri-ciri seorang Narapati. Kau ingat dua orang yang ditemui Nyai Janis malam itu. Mereka punya kemampuan gaib. Bisa mengusir dua mahluk yang menyeramkan itu.” Kata Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin Nyai Janis juga seorang Narapati ?” Bukan kebetulan dugaan yang diberikan oleh Raji. Keanehan juga sering ditunjukan oleh Nyai Janis. Terutama saat bersama dengan tamu-tamu misteriusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya aku rasa dia juga seorang Narapati. Dan kedua orang itu bukanlah polisi, tetapi kedua Narapati tamu Nyai Janis.” Dimas makin yakin. Tetapi Pafi masih menyimpan pertanyaan lain yang lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti asrama kita banyak dikelilingi oleh Narapati. Untuk apa mereka berada disini ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas maupun Raji belum sempat menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Pafi. Tiba-tiba saja langit di sebelah barat berubah menjadi hitam. Sebuah bayangan hitam yang sangat besar bergerak dengan lambat. Gerakannya berirama seperti tertiup angin. Mereka sudah nyaris dekat dengan asrama. Kedua polisi itu menyadari sebuah bayangan di belakang mereka meminta semua anak untuk segera berlari masuk ke dalam asrama. Dimas, Raji dan Pafi ikut berlari bersama dengan anak-anak lainnya. Beberapa saat kemudian setelah mereka masuk di halaman asrama, jutaan belalang mendarat dihalaman. Beberapa anak yang belum sempat masuk ke dalam gedung asrama belingsatan menepis belalang-belalang yang mendarat di kepala mereka. Sebuah angin cukup kencang menepis belalang-belalang itu dan memberikan kesempatan anak-anak masuk. Semuanya bergegas masuk dan kemudian menutup pintu asrama. Kedua polisi itu pun sudah berada di dalam gedung. Beberapa saat kemudian belalang-belalang itu sudah menggerogoti daun-daun tanaman di seluruh halaman. Dimas berlari ke belakang halaman asrama. Dia teringat kebun pak Narso. Raji dan Pafi pun teringat hal yang sama. Dari kejauhan tanaman kebun pak Narso pelan-pelan mulai gundul. Jumlah belalang yang begitu banyak cepat sekali menghabiskan daun-daun tanaman. Anak-anak yang lain berlari ketakutan. Belalang-belalang itu menempel di seluruh gedung. Menutup jendela hingga tidak ada cahaya pun bisa masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertanda apa ini ?” tanya Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini pertanda buruk, bencana sedang menyerang. Kita harus ke tempat pak Narso sekarang.” Pafi berlari menuju koridor pintu selatan. Teriakan Nyai Janis yang meminta semua anak untuk masuk ke bangsal masing-masing tidak digubrisnya. Dimas dan Raji hanya saling pandang. Mau tidak mau mereka harus mengikuti Pafi. Keduanya mengejar Pafi. Begitu keluar pintu, Pafi sudah melepaskan badainya membuka jalan ke rumah pak Narso. Dimas dan Raji mengikutinya dari belakang. Rumah pak Narso terlihat sudah penuh rata dengan belalang di seluruh dinding dan atapnya. Pafi berteriak memanggil pak Narso walaupun masih cukup jauh dari rumahnya. Pintu rumah pak Narso yang penuh dengan belalang terbuka dan pak Narso telah berdiri di balik pintu. Pafi bergegas masuk. Dimas dan Raji melompat menyusul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf pak, kami datang dalam keadaan seperti ini.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya anak semua tetap berada di asrama. Situasi sedang tidak baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang sedang terjadi pak ?” Pertanyaan Pafi seolah sebuah kalimat yang tidak dimengerti oleh pak Narso. Pak Narso tidak menjawab. Dia hanya diam saja. Raji kembali mengulang pertanyaan itu. “Pak Narso, apa yang sebenarnya sedang terjadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sebelum pak Narso sempat menjawab, sebuah teriakan dari luar dan gedoran pintu mengagetkan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Narso, pak Narso ketiwasan pak. Anak-anak, tolong pak” Mbok Sinten kelihatan lelah sekali. Rambutnya kusut, dua ekor belalang masih menempel di sanggulnya yang lepas acak-acakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa Mbok Sinten ?” pak Narso tampak terkejut tapi tetap tenang. Dimas sudah kelihatan khawatir dengan apa yang terjadi. Wajah Mbok Sinten mengatakan ada yang telah terjadi di asrama. Raji dan Pafi menunggu penjelasan Mbok Sinten dengan cemas. Perempuan itu mengambil nafas dalam. Tampak wajah ketakutannya masih jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak-anak kesurupan pak.” Pak Narso langsung bergegas meninggalkan Rumah. Mbok Sinem ikut berlari menyusul. Dimas, Raji dan Pafi makin cemas dengan situasi yang terjadi. Ratusan belalang mati terinjak saat mereka berlari secepatnya menuju asrama. Di dalam asrama sendiri beberapa anak perempuan sudah terlihat menangis ketakutan. Beberapa yang lain duduk lemas di bantu yang lebih kuat. Anak laki-laki juga mengalami nasib yang serupa. Di dalam ruang makan yang telah digeser semua mejanya ke pinggir belasan anak lelaki dan perempuan tergeletak meronta-ronta. Teriakan-teriakan tidak jelas memenuhi ruangan. Kaki dan tangan mereka di pegang sekuat tenaga oleh Pembantu-pembantu asrama bersama Nyai Janis dan dua orang polisi dibantu beberapa anak lelaki dan perempuan yang sudah besar. Pak Narso langsung membantu membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah pak Narso, tolong bantu mereka itu. Mereka akan mengusir semua yang merasuk ke dalam anak-anak ini.” Nyai Janis menyuruh pak Narso membantu dua orang polisi yang disewa Nyai Janis untuk menjaga anak-anak. Kedua polisi itu sesaat menatap tajam kepada pak Narso. Pak Narso menatap balik keduanya. Sesaat mereka terdiam. Tidak ada yang tahu kalau mereka sedang berbicara melalui pikiran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesurupan apa mereka ?” pak Narso bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya mereka kesurupan lelembut dari belakang asrama ini. Mereka merasa terganggu dengan kejadian diluar dan mereka menyerbu masuk ke dalam asrama. Mereka tidak bermaksud jahat, hanya minta tempat perlindungan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu apa yang harus kita lakukan ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong siapkan ruang bawah tanah, buka pintunya. Buat dua garis dengan garam dan merica antara ruangan ini hingga pintu ruangan bawah tanah itu. Ini akan memberikan jalan kepada mereka untuk tinggal ditempat yang baru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Narso segera mengambil garam dan merica. Dimas, Raji dan Pafi membantu menumbuk merica hingga halus. Setelah itu kedua bumbu dapur itu diaduk jadi satu. Pak Narso berjalan ke pintu belakang dapur hingga keluar di halaman tengah. Sebuah pintu di luar bangunan dibuka. Pintu itu adalah jalan menuju ruang bawah tanah yang biasa digunakan untuk menyimpan bahan-bahan makanan keperluan asrama dan barang-barang yang tidak terpakai lainnya. Pak Narso dibantu Dimas menaburkan dua garis garam dan merica itu hingga masuk ke dalam ruang makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Garangjiwo, sekarang perintahkan mereka semua untuk keluar dari tubuh anak-anak ini. Aku akan menarik mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lakunogo, aku sudah siap.” Garangjiwo mengucapkan mantra dengan halus dan lambat sekali. Suaranya seolah seperti sebuah tiupan angin. Lakunogo yang melihat Garangjiwo sudah mengucapkan mantra perintahnya segera melakukan gerakan kedua tangannya. Sebuah selubung gaib yang tidak kelihatan kecuali oleh Nyai Janis, Dimas, Raji, Pafi dan Pak Narso. Perlahan satu persatu anak-anak yang semua berteriak-teriak berubah menangis. Tangisan itu menjadi tanda lelembut yang berada ditubuhnya sudah keluar. Garangjiwo terus mengucapkan mantranya hingga semua anak yang kesurupan menangis. Garangjiwo dan Lakunogo dua polisi yang disewa oleh Nyai Janis jatuh ke lantai bersimbah keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyai, tebarkan campuran garam dan merica ke sekeliling asrama.” Kata Garangjiwo kepada Nyai Janis. Nyai Janis menyuruh pembantu-pembantu asrama untuk segera melakukan yang diminta Garangjiwo. Garangjiwo dan Lakunogo menatap Dimas lama sekali. Dimas tidak sadar kalau dirinya sedang diawasi oleh kedua polisi itu. Dimas, Raji dan Pafi sibuk membantu anak-anak yang telah sembuh dari kesurupan kembali ke kamar mereka. Hari itu adalah yang pertama terjadi. Serangan jutaan belalang dan kesurupan masal cukup membuat repot. Nyai Janis mengeluarkan lagi aturan baru. Sampai masa yang tidak ditentukan mereka diliburkan dari sekolah. Guru-guru didatangkan ke asrama. Beberapa ruangan diubah menjadi tempat belajar. Tidak ada satupun yang diperkenankan keluar dari pekarangan asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya belalang-belalang sudah berpindah tempat. Semua tanaman di halaman asrama gundul tidak berdaun. Kebun sayur pak Narso pun tidak ada yang tersisa. Anak-anak asrama membantu pak Narso memanen pohon-pohon sayur yang tersisa. Hanya buah cabai saja yang selamat. Tetapi daunnya habis dimakan belalang. Bongkol-bongkol jagung muda dipanen lebih awal. Dimas berusaha mencari waktu untuk berbicara dengan pak Narso. Tetapi kesibukan dan ramainya anak-anak menyulitkan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita-berita dari banyak desa dilaporkan terjadi serangan hama wereng  besar-besaran di persawahan penduduk. Petani banyak yang gagal panen akibat serangan itu. Petani sayur-mayur mengalami kerugian akibat habisnya tanaman mereka diserang oleh jutaan belalang. Para petani tidak sempat menyelamatkan panen mereka. Serangan begitu mendadak dan cepat sekali. Musim paceklik sudah tidak bisa dihindari lagi akan tiba. Akan banyak kelaparan melanda negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-6379572846732949598?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/6379572846732949598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=6379572846732949598' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/6379572846732949598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/6379572846732949598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/bagian-9-bencana-besar.html' title='BAGIAN 9 - BENCANA BESAR'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-3249058115752655916</id><published>2008-03-11T20:44:00.001-07:00</published><updated>2008-03-24T01:24:33.643-07:00</updated><title type='text'>BAGIAN 8 - TEMAN LAHIR SANG BINTANG</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Alun-alun masih ramai hingga malam. Gelar wayang kulit semalam suntuk menjadi bagian paling ditunggu semua warga. Tetapi pagelaran itu tidak bisa dinikmati anak-anak asrama. Nyai Janis mengharuskan mereka semua untuk kembali sebelum pukul lima sore. Dimas, Raji dan Pafi telah tiba di asrama lebih awal. Mereka telah meminta ijin kepada Nyai Janis untuk pulang lebih cepat. Pikiran Dimas kembali teraduk-aduk oleh tugas yang disampaikan oleh Ratu Kerajaan Selatan kepadanya. Kalimatnya serupa dengan isi pesan Gandrung dalam naskah kosong itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan Dimas hanya diam. Pikirannya terus berputar-putar menerka apa yang dimaksud Gandrung dalam naskah itu. Untuknya Raji terus berkelakar membuatnya tidak terlalu kelihatan sedang memikirkan sesuatu. Dalam hatinya Dimas terus mereka-reka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tidak terbit dan tidak terbenam. Di kaki puncak tertinggi dimana kahyangan dewa-dewi bersemayam. Saat kegelapan datang di barat. Petir menggelegar berhari-hari. Terang datang di timur. Menghentikan waktu. Menerangi dunia tengah. Membawa kelahiran bintang. Bintang yang telah menjadi gelap. Dan hanya tersisa teman lahirnya di bumi. Bintangmu telah hitam sahabatku. Bintang yang selalu kau cari. Bintang yang selalu kau rindu. Bintang yang membawa kehidupanmu. Kau harus membawa terangnya kembali dengan membawa teman lahirnya. Menyucikan kembali lahirnya. Membebaskan jiwanya. Membawa kembali pada kelahiran yang kedua. Terbebas dari tujuh cabikan jiwa. Hanya dengan menyatukan bintang dengan teman lahirnya sang jiwa kembali utuh. Kegelapan hanya akan tenang bersama terang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak di timur dan di barat, berarti di utara atau selatan. Puncak tertinggi tempat kahyangan adalah Mahameru, mungkin maksudnya gunung Semeru. Aku harus ke gunung Semeru dulu. Selebihnya aku pikirkan nanti.” Dimas telah menetapkan tujuannya. Sekarang bagaimana caranya menyampaikan maksudnya pada Raji dan Pafi. Memberi mereka pengertian kalau urusan ini harus diselesaikannya sendirian. Langkahnya makin cepat. Celotehan Raji samar didengarnya. Terkadang dia ketinggalan tawa. Hal itu nyata benar dilihat oleh Pafi. Pafi paham benar tabiat Dimas. Dia tidak akan pernah mengurangkan perhatiannya pada kedua sahabatnya kalau tidak ada sesuatu dalam pikirannya. Mereka akhirnya tiba di depan asrama. Asrama dalam keadaan kosong. Ketiganya segera menuju ruang keinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan pergi ke suatu tempat sendiri. Mungkin perlu sehari.” Raji dan Pafi saling pandang. Tidak biasanya Dimas meminta hal itu kepada mereka. Biasanya dia selalu mengajak mereka pergi bersama. Tapi Pafi dapat menangkap maksud Dimas. Pasti ada kaitannya dengan pertemuannya dengan Ratu Kerajaan Selatan, pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergilah! Kami akan mencari cara menjawab jika ada yang mencarimu.” Kata Pafi dengan yakin. Raji malah bingung dengan tindakan Pafi. Matanya menatap Pafi dengan lekat seakan mencari jawaban di dalamnya. Pafi hanya member isyarat mengangguk pada Raji. Raji mengerti maksud Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, pergilah Dimas! Selesaikan apa yang harus kau selesaikan. Kami akan menunggu disini. Bawalah ini” Raji menyerahkan sebuah kantong kulit berisi bekal air yang selalu dibawanya setiap saat. Raji menepuk pundak Dimas. Dimas membalasnya kemudian mengikatkan kantong kulit itu di pinggangnya. Hatinya lega kedua sahabatnya mengerti permintaannya. Ternyata berbicara dengan mereka tidak sesulit yang dibayangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kembali secepatnya setelah semua urusanku selesai. Terima kasih kalian telah mau mengerti.” Dimas memeluk Raji kemudian bergantian memeluk Pafi. Setelah itu Dimas memilih satu pintu. Dalam hatinya dia menyebutkan tujuannya. Kemudian membuka pintu itu perlahan. Kegelapan hutan tampak di hadapan Dimas. Raji dan Pafi hanya berdiri di belakangnya. Kemudian Dimas melangkah memasuki pintu itu dan menutup kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon-pohon menjulang tinggi di lereng Semeru. Ada jalan setapak yang biasa digunakan pemburu dan pencari kayu bakar. Seekor kijang berlari mengetahui kehadiran Dimas. “Mudah-mudahan aku tidak bertemu harimau” kata Dimas dalam hati. Dimas mengikuti jalan setapak itu menuruni lereng. Tanah yang lembah dan sisa hujan kemarin membuat jalan cukup licin. Dimas harus membawa sebatang ranting untuk membantunya turun. Jalan setapak itu berliku dan meliuk mengelilingi lereng. Kadang ada batu-batu yang bisa dipijak menahan licinya permukaan tanah. Tanaman perdu dan paku-paku raksasa tumbuh sembarangan di sepanjang jalan. Matahari berada di puncaknya. Dimas tidak bisa membedakan dimana arah barat dan timur. Dari kejauhan Dimas melihat atap-atap merah rumah penduduk. Sebuah sungai mengalir di sisi sawah-sawah yang masih hijau. Dimas mempercepat langkahnya. Sekarang tujuan pertamanya adalah bertemu seorang manusia yang bisa ditanyai. Di tengah sawah sebuah huma berdiri. Seorang lelaki dan perempuan kelihatan sedang bersantai di dalamnya. Dimas berjalan menapaki pematang sawah mendekati huma itu. Kedua petani itu tersenyum ramah melihat kedatangan Dimas. Dimas membalas senyum ramah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf pak, bu. Bolehkan saya bertanya ?” Dimas berusaha menunjukan kesopanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya silahkan nak.” Lelaki itu menjawab. Perempuan di sebelahnya masih sibuk membuka bekal makan siang yang dibawanya dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah benar ini kaki gunung Semeru ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul sekali. Wilayah ini adalah kaki gunung Semeru barat.” Jawab lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya anak mau kemana ?” tanya lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sedang tidak tahu arah pak, saya sedang mencari tempat tinggal kakek saya.” Dimas berkata begitu saja menutupi maksud sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho memang kakeknya anak itu tinggal dimana ?” lelaki agak terkejut. Dari penampilan Dimas dia bisa menebak kalau Dimas bukan berasal dari desa-desa sekitar kaki gunung Semeru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya lupa nama tempatnya. Sudah lama saya tidak mengunjunginya. Bisakah bapak memberitahu saya nama-nama desa di sekitar kaki Semeru ini. Mungkin dengan begitu saya bisa ingat kembali namanya.” Dimas sudah membaca apa yang dipikirkan lelaki itu. Matanya kemudian tersenyum ramah kepada perempuan di sebelahnya yang mulai memberikan perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak nak. ………………………………………………..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas teringat satu nama yang pernah didengarnya. Desa Glidik, tempat tinggal pak Narso saat muda. Juga tempat kelahiran Jayapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tempat tinggal pak Narso. Mungkin sahabat tua yang dimaksud Gandrung adalah pak Narso yang bercerita tentang kelahiran anaknya. Kelahiran Bintang, kelahiran pembawa buku kehidupan. Bintang itu telah gelap karena Jayapati menurut pak Narso telah meninggal saat bertempur dengan Sanaisbin. Aku harus membawa terangnya kembali membawa teman lahir. Teman lahir. Apa yang menjadi teman lahir bayi ? yang itu nanti saja. Berarti sekarang aku harus ke desa Glidik.” Kata Dimas dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah desa Glidik pak” Sahut Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh desa Glidik adanya di lereng selatan. Saya banyak kenal orang-orang disana. Kakeknya anak ini namanya siapa ?” Kata lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karto dan istrinya Swarti.” Jawab Dimas singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh pak Karto dan bu Swarti. Jadi anak ini putranya Jayapati yah ?” lelaki mengenal nama-nama yang disebut Dimas. Dimas mengangguk pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi mereka sudah lama sekali pindah. Rumahnya sudah lama sekali kosong.” Lelaki itu mulai heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, iya pak. Saya hanya mau melihat rumahnya saja. Kakek saya sekarang sudah tinggal bersama saya.” Dimas buru-buru menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh begitu. Perjalanan kesana agak sulit nak. Harus melewati beberapa sungai. Lebih baik anak beristirahat dulu disini. Kebetulan istri saya membawakan makan siang. Mari makan siang bersama kami!” Tawaran lelaki sulit ditolak Dimas. Bukan karena lelaki pandai membujuk tetapi karena perut Dimas memang sudah lapar sekali. Dia menyesal sekali tidak makan siang dulu di asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh baiklah, terima kasih atas kebaikan bapak dan ibu.” Istri lelaki itu segera menyediakan satu pincuk daun pisang untuk Dimas. Dimas akhirnya bisa mengobrol akrab dengan pasangan itu. Cerita mereka banyak sekali. Kebanyakan tentang hal-hal gaib di sekitar lereng Semeru. Cerita-cerita tentang hilangnya beberapa gadis setahun yang lalu karena diculik oleh gendrawa untuk dijadikan istri cukup membuat bulu kuduk merinding. Bahkan sering kali gendrawa turun gunung dan menyamar menjadi lelaki manusia. Kemudian menggauli istri-istri yang sedang ditinggal pergi suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemarin di desa kami ada wanita yang melahirkan anak hasil hubungannya dengan gendrawa. Saat lahir anak itu bertubuh penuh dengan bulu hitam lebat. Bayi itu langsung memakan ari-arinya sendiri begitu lahir. Ibunya akhirnya meninggal dunia.” Istri lelaki itu bercerita dengan wajah yang ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ari-ari ? apa itu ari-ari bu ?” tanya Dimas tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu, teman kelahiran bayi. Setiap lahir bayi akan selalui ditemani oleh sebuah ari-ari. Biasanya orang tuanya akan menanamnya di tanah dalam sebuah candil. Lalu di beri lampu penerangan selama empatpuluh hari. Katanya ari-ari itu selalu menemani sang bayi sampai empatpuluh hari. Makanya biasanya bayi suka tertawa sendirian. Karena ari-arinya mengajaknya bercanda.” Istri lelaki itu menjelaskan. Dimas seperti mendapatkan durian runtuh. Dia tahu maksud kalimat berikutnya dari pesan yang ditinggalkan Gandrung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana biasanya ari-ari diletakan bu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya ditanam di samping kamar si bayi. Lalu di beri lampu di atasnya dan ditutup dengan kurungan bambu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harus mencari ari-ari Jayapati. Itu maksud dari semua ini.” Kata Dimas dalam hati. Perut Dimas sudah terisi penuh. Walaupun sederhana makanannya sangat nikmat. Itu cukup memberinya tenaga untuk melanjutkan perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, arah mana yang paling cepat menuju desa Glidik ?” Dimas mulai bersiap melanjutkan perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak lewati sawah ini saja. Lalu menyebrang sungai ini. Teruslah ke selatan hingga melewati dua sungai lagi. Setelah menyebrang dari sungai ketiga anak ambilah jalan ke timur. Setelah melewati 3 sungai, sungai ke empat adalah sungai Glidik. Anak ikuti arahnya ke selatan. Desa pertama itulah desa Glidik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, saya hendak melanjutkan perjalanan saya. Terima kasih telah memberikan saya makan yang enak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mampirlah lagi kalau anak lewat tempat ini lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pamit dulu pak, bu. Pareng” Dimas mengikuti arah yang ditunjukan lelaki itu. Sungai-sungai yang disebranginya tidak terlalu dalam. Masih banyak batu-batu besar betebaran di tengah sungai. Dengan mudah Dimas menyebrangi sungai-sungai itu. Setelah mencapai sungai ke empat di arah timur Dimas telah sampai di sungai Glidik. Dia mulai ingat dimana sekarang berada. Tempat yang dilihatnya dalam mimpi saat pak Narso sedang menunggu kelahirnya putranya Jayapati. Dimas kemudian melangkah terus menuju selatan hingga menemui sebuah gapura kecil dari batu dengan sebuah tulisan huruf hanacaraka. Tak jauh dari tempat itu rumah pertama dan paling luar dari desa adalah rumah pak Narso. Dimas masih melihat dipan tempat ayah pak Narso duduk menghisap cangklongnya. Dimas melangkah membuka pintu rumah yang sudah lama tidak dikunci. Ingatannya membayangkan saat kelahiran Jayapati. Dimas melangkah menuju sebuah kamar dimana Jayapati dilahirkan. Ada desir aneh dalam hatinya. Desir kerinduan yang sangat dalam. Kakinya melangkah ke dalam kamar itu. Sebuah dipan kayu masih berdiri dipojok kamar. Kemudian membuka jendelanya. Dimas kemudian melangkah keluar rumah dan menyisir ke samping rumah. Tepat di dinding dekat kamar Jayapati dilahirkan Dimas berhenti. Tepat dibawah jendela itu tidak terdapat apapun. Hanya tanah kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harusnya diletakan di bawah sini. Aku tidak akan menggunakan pengendali bumiku. Aku akan menggalinya dengan tanganku dan kayu ini saja.” Dimas mengorek tanah di bawah jendela itu. Setelah digali sedalam sikunya tidak ditemukan apapun. Kemudian Dimas melebarkan pencariannya.  Hampir sepanjang dinding kamar itu digali. Tapi tidak ada apapun disana. Dimas merasakan putus asa mulai menjalari hatinya. Keringatnya mengalir deras. Tangannya penuh dengan tanah. Dengan gontai Dimas melangkah kemudian duduk di atas dipan di depan rumah. Ingatannya hanya pada kenyamanan yang dirasakan ayah pak Narso saat menghisap cangklongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimana ari-ari itu ditanam ?” Dimas masih berpikir. Tiba-tiba dia melompat dari bale-bale. Ingatannya sekelebat menunjukan sebuah kurungan di bawah dipan dalam kamar. Dimas berlari menuju kamar. Matanya menangkap sebuah kurungan diletakan di pojok bawah dipan tempat Jayapati ditidurkan. Dimas menarik dipan itu ke arahnya. Kemudian melangkah ke pojokan. Kurungan bambu itu diangkat. Kemudian tangannya dengan bantuan sebuah kayu menggali. Hanya sedalam telapak tangan kayu sudah membentur sebuah benda keras. Dimas mengorek ke samping melebarkan lubang. Sebuah candil dari tanah liat berada di dalamnya. Dimas mengangkat candil itu dengan hati-hati dan meletakannya di atas dipan. Dimas membuka tutup candil itu. Sebuah bungkusan kain putih yang sudah berwarna coklat tanah tergeletak rapi di dalamnya. Dimas mengambil bungkusan kain itu dengan perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ari-ari Jayapati. Aku harus menyimpannya. Kantong kulit Raji tertanya punya tujuan juga. Terima kasih Raji.” Dimas membuang isi air di dalam kantong kulit itu. Kemudian meletakan bungkusan ari-ari yang sudah kering itu ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harus pulang malam ini. Hari sudah mulai senja aku harus bergegas.” Dimas bergegas berlari meninggalkan rumah itu. Lari Dimas berkejaran dengan sinar matahari yang sudah mulai bergerak menjauhinya. Tepat saat maghrib Dimas sudah melewati desa tempatnya bertemu dengan sepasang petani di humanya. Tinggal bagian tersulitnya menaiki lereng menuju tempatnya keluar dari pintu ruang keinginan. Perlahan Dimas menapaki jalan-jalan pemburu menuju lereng barat. Perjalanan naik lebih sulit dari pada turun. Langit yang mulai gelap menyulitkannya. Sebuah obor yang dipinjamnya dari gerbang desa dinyalakan. Dimas tidak khawatir dia akan jatuh terpeleset, tetapi lebih khawatir kalau cerita yang dikatakan oleh pasangan petani itu benar. Tentang tempat tinggal gendrawa yang berada di lereng gunung Semeru. Pikirannya berkelebat pada kejadian di asrama saat dua gendrawa mendatangi asrama. Dimas terus berjalan tanpa kabut mulai turun tipis. Udara begitu dingin di atas lereng. Pintu masuk sudah tidak terlalu jauh. Sebuah pohon besar terlihat terang di batangnya. Sebuah pintu menyala terang. Dimas bernafas lega akhirnya sampai juga. Tetapi kemudian matanya menangkap empat sinar merah bergerak bersama dari arah belakang pohon itu. Dimas bergegas lari menghampiri pintu itu. Tetapi gerakan dua sinar merah itu lebih cepat. Kini dua sinar merah itu telah berada di depan pintu. Bayangannya tampak jelas sekarang. Dua mahluk setinggi dua kali orang dewasa dengan bulu di sekujur tubuhnya menatap merah kearah Dimas. Seringai taringnya masih jelas diingatan Dimas. Dimas gemetar sesaat. Tapi dia harus masuk ke dalam pintu itu. Dan untuk itu dia harus melewati dua mahluk seram di hadapannya. Mahluk itu mulai bergerak kearahnya. Dimas melepaskan serangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asban Bhumi!” Tanah yang dipijak kedua gendrawa itu amblas. Tetapi gendrawa bukanlah mahluk kasar. Dia memiliki sifat halus. Keduanya tidak terpengaruh oleh ruang manusia. Dimas panik. Kepala terus berpikir sementara kedua mahluk itu makin mendekatinya. Dia mengingat-ingat mantra yang didengarnya malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“VA…VA…VADHARNAHA” sebuah kilat merah lemah keluar dari tangan Dimas menyambar kedua mahluk itu. Kedua gendrawa itu hanya terdorong pelan. Rasa gugupnya membuat Dimas kehilangan konsentrasi melepaskan serangan. Nafasnya ditarik dalam. Dia harus mengembalikan konsentrasinya. Kalau dia tidak bisa masuk ke dalam pintu itu dalam waktu cepat, maka teman-teman mahluk itu pasti akan tiba. Dan ikut akan jadi kesulitan besar bagi Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“VADHARNAHA” dua larik sinar merah meluncur deras dengan kekuatan yang lebih besar. Kedua gendrawa itu terjengkang dan menjerit kesakitan. Jeritannya menggema ke seluruh hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“PHOBOSERRAHA” Dimas melancarkan lagi dua serangan. Dua larik sinar kuning melesat mengejar dua gendrawa yang lari meninggalkan Dimas. Tanpa pikir panjang lagi Dimas segera berlari membuka pintu ruang keinginan kemudian menutupnya rapat. Nafasnya terengah-engah tidak karuan. Jantungnya berdegup cepat. Kakinya gemetar. Seluruh badannya kotor oleh lumpur. Dimas bergegas membuka pintu ruang keinginan lagi. Dan dalam sekejap dia sudah berada di kamar mandi. Dan beberapa saat Dimas membersihkan badannya. Kemudian kembali ke kamar mengganti bajunya. Kamar kosong sekali, anak-anak yang lain telah berada di ruang makan. Setelah ganti baju Dimas bergegas menuju ruang makan. Raji dan Pafi sudah hampir selesai makannya. Mereka sangat gembira melihat kedatangan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyaris saja Nyai Janis memanggilku lagi. Untung kau cepat datang. Dia tidak tenang saat melihat kau tidak ada.” Kata Raji berbisik. Dimas menyantap makanannya sambil terus mendengarkan cerita Raji dan Pafi tentang Nyai Janis. Raji dan Pafi mulai bertanya apa yang dicarinya tadi siang. Dimas hanya menunjukan kantong kulit yang tergantung di pinggangnya. Raji dan Pafi paham kalau Dimas belum bisa menceritakan hal itu kepada mereka. Tapi kehadirannya saja sudah cukup membuat mereka gembira.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-3249058115752655916?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/3249058115752655916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=3249058115752655916' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/3249058115752655916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/3249058115752655916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/bagian-8-serangan-gendrawa.html' title='BAGIAN 8 - TEMAN LAHIR SANG BINTANG'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-7755213370254959502</id><published>2008-03-11T20:43:00.001-07:00</published><updated>2008-03-23T19:03:40.058-07:00</updated><title type='text'>BAGIAN 7 - TUGAS BARU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Narapati, ternyata kita juga adalah Narapati.” Raji melompat-lompat tidak tentu arah. Dimas memandang sahabatnya. Ada perasaan ikut gembira ada juga cemas. Narapati yang dikenalnya adalah Narapati 15.000 tahun lalu. Sekarang Narapati sudah tinggal di dunia tengah. Dunia yang amat berbeda dengan yang sekarang dijalaninya. Ada harapan dia akan bisa bertemu kembali dengan kedua orang tuanya. Tapi pertanyaan besar kemudian timbul dalam pikiran Dimas. Bagaimana mereka bisa terdampar begitu jauh di asrama ? Di dunia manusia. Pertanyaan itu masih disimpannya sendiri. Dimas tidak mau mengganggu kegembiraan Raji. Ruang bangsal sepi. Kebanyakan anak-anak sudah pergi ke ruang makan. Hanya tinggal Dimas dan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita makan dulu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji menyusul Dimas yang sudah keluar dari bangsal. Makanan malam ini sepertinya kalah menarik dengan berita Narapati. Raji seperti kelihangan jurus sapu jagatnya. Tangannya menyendok dengan gaya yang aneh. Pafi sebal sekali melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ini kenapa sih, gayamu menyebalkan sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sedang membiasakan diri menjadi seorang…..” Tangan Dimas segera menutup mulut Raji yang nyaris saja membuat semua janji mereka dengan pak Narso pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau harus hati-hati Raji, jangan terlalu berlebihan menunjukannya di tempat umum.” Dimas melepaskan tangannya dari mulut Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh..maafkan aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pasang mata memperhatian kejadian itu. Mbok Sinem tersenyum melihatnya. Drama tidak berlanjut panjang. Semuanya sibuk kembali dengan makanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang makan sekarang sudah ada kebiasaan baru, mencuci piring masing-masing setelah makan. Semua bermula dari ulah Dimas menghipnotis Aryo dan gengnya mencuci piring mereka sendiri setelah makan beberapa waktu yang lalu. Malam ini pun kebiasaan baru itu masih berlangsung. Nyai Janis sangat senang dengan perubahan baik itu. Setelah semua anak selesai mencuci, Nyai Janis meminta semuanya untuk tetap berada di meja makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengarkan baik-baik besok kita semua akan menghadiri upacara penobatan Raja di keraton. Jadi berpakaian yang bagus-bagus. Sekolah diliburkan selama sehari”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua anak-anak bersorak-sorai gembira. Penobatan Raja bukan hal yang terjadi setiap tahun. Ini kesempatan langka yang tidak semua orang bisa berada pada waktu yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben sekali Nyai Janis baik begini” Raji masih tidak percaya. Dari dulu dia sangat tidak percaya kalau orang bule seperti Nyai Janis tertarik dengan kebudayaan Jawa. Mereka lebih tertarik mengeruk harta tanah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau salah Raji, Nyai Janis selalu memperhatikan pengetahuan kita tentang budaya kita sendiri. Kita tidak akan diajak melihat upacara larung di pantai Parang Kusumo kalau dia tidak peduli.” Dimas baru kali ini membela Nyai Janis. Itu cukup mengherankan Raji dan Pafi. Tapi apa yang dikatakan Dimas memang ada benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku setuju denganmu Dimas. Lagi pula Nyai Janis pasti tahu kalau penobatan Raja bukan sesuatu yang terjadi setiap tahun. Ini kesempatan langka seumur hidup. Tentu dia tidak mau peristiwa ini disia-siakan begitu saja.” Kata Pafi. Sepertinya mulai ada perubahan pandangan terhadap Nyai Janis. Raji masih agak kurang suka dengan perubahan itu. Nyai Janis masih tetap tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh lebih baik kita bicarakan hal lain saja. Tentang Narapati” Raji makin tertarik dengan tema itu. Yang lain pun merasakan yang sama. Narapati dan dunia tengah menjadi hal yang makin menarik. Sama seperti saat mereka masuk ke dunia Narapati 15.000 tahun lalu. Dunia yang mereka pikir memiliki sesuatu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah menurut kalian Nyai Janis juga adalah seorang Narapati ?” Dimas memulai topic mereka tentang Narapati. Raji langsung cemberut, karena topiknya kembali lagi tentang Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin saja, dia kan pernah berusaha membaca pikiranku. Artinya dia punya kemampuan seperti kita. Ditambah kedua tamu misteriusnya waktu itu.” Kata Pafi yang begitu senang melihat Raji kelihatan sebal dengan tema mereka. “Bagaimana menurutmu Raji ?” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji tidak mau menjawab, dia diam saja. “Ini kan tema Narapati juga. Kalau benar Nyai Janis adalah seorang Narapati, berarti asrama ini dikelilingi oleh Narapati. Artinya ada sesuatu di asrama ini. Pak Narso bilang hanya Narapati yang memiliki ijin saja berada di dunia manusia. Biasanya mereka adalah telik sandi, petugas pemantau, atau prajurit pencari Narapati yang menyebrang.” Dimas berusaha membuat tema mereka lebih menarik di telinga Raji. Benar saja Raji tertarik memberikan pendapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin di asrama ini ada satu gerbang dari Sembilan gerbang itu. Dan pintu gaib di ruang belajar itu lah gerbangnya.” Kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin juga, itulah kenapa kita melihat ada orang masuk melalui pintu itu. Seperti pintu-pintu di ruang keinginan. Kita bisa kemana saja yang kita mau. Dan kalau kita bisa membukanya kita bisa masuk ke dunia tengah.” Gagasan Dimas mulai mengkhawatirkan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita ke ruang belajar!” Raji makin bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu! Aku masih tidak yakin dengan pintu itu. Aku tetap merasakan getar menyeramkan di sana.” Dimas kembali tidak yakin dengan gagasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kan kita melihat sendiri tamu Nyai Janis masuk melalui pintu itu.” Raji berusaha meyakinkan. Tapi Pafi pun sepertinya sependapat dengan Dimas. Dia tidak ingin mereka mencari pintu itu lagi. Raji kecewa sekali dengan kedua sahabatnya. Dimas terus berusaha menjelaskan. Tapi Raji sudah tidak tertarik lagi mendengarnya. Akhirnya mereka putuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- *** ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan-jalan di Jogjakarta begitu ramai oleh penduduk yang berbondong-bondong menuju alun-alun keraton. Janur dan panjer berjajar di sepanjang jalan Mangkubumi dan Malioboro hingga terus ke alun-alun. Tidak ada pasar yang buka, sekolah, kantor-kantor pemerintah meliburkan diri. Suasana di dalam keraton begitu khidmat. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Di luar keraton, ramai penduduk memenuhi alun-alun. Semua orang berdesak-desakan ingin melihat Raja mereka. Raja yang tidak Cuma bertahta di keraton, tetapi telah bertahta di hati mereka semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas berjalan kaki bersama anak-anak rombongan dari asrama. Beberapa orang yang tampaknya rombongan kesenian jalanan berpakaian penari bersama peralatan gamelannya berjalan sambil menabuhkan alat-alat gamelan mereka. Para penari berjoget menghibur pejalan kaki yang berduyun-duyun menuju alun-alun utara. Kesenian seperti itu sangat jarang tampil di jalan. Pemerintah Hindia Belanda melarang pertunjukan di jalanan. Tetapi hari ini diberikan kelonggaran sehari. Ibu-ibu penjual pecel menggendong bakul rotan mereka dengan setumpuk sayuran di atas tampah yang diusung di atas kepala mereka. Penjual makanan lainnya pun tidak mau ketinggalan memanfaatkan kesempatan keramaian ini untuk mengais rejeki. Di depan gerbang alun-alun utara prajurit-prajurit keraton berjaga dengan pakaian khas mereka. Anak-anak asrama masuk ke dalam alun-alun menyatu bersama kerumunan orang yang telah berbaris di depan keraton. Orang-orang berpakaian hijau banyak berdiri di sudut-sudut kosong keramaian. Dua orang menghampiri Dimas saat memasuki alun-alun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang Yang Mulia. Saya Heritha Radhnana dan ini Niepethin Sonar.”  Kedua orang itu memberikan salam. Dimas tidak mengenal sama sekali keduanya, tetapi Dimas tahu mereka dari Kerajaan Laut Selatan. Raji dan Pafi sudah maklum dengan perilaku Dimas yang tiba-tiba senyum sendirian dan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang kau lihat Dimas ?” tanya Raji penasaran. Matanya terus mencari arah kepada siapa Dimas sedang berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua orang Senopati dari Kerajaan Laut Selatan” jawab Dimas pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya ada apa mereka disini ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keraton Jogjakarta punya hubungan kuat dengan Kerajaan Laut Selatan.” Pafi menjawabnya sebelum Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hubungan kuat, memangnya pernah terjadi apa antara Kerajaan Laut Selatan dengan Keraton Jogjakarta ?” Raji masih belum mengerti maksud Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keraton Jogjakarta punya hubungan dengan Kerajaan Laut Selatan dimulai saat masa Panembahan Senapati. Semuanya terjadi karena tapabrata yang dilakukan oleh sang Panembahan di gua Ngejungan.” Dimas berhenti, dia tidak melanjutkan jawabannya. Matanya kembali beralih kepada dua orang senopati Kerajaan Laut Selatan. “Mereka memintaku untuk ikut.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikut kemana ?” tanya Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuk ke dalam keraton.” Dimas tidak sempat lagi menjelaskan yang lain. Tiba-tiba tubuhnya sudah menghilang dari hadapan Raji dan Pafi. Raji dan Pafi berusaha menyeruak ke dalam kerumunan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menerobos kerumunan dengan mudahnya dan masuk ke dalam lingkungan keraton tanpa terlihat oleh siapapun. Heritha Radhnana dan Niepethin Sonar telah membuatnya tidak terlihat.Sebuah kursi kosong di antara kursi para tamu ikut berjejer di barisan paling depan paling dekat dengan kursi Raja. Tidak ada yang tahu kenapa kursi itu disediakan. Tapi bagi Dimas dia tahu siapa yang sekarang sedang duduk di atasnya. Wajah yang dikenalnya. Perempuan itu tersenyum kepada Dimas. Dimas membalasnya dengan senyum pula. Tidak ada perubahan sama sekali Ratu Kerajaan Selatan tetap cantik seperti terakhir Dimas bertemu dengannya 15.000 tahun lalu. Barisan tamu undangan duduk rapi menyaksikan acara penobatan. Dimas teringat balai agung yang begitu megah di kerajaan Narapati. Kesakralannya tidak jauh berbeda dengan yang sekarang disaksikannya di keraton Jogjakarta. Kerajaan terakhir di Jawa yang masih berdiri ini memiliki banyak hal yang diwariskan dari leluhurnya di Narapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat berjumpa lagi Dimas! Bagaimana kabarmu?” Ratu Kerajaan Selatan menyapa. Perempuan cantik itu bangkit dari duduknya menghampiri Dimas yang berada di halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya baik saja gusti ratu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“15.000 tahun aku menanti bertemu lagi denganmu Dimas. Hari ini akhirnya Sang Pencipta mengabulkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa gusti ratu ingin bertemu dengan saya ?” Dimas bertanya dengan polos. Perempuan itu tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena aku harus menyampaikan hal penting untukmu. Kau harus berjanji padaku dulu kalau kau akan melaksanakannya dan tidak bertanya alasan aku memintamu berjanji.” Dimas mengangguk setuju atas permintaan Ratu Kerajaan Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, dalam keadaan apapun. Kau harus Merahasiakan apapun yang aku katakan. Kau tidak boleh membicarakannya dengan siapapun dengan apapun. Setiap kau langgar janjimu sebuah bintang akan keluar dari punggung telapak tanganmu sebagai sebuah peringatan. Bintang itu akan hilang kalau dalam 7 hari kau tidak lagi melanggar janjimu. Bila kau langgar janjimu lagi sebelum bintang di tanganmu hilang, maka bintang kedua akan muncul. Dan baru akan hilang setelah 14 hari kau tidak melanggar janji lagi. Apakah kau mengerti Dimas ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti disambar petir di siang hari, Dimas terpasung dalam janji yang sudah dia sanggupi. Dimas tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun. Dia tidak mengerti mengapa dirinya diminta berjanji seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengarkanlah baik-baik, “Tidak terbit tidak terbenam di kaki puncak kahyangan. Sahabat tua membawa cerita. Tentang teman sang bintang yang menanti di bumi. Membawa kelahiran kembali pada yang telah mati.” Kau harus mencari tahu sendiri artinya. Setelah kau mendapatkan artinya, simpanlah baik-baik. Jangan sampai terpisah dari ragamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah gusti ratu.” Perempuan itu berbalik meninggalkan Dimas kembali ke kursinya. “sampaikan salamku pada Raji dan Pafi.” Perempuan itu tersenyum lagi. Prosesi penobatan Raja masih terus berlangsung dengan khidmat. Dimas kembali ke dalam kerumunan orang-orang dan menerobos hingga ke belakang alun-alun. Di sana Raji dan Pafi  sedang duduk asyik di bawah pohon menikmati pecel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji, Pafi!” Dimas berlari menghampiri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau melihat hingga ke dalam ?” tanya Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, aku melihat Sri Sultan. Juga Ratu Kerajaan Selatan.” Jawaban Dimas segera saja menarik perhatian keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bertemu dengan Ratu Kerajaan Selatan ?” Pafi setengah tidak percaya dengan ucapan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi benar keraton Jogja ada hubungan dengan Kerajaan Selatan ?” Raji membuang bungkus pecelnya. Dimas hanya mengangguk dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang dia katakan?” Raji begitu ingin tahu.&lt;br /&gt; “Dia hanya menyapaku dan menitipkan salam pada kalian.” Dimas menjawab singkat. Apa yang telah dibicarakannya dengan Ratu Kerajaan Selatan dibuangnya jauh-jauh dari pikirannya seakan ingin melupakannya agar tidak bisa bercerita kepada kedua sahabatnya. Pafi tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dimas. Pikirnya tidak mungkin Dimas dipanggil secara khusus kalau tidak ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Tapi Pafi juga tahu sahabatnya yang satu ini selalu punya alasan yang sangat baik untuk tidak memberitahu apa yang didengarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-7755213370254959502?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/7755213370254959502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=7755213370254959502' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/7755213370254959502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/7755213370254959502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/bagian-7-amukhsara.html' title='BAGIAN 7 - TUGAS BARU'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-5187959844814179928</id><published>2008-03-11T20:42:00.000-07:00</published><updated>2008-03-23T19:02:47.541-07:00</updated><title type='text'>BAGIAN 6 - SAHABAT TUA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hari ini malam bergerak lambat. Dimas tidak menguasai dirinya. Pikirannya terus melayang membawanya ke sebuah tempat. Dimas tidak yakin apakah dirinya sedang bermimpi atau memang nyata sedang berada di sebuah tempat yang tidak pernah dikunjunginya, tapi seperti begitu mengenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mahameru!” begitu bisiknya pelan. Matanya memandang sebentuk kerucut yang begitu tinggi di belakangnya. Seolah nama tempat itu begitu saja keluar dari mulutnya. Setiap hal yang dilihatnya seperti langsung mendapatkan sebuah nama dalam ingatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi begitu dingin di kaki Mahameru dekat tepian sungai Glidik yang mengalir jernih dari mata airnya yang turun dari lereng gunung. Sejak fajar menyingsing dentuman-dentuman laksana petir menggema di pagi yang begitu cerah. Sesekali getaran menjalari bumi mengguncang semua yang berdiri tegak di atasnya. Tak satupun kicauan burung terdengar atau ada hewan yang keluar setelah semalaman meringkuk nyaman dalam sarangnya. Tampaknya pagi itu bukan pagi yang mereka biasa tunggu dengan tidak sabar menyambut kehangatan mentari muda. Dimas memandang langit yang bersemu kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pagi bermega ?” semburat merah muncul di langit barat. Kumpulan atap ilalang terlihat begitu dekat. Dikelilingi ladang yang sudah selesai panen. Desa-desa di kaki Mahameru tampak sepi tanpa denyut kehidupan pagi. Tidak ada satu orang pun berada di jalan. Tampaknya semua penduduk lebih memilih berkumpul dengan keluarga mereka masing-masing, pikir Dimas. Tetapi ada dua orang sedang berada di depan sebuah rumah. Seorang laki-laki muda bolak-balik gelisah di depan sebuah rumah kayu beratap alang-alang. Bolak-balik di depan seorang lelaki tua yang sedang asyik menghisap cangklongnya sambil tersenyum melihat perilaku anak muda di depannya. Dari dalam rumah terdengar suara seorang perempuan mengerang kesakitan diselingi suara yang lain seperti memberi semangat. Dimas berjalan menghampiri rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelihatan sedang ada sesuatu di dalam rumah, dan kedua lelaki itu sedang menunggunya.” Pikir Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang Karto, istrimu sedang ditangani oleh yang sudah berpengalaman, anak dan istrimu pasti selamat” lelaki tua itu mencoba menenangkan anak muda tersebut sambil mengangkat kakinya dari lantai dan menyatukan dengan tubuhnya yang duduk di atas dipan kayu. Cuaca yang dingin pagi hari memaksanya menekukan badan mengurangi rasa bekunya seluruh kulit karena usia yang sudah tidak muda lagi. Tampak sekali wajahnya menyiratkan rasa cemas yang berusaha disembunyikannya sambil terus berpegangan pada dipan yang sedang didudukinya kalau-kalau getaran bumi kembali mengguncang lagi. Tatapan cemas Karto tidak juga hilang walaupun mendengar apa yang diucapkan lelaki tua tadi. Kepalan tangannya memukul-mukul udara kosong seperti berusaha menekan gundah dalam hatinya. Wajah anak muda itu seperti begitu dikenal Dimas. Garis wajahnya tidak asing. Tetapi kali ini tidak ada satu namapun yang muncul dari kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana aku bisa tenang Ayah, aku khawatir sekali dengan Swarti, aku tidak tega mendengarnya kesakitan seperti itu. Sudah sejak fajar tadi anakku belum juga lahir.” Kepala Karto berusaha melongok ke dinding rumah yang tertutup dengan harapan tatapannya bisa menembus dinding kayu rumahnya dan melihat keadaan yang terjadi di dalam. Lelaki tua yang dipanggil ayah oleh Karto tadi juga menyadari apa yang sedang terjadi. Gejala alam yang tidak biasanya sejak pagi yang mengiringi kelahiran cucunya membuatnya juga cemas dan mencoba mereka-reka apa yang sedang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan-gerakan gelisah yang dilakukan Karto seketika terhenti oleh sebuah ledakan yang sangat luar biasa kencang disusul oleh getaran bumi yang mengguncang lebih dahsyat dari sebelumnya. Keterkejutan Karto segera teralih pada saat yang bersamaan oleh jerit tangis seorang mahluk mungil yang baru saja lahir. Sesaat kemudian tidak ada suara lagi yang terdengar kecuali suara tangisan bayi yang baru saja lahir. Kemudian udara terasa begitu padat, ranting dan daun-daun terdorong angin ke timur. Lalu suasana menjadi hening, awan hitam menggulung dari barat bergerak terus ke timur menutupi seluruh langit pagi yang baru saja menikmati mentari muda. Langit kembali menjadi gelap gulita. Dimas terkejut bukan main melihat perubahan yang begitu cepat. Matanya terus memperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja whooooooottttt…….. seberkas cahaya meluncur cepat dari deburan awan hitam yang menggulung menerobos masuk ke dalam rumah dan …………….semua terhenti, Karto berdiri tegak tak bergerak, sedangkan ayahnya yang meniupkan asap rokoknya ke udara yang juga berhenti mendadak seakan waktu berhenti berputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei apa itu! Kedua orang itu tidak bergerak.” Dimas berlari masuk ke dalam rumah itu. Sebuah bola cahaya bergerak turun lambat di atas seorang bayi merah. Bola cahaya putih itu kemudian masuk ke dalam tubuh bayi itu. Sesaat kemudian seluruh tubuh bayi itu bersinar begitu terang. Kulitnya yang merah berubah menjadi putih keemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam seorang perempuan tua keluar melalui pintu dengan senyum sumringah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laki-laki” perempuan itu menyambut Karto dengan pelukan lega. Karto begitu bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah” wajahnya begitu gembira, dadanya terasa bergolak tak kuasa menahan rasa bahagia. Serta merta Karto menembus masuk ruangan dimana istrinya berbaring lemah bersisian dengan seorang bayi laki-laki. Tatapan bahagia begitu memuncak di mata Karto yang mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Kemudian matanya beralih kepada bayi mungil yang tertidur pulas disamping istrinya. Diraihnya bayi itu ke dalam gendongan tangannya, wajahnya begitu berseri-seri melihat geliat sang bayi yang tampak cerah bersinar terang. Dimas berdiri di pojok ruangan terus memandangi kegembiaraan keluarga itu menyambut kehadiran anggota keluarga baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakku, kau aku namakan Jayapati” Karto memberi nama kepada anakknya. Sang bayi menangis keras setelah Karto memberikan nama, seluruh tubuh bayi Jayapati memancarkan sinar terang keemasan dan sebuah lambang huruf muncul di dahi bayi Jayapati. Karto terpaku melihat bayi Jayapati dalam gendongannya yang bersinar sangat terang. Di sekelilingnya dilihat kedua orang tua Karto dan dukun beranak sudah duduk bersimpuh dengan kedua tangan bersalam di depan dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, ada apa dengan anakku, Jayapati. Mengapa kalian semua duduk bersimpuh seperti itu ?” tanya Karto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karto, berbahagialah anakmu adalah sang terpilih.” Jawab ayah Karto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sang Terpilih, apa maksud ayah ?” tanya Karto penuh kebingungan sambil terus menggendong Jayapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut cerita legenda Narapati, bangsa yang dulu tinggal di lembah Sunda, tetapi kemudian terpaksa berpindah ke dunia tengah tepat saat terjadinya banjir besar yang menenggelamkan seluruh peradaban Narapati ke dalam lautan yang sekarang disebut Nusantara, adalah bangsa terpilih untuk menjadi penjaga Buku Kehidupan yang menuliskan semua nasib bangsa-bangsa di dunia tengah. Buku Kehidupan tersimpan di perut bumi pada saatnya akan diserahkan kepada sang penjaga untuk membawanya, dan sang Candramukha akan mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk melepaskan Buku Kehidupan dan menyerahkannya kepada sang Terpilih. Sang terpilih akan memiliki tanda gaib dikening berupa hurup kuno Narapati yang hanya akan muncul saat seluruh tubuhnya mengeluarkan sinar keemasan.” kata ayah Karto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, aku bukan bangsa Narapati, anakku bukan keturunan bangsa Narapati.” Kata Karto dengan wajah masih bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau keturunan bangsa Narapati Karto, karena aku dan ibumu adalah bangsa Narapati. Tetapi kami memutuskan pindah ke dunia manusia untuk mendapatkan kehidupan yang lebih tenang. Maafkan kami baru menceritakannya kepadamu sekarang, karena kami terikat janji untuk tidak menceritakan apapun tentang dunia tengah kepada siapapun di dunia manusia. Tetapi tampaknya aku harus melanggar janjiku karena sekarang kau memiliki tanggung jawab besar untuk membesarkan sang Terpilih.” Kata ayah Karto. Karto menatap tidak percaya kepada ayahnya, kemudian pandangannya dialihkan kepada Jayapati anaknya yang sudah kembali normal. Kemudian Karto meletakan bayi Jayapati di samping istrinya yang tampak cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudnya dengan menjadi Sang Terpilih kang Karto ?” tanya Swarti istrinya yang masih terbaring lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sendiri tidak tahu dek.” Kata Karto pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada waktunya nanti Sang Terpilih harus menemui semua kewajiban yang telah dituliskan kepadanya, dan hanya dia sendiri yang tahu dan dapat menemukannya.” Kata ayah Karto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang terpenting sekarang adalah Jayapati harus terlindung. Kita semua harus merahasiakan hal ini sampai Jayapati cukup dewasa.” Ayah Karto kembali menambahkan sambil menatap kepada istrinya dan memberi isyarat. Ibunda Karto segera ingat kepada dukun beranak yang masih berada di ruangan lain menunggu. Ayah Karto meraih cucunya dari pembaringan dan menggendongnya. Suasana berubah ceria dengan suka cita seluruh keluarga menyambut kehadiran Jayapati di tengah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sang terpilih ? Narapati ?” Semua yang dilihatnya menjadi samar kemudian hilang sama sekali. Dimas mendapati dirinya kembali berada di atas tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karto, Swarti, Jayapati” Dimas bangkit dari tempat tidurnya. Ruangan bangsal masih gelap. Malam belum lagi beranjak pagi. Matanya melihat Raji yang masih meringkuk pulas. Dimas berusaha terus mengingat mimpinya tadi. Kali ini mimpinya berbeda. Tidak lagi menyeramkan ataupun menyedihkan. Dimas sempat berpikir, apakah bayi itu adalah dirinya. Tapi kemungkinan itu dibuangnya jauh-jauh. Nama yang diberikan kedua orang tua bayi itu adalah Jayapati. Tapi ada kesamaan dengan mimpinya yang lalu. Buku Kehidupan ! Mereka bicara tentang Buku Kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku belum menceritakan semua tentang mimpi-mimpiku kepada pak Narso. Mungkin lebih baik aku bercerita kepadanya.” Dimas melangkah ke depan jendela. Sesaat matanya melihat empat titik merah di kegelapan. Sinar merah itu hanya berputar-putar mengelilingi pagar. Dimas terus mengawasi gerak titik-titik merah itu. Tengkuknya merinding. Kakinya segera melangkah kembali ke tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini Dimas kusut sekali. Wajahnya masih terlihat mengantuk sisa malam yang tidak bisa dilanjutkan tidurnya sampai pagi. Pafi melihat hal tidak biasa ini. Matanya menilik lebih tajam ke wajah Dimas. Dimas berusaha menyembunyikan wajahnya. Tetapi mulutnya yang menguap beberapa kali tidak bisa membohongi Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak tidur semalam ya ?” tanya Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He eh” jawab Dimas singkat. Mulutnya kembali menguap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kau mimpi lagi yah. Kenapa aku tidak tahu ?” tanya Raji yang biasanya selalu membangunkannya saat dia gelisah dalam mimpinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, kali ini tidak seram jadi aku tidak terbangun kaget. Tetapi semalam aku tidak bisa tidur lagi. Aku melihat dua pasang mata menyala merah berkeliling di luar pagar asrama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa! Maksudnya mahluk yang tempo hari menyerang kita ?” Raji terkejut sekaligus merinding. Dimas hanya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus kau mimpi apa semalam ?” Pafi lebih tertarik dengan mimpi Dimas. Baginya kehadiran mahluk itu kembali bukan hal yang mengejutkan. Memang menakutkan, tetapi dengan langkah Nyai Janis menebar garam dan merica di sekeliling pagar asrama sudah memberi tanda yang jelas kalau mahluk itu akan datang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan masih mengantuk Dimas menceritakan semua hal mengenai mimpinya. Kali ini bukan dilakukannya karena memang dirinya sedang ingin menceritakannya. Tetapi karena Dimas sedang berusaha mengusir rasa kantuknya. Dengan bercerita pikirannya jadi lebih bekerja dan bisa mengusir kantuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan menceritakannya kepada pak Narso setelah kita pulang dari sekolah nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin lebih baik begitu. Lagi pula kita sudah berjanji menceritakan apapun kepada pak Narso. Dan selama ini kita belum sempat menceritakan mengenai mimpi-mimpimu dengan lengkap kepadanya. Siapa tahu dengan menceritakannya secara lengkap, pak Narso bisa memberikan jawaban arti dari mimpi-mimpi itu.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, aku rasa juga begitu. Aku yakin pak Narso juga menyimpan jawaban tentang tamu-tamu Nyai Janis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga penasaran tentang tamu-tamunya Nyai Janis. Kau dengar mantra yang terdengar dari dalam kantor Nyai Janis ?” kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mendengarnya, tapi tidak begitu jelas. Karena pikiranku teralih oleh kedatangan mahluk-mahluk itu.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, kita bahas lagi masalah ini nanti di tempat pak Narso.” Dimas mengangguk setuju usulan Pafi. Raji juga tidak lagi bertanya. Mereka terus berjalan menyusuri jalan menuju sekolah. Sesekali berpapasan dengan orang-orang dan saling menyapa ramah. Khas Jogjakarta. Penuh tata krama dan keluwesan.&lt;br /&gt;---- *** ----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari terasa teduh, awan kelabu mengambang di angkasa. Belum ada tanda-tanda akan hujan, tapi udara sangat sejuk. Rumah pak Narso sudah menjadi tempat yang akrab. Dimas, Raji dan Pafi hampir setiap hari lebih suka menghabiskan waktu mereka di tempat pak Narso. Kalau PR mereka sudah selesai. Pak Narso dan Mbok Sinem terlihat lebih senang kalau mereka bertiga datang. Dimas sudah bulat dengan tekadnya. Ada hal yang ingin diceritakannya, tapi dia juga ingin mengetahui lebih jauh mengenai pak Narso dan Mbok Sinem. Pengetahuannya begitu luas mengenai semua hal yang ditanyakan kepadanya. Dimas merasa ada sesuatu yang juga disembunyikan oleh Pak Narso. Dan hari ini adalah saat yang tepat untuk mendapatkannya. Entah dari mana datangnya keyakinan itu. Matanya menatap gurat wajah yang semalam muncul dalam mimpinya. Seraut wajah muda yang masih tampak jelas di garis wajah pak Narso. Ada kemiripan antara pak Narso dengan Karto pemuda yang ada dalam mimpinya. Pemuda yang menanti menjadi seorang ayah dari seorang yang terpilih. Sejenak Dimas menarik nafas panjang. Pak Narso sendiri tampak santai dengan cangklongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin menceritakan sesuatu yang penting tentang mimpi-mimpi saya pak. Saya harap pak Narso bisa membantu saya memecahkan arti mimpi itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Narso memberikan perhatian kepada Dimas. Hatinya begitu senang akhirnya Dimas mau percaya penuh kepadanya. Dirinya tahu arti penting mimpi-mimpi Dimas bagi kelanjutan perjalanan mereka sendiri. Tapi ada hal yang sudah dia tahu dan harus tetap dipegangnya sampai waktunya tepat. Dimas mulai menceritakan secara lengkap mimpi-mimpinya. Belum ada tanggapan apapun dari pak Narso. Tetapi air muka pak Narso berubah drastis saat Dimas menceritakan mimpinya di kaki gunung Mahameru. Pak Narso seperti tercekat, diam tak bisa mengeluarkan kata-kata apapun. Dimas benar-benar menelanjangi siapa dirinya sebenarnya. Tetapi tetap pak Narso mempertahankan rahasia yang lain. Yang harus tetap dijaganya demi keselamatan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah pak Narso kenal dengan Karto ?” Pertanyaan Dimas langsung menyentak pak Narso. Dirinya tidak menduga pertanyaan Dimas yang begitu langsung ke pokok masalah. Sejenak pak Narso terdiam. Dimas sudah mendapatkan jawabannya dari diamnya pak Narso. Pafi dan Raji masih tidak mengerti apa yang dimaksud Dimas. Karena Dimas memang belum menceritakan adanya kemiripan wajah dari pak Narso dengan Karto yang dalam mimpi Dimas. Pak Narso menghela nafasnya dalam-dalam seakan sedang mengangkat beban yang begitu berat dalam hatinya. Dia tahu kalau sekarang dirinya sedang diminta hal yang sama oleh Dimas, Kejujuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah nak Dimas.” Suara pak Narso begitu berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya saya juga harus memberikan sikap yang sama seperti yang saya minta kepada anak semua, Jujur. Karto, pemuda dalam mimpi nak Dimas adalah saya. Waktu itu istrinya Swarti, atau yang anak kenal semua mbok Sinem sedang dalam persalinan. Jayapati adalah anak kami yang lahir pada saat Krakatau meletus dengan dahsyat tahun 1883. Mimpi nak Dimas tentang perang di lembah Krakatau adalah perang yang benar-benar terjadi pada tahun yang sama. Tetapi bukan perang yang terjadi di dunia ini. Perang itu terjadi di dunia tengah, dimana Narapati sekarang tinggal. Kami adalah bangsa Narapati.” Seperti petir di siang bolong pengakuan pak Narso cukup mengagetkan Raji dan Pafi. Tetapi bagi Dimas itu hanya sebuah penguatan dari dugaannya saja yang didapatnya semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi pak Narso dan Mbok Sinem adalah Narapati ?” Raji seperti masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa bapak merahasiakannya dari kami ?” tanya Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bukanlah narapati lagi, sejak saya dan keluarga memutuskan untuk tinggal di dunia manusia. Keberadaan Narapati di dunia manusia sangat dibatasi dan diatur dengan ketat. Penyebrangan tanpa ijin dan persetujuan dari kerajaan maka akan dikenai hukuman mati. Jika seorang Narapati hendak pindah dari dunia tengah ke dunia manusia, dia harus melepaskan semua hal yang membuat dirinya seorang Narapati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya apa yang membuat seorang Narapati berbeda dengan manusia biasa.” Tanya Raji yang makin kebingungan dengan Narapati dan Manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Narapati memiliki kemampuan mengolah pikirannya dan tujuh cakra di dalam tubuhnya. Semua itu terjadi secara alamiah, bahkan sejak lahir. Manusia biasa tidak dapat menggunakan energi dari alam untuk melakukan banyak hal. Bila pindah ke dunia manusia, maka kerajaan Narapati akan mencabut semua kemampuan itu sehingga kemampuan setara dengan manusia biasa. Keberadaan seorang Narapati yang masih dengan kemampuan aslinya di dunia manusia akan sangat berbahaya dan bisa disalahgunakan. Hanya pejabat yang sudah ditunjuk dapat melintas gerbang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud pak Narso Itu artinya kami adalah juga Narapati ?” Dimas mendapatkan kesimpulan yang makin mengarahkannya kepada semua penyebab keanehan yang dialaminya. Bahwa dia berada di dunia yang bukan tempatnya berasal. Pak Narso menjawab hanya dengan mengangguk. Antara gembira dan cemas, itulah yang dirasakan oleh Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu sebabnya Ratu Kerajaan Selatan memanggil kami Narapati saat datang ke tempatnya.” Raji teringat saat pertama di gua Ngejungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu mengapa kami berada di sini ? di dunia manusia bukan di dunia tengah?” Pertanyaan Dimas membuat pak Narso terkejut. Tidak ada jawaban yang bisa disiapkan untuk pertanyaan itu. Lidahnya kelu dan suaranya tertahan diujung tenggorokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya….saya…tidak tahu nak. Bapak hanya tahu anak diantarkan secara bersamaan oleh seorang perempuan tua. Perempuan itu pergi begitu saja tanpa pesan setelah menyerahkan anak kepada Nyai Janis. Sedangkan nak Raji dan nak Pafi dibawa Nyai Janis sejak masih bayi.” Jawaban pak Narso mengaburkan harapan Dimas. Raji dan Pafi seperti terhenyak akan kenyataan itu. Selama ini mereka tidak pernah berusaha mencari tahu bagaimana mereka bisa tiba di asrama ini. Mereka selalu beranggapan kalau mereka dititipkan ke asrama karena kedua orang tua mereka telah meninggal. Suasana menjadi murung. Pak Narso merasakan betul kesedihan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana cara ke dunia tengah ?” Raji masih kembali memompa semangatnya. Walaupun harapan tentang orang tua sudah berakhir. Tetapi Dunia tengah tetap menjanjikan hal baru dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Narapati yang sudah berada di dunia manusia tidak akan bisa kembali ke dunia tengah. Kalau dia tidak tahu dimana letak Sembilan gerbang. Sembilan gerbang itu dijaga ketat oleh mahluk gaib bernama Nandiswara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nandiswara, apakah sama dengan lodaya bersayap mahakala ?” Dimas teringat patung-patung harimau bersayap yang menjaga Sembilan satuasra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, tidak sama. Nandiswara yang dimaksudkan adalah patung Sapi yang berada di pintu gerbang itu. Patung itu telah diberi sihir-sihir yang akan bisa mengenali siapapun yang telah mendapatkan ijin melintas gerbang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah pak Narso sudah tidak punya kekuatan Narapati lagi ?” Pafi mengalihkan perhatian mereka semua. Pak Narso mengerti betul maksud Pafi. Ceritanya akan membuat Dimas dan Raji makin ingin tahu dan membawa mereka ke sana. Dimas membiarkan arah pembicaraan beralih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya masih memilikinya. Karena itu kerajaan Narapati masih mencari keluarga saya. Keberadaan saya dan keluarga harus disembunyikan karena kami adalah pelarian buronan kerajaan Narapati. Kami pindah ke dunia manusia tanpa ijin. Tapi kami tahu aturan yang seharusnya dan kami tidak pernah menggunakan kekuatan kami di dunia manusia. Tapi kami tetap orang bersalah. Karena itu kami mengubah nama kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu dimana Jayapati, putra bapak ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia sudah meninggal duabelas tahun yang lalu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meninggal ? maafkan kami pak Narso” Dimas merasakan dadanya tiba-tiba saja sesak dan tidak terbendung. Air matanya hampir saja buyar di matanya. Dia tidak mengerti mengapa harus merasakan hal ini. Dia tidak tahu siap Jayapati. Tapi mengapa seakan kematiannya membawa sejuta duka dalam hatinya. Raji dan Pafi tertunduk sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, bukankah dia adalah sang terpilih, pembawa Buku Kehidupan ?” pertanyaan Pafi membantunya mengalihkan perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia tewas mempertahankan Buku Kehidupan dalam sebuah pertempuran melawan Sanaisbin, Raja bangsa Amukhsara.” Pak Narso mengalihkan pertanyaan Pafi pada hal lain. Dia tahu kalau dia tidak akan mampu menjawab pertanyaan berikutnya. Karena apa yang harus dia pertahankan akan pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amukhsara ?” Raji memindahkan topik mereka. “Jadi Narapati tidak menempati dunia tengah sendirian. Maksud pak Narso ?” Pafi memastikan kesimpulannya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya benar. Itulah yang dimaksud Ratu Kerajaan Selatan tentang Hitam dan Putih, Baik dan Jahat, Benar dan Salah. Sebagian Narapati harus berkorban menjadi tumbal berdirinya dunia tengah. Mereka kemudian berubah menjadi bangsa yang berbeda dan menamakan dirinya Amukhsara. Perang abadi antara hitam dan putih di dunia tengah seperti halnya di dunia manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa Buku Kehidupan begitu penting hingga diperebutkan ?” tanya Raji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena siapa yang menguasai Buku Kehidupan maka dialah yang menentukan nasib dan masa depan. Benar dan Salah hanyalah ditentukan oleh siapa yang paling berkuasa atas dunia dan siapa yang punya kekuatan menentukan nasib yang lain.” Dimas menjawab pertanyaan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti sekarang Buku Kehidupan telah dikuasai oleh bangsa Amukhsara ?” Pafi terdengar khawatir dengan dugaannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum, buku itu masih aman disimpan oleh Narapati. Disembunyikan di tempat yang tidak diketahui oleh Amukhsara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya bernafas lega mendengar jawaban pak Narso. Pak Narso menatap dalam kepada Dimas. Ada isyarat yang ditangkap oleh Dimas tapi tidak dimengerti olehnya. Isyarat yang pernah dia lihat dulu saat pertama kali menceritakan kejadian-kejadian aneh yang dialaminya. Isyarat yang juga tertangkap dari mata Mbok Sinem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah dua mahluk yang datang pada malam itu adalah Amukhsara pak Narso ?” Dimas teringat serangan dua mahluk hitam di belakang kantor Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan, mereka bangsa Gendrawa. Mereka termasuk sekutu Amukhsara. Saya tidak tahu mengapa mereka bisa kesini. Bangsa Gendrawa memang suka muncul di dunia manusia. Mereka sangat pandai menyerupakan diri seperti manusia. Biasanya mereka menyamar menjadi seorang lelaki yang baru saja meninggalkan istrinya pergi. Biasanya hanya terjadi di desa-desa dekat tempat tinggal para Gendrawa, di lereng gunung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak pertanyaan dalam pikiran Dimas. Tetapi matahari telah condong ke barat. Dimas teringat aturan baru yang ditetapkan Nyai Janis untuk mereka. Raji dan Pafi juga sama enggannya meninggalkan rumah pak Narso. Masih banyak hal yang ingin ditanyakan. Pak Narso pun menyarankan mereka untuk segera kembali ke asrama. Tidak ada pilihan lain selain pulang. Tapi pak Narso berjanji akan melanjutkannya besok. Ketiganya melangkah pergi meninggalkan rumah pak Narso dengan sejuta tanya baru yang terus berkembang dalam pikiran mereka. Tapi lebih dari itu, kenyataan baru bahwa mereka bertiga adalah Narapati memberikan harapan, kesenangan, kesedihan, khawatir dan semua perasaan yang bercampur aduk. Akankah banyak kesempatan terbuka luas di sana atau justru hidup akan lebih sulit. Semuanya terus berputar dalam pikiran Dimas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-5187959844814179928?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/5187959844814179928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=5187959844814179928' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/5187959844814179928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/5187959844814179928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/bagian-6-amukhsara.html' title='BAGIAN 6 - SAHABAT TUA'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-3177013301823534804</id><published>2008-03-09T01:29:00.000-08:00</published><updated>2008-03-23T19:01:05.428-07:00</updated><title type='text'>BAGIAN 5 - NYAI JANIS</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Purnama berlalu, latihan-latihan yang diterima Dimas, Raji dan Pafi telah semakin menyempurnakan kemampuan mereka. Setiap waktu petualangan dan pengalaman yang menakutkan dijalani Dimas, Raji dan Pafi. Tetapi dari semua petualangan yang mereka alami bagi Dimas harus kembali berhadapan dengan Nyai Janis dengan semua pertanyaannya adalah yang paling melelahkan. Pagi-pagi setelah sarapan nasi goreng buatan mbok Sinten,  Nyai Janis kembali memanggil Dimas ke ruangannya. Dengan langkah gontai dan berat seperti dibebani ribuan ton besi kakinya melangkah menuju ruangan Nyai Janis. Dalam kemalasannya menemui Nyai Janis sebenarnya ada rasa penasaran yang mencuat dipikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakmengertian Dimas akan keanehan Nyai Janis yang belum lama diperlihatkannya membuatnya berpikir penasaran. Selama ini Nyai Janis terlihat wajar dan tidak menunjukan keganjilan apapun dalam sikapnya. Tetapi semenjak mimpi-mimpinya makin sering mengunjunginya sejak sebulan terakhir, Dimas merasa ada perubahan yang sangat jelas dari sikap Nyai Janis. Bukan sikap menyebalkan yang membuatnya merasa aneh, tetapi sikap Nyai Janis yang makin ingin tahu mengenai mimpi-mimpinya. Selain itu sepertinya dia seperti bisa membaca pikiran orang-orang sebelum diungkapkan dalam kata-kata sekalipun. Sejak pemanggilan dirinya yang pertama kali sebulan yang lalu, sudah 9 kali Nyai Janis memanggil dirinya secara pribadi dan menanyakan mimpi-mimpi apa yang dilihatnya dan nyaris setengah memaksa dia meminta Dimas menceritakan semuanya dengan detil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah yang ke sepuluh Dimas dipanggil oleh Nyai Janis ke kantornya. Pertanyaannya tetap sama, dan jawaban yang diberikan juga tetap sama. Sejauh ini mimpi-mimpi yang dialami Dimas masih sama, walaupun ada yang lain, Dimas merasa tidak ingin menceritakannya karena hal itu akan membuatnya makin sering menemui orang yang sekarang paling malas ditemuinya. Lega rasanya lepas dari ruangan Nyai Janis. Lepas dari semua pertanyaan nyai Janis sekarang bagi Dimas mulai menjadi sebuah kenikmatan yang luar biasa yang setara dengan rasa lapar yang terpuaskan oleh makanan yang sangat lezat. Rasa bebas dari segala pertanyaan yang paling tidak nyaman untuk dijawabnya membuat Dimas menarik napas panjang begitu memasuki pintu bangsal. Kakinya bergegas ke ruang belajar dimana dua sahabatnya seperti biasa telah menunggu di ujung pojok ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji dan Pafi mengerti apa yang dirasakan Dimas, karena itu tidak ada satu orang pun yang memulai pertanyaan mengenai apa yang terjadi di ruangan Nyai Janis. Mereka membiarkan Dimas memulai pembicaraan dan tampaknya Dimas pun tidak tega melihat rasa penasaran kedua ahabatnya begitu memuncak di ujung kepala mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertanyaan yang sama, dan jawaban yang sama” Keluh Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak menceritakan mimpi aneh yang lain yang baru saja kau alami” Raji bertanya dengan suara agak mendesis. Dimas menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tidak, aku tidak ingin menceritakannya, lagi pula tidak ada gunanya bukan. Selama ini Nyai Janis selalu berkilah mengenai tujuannya membantu mengurangi beban di kepalaku, tapi nyatanya perbuatannya malah justru membuat kepalaku tambah pusing.” Keluh Dimas terdengar nelangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, Dimas jangan ditanyai lagi, lebih baik kita kembali kembali ke bangsal. Sudah terlalu banyak kelelahan hari ini”. Kata Pafi yang terdengar dewasa dan justru aneh di mata teman-temannya yang lain. Biasanya dia yang paling bersemangat untuk bertanya-tanya tanpa peduli apakah orang yang ditanya bersedia menjawab atau tidak. Tapi akhirnya semua setuju untuk meninggalkan ruangan dan kembali ke tempat tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi sebelum fajar mengufuk di timur, hal aneh terjadi dengan tiba-tiba. Kabut yang begitu tebal menyelimuti seluruh kota Jogjakarta dengan cepat, tak jauh berbeda dengan yang terjadi di asrama. Dingin udara yang tidak biasanya terasa menusuk tulang, mengkerutkan kulit yang memaksa setiap orang untuk menambahkan kulit keduanya semakin tebal demi mendapatkan kehangatan. Untungnya hari itu hari minggu, sehingga semua penghuni asrama merasa bisa bermalas-malasan. Tapi tidak demikian yang dirasakan Dimas yang sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ada perasaan aneh mengalir dalam hatinya yang membawanya bangkit dari tempat tidur dan melawan rasa kantuk dan dingin yang menusuk-nusuk. Dimas bergerak ke tempat tidur Raji yang masih melingkar seperti seekor kucing yang keletihan bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ji….Ji… bangun…..” Dimas menggoyang-goyang bahu Raji yang susah sekali membuka matanya yang seakan sudah terjahit rapat dengan kelopaknya. Raji dengan malas dan memelas mencoba membuka matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada….apa…” Kata Raji terdengar agak berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku merasakan ada yang aneh, ayo kita lihat keluar” Dimas menarik selimut yang menutup kaki Raji. Kontan Raji menggigil dan berusaha menarik kembali selimutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo… kau akan kehilangan hal yang menarik kalau tidak ikut” Dimas mendesiskan suaranya agar tidak terdengar yang lain yang juga sedang meringkuk melawan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas berusaha memotivasi Raji agar ikut dengannya. Raji serta merta bangkit dan mengikuti Dimas tanpa peduli lagi rasa dingin yang menusuk-nusuk tulang. Rasa ingin tahu dan tak ingin kehilangan hal yang menarik mendorongnya untuk melawan semua kantuknya. Mereka berdua kemudian berjalan ke bangsal perempuan dimana Pafi sudah berdiri di depan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, kabut ini aneh sekali seperti tidak wajar, apakah kau juga merasakan ada yang aneh ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi berbicara agak mendesis. Kepala menengok kesana kemari menyapu seluruh koridor kalau-kalau ada orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya…aku kira akan terjadi sesuatu, ayo kita keluar” Dimas menganggukan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas dan Raji bergerak ke arah pintu keluar dekat musholla diikuti Pafi dari belakang. Ketiganya berjalan menyusuri lorong nyaris tidak terlihat lagi karena tebalnya kabut yang rupanya sudah memasuki seluruh ruangan asrama. Jejak langkah mereka terhenti di pintu asrama yang menghadap kantor Nyai Janis seberang luar asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesunyian begitu pekat menyelimuti seluruh asrama, semua penghuninya seperti tersirap pulas. Pandangan nyaris tak sanggup menjangkau lebih dari sepuluh meter. Dimas tetap berdiri di balik pintu kaca dan terus memandang ke arah pintu masuk kantor Nyai Janis. Tangannya memberi isyarat tangan kepada Raji dan Pafi agar berhenti. Seakan sedang menunggu sesuatu yang akan datang. Hatinya berdesir kemudian berdegup kencang ketika tiba-tiba keluar dari tebalnya kabut dua orang laki-laki tinggi, satu orang masih terlihat muda dan yang lainnya sudah terlihat berumur tua. Rambutnya yang putih tertutup sorban warna gading dengan jubah seperti pakaian dari wilayah timur tengah. Dimas terus mengikuti gerak-gerak tamu misterius yang kemudian berdiri di depan pintu kantor Nyai Janis. Tak ada gerakan ketukan atau suara ucapan salam, tapi seperti sudah ditunggu kedatangannya, pintu kantor Nyai Janis terbuka lebar diikuti masuknya kedua orang misterius tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa orang itu ?” Raji menoleh kepada Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu, tapi rasanya aku mengenal mereka dari apa yang mereka kenakan” Dimas menjawab Raji dengan tetap menatap tajam ke arah pintu kantor Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pernah melihat mereka ?” Pafi menyelak di antara Dimas dan Raji. Raji yang terdorong ke samping karuan saja merasa tidak suka dan menunjukan wajah cemberutnya kepada Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, mereka seperti orang yang pernah kita lihat sewaktu pulang sekolah dan yang menyapa kita dipinggir sungai, sewaktu kita sedang makan ikan bakar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya aku ingat, mereka adalah orang yang sama dengan orang yang tadi masuk ke kantor Nyai Janis” tambah Pafi sambil tetap memperhatikan semua yang terjadi di depan kantor Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita mendekati kantor Nyai Janis,  untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan” Pafi memberikan usul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelebat pikiran Dimas setuju seketika dan mengajaknya bergeraknya untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam ruangan Nyai Janis. Tetapi keraguan menderanya, sebentar keraguan itu ditepisnya dan rasa ingin tahunya mengemuka di seluruh kepalanya yang diikuti gerakan tangan membuka pintu dan bergerak mengendap keluar asrama diikuti yang lainnya yang kelihatannya setuju dengan gerakan yang dilakukan Dimas. Beruntung kabut masih tebal sehingga ketiganya dapat bergerak dengan leluasa. Mereka bergerak ke belakang kantor Nyai Janis yang memiliki jendela menghadap kebun jagung pak Narso. Jendela yang sering dipandang Dimas setiap kali Nyai Janis memanggilnya. Dimas mengendap-endap seperti setengah merangkak kemudian berjongkok persis di bawah jendela. Diikuti yang lainnya yang bersusah payah setengah merangkak karena Pafi tampaknya kesulitan dengan rambutnya yang panjang yang terus menerus disibakannya menghindari tanah, tetapi perbuatannya justru membuat rambutnya menumpuk di wajah Raji yang kelabakan mengibaskannya sambil merengut. Hampir saja Raji mengeluarkan makian yang terhenti oleh telapak tangan Pafi yang menutup mulutnya. Tangan Pafi yang bekas menyentuh tanah, karuan saja membuat mulut Raji penuh dengan remah-remah tanah humus. Raji menepis tangan Pafi sambil melotot dan membersihkan mulutnya. Dimas yang melihat ulah ketiga sahabatnya hanya dapat mengulum senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah…jendelanya tidak terbuka” kata Dimas dalam hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan perjalanan terpanjang selama hidupnya, akhirnya Raji menarik nafas lega sambil menutup mulutnya bersender disebelah Dimas, diikuti Pafi. Dimas terlihat mengkerutkan dahinya, kekhawatirannya sedari tadi muncul karena dilihatnya jendela yang tertutup sehingga mereka mungkin tidak bisa mencuri dengar apa yang terjadi di dalam. Ketiganya saling berhimpitan dibawah jendela. Untungnya masih ada ventilasi udara di atas jendela yang bisa menjadi jalan keluar suara-suara di dalam ruangan cukup terdengar. Tapi aneh, tidak ada satu suara pun di dalam yang berbunyi, walaupun keempat remaja itu sudah berusaha seksama mendengarkan dengan menempelkan telinga mereka ke tembok, tetap saja tidak ada suara yang mereka dengar. Dalam kebingungan itu, tiba-tiba Dimas merasa ada sesuatu dalam kepalanya sedang bercakap-cakap, tersamar oleh banyaknya hal yang dipikirkan olehnya. Sadar akan sesuatu yang terjadi dikepalanya, Dimas menghentikan upayanya untuk mendengarkan dengan telinganya, dia mencoba memejamkan matanya dan berkonsentrasi dengan suara-suara yang sedang bercakap-cakap di kepalanya. Melihat keadaan itu Raji dan Pafi memandang heran dengan apa yang dilakukan Dimas, Pafi menarik alisnya mencoba mendapatkan jawaban dari Raji, tapi kemudian mereka tersadar dan segera tahu apa yang telah terjadi. Dimas telah mendengar semuanya melalui pikirannya. Seperti yang selama ini yang diceritakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Nyai, saya rasa cukup sekian dulu, kami mohon pamit” Suara seorang lelaki yang terdengar begitu berat dan mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah tuan, selamat jalan” Dibalas suara seorang perempuan yang sudah dikenal dengan baik, Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekejap kemudian semua suara lenyap dan tak ada apapun yang terdengar di dalam kepala Dimas. Bersamaan dengan itu Dimas membuka matanya dan melihat ke kiri dan kanan dimana Raji dan Pafi sedang menatapnya penuh tanya dan menunggu jawabannya. Tetapi Dimas malah bergerak kembali dengan setengah merangkak dan memberi isyarat  mengajak kedua sahabatnya meninggalkan tempat itu sambil tetap mengendap-endap. Seperti mengerti isyarat Dimas, Raji dan Pafi mengikutinya dari belakang. Raji berusaha menjaga jarak dengan Pafi yang masih saja tetap sibuk dengan rambutnya. Sesampainya di dalam ruangan bangsal, semua sudah tampak tidak sabar ingin mendengar apa yang diketahui Dimas tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau dengar tadi, ayo ceritakan pada kami” Pafi bertanya lebih dahulu dengan agak mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas agak menghela nafas, “Aku hanya mendengar bagian akhir ketika mereka mengucapkan kata perpisahan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi mereka saling kenal ?” Pafi mencoba menyimpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kelihatannya begitu” Dimas menjawab pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau tidak sempat mendengar yang lain?” Raji mencoba mengajak Dimas mengingat-ingat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, pembicaraan sebelumnya terlalu kabur dengan isi pikiranku sendiri. Jadi aku tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Sepertinya ruangan Nyai Janis telah ditutupi oleh sesuatu sehingga mengaburkan apapun yang ada di dalam.” Dimas menjawabnya dengan tetap berusaha mencoba mengingat kata-kata yang sempat didengarnya diantara banyak pikiran yang berseliweran di kepalanya saat itu. Lelah, Dimas menyenderkan badannya ke tembok dan duduk jongkok di lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau kenapa Dimas ?” Raji ikut berjongkok dan mencoba mendapatkan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sakit, ayo lebih baik kita kembali ke kamar” Pafi segera membantu memapah Dimas dari sebelah kanan dan dibantu pula oleh Raji dari sebelah kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya Dimas berkonsentrasi mendengarkan suara melalui kemampuan pikirannya telah membuatnya terlalu lelah. Mereka bertiga akhirnya kembali ke kamarnya masing-masing. Kelelahan yang dialami Dimas memang berbeda dengan yang terjadi pada kedua sahabatnya. Apa yang dilakukannya untuk mendengarkan tadi menyita energinya. Mencoba kembali tidur, tetapi ragu karena sebentar lagi waktu subuh akan datang. Walaupun lelah, matanya tak bisa diajak untuk tidur, sementara Raji sudah kembali melingkar di kasurnya, akhirnya Dimas memutuskan untuk duduk dekat jendela memandang halaman depan yang berkabut dan sedikit demi sedikit lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Azan subuh terdengar berkumandang dari Musholla. Udara tidak sedingin sebelumnya, kabut pun sudah lenyap. Di bangsal anak laki-laki dimana Dimas tidur, Nyai Janis masuk dan membangunkan seluruh isi bangsal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kom…kom…wekken…. Het is zonnig, goede morgen Raji… hoe gaat het ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Janis yang biasa membangunkan berkata ramah kepada Raji. Raji nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“goede morgen nyai Janis, heel goed, dank u”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji yang masih sangat mengantuk karena semalam keluar bersama Dimas dan Pafi, terlihat begitu malas untuk segera bergegas membereskan tempat tidurnya. Di sebelahnya Dimas pun membereskan tempat tidurnya dengan mata yang kelihatan masih mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak tidur lagi tadi ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas diam sejenak tak menjawab pertanyaan Raji dan kemudian menjawabnya dengan gelengan kepala. Pikirannya masih agak kacau mengenai hal yang dilihatnya sebelum subuh tadi. Dahinya berkerut berusaha mengingat dan menyakinkan diri tentang apa yang sudah didengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…mmm aku tidak tidur lagi, karena aku pikir waktu subuh sudah dekat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas terdiam dan tanpa melanjutkan kata-katanya dia segera menyambar handuk yang ada di sampingnya meninggalkan Raji yang dalam kebingungan. Raji bergegas menyambar juga handuknya dan mengejar Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eiiiii…. Tapi apa ? kok belum selesai gitu sudah ditinggal” Wajah Raji agak merengut menunjukan cemberut kesal penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti saja ceritanya, hari ini kita akan jalan-jalan kemana ?” Dimas mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini Nyai Janis akan mengajak kita semua main ke parang kusumo, katanya hari ini ada larung di sana.”  Kata Raji.Dimas hanya menggangguk dan berjalan terus menuju kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu anak-anak yang tinggal di asrama. Mereka begitu tidak sabar mengunjungi tempat-tempat lain selain asrama dan sekolah. Nyai Janis akan membawa semua anak-anak asrama untuk berjalan-jalan. Dimas dan Raji sudah siap dengan semua bekalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bawa uang berapa ?” kata Raji sambil menghitung-hitung uang di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepuluh goelden” Jawab Dimas sambil membetulkan tas punggungnya yang telah penuh dengan beberapa peralatan untuk perjalanan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah…. Kau masih punya banyak, aku Cuma 80 sen, itu pun setelah ditambah 50 sen pemberian Nyai Janis. Aku tidak pandai menabung seperti kau” Raji agak nyengir kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya, jangan jajan melulu, Tabungkan uangmu di celengan, bukannya diperut” Pafi mengomeli Raji yang hanya tersenyum getir mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita harus berangkat cepat, atau kalian ingin menunggu Nyai Janis teriak dulu !” Seru Pafi melotot dengan wajah galak sambil menggendong bekalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah angkutan sudah siap di halaman asrama, sudah banyak anak-anak menaiki kendaraan pinjaman dari keresidenan. Nyai Janis cukup punya banyak kenal orang berpengaruh di pemerintahan. Perjalanan  dimulai dengan melalui jalan-jalan di dalam kota Jogjakarta menuju arah kota Bantul di selatan. Perlu waktu satu setengah jam perjalanan untuk sampai ke pantai yang sering digunakan masyarakat jawa untuk kegiatan ritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan di atas truk, Dimas cenderung lebih diam dari biasanya. Pemandangan sawah disepanjang perjalanan mereka makin membantunya untuk menerawangkan lamunannya. Semua mimpi-mimpinya yang aneh dan tidak dia mengerti, bahasa yang tidak dia pahami.Sementara Raji begitu asyik duduk di samping seorang gadis kecil. Wajahnya mesam-mesem mengumbar senyum kepada gadis kecil itu. Melihat tingkah Raji, Pafi merengut keras. Pandangannya dialihkan kepada Dimas yang sedang melamun memandang persawahan yang sudah matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jepang kalah, Republik merdeka”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Dimas berbisik pelan, Pafi yang sedang asyik memandangi hamparan permadani keemasan sawah-sawah yang siap panen sempat mendengar bisikan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalimat apa yang barusan kau ucapkan, Dimas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi mengalihkan tatapannya ke arah Dimas yang matanya terlihat kosong dan menerawang, seakan Pafi tidak tampak di hadapannya. Pafi mendorong bahunya ke belakang, Dimas tampak kaget dan memandang Pafi bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“eh…ya… ada apa” Dimas terlihat sadar dan terpecah dari lamunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bertanya padamu, kalimat apa yang baru saja kau ucapkan tadi” Pafi mengulang kembali pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“eh… apa ya….” Dimas kelihatan bingung dan menggaruk-garuk kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sendiri tidak tahu artinya, aku mendengarnya dari mimpi yang paling sering diucapkan, jadinya aku hafal” Dimas masih menggaruk-garuk kepalanya, rasanya seperti ribuan kutu rambut telah bersarang di ubun-ubunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau ceritakan hal ini kepada nyai Janis?” Pafi kembali bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak…tidak, tentu saja aku tidak menceritakannya, aku pikir dia juga tidak akan mengerti artinya” Jawab Dimas yang alasan sebenarnya karena dia tidak mau ditanya lebih jauh lagi oleh Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah menanyakannya kepada pak Narso maksud dari kalimat itu kan?” Pafi memberikan saran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, aku malah sudah meminta pak Narso untuk mendengarkan, tapi beliau bilang dia tidak mengerti maksudnya. Tapi katanya dia tidak mengenal kata Jepang.” Dimas kemudian menjelaskan panjang lebar perihal diskusinya dengan pak Narso membahas kata asing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan dinikmati dengan mengobrol dan tingkah polah Raji yang lucu yang kadang-kadang disahuti garang oleh Pafi. Tak terasa akhirnya mereka sampai di parang kusumo saat kerumunan besar sedang mengarak sesuatu ke arah pantai. Rupanya hari itu ada upacara larung persembahan untuk laut selatan. Semua anak-anak turun dari angkutan diiringi teriakan-teriakan Nyai Janis memberikan perintah kepada seluruh anak-anak. Dimas, Raji dan Pafi segera berlari menuju pantai yang masih lumayan jauh tanpa mempedulikan teriakan-teriakan Nyai Janis. Rasa khawatir ketinggalan acara larung lebih mendorong untuk ikut-ikutan berkerumun dengan penduduk yang sedang melakukan upacara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Upacara apa ini pak namanya” Pafi bertanya kepada seorang lelaki tua di sebelahnya yang sedang mengamati seluruh prosesi upacara. Dimas dan Raji menengok ke arah lelaki tua itu menunggu jawaban dari pertanyaan Pafi yang juga menyentil rasa ingin tahu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini namanya upacara larung persembahan buat Nyai Roro Kidul” Lelaki tua itu menjawab singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya manggut-manggut tetapi bagi Dimas setelah lelaki tua itu menyebut nama Nyai Roro Kidul, ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Dalam pandangannya yang jauh ke arah sesajen yang sedang dilarung, terlihat pemuda-pemuda berbadan tegap dengan pakaian prajurit mataram berwarna hijau seperti mengawal para pelarung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang memakai pakaian hijau-hijau itu siapa pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menunjuk ke arah kerumunan pelarung. Lelaki tua itu mencoba mengikuti arah telunjuk Dimas yang menuju ke arah kerumunan pelarung. Matanya menyipit mencoba meyakinkan pandangannya dan menyamakan dengan pertanyaan yang diajukan Dimas. Tapi kemudian dahinya mengkerut bingung, karena tak ada orang yang dimaksud Dimas. Tidak ada yang berbaju hijau-hijau. Hatinya sejak awal sudah menyangkal akan ada pelarung yang berani berpakaian hijau, karena warna tersebut sangat keramat dan tidak ada yang berani memakainya. Apalagi saat larung persembahan untuk Nyai Roro Kidul yang identik dengan warna hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang anak mas maksud ? tidak mungkin di saat seperti ini ada yang berani berpakaian dengan warna hijau” Lelaki tua itu kembali menatap Dimas setelah yakin dengan jawabannya. Raji dan Pafi juga merasakan keheranan yang dirasakan oleh lelaki tua itu, tetapi mereka berdua segera mengerti dan maklum dengan apa yang sedang dilihat oleh Dimas. Belakangan mereka berdua mulai terbiasa melihat kemampuan Dimas dalam melihat yang gaib. Raji segera mencoba mengalihkan perhatian lelaki tua itu agar tidak bertambah keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah….kamu selalu salah menyebutkan warna, itu warna biru bukan hijau. He..he… maafkan teman saya ini pak, kadang-kadang sering salah membedakan antara biru dan hijau”. Raji berusaha tertawa dan matanya dikedipkan ketika menatap Dimas, diikuti Pafi yang ikut-ikutan tertawa bingung. Dimas paham dengan apa yang dimaksud Raji. Daripada diperpanjang akan malah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru, habislah liburan mereka hanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya pak… saya salah lihat” Dimas nyengir masam yang diikuti dengan gerakan menarik tangan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih pak atas penjelasannya, kami permisi dulu” Pafi yang menyadari keadaan segera melenggang menyusul Dimas dan Raji. Ketiganya segera saja saling berbisik-bisik membahas apa yang barusan dilihat Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, aku melihat mereka berpakaian hijau-hijau dengan celana pendek selutut ditutupi kain, persis seperti seorang senopati lengkap dengan blangkonnya” Dimas menjelaskan kembali apa yang sampai sekarang masih dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mungkin mereka prajurit dari Kerajaan Selatan” Pafi memandang kerumunan pelarung yang masih mendorong-dorong sesajen mereka ke laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka kelihatan berbeda, tidak seperti yang aku dan Raji lihat sewaktu di gua Ngejungan.” Dimas melihat memperhatikan terus orang-orang yang dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti apa mereka ?” Pafi bersemangat sekali mendapatkan detil penjelasan. Belum sempat Dimas menjawab pertanyaan Pafi, tiba-tiba beberapa lelaki berbaju hijau-hijau yang dilihat Dimas menoleh dan menatapnya. Kesemuanya bergerak ke arah Dimas dan teman-temannya meninggalkan kerumunan para pelarung. Hati Dimas langsung saja menclos. Raji dan Pafi melihat ekspresi Dimas yang tiba-tiba tegang menjadi cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas kenapa, apa yang mereka lakukan ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji yang sedari tadi mencoba berpikir apa yang tadi dibicarakan Dimas menggoyang-goyang pundak Dimas. Raji dan Pafi sangat cemas, mereka tahu bahwa ada yang sedang dilihat Dimas dan membuatnya ketakutan. Lelaki-lelaki yang berpakaian hijau-hijau itu  serempak berhenti hanya dua meter dari hadapan Dimas. Mereka semua menghaturkan sembah dengan menyatukan telapak tangan mereka di depan dada dan menundukkan kepala dengan bahu dibungkukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang di Parang Kusumo, Yang Mulia” Kata seorang dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas yang mendapatkan haturan sembah seperti itu menjadi bingung, ketakutan yang tadi dirasakannya berubah menjadi rasa heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah paman semua adalah prajurit dari Kerajaan Selatan ?” tanya Dimas yang terlihat seperti ngomong sendirian. Raji dan Pafi mengerti kalau di hadapan Dimas sekarang ada orang-orang yang dimaksud oleh Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar Yang Mulia, kami sedang melakukan upacara penerimaan larung dari penduduk.” Jawab lelaki yang paling depan.&lt;br /&gt;“Kami harus kembali kepada upacara. Mohon maaf kami harus mengundurkan diri.” Lelaki itu memberikan hatur sembah. Belum sempat menjawab haturan sembah tersebut Dimas melihat mata lelaki tersebut melihat ke arah belakangnya dan tersenyum lalu bergerak mundur. Tanpa berkata-kata lagi kesemua lelaki berpakaian hijau-hijau itu menjauh dari Dimas yang mencoba menoleh ke belakangnya mencari tahu siapa yang baru saja dilihat lelaki tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau menoleh ke belakang, ada apa ?” Raji ikut menoleh ke belakang, mencari apa yang coba dilihat Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas…Dimas….apakah orang yang berbaju hijau itu masih ada ?” Pafi mengguncang-guncang bahu Dimas yang seperti sedang mengumpulkan semua nyawanya yang tercerai berai di ubun-ubunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah….eh.. tidak…tidak…. Mereka sudah pergi, entah kenapa mereka pergi. Aku tadi sempat melihat dari sudut matanya memandang ke arah belakangku. Itulah mengapa aku menoleh ke belakang, karena aku pikir pasti ada sesuatu yang dia lihat dan membuatnya pergi.” Dimas menunjuk-nujuk bagian belakang sembari menjelaskan kepada ketiga temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku lihat dari tadi, tidak ada apapun di belakang kita” Pafi menolehkan kepalanya ke belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lelaki yang berpakai hijau-hijau tadi menyapaku. Mereka adalah prajurit Kerajaan Selatan. Mereka memanggilku Yang Mulia.” Dimas menjelaskan sambil memegang tengkuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah ! Tapi mengapa mereka memanggilmu Yang Mulia ?”  Pafi menghentikan kalimatnya dengan telunjuk yang mengarah malas ke Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah ! mungkin karena pertemuanku dengan Ratu Kerajaan Selatan waktu itu. Akupun tidak tahu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kenapa Raji tidak melihat mereka ? bukankah kau dan Raji bersama-sama ke tempat itu ?” tanya Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin karena mereka tidak mau terlihat selain Dimas, seperti orang-orang yang di gerbang sekolah itu.” Raji mengatakannya dengan tengkuk merinding. Kemungkinan yang sekarang ditemui Dimas adalah mahluk halus, pikirannya mengembara membayangkan wujud seram mahluk-mahluk gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita mengikuti rombongan larung itu lagi, kita bahas hal ini di asrama saja” Dimas mengalihkan perhatian kedua sahabatnya untuk segera bersenang-senang. Pembahasan mereka akan yang baru saja terjadi akan menghabiskan waktu liburan mereka yang sudah sangat sempit karena habis waktu di jalan. Pukul tiga sore memutuskan meminta semua anak-anak untuk kembali, setelah berleha-leha di warung pinggir pantai yang menyediakan jajanan dan minuman. Sebelum magrib akhirnya mereka tiba kembali di asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan tidak tampak malam ini, Dimas sedang asyik duduk di beranda asrama memandang halaman yang lumayan terang oleh jejeran lampu minyak yang sengaja ditempatkan di tengah halaman yang disanggah oleh sebatang bambu. Pikiran terus melayang berputar-putar menarik-narik kejadian demi kejadian yang dialaminya belakangan ini. Pertemuannya dengan orang-orang misterius dan keanehan yang ditunjukan oleh Nyai Janis membuat hatinya penasaran. Dari arah pintu Raji datang menghampiri sambil membawa dua gelas wedang jahe dan pisang rebus dari kebun pak Narso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini, aku bawakan makanan, tadi aku ke dapur merayu mbok Sinem mengeluarkan harta karunnya, dan yang aku dapat ya ini….pisang rebus”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji menyodorkan sepiring pisang rebus dan meletakannya di atas meja bersamaan dengan dua wedang jahenya. Raji mengambil gelasnya dan menyeruput air jahe yang sudah hangat-hangat kuku. Nikmat rasa wedang itu tergambar jelas dari ekspresi Raji yang matanya terpejam merasakan aliran air jahe hangat melalui kerongkongannya. Seketika rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya mendorong udara dingin yang sedari tadi berusaha mendesak masuk ke pori-porinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat ekspresi kenikmatan Raji yang seperti setengah terbang, Dimas juga segera menyambar gelasnya dan meminum wedang jahenya. Dia mengerti kenapa Raji sampai seperti itu, karena wedang buatan Mbok Sinem memang luar biasa enak. Aroma serai, kayu manis dan sedikit cengkeh membuat wedang itu betul-betul minuman ajaib pengusir dingin. Selesai dengan wedangnya Raji menatap Dimas,  tatapannya seperti kosong sedang menerawang ke arah yang lain. Tiba-tiba…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pikir, Nyai Janis….menyimpan suatu rahasia yang sangat besar”  Dimas dengan mata masih menerawang ke langit berbicara kepada Raji yang sudah kembali asyik dengan pisang rebusnya yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mmm….mmm… fyaa… memang kelihatannya demikian” Raji menimpali dengan mulut penuh mengunyah pisang rebus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan aku yakin itu ada hubungannya dengan mimpi-mimpiku, karena dia begitu ingin tahu apa saja yang terjadi di dalam mimpi-mimpiku itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Dimas mulai terdengar bersemangat, matanya tidak lagi kosong menerawang ke langit. Bersamaan dengan itu dari arah dalam pintu sesosok bayangan muncul dengan kain menutupi kepalanya. Raji yang melihat arah kedatangannya tercekat dan memuncratkan semua pisang rebus yang dikunyahnya dan melongo ketakutan. Dimas yang belum sempat menyadari kehadiran bayangan itu segera mendengar suara yang sudah dikenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah menduga, pasti kalian belum tidur dan berada di sini. Sedari tadi aku gelisah sekali tidak bisa tidur” Pafi muncul dari belakang dan membuka kain yang menutupi kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji kau kenapa ?” Dimas keheranan melihat mulut Raji yang berantakan penuh dengan kunyahan pisang rebusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, tidak apa-apa… aku hanya tersedak tadi” Jawab Raji menutupi kekagetannya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pikir aku hantu ya…. He..he.. makanya jangan selalu berpikir hantu” Kata Pafi meledek. Raji cemberut marah menatap Pafi yang masih tersenyum sinis menatapnya dari ujung matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sedang berpikir mengenai kejadian-kejadian aneh yang selama ini kita alami” Dimas segera melerai kedua sahabatnya yang sudah memulai bibit pertengkaran. Belum sempat Dimas melanjutkan kata-katanya, dengan tiba-tiba kabut menebal ke seluruh halaman sampai masuk ke dalam bangunan asrama. Suhu udara turun dengan sangat drastis hingga ketiganya langsung menggigil menahan rasa dingin yang menusuk tulang. Wedang yang mereka minum tak terasa lagi pengaruhnya. Dimas, Raji dan Pafi saling pandang. Mereka teringat fenomena yang sama pernah terjadi beberapa waktu yang lalu. Tanpa banyak berkata-kata mereka tampak sudah saling mengerti untuk bergerak menuju kantor Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ssssst… jangan berisik….jalan pelan-pelan” kata Dimas setengah berbisik kepada Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga mengendap-endap dipinggir bangsal kemudian berhenti tepat di dekat pintu bangsal yang bisa memandang langsung ke arah pintu kantor Nyai Janis. Dimas bergerak merayap menuju bawah jendela diikuti Pafi dan Raji. Ketiganya menyender di dinding persis di bawah jendela yang terbuka. Kali ini mereka bertiga dapat mendengar suara dari dalam. Dimas menutupkan jari telunjuknya di depan bibirnya sebagai isyarat untuk tidak bersuara kepada kedua temannya. Raji dan Pafi mengangguk mengerti. Mereka memandang ke arah kebun jagung Pak Narso sambil terus berkonsentrasi mendengarkan suara-suara dari dalam kantor nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Raji melotot dengan mulut menganga dan suara yang tertahan di leher sambil menunjuk ke arah kebun jagung pak Narso. Pafi dan Dimas mengikuti arah yang ditunjuk Raji. Keduanya berteriak histeris, dua sosok tinggi hitam dengan bulu di seluruh tubuhnya, rambut panjang acak-acakan dengan sorot mata merah menyala di hiasi 4 taring yang keluar dari sisi bibirnya. Kedua mahluk itu bergerak ke arah ketiganya. Tetapi tiba-tiba terdengar suara yang diiringi kilat merah menerjang kedua mahluk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“VADHARNAHA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua mahluk itu terjengkang beberapa meter ke belakang sehingga merusak kebun jagung pak Narso. Keduanya bangkit dan bergerak kembali ke arah Dimas, Raji dan Pafi yang sudah saling berangkulan ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“PHOBOSERRAHA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah suara kembali terdengar dari dalam kantor Nyai Janis diikut dengan 2 larik sinar kuning terang menghantam kedua mahluk itu dan kali ini keduanya tidak terjengkang tetapi langsung terbakar. Kedua mahluk itu menjerit-jerit kesakitan dan kemudian hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas, Raji dan Pafi langsung melarikan diri dari tempat itu tanpa menoleh lagi ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau lihat tadi mahluk yang menyerang kita, hah…hah…hah.” Kata Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mataku tak berhenti melihatnya,  hiiyyyy…….” Kata Raji yang masih terlihat terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak terlalu memperhatikan dua larik sinar merah dan kuning yang menerjang mahluk itu.” Kata Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau tadi tidak menyerang saja mahluk itu.” Kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang kau pikir tadi kau bisa apa saat melihat mahluk itu.” Pafi menggerutu dengan mata melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, kita memang belum siap menghadapi mahluk seperti itu karena kita memang tidak dipersiapkan untuk menghadapi yang sejenis itu.” Kata Dimas menenangkan kedua sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang sekarang harus kita pikirkan adalah bagaimana menghadapi besok, karena pasti Nyai Janis akan memanggil kita besok.” Kata-kata Dimas membuat Raji dan Pafi langsung terdiam. Dimas kemudian mengajak kedua sahabatnya untuk kembali ke bangsal tidur dan tanpa banyak kata-kata mereka semua kembali ke bangsal asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan pagi sebelum berangkat sekolah, seperti biasa Pafi sudah berada di ruang makan duduk sendirian sebelum akhirnya Dimas dan Raji menyusul beberapa saat kemudian. Setelah mengambil sarapan pagi yang sudah disiapkan secara perasmanan oleh para pembantu asrama. Dimas dan Raji segera melangkah bergabung dengan Pafi yang sedang asyik menikmati sarapannya. Tak biasanya pagi ini mereka bertiga tidak saling bicara, dalam menikmati sarapan mereka sesekali saling melirik seperti menunggu ada yang memulai bicara lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aaku…”  “kemarin…..” “kenapa…” Pafi, Dimas, Raji secara bersamaan mencoba memulai pembicaraan, sesaat ketiganya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau dulu” kata Pafi. “Tidak kau duluan saja” Kata Raji. “Aku duluan, nanti tidak ada yang mulai” Kata Dimas. “Tidak, aku duluan” kata Pafi menyela. “Baiklah…kau duluan” kata Dimas dan Raji bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaku ….. “ Pafi agak ragu meneruskannya.“Aku bingung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi meneruskan tetapi pada kata terakhir suaranya seperti ban yang sedang kempis, mengecil dan menghilang. Dimas dan Raji mengkerutkan alisnya tak mendengar kata terakhir yang diucapkan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau kenapa…tadi” Raji meminta Pafi mengulanginya lagi. Pafi langsung cemberut dengan mulut terkatup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bingung dengan kejadian semalam” kata Pafi agak ketus.&lt;br /&gt;“Aku juga tidak mengerti, bagaimana kita sudah tidur di tempat tidur kita masing-masing” Kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi mendenguskan hidung dalam kebingungannya. Tetapi belum sempat mereka bertiga membahasnya tiba-tiba datang pak Narso menghampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian ditunggu Nyai Janis setelah sarapan selesai” kata pak Narso tanpa banyak berkata lagi kembali pergi meninggalkan Dimas, Raji dan Pafi dalam keadaan saling melongo dan memandang dengan penuh tanda tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya kita akan kena hukuman kali ini” .Kata Pafi pelan sambil menengok ke sekeliling ruangan makan yang telah memandangi mereka bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sarapan pagi Dimas, Raji dan Pafi segera beranjak menghadap ke ruangan Nyai Janis dengan membawa serta tas sekolah mereka. Sesampainya di dalam ruangan kantor, Nyai Janis telah menunggu duduk manis di belakang mejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duduklah kalian” Nyai Janis mempersilahkan ketiganya yang sebelumnya saling memandang akhirnya duduk di depan meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, langsung kepada pokok masalah. Semalam bukanlah tindakan yang bertanggung jawab. Andaikan tamu-tamu saya tidak bertindak cepat, kalian pasti sudah jadi santapan mahluk-mahluk itu” Nyai Janis berdiri dari kursinya dan menyilangkan tangannya di depan dada. Dimas, Raji dan Pafi hanya tertunduk diam. “Siapakah tamu-tamu nyai Janis” kata Dimas dalam hati tapi urung ditanyakan karena khawatir nyai Janis bertambah marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagai hukumannya, sejak hari ini kalian tidak lagi saya ijinkan keluar asrama pada hari libur kecuali pada hari sekolah, harus sudah kembali pulang dari sekolah sebelum jam 5 sore dan seluruh asrama tidak boleh keluar dari bangunan asrama jika jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Pak Narso akan menjadi pengawas kalian selesai dari sekolah. Mengerti !” Nyai Janis menatap ketiganya. Dimas, Raji dan Pafi terperanjat kaget mendengar keputusan itu, tetapi urung menyampaikan protesnya dan menarik nafas lesu dan tertunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya harap kalian berjanji tidak menceritakan kejadian semalam kepada siapapun. Baiklah, saya kira kalian cukup mengerti hal ini untuk keselamatan kalian juga. Nah sekarang berangkatlah ke sekolah”&lt;br /&gt;Dimas, Raji dan Pafi dengan langkah lesu meninggalkan kantor Nyai Janis. Beban tas mereka hari ini rasanya seperti sekarung beras yang sangat berat.&lt;br /&gt;Saat mereka keluar dari halaman asrama, terlihat pak Narso dan para pembantu asrama sedang menaburkan sesuatu ke sekeliling pagar asrama. Bubuk berwarna putih dan hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paling tidak kita masih boleh bertemu pak Narso, jadi latihan-latihan kita bisa tetap dilakukan dengan pak Narso.” Raji masih terlihat optimis diantara ketiganya. “Hei lihat Apa yang sedang mereka taburkan ?” Raji melihat pak Narso dan pembantu lainnya sedang menebarkan bubuk ke sekeliling Asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya garam dan merica” Kata Pafi pelan. Suaranya masih terdengar melas setelah mendengar hukuman yang mereka terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari mana kau bisa menduga itu garam dan merica” Raji kembali bertanya, sedangkan Dimas tetap diam mengamati. Hatinya sedang malas untuk berbicara memikirkan hukuman yang bakal memangkas semua kegiatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbok Sinem pernah bilang kepadaku, kalau kedua bumbu dapur ini berguna untuk menjadi pagar gaib dari serangan mahluk halus, seperti yang kita lihat tadi malam. Dan sepertinya hal ini akibat yang terjadi semalam” Sambung Pafi. Ketiganya akhirnya keluar dari pagar asrama dan berangkat menuju sekolah dan sepakat untuk menyimpan semua kejadian semalam menjadi rahasia mereka bertiga. Walaupun rasa penasaran tentang tamu-tamu Nyai Janis tetap menggunung di dada mereka dan menimbulkan pertanyaan baru mengenai siapa sebenarnya Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-3177013301823534804?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/3177013301823534804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=3177013301823534804' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/3177013301823534804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/3177013301823534804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/amukhsara-letusan-dahsyat-berlangsung.html' title='BAGIAN 5 - NYAI JANIS'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-3966269740460862442</id><published>2008-03-03T01:45:00.000-08:00</published><updated>2008-03-23T21:38:04.148-07:00</updated><title type='text'>BAGIAN 4 - NASKAH KOSONG</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Aryo tidak pernah berhenti mengawasi. Sepertinya dia ingin sekali menangkap basah Dimas. Dimas tahu setiap kali diikuti. Dimas seringkali membuat Aryo lupa kalau dia kepergok Aryo. Meninggalkan Aryo yang dalam posisi kebingungan. Pernah sekali Aryo nyaris melihatnya membuka pintu ruang keinginan. Untungnya dia tidak sempat melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu pada hari libur, Dimas, Raji dan Pafi akhirnya bisa masuk ke dalam ruang keinginan setelah berulang kali menunggu kesempatan. Mereka bertiga memutuskan untuk menghabiskan waktu masing-masing sendirian. Pafi masuk ke dalam ruang perpustakaan besar di Batavia. Hari minggu perpustakaan itu tutup sehingga Pafi dengan bebas membuka buku-buku yang ingin di bacanya. Raji menuju pelabuhan Sundakelapa dimana banyak kapal-kapal dagang berlabuh. Sedangkan Dimas menghabiskan waktunya di dalam ruangan rumah Gandrung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas melangkah mendekati naskah kosong itu. Sudah beberapa hari sejak menemukannya dia tidak pernah menyentuh sekalipun naskah itu. Hatinya ragu bisa kembali menemukan hal yang pernah dilihatnya sekilas. Dimas meraih naskah itu dan melepaskan ikatannya. Naskah itu terbuka dengan mudah dan dibaringkan di atas meja. Sesaat kemudian muncul tulisan-tulisan yang bergerak liar. Dimas terpekik senang melihatnya. Dalam hatinya berharap agar tulisan itu tidak menghilang lagi. Tulisan-tulisan itu tetap bergerak liar terus menerus. Lalu Dimas mengucapkan sebuah mantra pembukanya. Mantra yang sering diucapkannya di Sundabuana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingdorthium thor savantharau anglashiatvan” Perlahan semua aksara itu melambat dan menyusun menjadi kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berjanjilah membacanya sendiri, mengetahuinya untuk sendiri, membaginya hanya untuk sendiri” Tulisan itu hanya berhenti disitu. Dimas terdiam bingung. Lalu dia ingat kalimat pembuka yang membuat semua pintu-pintu di ruang keinginan muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berjanji membacanya sendiri, mengetahuinya untuk sendiri, membaginya hanya untuk sendiri” Dimas mengucapkan janjinya. Seluruh kalimat itu perlahan pudar berganti sebuah naskah yang panjang dengan banyak tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sahabatku, aku hanya memintamu membaca sendiri, mengetahui untuk sendiri dan membaginya hanya untuk sendiri karena apa yang aku ceritakan hanyalah milikmu dan hakmu sendiri. Cerita ini aku mulai dari sahabat tua yang membawa cerita kepadaku tentang sebuah negeri tidak terbit dan tidak terbenam. Di kaki puncak tertinggi dimana kahyangan dewa-dewi bersemayam. Saat kegelapan datang di barat. Petir menggelegar berhari-hari. Terang datang di timur. Menghentikan waktu. Menerangi dunia tengah. Membawa kelahiran bintang. Bintang yang telah menjadi gelap. Dan hanya tersisa teman lahirnya di bumi. Bintangmu telah hitam sahabatku. Bintang yang selalu kau cari. Bintang yang selalu kau rindu. Bintang yang membawa kehidupanmu. Kau harus membawa terangnya kembali dengan membawa teman lahirnya. Menyucikan kembali lahirnya. Membebaskan jiwanya. Membawa kembali pada kelahiran yang kedua. Terbebas dari tujuh cabikan jiwa. Hanya dengan menyatukan bintang dengan teman lahirnya sang jiwa kembali utuh. Kegelapan hanya akan tenang bersama terang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas hanya diam. Dia hanya teringat kalimat terakhir yang sangat mirip dengan naskah ramalan Sinar Avedi. Pikirannya bertanya mengapa Gandrung mengingatkan kembali tentang naskah itu. Dimas menggulung kembali naskah itu dengan tali pengikat. Tangannya menggaruk-garuk meja. Matanya menerawang. Kilasan-kilasan saat mereka sedang makan bersama di meja yang sama terlihat jelas. Ibu Gandrung yang sangat cantik dan lembut membagikan makanan untuk mereka. Dimas tertawa melihat Gandrung menjatuhkan sambal di hidungnya. Dia blingsatan akibat pedasnya. Lamunan Dimas pecah oleh kedatangan Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian sudah datang. Bagaimana disana ?” Dimas bangkit dari kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wow hebat-hebat sekali. Tidak banyak perbedaan antara kapal-kapal di Sunda Kelapa dengan yang aku lihat di pelabuhan kota Rajatapura. Aku heran mengapa kita bisa dikuasai oleh Belanda. Padahal kebudayaan dan kemampuan maritim kita tidak kalah hebat dengan Belanda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sendiri bagaimana Pafi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menemukan ini! Aku pergi ke perpustakaan pusat di Batavia. Ternyata di sebuah ruangan khusus seperti tempat penelitian naskah, banyak sekali disimpan naskah-naskah kuno bangsa ini. Yang satu ini sengaja aku ambil karena naskah ini memiliki hurup yang mirip dengan naskah Sinar Avedi. Tapi aku tidak tahu isinya. Mungkin kau bisa bacakan.” Pafi menyodorkan sebuah naskah yang telah dibikin dengan kulit buku yang baru. Naskah itu cukup tebal. Tiap naskah diselingi oleh kertas baru dengan tulisan romawi bahasa Belanda. Sepertinya peneliti naskah ini telah berhasil menterjemahkan isi dari naskah kuno itu. Naskah itu memiliki aksara yang mirip dengan aksara Sinar Avedi, hanya sedikit ornamen dan garis panjang yang membedakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Caturyuga Nusantara” Dimas memulai kalimat pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Empat Jaman. Jaman Emas, Jaman Perak, Jaman Perunggu, Jaman Besi. Naskah ini menceritakan empat buah jaman yang pernah dilalui oleh Nusantara. Babad Narapati, Babad Sarwajala, Babad Sundapura, Babad Sriwijaya, Babad Mataram, Babad Majapahit, Babad Walisanga, Babad Tunjung Putih, Babad Kaliyuga. Naskah ini dibagi menjadi Sembilan babad. Kau yakin menemukannya di perpustakaan pusat ?” Dimas agak terkejut dengan isi naskah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, ada dalam sebuah bungkusan kertas yang bertuliskan ditemukan di Ciseukeut, Teluk Lada. Memangnya kenapa ?” Pafi belum mengerti keterkejutan Dimas. Raji masih mengkerutkan dahinya tanda belum mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naskah ini memiliki cerita mengenai seluruh sejarah Nusantara sejak Jaman Narapati hingga sekarang bahkan masa depan. Babad Sarwajala bercerita tentang peradaban sesudah Narapati setara waktunya dengan Mesir kuno. Babad Sundapura tentang peradaban di Jawa pengaruh dari India. Babad Sriwijaya tentang kerajaan Sriwijaya di Sumatra, Babad Mataram tentang kerajaan Mataram Hindu di Jawa, Babad Majapahit tentang awal mula dan berakhirnya Majapahit di Jawa. Babad Walisanga tentang kerajaan-kerajaan islam. Babad Tunjung Putih tentang penguasaan bangsa kulit putih. Babad Kaliyuga tentang peradaban masa depan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Babad Kaliyuga maksudmu seperti Jangkha Jayabaya ?” sela Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, seperti itulah, tetapi ini lebih terbagi-bagi. Ramalan yang seperti itu ada di Babad Kaliyuga.” Dimas membuka bagian mengenai babad kaliyuga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang membuat sejarah selengkap ini ?”Dimas membuka halaman demi halaman mencari nama pembuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti orang-orang yang pernah hidup pada masa aksara itu berada. Sekarang kan kebanyakan kita menggunakan aksara hanacaraka. Kemungkinan buku ini berasal dari jaman Narapati” Pafi mengungkapan dugaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau harus menyimpannya. Disana ada sejarah bangsa ini yang sangat penting. Belanda bisa menyembunyikannya.”  Dimas memberikan saran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin kita simpan saja dulu di ruangan ini. Aku tertarik menelitinya.” Pafi menutup kitab itu dan menyimpannya di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan naskah itu, apakah kau bisa memecahkannya ?” tanya Raji. Dimas diam. Dia memang sering menyembunyikan sesuatu dari kedua sahabatnya itu. Tapi tidak berbohong kepada mereka. Tetapi Dimas teringat janji yang diminta Gandrung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buka saja” katanya berusaha menghindari untuk berbohong. Raji menarik tali gulungan naskah itu. Tidak ada apapun dari naskah itu. Naskah itu masih tetap kosong dan tidak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin lain kali kita menyelidikinya lagi. Sepertinya waktu sudah sore.” Dimas menggiring kedua sahabatnya untuk pergi. Dia berusaha mencegah ada pembahasan lagi tentang naskah kosong itu. Pembahasan yang dia yakin akan membawanya melanggar Janji pada Gandrung. Raji dan Pafi menurut. Kelihatannya mereka berdua sudah puas dengan perjalanan mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita keluar dimana ?” tanya Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di belakang huma saja” usul Pafi. Dimas dan Raji mengangguk setuju. Kemudian mereka bersama-sama menyebutkan tujuan mereka. Setelah pintu dibuka dan memastikan tidak ada orang yang melihat mereka keluar persis di belakang huma. Dengan mengendap-endap mereka kembali ke dalam asrama. Langit senja sudah mulai gelap. Kelelawar terbang meramaikan kelabu langit yang berbalut kabut ungu. Sebagian anak-anak yang bermain di halaman tengah telah meninggalkan permainan mereka. Ruang-ruang asrama mulai diterangi lampu-lampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalaman setelah selesai makan Dimas masih terus memikirkan isi naskah yang merupakan pesan Gandrung khusus kepadanya. Kedua tangannya di sandarkan di bawah kepalanya. Matanya menerawang ke atas seakan menembus dipan di atasnya. Dimas mengulang-ulang kalimat-kalimat dalam naskah itu. Tidak satupun yang dia mengerti. Biasanya dia bisa berbagi dengan kedua sahabatnya dan memecahkan bersama. Tapi kali ini kepalanya harus berpikir sendirian tanpa bantuan penalaran cerdas Pafi dan celetukan jenius Raji. Tetap tidak ada apapun yang menerangi kabut dalam pikirannya. Akhirnya Dimas menyerah. Dia memutuskan untuk memberi kesempatan tubuhnya untuk beristirahat dan menyerahkan semua waktu yang tersisa pada malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-3966269740460862442?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/3966269740460862442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=3966269740460862442' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/3966269740460862442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/3966269740460862442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/bagian-4-dunia-tengah-di-ruang-belajar.html' title='BAGIAN 4 - NASKAH KOSONG'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-5098349037926521762</id><published>2008-03-03T01:44:00.001-08:00</published><updated>2008-03-23T18:59:38.902-07:00</updated><title type='text'>BAGIAN 3 - ORANG MISTERIUS</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suasana ruang belajar cukup sibuk dengan banyak anak-anak asrama yang sedang serius mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Dimas termasuk salah satu di antaranya. Dari arah pintu ruang belajar yang selalu tertutup datang orang yang tidak asing bagi Dimas yang langsung menghampiri. Raji baru saja masuk ke ruang belajar menghampiri Dimas yang sedang duduk mengerjakan tugas-tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas, kamu dipanggil Nyai Janis, disuruh menghadap ke kantornya”  kata Raji berbisik di sebelah Dimas. Dimas mengkerutkan dahinya, tidak pernah ada anak-anak asrama yang dipanggil secara khusus ke kantor nyai Janis, kecuali akan dihukum. Pikirannya terus berusaha mengingat kesalahan apa yang dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa dia memanggilku ? aku salah apa ya….”  Dimas bertanya kepada Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, tadi dia hanya berpesan seperti itu” Raji hanya mengangkat bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau tadi dipanggil juga ?” tanya Dimas. Raji menggeleng. “Aku kebetulan berpapasan dengannya tadi. Dan dia berpesan agar aku mencarimu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin dia mengetahui kalau kita keluar malam. Atau Aryo mengadukan hal ini padanya” Dimas setengah berbisik kepada Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasanya tidak, kalau dia tahu tentu aku sudah dipanggil juga saat ini bersamamu” tegas Raji. Dimas menganggukan kepala setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas masih terus bingung saat dia berjalan meninggalkan Raji di ruang belajar dan terus pergi menyusuri lorong bangsal menuju kantor asrama yang letaknya di ujung dekat musholla. Dimas melihat sebuah pintu kayu jati yang tertutup, sejenak dia agak ragu untuk mengetuk pintu itu. Tapi keberaniannya segera dikumpulkan dan mengetuk pintu tiga kali. Dari dalam ruangan terdengar suara lembut menyuruhnya masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuklah…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas mendorong pintu itu dan dilihatnya Nyai Janis sedang duduk dengan kacamatanya yang bundar kecil agak menggantung di hidungnya yang mancung. Di tangannya sebuah buku yang terbuka setengah, nampaknya sedang dibacanya ketika Dimas mengetuk pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Goede Morgen, Nyai” Dimas memberi salam agak ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemari nak, duduklah” Nyai Janis melambaikan tangannya kepada Dimas.&lt;br /&gt;Kemudian menunjuk bangku yang berada di depan mejanya. Dimas duduk dengan wajah yang agak tertunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah saya melakukan kesalahan Nyai ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas mulai membuka kebingungannya dengan pertanyaan yang paling mungkin untuk mendapatkan kejelasan mengenai alasan pemanggilannya. Mendengar pertanyaan Dimas yang memang menurutnya paling logis, Nyai Janis tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak nak, jangan khawatir, kamu tidak melakukan kesalahan apapun”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Janis berdiri dari duduknya berjalan menghampiri meja lain di sebelah kanan mejanya, merapat ke jendela yang langsung mengarah ke kebun jagung pak Narso. Tangan meraih kendi air dari tanah liat berwarna coklat gelap yang sudah kelihatan agak lembab. Air putih di dalamnya kemudian dituangkan ke dalam cangkir kaleng yang terletak di samping kendi. Setelah tiga perempat cangkir kaleng itu terisi, dia membawanya kembali ke mejanya semua dan menyorongkan cangkirnya ke hadapan Dimas yang kepalanya mengikuti setiap gerakan Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minumlah dulu agar rasa khawatirmu hilang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas menunduk dan meraih cangkir yang disodorkan Nyai Janis kepadanya lalu meminumnya. Segar rasanya air itu masuk membasahi kerongkongannya. Dimas heran dengan kesegaran air yang diminumnya, padahal setiap hari dia juga meminum air dari wadah yang serupa, kendi, tapi air yang sekarang diminumnya sungguh berbeda, membuat matanya seketika seperti berbinar cerah, badannya terasa ringan dan …….segar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin mengetahui sesuatu darimu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Janis mulai menampakan raut muka agak serius, tapi kemudian disamarkan dengan senyumannya. Dimas tertegun dan mencoba mendengarkan apa yang akan ditanyakan oleh Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu masih sering bermimpi mengenai kedua orang tuamu ?” Nyai Janis menatap tajam. Dimas sontak menaikan kepalanya yang agak menunduk, dan ketika matanya beradu pandang dengan Nyai Janis, segera ditundukan kembali kepalanya lebih dalam dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah… dari mana dia tahu mengenai hal itu, apakah Raji yang menceritakannya. Aduuuuh… kenapa dia tanya mengenai hal itu” katanya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatinya tergetar marah bingung kepada siapa dia akan menuduh diantara kedua sahabatnya yang membocorkan cerita mengenai mimpi-mimpinya, dia yakin kalau salah satu atau kedua sahabatnya telah menceritakan semuanya kepada Nyai Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm…. Kamu tak usah marah kepada Raji atau Pafi, dia tidak menceritakan apapun mengenai mimpi-mimpimu.” Nyai Janis tetap tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Janis seperti tahu apa yang bergejolak di kepala Dimas dan berusaha menenangkannya. Kontan Dimas agak terkejut sekaligus heran, rasa marah yang tadi menggumpal di dadanya berubah menjadi keheranan, bagaimana Nyai Janis bisa tahu apa yang sedang dipikirkannya. Dalam keraguan antara ingin berterus terang, tak ingin orang lain kasihan kepadanya dan rasa malas harus menceritakan kembali apa yang selama ini selalu muncul dalam mimpi-mimpinya, Dimas mulai bicara agak terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh… ya, itu…. Mimpi…. Emmm….semakin sering sejak sebulan terakhir ini” Dimas menjawab agak gagap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, kelihatannya kamu belum siap untuk bercerita, tapi yakinlah saya hanya berniat membantu mengurangi beban pikiranmu” Nyai Janis berkata dengan lembut walaupun ada getar kecewa terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kamu boleh kembali melanjutkan aktivitas kamu” Nyai Janis memberikan isyarat kepada Dimas untuk meninggalkan ruangan, segera saja Dimas bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Nyai”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas segera bergegas meninggalkan kantor Nyai Janis dan kembali ke ruang belajar melanjutkan PR sekolahnya. Di ruang belajar Dimas bertemu Raji dan Pafi yang sudah bersama Raji juga sedang mengerjakan PR nya. Raji yang melihat Dimas masuk ke ruangan mengerutkan dahi dan memberikan isyarat anggukan pertanyaan. Setelah duduk berhadapan Dimas memberitahukan apa yang terjadi di ruangan Nyai Janis dengan berbisik-bisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian tidak memberitahu apapun mengenai mimpi-mimpiku kepada Nyai Janis kan ?”. Raji mendengar pertanyaan itu berjengit kaget seraya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dimas percaya dengan sahabatnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dia bisa tahu ? aku tidak pernah memberitahukan mengenai mimpi-mimpimu kepada siapapun. Aku berani bersumpah” Raji menegaskan kembali jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga, berani bersumpah” Pafi mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya dia bisa membaca pikiran orang lain, seperti kemampuan yang aku miliki. Mungkin dia membacanya dari kepala kalian tanpa kalian sadari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji mengangguk, “Mungkinkah dia memiliki kemampuan yang sama” pertanyaan yang juga terlintas di benak Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin” Dimas mendesis hampir tak terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ah… itu mungkin alasan mengapa dia selalu menatapku setiap aku mencelanya dalam hati, aduh….. gawat” Pafi meremas wajahnya yang ditundukan dengan telapak tangan kanannya.&lt;br /&gt;“Kalau Nyai Janis juga bisa membaca pikiran orang lain, bisa gawat. Dia akan tahu semua hal yang kita lakukan dan kemana kita pergi.” Raji khawatir dengan kenyataan baru yang mereka temukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus mencegahnya membaca pikiran kita.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita minta bantuan pak Narso untuk melatih kalian berdua menutup pikiran dari orang lain” Usul Dimas disetujui Pafi dan Raji. Mereka berencana akan mengunjungi pak Narso begitu selesai semua PRnya. Sesaat kemudian sudah terlarut dengan setumpuk PR yang belum sempat dikerjakannya kemarin-kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari seperti yang dijanjikan Dimas, Raji dan Pafi berangkat ke tempat pak Narso. Pak Narso sedang asyik duduk menghisap cangklong rokoknya. Ditemani segelas kopi buatan Mbok Sinem. Mbok Sinem tidak terlihat bersamanya. Mungkin sedang melakukan pekerjaan lain di dapur. Pak Narso tidak melihat kedatangan Dimas, Raji dan Pafi. Matanya asyik memandang kebun sayur di sebelah barat rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat sore pak Narso!” Dimas menyapa. Lelaki tua itu melepaskan cangklongnya dari bibirnya. Wajahnya sumringah melihat kedatangan Dimas, Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kebetulan sekali. Saya tadi sedang berpikir akan menemui anak semua.” Pak Narso menggeser duduknya di atas bale-bale.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Narso ingin membicarakan sesuatu dengan kami ?” tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, tapi silahkah sampaikan dulu maksud kedatangan anak semua kesini” kata Pak Narso. Dimas duduk di sebelah pak Narso. Raji dan Pafi duduk disebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini Pak, tadi siang Nyai Janis memanggil saya. Awalnya saya pikir saya melakukan kesalahan. Tetapi ternyata Nyai Janis menanyakan tentang mimpi-mimpi yang saya alami. Kami tidak tahu dari mana dia tahu mengenai mimpi-mimpi saya itu.” Dimas berhenti melihat reaksi wajah pak Narso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah nak Dimas hendak bertanya kalau saya memberitahukan hal ini kepadanya ? Saya tidak pernah membicarakan masalah ini dengan Nyai Janis.” Pak Narso merasa arah pembicaraan  Dimas meminta kejelasan darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan, bukan itu maksud kedatangan kami. Saya tahu kalau pak Narso tidak menceritakan apapun mengenai mimpi saya. Kami hanya menduga kalau Nyai Janis bisa membaca pikiran orang lain, seperti saya. Mungkin Nyai Janis tahu melalui cara itu. Kami khawatir dengan cara itu dia akan mengetahui semua hal yang pernah kami alami atau kami ketahui. Kami ingin pak Narso mengajari Raji dan Pafi bagaimana menutup pikiran mereka seandainya ada orang yang hendak membaca pikiran mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Narso diam. Seperti biasa dirinya selalu merenung sejenak sebelum bicara. “Baiklah saya akan melatih nak Raji dan nak Pafi, tapi saya mengajukan syarat.” Pak Narso seperti menemukan cara untuk mendapatkan hal yang tadi ingin dibicarakan sejak awal. Pafi dan Raji saling pandang. Dalam hati Raji berharap syaratnya tidak dilarang untuk menggunakan kemampuannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Pak Narso, kami setuju” kata Dimas setelah mendapat persetujuan dari Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah saya ajari caranya, Anak semua harus jujur kepada saya. Anak semua harus menceritakan semua hal yang belum anak ceritakan pada saya.” Pak Narso menatap tajam kepada Dimas.  Dimas, Raji dan Pafi saling pandang. Mereka tidak menduga syarat pak Narso begitu berat. Dimas meminta ijin berbicara dengan Raji dan Pafi menjauh dari pak Narso. Mereka bertiga terlibat pembicaraan serius. Beberapa saat kemudian mereka kembali menghampiri pak Narso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah pak Narso, kami telah sepakat menceritakan semua hal yang belum pernah kami ceritakan kepada pak Narso” kata Dimas singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Termasuk hal yang nak Dimas belum ceritakan kepada nak Raji dan Pafi ?” Dimas tercekat. Raji dan Pafi menatapnya dalam. Dimas tidak sanggup menatap kedua sahabatnya. Mata pak Narso hanyalah arah yang paling nyaman saat ini. Pak Narso seperti tahu semua hal yang disembunyikannya. Dimas berpikir dari mana pak Narso bisa tahu kalau dia menyimpan banyak hal yang belum diceritakan kepada Raji dan Pafi. Dimas menyerah. Pandangan Raji dan Pafi terlihat begitu kecewa. Dia merasa begitu bersalah kepada kedua sahabatnya. Semoga mereka memaafkannya dengan menceritakan semuanya pada mereka, katanya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, saya setuju” dengan suara berat Dimas menyetujui pak Narso. Akhirnya Dimas, Raji dan Pafi menceritakan semua pengalaman mereka di negeri Narapati kepada pak Narso hingga malam. Pak Narso mendengarkan dengan seksama semua cerita mereka. Mbok Sinem menambah kemeriahan suasana dengan singkong rebus dan wedang jahenya. Mereka terus bercerita sepanjang malam. Seakan tidak habis-habisnya. Sungguh terasa ajaib kelegaan yang mereka rasakan setelah menceritakan semua petualangan mereka di negeri Narapati kepada pak Narso. Mereka kini punya tempat yang mereka percaya untuk berbagi cerita, pengalaman dan nasehat. Ada perasaan Dimas apakah ini yang dirasakan kalau memiliki orang tua. Ada tempat mengadu, tempat bertanya, tempat berbagi kisah, tempat belajar, tempat mendapatkan kasih dan sayang. Alangkah bahagianya kalau dirinya memiliki orang tua. Tak terbayangkan penyesalan yang harus ditanggung jika menyia-nyiakan kasih sayang orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------ ***** ------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari minggu yang cerah, menyenangkan sekali hari ini setelah selesai semua PR kemarin kini saatnya untuk bersantai. Dimas dan Raji sudah bersiap dengan segala rencananya hari ini. Dengan semangat mereka berjalan keluar bangsal menuju kebun belakang pak Narso. Sesampai di huma di tengah kebun jagung, sudah tampak Pafi menunggu di bawah huma. Tidak ada janji apapun untuk berlatih bersama pak Narso. Hari minggu ini diputuskan untuk berwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pafi, kamu sudah lama menunggu ?” Raji menyapa gadis tersebut yang terlihat cemberut menatap mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pernah kah kalian datang tepat waktu ?” Sergah Pafi kepada Dimas dan Raji. Raji yang sudah sering mendengar sergahan seperti itu hanya cengengesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan kami, kami agak terlambat karena aku tadi harus ke ruangan Nyai Janis” Dimas berusaha menjelaskan. Wajah berkerut dan agak heran membentuk di wajah Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah dia menanyakanmu lagi soal mimpi-mimpi itu ?” Tanya Pafi sambil mengambil posisi duduk. Suara agak lebih tenang. Tampaknya Pafi sudah mengira akan ada cerita panjang yang akan didengarnya dari Dimas. Wajah galak Pafi segera saja berubah menjadi rasa ingin tahu dan berusaha mengambil posisi nyaman untuk mendengarkan apa yang akan diceritakan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm…. Ya… dia bilang aku tidak boleh lagi belajar terlalu malam, Dia menghawatirkan kesehatanku” Kata Dimas berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat jawaban yang tidak menarik itu, air muka Pafi segera berubah kembali galak, harapan mendengarkan berita yang fantastik lebur begitu saja dengan jawaban singkat Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita berangkat” Pafi segera beranjak dari tempatnya sambil menggendong bekalnya. Ketiganya akhirnya tidak lagi melanjutkan pembicaraan mengenai pemanggilan Dimas oleh Nyai Janis. Mereka mulai sibuk dengan pembicaraan mengenai hal-hal yang akan mereka lakukan di hari libur ini. Minggu ini rencana mereka akan bermain ke sungai code. Sungai yang cukup besar itu membelah Jogjakarta. Sungai itu menjadi tempat kehidupan rakyat di Jogjakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segar sekali wajah-wajah Dimas, Raji, dan Pafi setelah beberapa waktu bermain air di sungai. Tangan Raji menenteng beberapa ekor ikan hasil pancingan mereka di sungai. Tentu saja dengan sedikit bantuan pengendalian airnya. Cara yang dianggap Pafi terlalu mau cari gampang. Dimas sedang menyiapkan api unggun untuk membakar ikan hasil pancingan mereka. Dimas berusaha membuat api dari tumpukan kayu kering seperti yang pernah dipelajarinya pada kegiatan kepanduan di bangku sekolah dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini ikannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji menyorongkan seikat ikan yang sudah dibersihkannya di sungai. Dimas meraihnya dan kemudian menggantungnya di tiang kayu setinggi empatpuluh senti yang sudah ditancapkan di sisi api unggun. Kemudian mengambil satu persatu ikan-ikan itu dipasangkan pada sebuah tusuk satai dari bambu yang diletakan menggantung melintang di atas perapian. Seketika bunyi meretas dari arang yang tersiram tetesan air diikuti asap putih yang mengepul dari tengah-tengah tumpukan perapian. Kulit ikan yang melepuh dan mengkerut menebarkan aroma daging bakar membuat ketiganya begitu tak sabar ingin menyantapnya. Begitu matang segera saja ketiganya segera menyantap dengan lahap sambil meniup-niup mengurangi panas. Sungguh lezat sampai-sampai mereka tak saling bicara karena keasyikan menikmatinya. Dalam keasyikan yang luar biasa itu tak sadar bila ada dua orang dari kejauhan berjalan tepat ke arah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permisi nak, boleh kami sedikit bertanya ?” Seorang yang sudah tua mengajukan pertanyaan. Ketiganya yang sedari tadi tidak sadar akan kehadiran kedua orang itu, serentak kaget dan menoleh. Orang tua yang bertanya itu hanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kami mau ke Desa Code, kami harus melalui jalan yang mana ya ?” Orang tua tadi melanjutkan pertanyaannya. Dalam kaget itu Dimas menjawab seadanya “Oh…ke arah selatan pak, susuri saja sungai ini ke selatan, Desa pertama itu namanya Desa Code”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh…terima kasih nak, kalau begitu kami permisi” Kedua orang itu kemudian pergi meninggalkan tempat ke arah selatan. Dimas saling pandang dengan Raji dan Pafi. Dan tiba-tiba saja bulu kuduk mereka merinding berdiri. Seperti sudah saling tahu apa yang harus dilakukan, semuanya segera membereskan semua barang bawaan mereka dan menghempaskan sisa ikan bakar yang belum habis mereka makan dan berlari sekencangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas…tunggu!” suara Pafi yang sedikit tertinggal di belakang oleh gerak langkah Dimas dan Raji yang bergerak makin cepat meninggalkan api unggun. Setelah sampai pada sebuah jalan besar, ketiganya berhenti mencoba mengatur nafas mereka yang terburu-buru tak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah..hah..hah…kenapa kalian tiba-tiba larih ….hah…hah….” suara Pafi yang terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hufffhhhh…hah…hah… kamu kenapa juga ikut berlari hah…hah….” Raji balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya….ahhh akhu….mengikuti kalian berlarih…..hah…hah….memangnya aku harus ngapain!” Pafi menyergah dengan wajah galak yang merah padam dengan penuh keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah…sudah…hah…hah…kalian ada yang lihat dari manah…hah…hah… datangnya kedua orang tadih…hah…hah..” Dimas mencoba melerai di tengah kelelahannya juga. Tapi semua menggeleng memastikan tidak ada yang tahu dari mana kedua orang tadi datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah hah…kalian pernah melihat orang-orang itu sebelumnyah…hah….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas mencoba memastikan kembali. Semua terdiam tak ada yang sanggup mengingatnya dengan kepala yang berdenyut karena degup kerja jantung yang terpompa adrenalin ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau tidak salah, orang itu pernah kita lihat sewaktu kita pulang sekolah minggu lalu, kita berpapasan dengan mereka di jalan menuju asrama” Yang lain mencoba menarik ingatan seminggu lalu dari kepala mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, betul! Kita juga sempat kaget karena tiba-tiba saja mereka muncul” seru Pafi sambil memandang yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi siapa mereka ?” Raji mulai garuk-garuk kepala kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mereka orang yang sama dengan yang kau lihat di pintu gerbang sekolah dulu” Tanya Pafi kepada Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, mereka orang yang berbeda. Yang aku lihat di gerbang sekolah keduanya masih tampak muda dengan pakaian jawa, sedangkan yang kita lihat tadi itu berpakaian dengan jubah” Tegas Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita kembali ke asrama” Dimas mengajak kedua sahabatnya untuk meninggalkan tempat yang diiringi anggukan Raji dan Pafi yang juga mengikuti. Dengan tenaga yang tersisa ketiganya melangkah gontai di jalanan besar yang sudah mulai teduh oleh bayangan pohon-pohon. Matahari sudah begitu jingga dan akhirnya lenyap di balik awan kelabu yang menjamur di cakrawala barat. Akhirnya mereka pun tiba di depan halaman asrama yang sudah terang oleh lampu-lampu teplok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana sore telah berubah menjadi malam, gelap yang menyelimuti asrama terasa begitu kental dengan bunyi serangga malam yang berterbangan tertarik cahaya-cahaya lampu dari dalam asrama. Ruang makan telah penuh dengan anak-anak asrama yang sedang bergiliran mengambil makanan perasmanan yang dijaga oleh pembantu-pembantu asrama. Dimas, Pafi dan Raji sedang dalam antrian dengan piring dan gelas mereka. Belum sempat sendokan nasi dari Mbok Sinem masuk ke piring Raji, tiba-tiba saja dari arah belakang Aryo dan kedua temannya datang menyerobot dan mendorong Raji ke samping, yang menyebabkan antrian di sebelah Raji ikut terdorong. Pafi tampak geram melihat yang dilakukan oleh Aryo dengan kedua temannya. Pafi dengan gerakan refleks menebaskan tangannya ke udara kosong, tetapi pada saat yang bersamaan Anip yang berada dibelakang Aryo terdorong ke depan yang tanpa sengaja mendorong tangan Aryo yang sedang memegang piring yang penuh dengan nasi sehingga jatuh ke lantai, sementara tangan Mbok Sinten yang telah siap menuangkan satu sendok kuah sayur panas tak ayal lagi tumpah di dada Aryo. Seketika aryo menjerit kepanasan dengan sayur yang penuh berantakan di atas dadanya dan sepiring nasi yang tumpah berantakan di atas kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh….aduh…..” Aryo berteriak kesakitan. Aryo dan ketiga temannya menjadi pusat perhatian di seluruh ruangan. Sementara Dimas, Raji dan Pafi tersenyum tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurang ajar kau Anip, aku hajar kau, aduh…panas…panas” Aryo memaki Anip sambil memegang dadanya yang basah dengan kuah sayur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku Yo, aku tidak sengaja. Tiba-tiba saja seperti ada yang mendorongku dari belakang” Anip memegang tangan aryo yang sudah menarik kerah bajunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau yang melakukannya Pafi ?” Dimas berbisik kepada Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasain dia, biar tahu rasa” Raji tampak senang melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, aku tidak sengaja melakukannya. Tadi aku hanya kesal dan tidak sengaja mengeluarkan tenagaku” kata Pafi juga berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan Nyai Janis bergegas menghampiri Aryo dan kedua temannya. Wajahnya tampak marah melihat lantai yang berantakan. Aryo masih saja mengeluh mengelus-elus dadanya yang masih terasa panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa ini” mata Nyai Janis menatap Aryo yang sudah tertunduk dan melepaskan cengkramannya pada kerah Anip, lalu bergantian menatap Anip dan  Amik yang sudah sejak tadi menunduk ketakutan. Namun tak lama kemudian Nyai Janis menatap Dimas, kemudian berganti ke pada Raji dan terakhir kepada Pafi. Cukup lama Nyai Janis menatap Pafi, sehingga membuat Pafi kikuk dan tidak nyaman. Seolah Nyai Janis tahu penyebab kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbok Sirah, tolong dibersihkan” ayo lanjutkan makan kalian. Tanpa banyak menunggu lagi semua kembali pada makanan masing-masing. Dimas, Pafi dan Raji juga secara bergilir mengambil makanan ke dalam piring masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi Nyai Janis menatapku lama sekali, seakan dia tahu” Pafi berbisik kepada Dimas sambil berjalan membawa piringnya ke meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya dia tadi mencoba memasuki pikiranku, tapi aku berhasil menahannya” kata Dimas dengan pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kita rasakan kalau pikiran kita sedang dimasuki oleh pikiran orang lain ?” Raji bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau akan merasakan rasa dingin di dalam kepalamu menjalar keseluruh bagian kepala, lalu kau akan merasa beku dan ketika sudah menjalar ke leher dan punggungmu, maka kau sudah dalam keadaan beku tidak lagi tahu apa yang sedang terjadi” Dimas menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Darimana kau tahu semua itu ?” Tanya Raji penasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami pernah mencobanya berdua” Pafi menjawab pertanyaan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian pernah mencobanya tapi aku tidak diajak, keterlaluan” Raji menggerutu marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah aku ajak, tapi kau malah memilih tidur” Dimas menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya kalau tidur jangan seperti bangkai, sudah merem tidak pernah bisa bangun lagi” Pafi mencela Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apakah kau tadi merasakan Nyai Janis membaca pikiranmu” Tanya Raji mencoba berusaha menerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, tadi aku juga merasakan rasa dingin persis dengan yang aku rasakan sewaktu latihan bersama Dimas, tapi hanya sebentar, aku bisa cepat menguasai diri. Aku tidak tahu kenapa” Pafi menjelaskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu karena aku masuk juga ke dalam pikiranmu menyelubungi pikiranmu sehingga tidak bisa ditembus Nyai Janis. Itu mengapa Nyai Janis menatapmu agak lama, karena dia berusaha terus masuk ke dalam pikiranmu tapi tidak juga bisa masuk” Dimas menjelaskan apa yang telah dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bisa melakukan itu ? sejak kapan kau bisa melakukannya” Tanya Raji bersemangat sambil memakan makan malamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak setelah aku dipanggil oleh Nyai Janis tempo hari. Dia berusaha memasuki pikiranku dan aku menolaknya dengan menutup pikiranku. Untungnya aku banyak berlatih dengan pak Narso dan sering mencoba memasuki banyak pikiran anak-anak asrama, aku makin banyak tahu apa yang bisa aku lakukan dengan pikiran mereka dan pikiranku sendiri” Dimas membisikan kedua temannya ketika ada seorang anak melintasi meja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh..aku mengerti sekarang, itu sebabnya aku sering melihat tiba-tiba ada anak berjalan seperti melamun atau tiba-tiba terdiam saat sedang melakukan PR di ruang belajar. Jadi mereka itu sedang kau baca pikirannya” Pafi menaikan alisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, tapi aku tidak membaca semua pikiran dan mengubah apapun dari mereka, aku hanya bermain-main untuk mencoba-coba apa saja yang bisa aku lakukan dengan pikiran orang lain. Aku itu tidak baik, tapi aku tidak akan tahu sampai dimana kemampuanku ini tanpa mencobanya, makanya aku tidak bilang-bilang ke kalian.” Dimas menjelaskan untuk mencegah kedua sahabatnya salah paham atas apa yang telah dilakukannya. Mereka pernah melihat Dimas membuat Aryo dan gengnya mencuci piring bekas makan mereka beberapa waktu yang lalu. Dan itu hal terindah yang pernah mereka lihat tentang Aryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita lanjutkan pembicaraan kita di tempat lain yang lebih aman, bagaimana ?” Pafi mengusulkan idenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmmmm aku setuju” Raji mengangguk setuju dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, kita harus saling menceritakan apa yang telah kita lakukan dengan kemampuan yang kita miliki. Sekarang kita segera selesaikan makan malam ini” Dimas menyetujui dan segera menyantap makanannya tanpa banyak bicara lagi. Sementara dari kejauhan tampak Nyai Janis terus memperhatikan mereka bertiga dengan seksama. Mata Nyai Janis tampak menyipit memandang sesuatu dengan penuh rasa ingin tahu. Sayang dia tidak bisa mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh Dimas dan kedua sahabatnya. Seperti ada sesuatu yang membuat mereka seperti tidak mengeluarkan suara sama sekali.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-5098349037926521762?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/5098349037926521762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=5098349037926521762' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/5098349037926521762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/5098349037926521762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/bagian-3-nyai-janis-beberapa-purnama.html' title='BAGIAN 3 - ORANG MISTERIUS'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-7372190519922142543</id><published>2008-03-03T01:43:00.000-08:00</published><updated>2008-03-23T18:58:32.272-07:00</updated><title type='text'>BAGIAN 2 - PINTU GAIB YANG LAIN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Petualangan baru dimulai. Tapi Dimas merasakan tidak memiliki tujuan sama sekali dalam petualangannya kali ini. Mereka hanya mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah mereka lihat dengan menggunakan ruang keinginan. Masih tersisa sebuah pertanyaan besar yang belum terjawab hingga kini. Dimanakah Narapati sekarang berada? Apakah mereka berhasil membuka dunia tengah? Selama seminggu terakhir ini terjadi lagi hal-hal aneh baru setelah kemunculan ruang keinginan. Gandrung banyak meninggalkan kejutan di dalam asrama ini. Banyak hal-hal yang semula biasa saja kini menjadi luar biasa. Begitu banyak tanda-tanda yang muncul. Cincin kebenaran makin menunjukan fungsinya. Awalnya Dimas tidak mengerti ada symbol-simbol aneh di dinding-dinding asrama. Tetapi kini dia mulai mengerti setelah menemukan ruang keinginan dan jejak yang ditinggalkan oleh Gandrung. Gandrung pernah berada disini ikut membangun asrama ini dan menciptakan tanda-tanda yang hanya bisa dilihat oleh pemegang cincin kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruangan tengah dekat tangga ke lantai dua Dimas berhenti. Raji heran melihat tingkah sahabatnya. Kepala menengadah ke langit-langit ruangan yang langsung keatap di bawah genteng. Ditopang oleh enam pilar batu segi empat yang penuh dengan ukiran dengan kubah di atasnya. Dikelilingi dinding-dinding batu-batu hitam dengan relief-relief dan ukiran seni. Pada langit-langit yang melengkung setengah bulat tampak barisan bintang-bintang berwarna keemasan berjajar seperti lengkung busur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau lihat bintang-bintang itu berjajar melengkung. Persis seperti naskah Sinar Avedi Agung.” Dimas menunjuk ke langit-langit ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, kau benar. Selama ini kita tidak menyadari kalau legenda itu ada dan meninggalkan bekasnya disini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey, kalian sedang apa disini ?” Pafi tiba-tiba muncul dari ruang belajar sambil membawa buku di tangan kirinya. Kepala mendongak ke atas mengikuti Dimas dan Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah itu….” Pafi mengkerutkan wajahnya mencari hal yang sama di dalam kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah benar, itu adalah busur Sunda. Gunung-gunung yang meletus secara bersamaan 15.000 tahun lalu. Dan yang paling tengah dan paling besar adalah Krakatau.” Dimas menjawab apa yang dipikirkan Pafi. Ada beberapa anak yang lewat ikut melihat ke langit-langit tetapi tidak mengerti apa yang sedang dilihat oleh Dimas, Raji dan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gandrung pernah ada di asrama ini, bahkan mungkin dia yang merancang tempat ini.” Dimas memindahkan pandangannya ke lantai. Gambar yang serupa tetapi dengan gambar sebuah lambang seekor kuda dengan tubuh atasnya manusia menarik busur dengan sebuah anak panah. “Sagitarius!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa katamu ?” tanya Pafi pada Dimas. Pandangannya juga dialihkan ke lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lambang ini, gambar manusia berbadan kuda yang sedang menarik anak panah.” Dimas menunjuk lantai di depan mereka. Raji mengkerutkan dahinya. Mereka bertiga masih sibuk berpikir lambang yang ada dilantai. Tidak sadar dari lantai dua Aryo turun bersama Anip dan Amik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey Londo kampung! Kau tidak akan bisa membuat gambar seperti itu apalagi membuatnya.” Aryo turun dari tangga dengan cepat. Raji langsung mendengus mendengar ejekan Aryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Londo keling! Kau ingin berkelahi denganku ? Sudah lama badanku pegal sekali tidak gebuk londo.” Aryo menarik kedua lengan bajunya. Dimas diam saja tidak bergerak. Raji maju ke depan. Tetapi Dimas menarik lengannya. Aryo memainkan kepalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah tahu apa yang kalian kerjakan tiap malam. Aku akan beritahukan Nyai Janis. Biar kalian tahu rasa!” Kata-kata Aryo membuat Dimas, Raji dan Pafi tersentak kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya apa yang kau tahu tentang kami” tanya Dimas santai. Sejenak Aryo bingung. Kalimat yang ingin diucapkannya lenyap begitu saja di ujung lidahnya. Raji dan Pafi tersenyum lega melihat Aryo kebingungan. Dimas sudah membuatnya lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu Yo, tentang….tentang apa ya” Anip yang bermaksud memberitahu Aryo tiba-tiba ikut-ikutan lupa. Amik juga mengalami hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah Aryo. Kami bukan musuhmu. Kami tidak pula bermaksud menggantikan kedudukan kalian menjadi pemimpin di asrama ini. Ayo kita pergi!” Dimas berbalik meninggalkan Aryo dan gengnya dalam kebingungan menggaruk-garuk kepala. Raji dan Pafi mengikuti Dimas keluar sambil tertawa geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang dia tahu tentang kegiatan malam kita ?” tanya Raji penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia melihat kita menyelinap keluar kamar. Itu saja.” Jawab Dimas singkat. Anak-anak lain sedang bermain di halaman. Tempat duduk di halaman telah penuh. Anak-anak perempuan bermain tali dan congklak. Hari libur ini selalu dimanfaatkan dengan bermain. Hanya kadang-kadang saja Nyai Janis memberikan mereka kesempatan untuk pergi berwisata ke tempat lain. Mereka memutuskan untuk pergi ke tempat lain yang paling mereka sukai. Huma kebun jagung pak Narso. Bulan ini pohon jagung diganti dengan kacang-kacangan. Pak Narso membuat tambatan bambu berkaki tiga untuk merambatkan pohon kacang panjang agar buahnya tidak menyentuh tanah. Huma terlihat kosong, tidak ada pak Narso ataupun Mbok Sinem yang biasanya sedang bekerja menyiangi gulma atau memanen sayuran untuk keperluan asrama. Huma yang dibangun dengan bambu beratap ilalang itu lebih menyenangkan dari pada di dalam asrama. Kesederhanannya menenangkan. Dipan yang terbuat dari potongan bambu melintang. Angin bersirkulasi melalui sela-selanya. Sebuah tikar pandan terbaring di tengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita seperti bukan tanpa alasan berada di asrama ini. Kau tahu maksudku ?” Dimas mulai yakin kalau mereka tidak berada di asrama itu begitu saja hanya karena mereka yatim piatu. Pasti ada hal lain yang membuat mereka berada di sana. Asrama itu tidak dirancang oleh orang-orang biasa. Tetapi ada Narapati yang ikut terlibat di dalamnya. Gandung meninggalkan begitu banyak jejak disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah berarti Narapati yang membangun tempat ini ?” Raji masih agak ragu. Matanya memandang kearah bangunan asrama yang begitu tinggi. Atapnya yang begitu mirip dengan bangunan-bangunan di Sundabuana menggoyahkan keragunan. “Sepertinya memang Narapati” katanya menjawab sendiri pertanyaannya sambil menunjuk atap bangunan asrama. Dimas dan Pafi melihat kearah yang ditunjuk Raji. Keyakinan mereka makin kuat kalau Narapati membangun tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Narapati membangun tempat ini, lalu dimana mereka sekarang tinggal?” tanya Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di dunia tengah” sahut Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sekarang Dunia tengah ada dimana ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah” Dimas mengangkat bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sebaiknya kita tanyakan kepada pak Narso ?” Raji memberikan usul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum saatnya. Pak Narso pasti akan bertanya pada kita dari mana kita tahu mengenai dunia tengah. Padahal yang pak Narso tahu kita mengetahui Narapati hanya dari legenda yang diceritakannya kepada kita. Dia pun menyebutnya itu adalah sebuah legenda yang belum tentu benar. Artinya pak Narso belum tentu tahu keberadaan dunia tengah.” Dimas menggeser duduknya ke atas tikar pandan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu bagaimana kita mencari dunia tengah ?” tanya Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke tempat dimana kita menemukan dunia Narapati.” Sahut Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pintu gaib di ruang belajar! Tapi kita sudah tidak bisa membukanya sejak kita kembali dari dunia Narapati. Bahkan buku yang kau berikan waktu itu tidak lagi berubah.” Dimas tidak yakin pintu itu akan muncul kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita selidiki saja lagi. Kita sudah tahu kalau pintu-pintu rahasia yang diciptakan oleh Gandrung hanya akan terlihat saat didekatkan dengan cincin kebenaran. Kita coba dekatkan cincin ini ke lukisan di dinding itu.” Pafi cukup yakin dengan gagasannya. Dimas sepertinya terpengaruh ide Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu kita harus menyelidiki pintu gaib itu nanti malam.” Dimas memberikan usul. Matanya melihat Raji langsung lesu kehabisan setengah darahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa harus nanti malam ?” tanya Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena nanti malam adalah tepat malam purnama, kalian ingat kemunculan pintu gaib itu dimulai sejak malam purnama lalu tepat saat tengah malam.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi maksudmu kita harus bangun nanti malam ?” tanya Raji yang tampak enggan sekali tidur nyenyaknya terganggu. Dia membayangkan harus berjalan tertatih-tatih dengan mata yang masih sangat mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, kalau kau mau, kau bisa menggotong tempat tidurmu sekalian” kata Pafi sinis. Dia sudah paham benar soal tabiat Raji yang sangat tidak mau mengorbankan tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau mau kehilangan kesempatan dapat melihat dunia tengah di balik pintu gaib itu, ya tidak apa-apa.” Kata Dimas. Dimas tahu dimana letak kelemahan Raji agar mau mengorbankan waktu tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, baiklah, aku ikut. Tapi nanti malam aku dibangunkan.” Kata Raji setengah hati.Yang dipikirkannya saat tidur nyenyaknya dalam keadaan puncak tiba-tiba harus bangun. Tapi Raji tahu dia tidak bisa menolak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, sekarang kita kembali ke asrama. Kita bertemu di dekat tangga turun ke lantai dasar.” Dimas turun dari dipan setelah tidak ada lagi yang keberatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam begitu indah dengan rembulan bulat yang begitu cerah menerangi pelataran halaman. Dimas sejak sore tidak beranjak tidur, tetapi lebih memilih memandang langit yang berserakan cahaya bintang yang mengedipkan cahaya lemah di antara sinar bulan yang bulat telur. Semua anak-anak dalam bangsal telah terlelap. Dimas bangkit dari tempat duduknya dekat jendela dan berusaha tidak mengeluarkan suara. Bantal di atas kasurnya di tata di atas tempat tidurnya kemudian ditutupi dengan kain. Dengan perlahan Dimas berjalan tanpa alas kaki menuju tempat tidur Raji. Tangannya menepuk pundak Raji dengan pelan. Raji yang masih meringkuk seperti seekor kucing. Tepukan halus Dimas rupanya tak mampu membuatnya terbangun. Dimas mengusap kepala Raji, dengan segera Raji terbangun dan bangkit dari tempat tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sssssstttt, pelan-pelan” Dimas menutup mulutnya yang berdesis dengan telunjuk kirinya. Raji nyengir kuda sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Dengan perlahan Raji turun dari tempat tidurnya dan menata bantalnya seperti yang dilakukan Dimas. Dengan mengendap-endap mereka keluar dari bangsal menuju koridor. Di depan pintu bangsal mereka jongkok sebentar mengamati keadaan. Setelah yakin tidak ada orang di koridor tersebut, Dimas dengan berjalan bungkuk bergerak menuju tangga. Raji mengikuti dari belakang dengan tangan yang terus memegang tangan kiri Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau yakin kita harus melakukannya malam ini” Raji berbisik dengan suara yang agak ketakutan. Dimas berhenti dan memandang Raji yang begitu memelas ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, hanya malam hari waktu yang paling aman dan terhindar dari kecurigaan orang lain. Aku lebih takut Nyai Janis dari pada hantu. Dia lebih menyeramkan.” Dimas setengah berbisik sambil tertawa kecil. Raji ikut cekikikan. Rasa takutnya hilang begitu saja seusai mendengar lelucon Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo cepat, kita jangan terlalu lama disini” Dimas membetot tangan Raji dan menariknya menuju tangga. Kemudian mereka menuruni tangga setelah yakin tidak ada orang lain di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada arah yang berlawanan sesosok orang berjalan mengendap menuju arah yang sama dengan Dimas dan Raji. Dimas dan Raji berhenti dan bersembunyi di bawah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas….Raji…..”Suara seorang perempuan memanggil setengah berbisik. Dimas mengenali suara yang memanggilnya kemudian muncul dari balik tangga dan melambaikan tangan kepada si Pemanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pafi……” Dimas memanggil pelan orang yang ternyata adalah Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada orang yang melihatmu kan “ Tanya Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, semua penghuni asrama sudah tertidur” Pafi menjawab dengan pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, kita segera ke ruang belajar” Dimas mengajak Pafi dengan terus menarik tangan Raji yang masih memegang erat dengan kedua tangannya.Sesampainya di depan pintu, ternyata pintu terkunci rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sial, pintunya terkunci, bagaimana membukanya” Dimas merutuk. Pafi segera menghampiri gagang pintu dan berusaha memutar-mutar untuk membuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uh….kenapa tadi kita tidak mengambil kunci dulu di tempat pak Narso. Aku belum diajari cara membuka pintu.” Pafi juga ikut merutuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita kembali saja ke kamar” Raji yang sedari tadi tidak merasa nyaman dengan aksi mereka berusaha membujuk kedua temannya untuk kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, kita harus masuk menyelediki pintu gaib rahasia itu malam ini juga, bagaimanapun caranya, kenapa kau jadi penakut malam ini Raji. Biasanya kau seperti jagoan” Tegas Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak takut, aku hanya tidak mau kita terkena hukuman dari Nyai Janis” Raji dengan emosi dan wajah yang merah padam. Untungnya dalam suasana gelap sehingga tidak terlihat, hanya nada suaranya saja yang menaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi bagaimana caranya masuk” Dimas mulai bingung dan berpikir mencari jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pintu itu harus bisa dibuka dulu…..” kata Pafi melanjutkan sambil menujukan telunjuk kanannya kearah gagang pintu dan secara otomatis terdengar suara berkeletak dan pintu terbuka dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas, Pafi dan Raji saling pandang tersenyum dengan yang baru saja terjadi. “Pintunya …….terbuka sendiri” Raji dengan suara tertahan menutup mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan, bukan terbuka sendiri, tapi Pafi yang telah membukanya” Dimas mengangkat tangannya dan menunjuk jari Pafi yang masih menunjuk ke arah gagang pintu. Mereka akhirnya memasuki ruang belajar yang gelap gulita. Pafi berusaha merangkak menyisir dinding dimana sebuah lampu minyak jarak tergantung. Dengan korek api yang sudah disiapkannya sejak tadi Pafi menyalakan lampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, bagus kau telah bawa korek api rupaya” Raji memuji Pafi dengan nada yang sedikit meledek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kau pikir kau bisa diandalkan untuk mengingat apa yang diperlukan, hah” Pafi menyergah kata-kata Raji yang langsung terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah…sudah… lebih baik kita pusatkan perhatian kita ke dinding itu” Dimas menengahi kedua sahabatnya yang memang selalu ada saja pertengkaran kecil diantara mereka berdua. Dimas mengambil lampu yang sudah dinyalakan oleh Pafi kemudian memimpin di depan menuju lorong di dalam ruang belajar pada sebuah lukisan gunung kembar Bromo dan Semeru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana caranya membuat pintu gaib itu muncul kembali”  Pafi bergerak maju mengulurkan cincin kebenaran di tangan kanannya kearah lukisan di dinding itu. Dimas juga berdiri tepat didepan dinding mengulurkan cincin kebenaran miliknya. Diikuti oleh Raji melakukan hal yang sama. Tidak ada perubahan apapun. Cincin kebenaran mereka tidak menyala seperti waktu di depan pintu ruang keinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa tidak ada reaksi apapun yah.” Pafi kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin caranya salah” Dimas mencoba mencari cara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba bunyi suara langkah seseorang makin dekat terdengar dari koridor di luar ruang belajar. Dimas, Pafi dan Raji segera saja menjadi panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Matikan lampunya cepat” Pafi meminta Dimas mematikan lampu jarak yang sedang dipegangnya. Dimas dengan reflek segera meniupnya hingga padam.&lt;br /&gt;Mereka segera bergegas meninggalkan lukisan itu dan bersembunyi di bawah meja. Dalam keadaan gelap gulita Dimas dengan merangkak di lantai bergerak menjauhi dinding menuju bawah meja belajar diikuti Pafi dan Raji. Mereka bertiga bertahan di kolong meja sambil menahan nafas menunggu suara langkah itu makin mendekat. Suasana menjadi hening, hanya suara langkah kaki yang terdengar makin mendekat. “plak…plak….plak….plak…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama tiba-tiba pintu ruang belajar terbuka dengan suara keletak yang khas. Sesosok bayangan tinggi yang tidak jelas memasuki ruangan dan bergerak menuju lukisan di dinding. Raji pucat setengah mati. Tubuhnya mengkeret memeluk Dimas. Dimas berjuang keras menahan cengkrama Raji yang membuatnya sesak nafas. Jantungnya berdegup sangat cepat. Pafi melotot tajam tidak bergerak melihat kaki orang itu. Setelah di hadapan lukisan sosok itu seperti membuka sesuatu di hadapannya. Sinar lembut menyeruak masuk dengan terbukanya sebuah pintu di hadapan sosok itu. Kemudian sosok itu memasuki pintu itu dan menghilang bersamaan dengan lenyapnya pintu itu dari tempat lukisan dinding itu berada dan kembali menjadi lukisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas berhasil melepaskan cengkraman Raji. Pafi dan Raji memandang dengan seksama mencoba mengenali siapa yang baru saja masuk. Tapi suasana terlalu gelap dan hanya bentuk pakaiannya saja yang mereka kenali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa dia ? sepertinya bentuk sosoknya kita tidak pernah lihat sebelumnya” Dimas bertanya pelan. Degup jantungnya masih belum teratur. Tangannya terasa dingin dan berkeringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapapun dia, yang penting dia juga manusia, karena dia memakai pakaian dan kakinya menapak lantai.” Raji berusaha menenangkan diri. Mukanya sudah seputih kapas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tadi memperhatikan gerakan yang dia lakukan ?” Pafi bertanya khusus kepada Dimas. Dia yang terlihat paling tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak..tidak…. terlalu gelap, satu-satunya yang sempat kita lihat adalah saat cahaya lemah itu masuk melalui pintu gaib yang terbuka, itu pun Cuma bagian punggung saja” Dimas menjawab dengan menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita harus segera kembali ke kamar” Raji berusaha bangkit dan keluar dari kolong meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan dulu, kita harus selidiki dulu apa yang tadi dilakukan orang itu” Pafi mencegah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, Raji benar Pafi, sebaiknya kita sudahi saja dulu malam ini. Sudah cukup apa yang kita lihat tadi. Kita bisa melanjutkannya besok setelah pulang sekolah.” Dimas bergerak keluar dari kolong meja. Pafi hanya mengangguk setuju walaupun hatinya masih begitu penasaran dengan yang baru saja dilihatnya. Dengan perlahan mereka bertiga kembali mengendap-endap keluar ruangan belajar dan kemudian berpisah di tangga. Dimas dan Raji kembali ke bangsal putra sedangkan Pafi ke bangsal putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------ “” ------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari saat menuju sekolah Dimas, Pafi dan Raji sudah kembali terlibat dalam pembicaraan mengenai aksi yang mereka lakukan semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin nanti malam kita bisa coba lagi.” Pafi berkata tak kalah penuh semangat dengan Raji. Mendengar usulan Pafi untuk kembali lagi nanti malam, Raji mengkerutkan alisnya. Sepertinya apa yang dirasakannya semalam muncul kembali dengan usulan Pafi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, nanti malam kita akan ke ruang belajar lagi pada jam yang sama. Kau setuju kan Raji ?” Dimas menyetujui usulan Pafi. Dimas menatap Raji yang hanya nyengir kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau yakin Dimas ? nanti malam kan malam Jum’at” Raji sedikit enggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ini penakut seperti ayam betina saja” Pafi menyergah Raji. Pafi sangat paham sifat Raji yang tidak mau disebut penakut. Kalau dia sudah dikatakan penakut, pastilah dia akan menyanggupinya. Benar saja, Raji balas menyergah Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak takut, aku hanya berhati-hati. Kita lihat nanti malam, siapa yang lebih berani” Raji menyorongkan kepalanya ke arah Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, kalau begitu tidak ada masalah” Pafi melipatkan kedua tangannya dan mendongakan wajahnya ke angkasa. Wajah Raji terlihat begitu gemas melihat tingkahnya, sementara Dimas hanya tersenyum-senyum melihat tingkah kedua sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan, akhirnya mereka tiba juga di sekolah, sesaat sebelum memasuki gerbang sekolah Dimas memandang dua orang lelaki yang berdiri di pinggir gerbang.  Keduanya mengangguk dan tersenyum kepada Dimas yang dibalas dengan anggukan dan senyuman pula oleh Dimas. Melihat perilaku tersebut Pafi dan Raji terheran-heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tersenyum kepada siapa Dimas” Pafi bertanya heran dan mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dimana Dimas memberikan anggukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kedua orang itu di pinggir gerbang” kata Dimas santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang mana ?” Raji menoleh mencari dua orang yang dikatakan Dimas berdiri di pinggir gerbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu, kedua lelaki itu, aku masih melihat mereka sekarang” Kata Dimas sambil menunjuk ke arah pinggir gerbang sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada siapa-siapa di pinggir gerbang itu, aku tidak melihat siapapun kecuali gapura” Pafi menegaskan apa yang dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, aku juga tidak lihat siapapun” Raji menguatkan apa yang dikatakan Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa kalian tidak melihat mereka ? dua orang lelaki berpakaian jawa dan mengenakan blankon” Dimas masih saja menunjuk ke arah yang menurut Pafi dan Raji adalah kosong. Pafi dan Raji tetap menggeleng-gelengkan kepala mereka. Dimas mulai bingung dan mulai tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi…. Kalau aku dapat melihatnya sedangkan kalian tidak, lalu dinamakan apa mereka ?” Dimas mulai melempar sebuah pertanyaan yang bagi Raji membuat bulu romanya berdiri sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hantu…hiiiiiiiiiiiii” Raji langsung nyeletuk dan merapatkan jalannya dengan Dimas. Dimas dan Pafi tetap diam berpikir, tak ada jawaban lain selain yang diberikan Raji untuk dapat menjelaskan keberadaan orang-orang gaib. Selama hidup mahluk gaib yang mereka kenal hanyalah berjenis malaikat, iblis, setan, jin, kuntil anak dan semua turunannya. Semuanya tidak ada yang berbentuk seperti manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apakah berarti orang yang tadi malam masuk ke dalam pintu gaib adalah juga hantu ?” Dimas tiba-tiba menyentak semua keheningan diantara mereka bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah kalian juga melihat sosok itu semalam” Dimas bertanya memastikan kepada kedua sahabatnya. Pafi dan Raji terdiam bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, aku rasa yang kita lihat semalam itu bukanlah hantu, karena sosoknya begitu nyata. Kita juga merasakan ketukan langkah kakinya” Pafi mencoba menepis pendapat Dimas. Raji hanya mengangguk-angguk sementara Dimas masih berpikir keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa hubungan sosok yang sama-sama kita bertiga bisa lihat dengan dua orang lelaki tadi yang hanya aku bisa melihatnya” Dimas kembali melemparkan pertanyaan kepada kedua sahabatnya. Tetapi sebelum mendapatkan tanggapan bunyi besi yang dikentongkan keras tanda masuk sekolah sudah dimulai. Ketiganya segera bergegas menuju kelas dimana pak Suryo guru hanacaraka sudah berdiri di depan pintu menunggu para siswa memasuki kelas. Ini satu-satunya kelas dimana Dimas menulis, karena pada pelajaran ini harus melakukan banyak latihan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat pagi anak-anak” Pak Suryo mengucapkan salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat pagi pak guru” jawab seluruh anak-anak di kelas yang hanya berjumlah 40 orang. Semua anak-anak mulai mengeluarkan kertas dan alat tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku heran, kenapa kita harus belajar huruf-huruf yang sangat jarang kita gunakan dalam kehidupan kita sehari-hari” Raji menggerutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Supaya kau mengerti kejayaan bangsamu jaman dulu, bahwa bangsa ini adalah bangsa yang pandai, dan tidak seharusnya dijajah seperti sekarang.”&lt;br /&gt;Dimas menjawab gerutuan Raji dengan santai. Raji sangat terkejut dengan jawaban Dimas yang kali ini dirasakanya agak berbeda. Biasanya Dimas sangat berhati-hati dalam memberikan pendapat mengenai penjajahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben kau berkata agak lain mengenai bangsa ini, apakah karena pelajaran sejarah nasional Hindia Belanda pak Kusumo ?”  Raji melirik Dimas dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sssssttt….jangan berisik, pelajaran sudah akan dimulai”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi yang berada di meja di sebelah Raji memelototkan matanya ke arah Raji. Raji langsung merengut dan menarik kertas dan alat tulisnya, Dimas hanya tersenyum geli melihat tingkah kedua sahabatnya. Pelajaran pun dimulai, Pafi dan Dimas terlihat begitu menikmati menulis hanacaraka, sementara Raji terlihat begitu sengsara dengan banyak melakukan kesalahan goresan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-7372190519922142543?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/7372190519922142543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=7372190519922142543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/7372190519922142543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/7372190519922142543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/bagian-2-orang-misterius-suasana-ruang.html' title='BAGIAN 2 - PINTU GAIB YANG LAIN'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5289373966309588824.post-1253562956792615134</id><published>2008-03-03T01:41:00.000-08:00</published><updated>2008-03-23T18:57:46.321-07:00</updated><title type='text'>BAGIAN 1 - MIMPI-MIMPI DIMAS</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kebun Jagung, huma dan api unggun mengepulkan asap tipis ke udara. Sudah lima hari sejak terakhir Dimas, Raji dan Pafi kembali dari dunia Narapati. Pikiran Dimas masih melayang. Keberadaan dunia tengah menjadi obsesi baru untuk dicari. Pak Narso asyik sekali membolak-balik beberapa bonggol jagung yang sedang dibakar di atas api unggun. Mbok Sinem merapikan nasi dan lauknya sisa makan di atas sebuah tampah bambu beralaskan daun pisang. Beberapa pincuk daun pisang sisa pakai bergeletakan di sebelah tampah. Pafi menciptakan angin puyuh kecil ke atas bara api tempat jagung sedang dibakar. Dimas dan Raji berjongkok di depan api menunggu dengan tidak sabar. Raji menutup hidungnya dengan tangan mencoba menepiskan asap yang berputar-putar di depan wajahnya. Matanya terasa pedas sekali terkena asap. Dimas membuat perisai gaib di depannya membuat asap melewatinya.&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan penelitian anak semua tentang kota Sunda Buana, apakah sudah selesai dikerjakan ?” Pertanyaan pak Narso terasa sangat aneh. Tidak pernah dan tidak biasa pak Narso menanyakan hal-hal diluar ladang jagungnya. Dimas agak terkejut mendengarnya. Dirinya lupa kalau dulu pernah bertanya mengenai Sunda Buana kepada pak Narso. Dan Pafi memberikan alasan ada tugas membuatnya.&lt;br /&gt;"eh iya pak, sedang dikerjakan. " Pafi segera menutupi kegugupan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan perkembangan kemampuan anak semua ?" tanya pak Narso lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih sama pak, kami belum menemukan hal baru dalam pengembangan kemampuan kami" jawab Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengembangan kemampuan tidak bisa diajarkan oleh siapapun. Anak sendiri yang harus menemukannya sendiri sesuai dengan kesiapan kalian dan sifat-sifat yang kalian bawa. Anak semua harus mengolah semua kemampuan sampai tingkat tertinggi. Disitulah letak perbedaan seorang ksatria dengan rakyat biasa." Pak Narso terus membolak balik jagung di atas bara api. Sebuah yang sudang matang diberikan kepada Raji yang sudah seperti kucing melihat ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah ada hal baru yang anak temukan belakangan ini?" tanya pak Narso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada pak, kemarin saya bermimpi" Dimas menyahut. Pak Narso langsung memberikan perhatian serius. Sisa jagung yang masih dibakarnya di angkat dan diletakan di atas lembaran daun pisang. Menceritakan hal-hal aneh baru yang mereka temui menjadi sebuah kebiasaan sekarang. Dimas tidak canggung lagi menceritakan semua hal aneh yang ditemuinya. Walaupun ada beberapa yang masih disimpannya sendiri. Termasuk petualangan mereka ke dunia Narapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mimpi apa nak Dimas ?" pak Narso kelihatan sangat ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya bermimpi tentang sebuah perang di sebuah lembah di kaki gunung. Gunung itu meletus dengan dahsyat sekali. Kemudian sebuah cahaya keluar dari gunung itu dan mengeluarkan suara. Suara itu bicara tentang Buku Kehidupan. Kemudian menghilang dengan cepat. Bagaiamana pendapat pak Narso tentang mimpi saya tadi. Apakah ada sesuatu yang akan terjadi?" Dimas menceritakan ringkas apa yang dilihat dalam mimpinya. Tidak dijelaskan bagaimana Buku Kehidupan masuk melalui kepalanya. Dimas ingin hal ini tetap menjadi rahasianya sendiri dulu. Pak Narso diam saja. Pafi ikut menunggu jawaban pak Narso. Sedangkan Raji masih sibuk dengan jagungnya. Dimas lebih menginginkan reaksi pertama dari wajah pak Narso dari pada jawabannya. Dan Dimas tidak mendapatkannya. Pak Narso tetap tenang dan tidak memperlihatkan sebuah reaksi yang berbeda.&lt;br /&gt;"Sepertinya mimpi nak Dimas aneh sekali. Sebuah perang di lembah sebuah gunung yang sedang meletus. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi ?” Pak Narso tetap memberikan reaksi yang tidak mengerti. Sejenak melihat kepada Mbok Sinem yang sedang ikut menyimak pembicaraan. Matanya menyiratkan rasa khawatir. “Lebih baik nak Dimas menggiatkan latihan semadi untuk meningkatkan daya pemusatan pikiran sehingga bisa terhindar dari mimpi-mimpi buruk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah pak Narso, saya akan mencoba berlatih lagi.” Dimas menuruti nasehat pak Narso. Ada rasa kesal dalam hatinya. Bukannya mendapatkan jawaban tetapi malah disuruh latihan. Tetapi pikiran itu dibuang jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk sementara saya minta anak semua tidak menggunakan kemampuan kalian dalam keadaan apapun. Berlatihlah memusatkan pikiran dan penyerapan tenaga. Jangan sampai ada yang dilepaskan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa pak Narso” Raji sangat tidak setuju dengan saran pak Narso. Dalam pikirannya tak ada lagi kesenangan membuat Aryo dan gengnya harus mundur saat berusaha mengerjai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini untuk kebaikan anak semua” Pak Narso kelihatan serius sekali. Raji tidak lagi bertanya ataupun mengeluh. Wajah serius pak Narso yang belum pernah dilihatnya cukup memberikan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah pak kami berjanji untuk mematuhi nasehat bapak” kata Dimas. Pak Narso bernafas lega mendengar kesanggupan mereka semua. Suasana kembali ceria, tangan Raji sudah menyambar satu bonggol jagung lagi. Dimas dan Pafi tidak ketinggalan mengambil bagian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---- *** ----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi begitu cerah, kutilang di puncak pohon mangga begitu bahagia mengembangkan sayapnya. Sepertinya baru hari ini dia merasakan hangatnya siraman sinar matahari pagi tanpa terganggu oleh dentuman-dentuman meriam. Hampir setengah bulu di kepalanya rontok karena terlalu stres akibat bunyi keras bom yang setiap hari mengganggu acara makannya. Sisa-sisa pertempuran telah habis diguyur hujan semalaman, embun pagi berkilauan menyembul di ujung-ujung tajam rumput liar yang tumbuh di sepanjang pematang sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerilya yang dilakukan tentara sekutu semalam telah mengguncang pusat kota. Sejak kemarin bungker-bungker Jepang telah di bombardier oleh pesawat-pesawat sekutu. Serangan malam itu begitu hebatnya baik di darat, laut dan udara. Burung-burung besi berseliweran di atas kota menjatuhkan bom-bom yang menghantam pusat-pusat logistik dan barak-barak prajurit Jepang. Hari ini dari yang terdengar di radio, Jepang telah menyerah. Hiroshima dan Nagasaki telah dibom atom. Kabarnya seluruh kota luluh lantak hanya dengan sebuah bom saja. Tetapi perang masih saja berkecamuk walau sifatnya sudah mulai sporadis, rupanya para prajurit Jepang belum mendengar berita pengakuan kekalahan negaranya atas sekutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah tempat diujung timur kota Jogjakarta, jauh dari hiruk pikuk perang di sebuah desa dekat kota Magelang, di antara tiga bukit barisan Menoreh menjulang bernama Borobudur. Sebuah rumah kayu berdiri kokoh dengan atap genteng tanah liat khas jawa. Warna kayunya menunjukan usianya yang sudah sangat tua tapi tetap kokoh dengan pondasi batu kali berdiri dipinggir sebuah sungai yang tidak begitu besar tetapi sangat jernih airnya.  Jendela kayu berventilasi kecil memancarkan sinar lampu minyak jarak yang menggantung ditengah ruang utamanya yang berukuran empat kali enam meter. Rasanya kedamaian didalamnya begitu jauh dari hiruk pikuk perang dunia kedua yang sedang ikut membawa negeri ini ambil bagian di dalamnya. Meja kayu sederhana terbuat dari jati tua dikelilingi empat kursi berukir berbentuk daun-daunan menghiasi ruangan itu.  Lantai batu kali yang disusun begitu rapi dan tampak mengkilat hanya pada bagian yang sering dipijak. Dinding kayu ruangan utama dihiasi koleksi berbagai jenis tombak dan keris membuat wibawa pada ruangan yang memang terasa megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ruangan lain dalam rumah itu terdiri dari 2 kamar tidur dan ruang makan sekaligus dapur yang dilengkapi dipan tempat lesehan. Aroma arang kayu begitu kental mengitari seluruh udara di ruang makan. Bagian langit-langit dapur yang bersemu hitam menampakan bekas-bekas kegiatan khas dapur dengan berbagai macam perlengkapan terbuat dari bambu dan logam yang menggantung di dindingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari arah dapur, seorang laki-laki menggunakan blangkon,  baju kerah jawa bergaris coklat dan kain batik bergambar daun coklat tua duduk di atas dipan. Usianya baru 40 an, wajahnya yang segar tampak sangat berwibawa terlihat melalui pancaran matanya yang tajam. Lelaki itu duduk bersila di atas dipan yang persis menghadap ruangan utama. Sambil menghisap cangklong tambakaunya dia memanggil lembut seorang anak laki-laki yang baru saja keluar dari ruang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemari anakku, mendekat pada ayah”  sambil melambaikan tangannya. Anak yang kira-kira berumur tiga tahun itu tersenyum dan segera berlari kecil menghampiri lelaki tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas mimpi apa ?” katanya sambil meraih anak kecil tersebut ke atas  pangkuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepang kalah, lepulik meldeka” Dengan lidah yang masih kelu dan belum lancar mengucap, kata-kata itu terlontar dari mulut anak kecil itu begitu saja tanpa mengerti maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh..hooo..hoo….Jepang kalah, Republik merdeka” Lelaki itu mengulang ucapan anaknya dengan nada suara yang begitu tenang. Dia membetulkan posisi duduk anaknya di atas pangkuannya, sambil mengembangkan telapak tangannya ke arah sebuah baki bambu yang penuh dengan singkong rebus yang kemudian bergerak melayang sendiri ke arahnya. Anak kecil itu berteriak gembira melihat ayahnya melakukan hal itu. Dia bisa menggerakan benda-benda dengan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah ajali Dimas sepelti itu” pinta si anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh.ho..ho…Dimas mau belajar ?” katanya sambil mengelus kepala anaknya penuh kasih sayang. Si anak tersenyum gembira sambil mengambil sepotong singkong rebus dari baki bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas…dimas….. bangun” Sebuah suara terdengar. Tubuhnya merasa diguncang-guncang. Dimas yang sedang tidur gelisah dalam mimpi bangkit dari tempat tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah………dimana aku….”  Matanya merah, napasnya tersengal-sengal, keringatnya mengucur deras, memandang sekeliling ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimas ini aku Raji, kau mimpi buruk lagi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebelahnya Raji telah duduk memegang bahunya berusaha mengajak Dimas berbicara. Mata Dimas masih memandangi seluruh ruangan dan tempat tidur berjejer orang-orang berbaring di kasur-kasur di dalam ruangan bangsal. Dimas mulai teringat kembali dimana dirinya berada. Bangsal ini adalah ruang tidur bersama yang sudah tujuh tahun ditinggalinya bersama Raji dan teman-teman senasib lainnya, tanpa ayah tanpa ibu, dan sekarang sahabat baiknya Raji sedang duduk dipinggir tempat tidurnya. Nelangsa terlihat dari guratan wajah ketika Dimas berusaha mencoba mengingat mimpinya tadi mimpi yang mulai menghantuinya sejak kembali dari dunia Narapati. Tiba-tiba saja dirinya merasakan kebahagiaan bersama ayah ibunya, walaupun hanya bisa dirasakan lewat mimpi-mimpi. Setiap kali Dimas berusaha menghitung usianya yang sekarang 13 tahun, dia benar-benar tidak bisa mengingat tahun yang dia jalani bersama kedua orang tuanya sejak terakhir ayahnya berkata akan mengajarinya dan menunjukan sesuatu. Hanya kalung kain hitam peninggalan terakhir kedua orang tuanya yang selalu melingkar di lehernya sejak bayi. Harapan dan kebahagiaan yang dulu tidak pernah terpikirkan olehnya kini dirasakan begitu menyakitkan. Matanya nanar, tidak mampu menjawab pertanyaan Raji. Raji hanya duduk menunggui sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja bunyi bel berdering keras membangunkan seisi kamar, pagi itu masih pukul 5 dini hari, seorang perempuan berambut pirang masuk, dengan teriakan yang keras berkata dalam bahasa Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“vlug… vlug……vlug…goede morgen. Ei…. rrRaji kowe nggawe opo. Tumben kowe wis tangi toh.”   Nyai Janis dengan campuran Jawa menunjukan jarinya ke arah Raji yang sedang duduk di samping Dimas. Raji hanya tersenyum, kembali ke tempat tidurnya mengambil handuk yang tergantung di pinggir tempat tidurnya. Anak-anak yang lain juga segera mengambil handuk yang tergantung rapi di tepi tempat tidur masing-masing dan bergegas keluar ruangan berjalan melalui koridor yang cukup lebar. Nyai Janis mengawasi mereka dari belakang dan kemudian menutup pintu bangsal. Dimas bergegas menyusul Raji menghindari tatapan Nyai Janis yang sangat ingin tahu. Sepanjang koridor menuju ruang mandi umum, Raji terus berusaha mengorek mimpi Dimas yang baru saja terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau mimpi hal yang sama kali ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raji setengah berbisik kepada Dimas dengan ekspresi wajah yang penuh ingin tahu. Dimas mengiyakan dengan mengganggukan kepalanya tanpa berkata apapun, kepalanya  masih dipenuhi tanda tanya besar mengenai arti dari mimpi-mimpinya yang seakan tidak ada kaitannya dengan kehidupannya. Dimas merasakan ada kejanggalan dalam mimpi-mimpinya. Dimas merasakan ada ketidak cocokan waktu yang selama ini dicobanya untuk disingkap lewat mimpi-mimpinya. Tetapi kecurigaannya hanya disimpannya sendiri saja, Raji memang selalu diberitahu mengenai semua mimpi-mimpinya, tetapi Dimas tak pernah memberitahu Raji mengenai penafsirannya terhadap mimpinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut yang didengarnya dari ibu asrama yang merawatnya, Dimas dititipkan karena kedua orang tuanya sudah meninggal dunia ketika dia berumur 2 tahun dan tidak ada saudara lain yang diketahuinya. Dari hal terakhir yang dia ingat adalah dia masih berusia 2 tahun sedang asyik bercengkrama dengan ayahnya. Ibu asrama kurang memberinya kepuasan dalam mengetahui asal-usulnya. Seakan dia merasa dirinya terlempar saja dari sebuah dunia lain ke tempatnya sekarang berada. Tak ada yang memberitahunya, bahkan Ibu asrama pun selalu menolak menceritakannya setiap Dimas berusaha mengetahui asal-usul keberadaannya. Rasa frustasi dan nelangsa terus menggandrungi hatinya, Dimas merasa ada bagian dari dirinya yang tidak dikenalnya sama sekali seringkali muncul dan dirasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali setelah mandi, Dimas dan Raji sedang berusaha menyiapkan semua perlengkapan sholat menuju mushalla asrama. Azan subuh sudah berkumandang ketika mereka berdua memasuki ruangan musholla. Selesai sholat semua anak-anak biasanya melanjutkan untuk bersiap-siap melanjutkan aktifitas berikutnya. Jam tujuh semua anak laki-laki sudah bersiap-siap berangkat menuju sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan keluar asrama, hampir seluruh anak-anak yang tinggal di asrama itu berangkat ke sekolah. Dimas dan Raji bergegas berjalan di antara puluhan anak-anak yang lain. Sebelum sampai gerbang pagar, mereka bergabung dengan Pafi yang sudah menunggu di depan gerbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pafi, apakah kau sudah mengerjakan PR sejarah ?” Raji menyapa Pafi dengan wajah yang agak ramah kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmmm…tentu saja sudah dan kali ini kau tidak akan aku biarkan mencontek lagi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi menjawab dengan wajah yang bangga dan sedikit mengejek. Wajah Raji berubah cemberut, lalu pandangannya diarahkan kepada Dimas dengan senyum penuh harap. Dimas yang melihat wajah Raji segera menjawab pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku Raji, sudah waktunya kau berusaha dengan kemampuanmu sendiri. Aku yakin kau lebih dari mampu untuk mengerjakannya sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban itu Raji menunduk murung. Setelah semalam dia gagal berusaha untuk membuat PR nya sendiri, kali ini usahanya yang terakhir tidak berhasil membujuk Pafi dan Dimas meminjamkan PR mereka kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah semalaman berusaha membuat PR nya, tapi tetap aku tidak bisa menyelesaikannya. Ayolah, kalian kan sahabatku, masak untuk kali ini saja tidak mau membantu”  Raji merajuk yang diakhiri dengan senyum menunjukan gigi-giginya yang berbaris rapi dan alis yang diturun-naikan. Karuan Pafi makin sebal melihatnya, dengan wajah yang cemberut dia membuang muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini bukan kali pertama kau tidak menyelesaikan PR mu, kami sudah terlalu sering meminjamkan PR kepadamu, karena aku sahabatmu aku tidak mau meminjamkannya lagi, karena nanti kau akan jadi orang bodoh dan aku tidak mau mempunyai sahabat bodoh” Pafi menyudahi omelannya dengan menjulurkan lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar yang Pafi bilang Raji, kau harus membuat PR mu sendiri”. Kata Dimas pelan, diikuti ekspresi Raji yang tampak kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu ceritakan tentang mimpimu semalam” Raji bersemangat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mimpi lagi ? Mimpi apa semalam. Kau harus ceritakan kepada kami” Pafi ketularan Raji. Dimas terlihat malas sekali menceritakannya. Tapi wajah kedua sahabatnya yang begitu bersemangat mendengarkan membuat hatinya tidak tega mengecewakan mereka. Dimas menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, aku akan ceritakan.” Raji dan Pafi bersorak kegirangan.  Dimas menceritakan semua mimpi yang dilihatnya semalam. Pada beberapa bagian dia kelihatan malas sekali melanjutkan. Tapi Raji dan Pafi tetap mendengarkan dengan cermat. Tak sekalipun mereka mengalihkan perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ingin meminta pendapat pak Narso tentang mimpimu ?” tanya Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, aku pikir mimpiku yang ini lebih merupakan mimpi pribadiku sendiri. Jadi aku tidak akan menceritakannya pada pak Narso” Dimas menolak ide Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi mimpimu sebenarnya memang aneh. Bangsa Jepang kan ada di utara dan mereka memang sedang terlibat perang di sana. Tapi tidak di sini.” Pafi mulai beranalisa. Kebiasaan yang sering dilakukannya. Analisa  Pafi memang sering sekali tepat. Biasanya mereka akan selalu mengikuti insting Pafi dalam melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin mimpimu bercerita tentang masa depan ? Biasanya mimpi kan juga merupakan pertanda tentang suatu kejadian di masa depan.” Raji terdengar lebih cerdas dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa jadi begitu. Tapi lebih baik kita cari saja di buku tafsir mimpi. Atau buku tentang ramalan.” Kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ramalan Jayabaya!” seru Raji. Dimas dan Pafi saling pandang. Sepertinya jawabannya sudah mereka dapatkan dari Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita kumpul nanti di ruang belajar setelah sekolah selesai.” Raji dan Pafi setuju dengan usulan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka duduk di kelas yang sama, sekolah mereka tidak jauh dari asrama, kurang lebih 15 menit dengan berjalan kaki menyusuri jalan utama menuju pusat kota Jogjakarta. Sekolah mereka tidak jauh dari jalan dekat kraton kesultanan Jogjakarta, setiap sore pulang sekolah mereka biasanya sempatkan berjalan melewati alun-alun dalam kraton sampai tembus jalan pasar malioboro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu pelajaran sejarah nasional Hindia Belanda, setelah kemarin-kemarin mereka begitu bosan memperlajari sejarah eropa dan kerajaan Netherland, sekarang mereka cukup gembira dengan pelajaran sejarah tanah tempat mereka tinggal sekarang. Tetapi seringkali menjadi menyebalkan dengan cerita kehebatan VOC merampok negeri ini. Dalam ruangan kelas yang berbau debu, didepan terdapat papan tulis kapur berwarna hitam yang sudah sulit sekali dibersihkan bekas goresan tangan sebelumnya. Di atas papan tulis tergantung gambar Ratu Netherland yang begitu anggun mengenakan baju warna ungu yang hampir semua orang diruangan itu berpikir aneh karena tidak seperti kebanyakan orang disini berpakaian. Kursi guru yang masih kosong menjulang tinggi dengan ukiran flora seperti kursi kebesaran. Tiba-tiba dari arah pintu masuk seorang lelaki tua berjenggot putih dengan mengenakan kopiah, berbaju jas pegawai negeri warna krem. Seketika seisi ruangan kelas bangkit dan mengucapkan salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Goede morgen”. Pak Kusumo mengangguk dan tersenyum. “ Bagaimana kabar kalian hari ini ?” sapanya ramah kepada semua murid kelas di dalam ruangan. Seluruh siswa menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik pak guru”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, hari ini kita akan mempelajari sejarah Hindia Belanda, silahkan mengeluarkan buku catatan dan dengarkan baik-baik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kusumo terus menjelaskan secara ringkas masing-masing episode sejarah diikuti gerakan semua siswa yang sibuk mencatat dengan tergesa-gesa mengikuti kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Pak Kusumo. Gerakan kepala menengok ke kiri dan ke kanan para siswa memastikan tulisan yang sempat tertinggal keteteran. Setiap titik yang ditandai dengan diam sejenaknya Pak Kusumo dimanfaatkan semua siswa untuk mengoyang-goyangkan tangannya yang pegal dan belepotan dengan tinta. Setiap sebuah kalimat dimulai kembali oleh Pak Kusumo kelihatan Raji begitu sibuk dengan ekspresi yang penuh penderitaan terus mencatat dengan kesal. Sejarah yang ditulisnya bukan seperti yang diharapkan sebelumnya. Isinya Cuma tentang penaklukan Belanda terhadap kerajaan-kerajaan di Nusantara. Rasanya seperti terdengar menjadi sebuah penjajahan dari pada kebanggaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus bergulir sampai akhir pelajaran sejarah selesai. Raji sudah setengah mati pegalnya mencatat, sementara Dimas tidak pernah mencatat sejak awal, dia asyik mendengarkan apa yang diceritakan oleh guru. Kebiasaanya sudah dimaklumi seluruh isi kelas dan guru-guru yang mengajar di sekolah itu, karena sebagai timbal baliknya, Dimas dapat mengulang kembali semua yang diuraikan oleh guru seperti sebuah rekaman. Daya ingat Dimas sangat kuat, jadi dia sering dijadikan tempat bertanya bagi para siswa yang ketinggalan catatan disekolahnya. Dimas sendiri tidak mengerti kenapa dia memiliki ingatan yang sangat kuat seperti itu, tapi kalau mencoba mengingat 3 tahun waktu yang hilang, dia sama sekali tidak sanggup melakukannya. Dia bahkan tak ingat wajah ayah dan ibunya. Hal membuatnya kadang merasa kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran terakhir telah selesai, Dimas, Raji, dan Pafi segera bergegas meninggalkan ruang kelas. Hari sudah siang tepat pukul satu, matahari yang sudah sangat tinggi diubun-ubun mulai sedikit condong ke arah barat. Hari yang amat tidak menyenangkan untuk berjalan kaki selama 15 menit di jalan yang panas berdebu. Dimas, Raji dan Pafi berjalan beriringan, di antara banyak siswa yang juga pulang bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat, Shinta terus-menerus memandangku, dia pasti naksir padaku” Raji cengengesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh…sok kegantengan” Pafi membuang mukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang aku ganteng kok, sebenarnya kamu juga suka kan?” Raji mengelus dagunya menyorongkan wajahnya ke Pafi yang persis disebelah kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi wajah Pafi merah padam, wajahnya ditundukan sambil berpura-pura menutup kupingnya untuk menutupi rona mukanya yang berubah. “Dasar lelaki”, katanya dalam hati. Sepanjang jalan, Raji terus mengoceh yang sesekali ditimpali oleh Dimas yang terus menerus tertawa melihat tingkah Raji yang dibalas sewot oleh Pafi. Dimas amat paham dengan tingkah polah kedua sahabatnya ini yang selalu bertengkar. Sama seperti waktu-waktu lalu yang mereka habiskan bersama. Mereka bertiga sudah berjanji tidak akan pernah membicarakan lagi soal Kerajaan Narapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan pulang kembali ke asrama Dimas, Raji dan Pafi melalui jalan tadi pagi yang mereka lalui. Mereka telah menghabiskan langkah mereka di atas jalan utama dan berbelok menuju jalan desa tepat lurus menuju asrama. Sepintasan Dimas melihat kemunculan dua orang laki-laki bertubuh tinggi besar yang sangat tiba-tiba muncul di depan mereka. Keasyikan mengobrol menyebabkan mereka tidak menyadari dari mana arah datangnya kedua orang tersebut. Ketika keduanya berpapasan mereka tersenyum kepada Dimas dan dibalas senyum juga. Raji yang melihat senyum Dimas kepada dua orang yang baru saja melewati mereka mengkerutkan alisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mengenal mereka ?” katanya sambil menatap wajah Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Eh… tidak, mereka tersenyum ya… aku balas senyum” Dimas menjawab seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi sepertinya jalanan ini kosong, tidak ada siapapun di depan kita”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi menambahkan sambil mengacungkan jari menunjuk jauh jalan desa yang sedang mereka lewati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiii… jangan-jangan hantu ya…”  Raji bergidik merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah…sudah jangan dilanjutkan” sergah Pafi yang mulai merasakan bulu romanya berdiri tegak dan tengkuknya menebal. Berhadapan dengan tukang pukul Pafi lebih berani dari pada harus berhadapan dengan yang tidak jelas kelihatan. Mereka bertiga kemudian bergegas menuju asrama dan tidak lagi menceritakan apa yang telah mereka lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah diperjanjikan. Dimas, Raji dan Pafi berkumpul di ruang belajar mencari bahan tentang ramalan Jayabaya. Pafi sudah mengambil setumpuk buku cerita lama. Raji yang paling bersemangat membaca. Raji paling menyukai sejarah nusantara. Menurutnya sejarahnya lebih hebat dibandingan Kerajaan Belanda yang tidak sepersepuluh wilayah Nusantara. Ramalan Jayabaya banyak dibicarakan di kalangan masyarakat Jawa. Pemerintah Hindia Belanda begitu takut dengan Ramalan itu. Karena masyarakat Jawa begitu percaya dengan Ramalan Jayabaya. Banyak tokoh-tokoh pemuda pergerakan mengutip ramalan Jayabaya dalam siding ‘Volksraad’ untuk menggerakan rasa nasionalisme. Pafi membolak-balik bacaannya. Raji sudah berkali-kali membaca semua kalimat-kalimat dalam Jangkha Jayabaya. Tapi tidak satu pun dari kalimat-kalimat itu yang dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin sebaiknya kita hentikan saja. Sepertinya memang masa depan adalah sesuatu yang harus kita biarkan dengan misterinya sendiri. Seperti kata-kata Ratu Kerajaan Selatan waktu itu ‘Masa depan adalah misteri, tidak mungkin ada yang bisa menerkanya. Begitu banyak jalan yang harus dipilih dari setiap nasib. Bahkan para pendahulu Bangsa Sinar Avedi dengan pikiran sebening intan masih samar melihatnya. Perjalanan harus dijalani dan diterka sendiri pada setiap persimpangan. Masa depan akan datang dengan sendirinya. Tetapi dia tidak akan lebih dari sekedipan mata, karena setelah itu dia akan menjadi masa lalu’ Tugas kita hanyalah menjalani hidup kita sekarang sebaik-baiknya. Memanfaatkan setiap waktu yang ada.” Dimas kasihan melihat kedua sahabatnya yang terlihat lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, mungkin kau benar Dimas.” Pafi terlihat pasrah. Raji tidak menolaknya.&lt;br /&gt;Mereka kemudian menyudahi semua pencarian mereka dan menyerahkan semuanya kepada masa depan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas, Raji dan Pafi meninggalkan ruangan belajar yang masih ramai oleh anak-anak yang lain. Hari ini sepertinya banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan.  Dimas sudah menyelesaikan semua PR nya dua hari lalu. Sekarang sedang dipinjam Raji sebagai ‘bahan pertimbangan’ kalau Raji tidak bisa mengerjakannya. Mereka berjalan ke kanan menyusuri koridor hingga ruang tengah dekat tangga. Tujuan mereka sekarang ke ruang makan. Setelah melewati tangga yang menuju ke lantai dua kembali menyusuri koridor lalu belok ke kiri. Sesaat sebelum masuk ke pintu ruang makan. Cincin di jari kanan Dimas seperti bergetar dan menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey sebentar! Lihat cincin kebenaran menyala. Ada apa ya ?” Tangan Dimas seperti bergerak sendiri mengarah terus menyusuri lorong melewati pintu ruang makan. Kemudian berhenti persis di sebelah pintu menuju gudang bawah tanah tempat menyimpan stok makanan. Sebuah pintu muncul di sebelah pintu menuju ruang bawah tanah. Awalnya pintu itu tidak ada. Kalau pun ada pasti masuk ke dalam ruang tidur Mbok Sinten. Yang persis di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pintu apa lagi ini ? Mengapa dia muncul karena cincin kebenaran ini ?” kata Raji setengah berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah! Cincin ini kan memang akan mengungkap apapun yang dirahasiakan.” Kata Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ssttt ada orang!” Pafi member peringatan. Tiba-tiba beberapa anak yang hendak makan siang muncul di ujung koridor. Dimas segera menarik tangan kanannya yang terjulur ke pintu itu. Mereka segera bergegas menuju pintu ruang makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengambil bagian makan masing-masing Dimas, Raji dan Pafi mengambil meja di bagian pojok yang cukup jauh dari anak-anak yang lain. Mata Nyai Janis tidak lepas dari mereka. Pafi menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Matanya berhenti pada tatapan Nyai Janis. Segera Pafi membuang wajahnya ke makanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyai Janis mengawasi kita. Sebaiknya kita tidak membicarakannya disini” Dimas dan Raji mengangguk setuju. Mereka hanya melanjutkan makan siang saja tanpa membicarakan apapun. Nyai Janis masih terus mengawasi mereka dengan lekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---- *** ----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sudah tahu kalau ada pintu gaib di lukisan dinding di ruang belajar. Tapi ini pintu yang lain. Dan pintu itu hanya terlihat saat kita mendekatkan cincin kebenaran. Jadi menurut kalian ini apa lagi ?” Dimas memulai pembahasan mereka. Pafi kelihatan serius sekali memikirkan hal dibalik kemunculan pintu gaib itu. Tetapi Raji kelihatan santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita datangi saja! Mana kita tahu kalau tidak membukanya. Kita kan belum sempat membukanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya bagaimana membukanya pintu itu tidak memiliki gagang sama sekali.” Pafi agak terpancing dengan sikap Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin kita datangi sekali lagi saja sekarang” usul Dimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang ? kau gila ini kan masih sore. Masih banyak orang berlalu lalang” Pafi tidak setuju dengan gagasan Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ingin melakukannya nanti malam maksudmu ?” Raji berkata dengan nada yang agak keberatan. Mengganggu jam tidur paling pamali buat Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah aku kira paling aman memang nanti malam” kata Dimas dengan berat hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masak kau setuju dengannya Dimas ?” Raji makin keberatan. Terbayang suasana hangat di kasurnya harus diganti dengan rasa dingin dan gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari pada ketahuan. Kau pilih mana ?” Pafi menantang Raji. Raji tidak bisa menjawab lagi selain setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari mereka sudah berada di lantai bawah mengendap-enap. Raji berjalan setengah diseret Dimas. Mulutnya masih menguap lebar setiap saat. Saat di sebelah pintu gudang bawah tanah cincin kebenaran di tangan kanan Dimas bergetar dan menyala. Sebuah pintu terlihat. Tidak ada gagang sama sekali yang bisa ditarik untuk membuka. Pafi mendorong pintu itu. Tapi tidak bergerak sama sekali. Cincin di tangan kanan Pafi juga bersinar. Dimas lalu menarik Raji dan menyorongkan tangan kanannya ke depan pintu. Cincin di tangan kanan Raji bersinar terang. Kini tiga cincin telah bersinar terang di depan pintu itu. Sebuah tulisan muncul perlahan bersinar keemasan. Tulisan dari bahasa yang dimengerti oleh Dimas. Bahasa Sinar Avedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini Gandrung Mocopati putra Narajalaseva pernah berdiri dan masuk ke dalamnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gandrung! Apakah dia hidup selama itu!” Pafi setengah memekik. Raji yang matanya masih berat tiba-tiba terbuka lebar mendengar nama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gandrung! Mana Gandrung!” Raji mencari-cari menengok kesana kemari. Dimas menyorongkan wajah Raji ke depan pintu. Raji melihat tulisan bahasa Sinar Avedi di atas pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa saja, dia kan setengah Narapati setengah Sinar Avedi. Dia mewarisi keabadian ibunya yang Sinar Avedi.” Kata Dimas sambil memperhatian tulisan-tulisan Sinar Avedi yang terukir di pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai sekarang aku masih belum juga bisa membaca tulisan ini. Bahasa Sinar Avedi sangat rumit.” Kata Pafi mendekatkan matanya pada tulisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiga cincin dari tiga sahabat adalah kuncinya” Tiga buah ukiran berbentuk kepalan tangan dengan lubang ditengahnya seukuran cincin muncul di bawah tulisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo letakan cincin kita disini.” Raji dan Pafi mengikuti perintah Dimas. Kemudian mereka meletak masing-masing tangan mereka ke dalam tiga lubang itu. Sesaat kemudian pintu itu terbuka. Lalu masuk ke dalam ruangan di baliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tangga menurun ke bawah yang diterangi oleh cahaya-cahaya obor di pinggir dindingnya. Di bawah tangga terdapat sebuah ruangan yang besar dan terang kosong. Bentuk yang bundar mengingatkan mereka pada ruangan keinginan di kota Sunda Buana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ruangan ini mirip sekali dengan ruang keinginan” kata Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan mirip, tapi ini adalah ruang keinginan” Dimas menunjuk sebuah tulisan bahasa Sinar Avedi yang terpahat mengelilingi dinding bagian atas ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahulu Gandrung Mocopati putra Narajalaseva pernah berada di ruang keinginan ini. Menunggu dan memendam rindu pada tiga sahabat terbaiknya datang. Mengatakan padanya kalau mereka masih mengingatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi nyaris menangis mendengar arti tulisan yang di baca oleh Dimas. Raji hanya tertegun mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi tanpa pintu” kata Raji singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia menunggu kita. Tentu kami masih mengingatmu Gandrung. Kau sahabat terbaik kami.” Kata Dimas pelan. Tiba-tiba puluhan pintu muncul di seluruh dinding. Pafi, Raji tertawa senang melihat perubahan itu. Dimas berlari menghampiri sebuah pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita bisa pergi kemanapun sekarang!” Teriak Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau ke keraton Jogja” Raji membuka sebuah pintu untuk uji coba pertama. Saat pintunya dibuka tampak sebuah lapangan kecil di depan pendopo keraton di baliknya. Suasana sama gelapnya berarti pintu itu menunjukan waktu yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini ruang keinginan sungguhan! Terima kasih Gandrung!” giliran Raji berteriak keras. Pintu di hadapannya ditutup kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kita mau pergi kemana ?” Raji malah lebih semangat sekarang. Lebih semangat dari kantuknya beberapa saat lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tidur” Pafi meledek. Raji merengut. Pafi tertawa terbahak-bahak melihat raut muka Raji. Begitu pula Dimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja jalan-jalan anak bodoh. Terima kasih Gandrung. Tapi jalan-jalan kemana tengah malam begini ?” Pafi menggoda Raji. Raji kembali tersenyum.&lt;br /&gt;Dimas dan Raji berpikir kemana mereka akan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau ke Batavia?” usul Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ide bagus! Aku setuju! Kau bagaimana Raji” Belum lagi Raji menjawab mata Dimas melihat sebuah tulisan halus di atas sebuah pintu. Dimas mendekat. Pafi dan Raji tak lagi berbicara. Keduanya ikut mendekat. Samar Dimas menyebutkan isi tulisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika pulau Jawa tinggal selebar daun kelor, dan datang jago kate wiring kuning dedege cebol kepalang yang menguasai pulau jawa datanglah ke gerbang timur menjemput Nirwana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pintu ini khusus dibuat Gandrung untuk menyampaikan pesannya.” Dimas membuka pintu itu perlahan. Sebuah ruangan persis rumah Gandrung di Sundabuana berada di balik pintu itu. Meja makan dan semua kursinya yang terbuat dari kayu berukir indah. Kamar-kamar lain dimana Dimas, Raji dan Pafi menginap. Dapur tempat mereka keluar melalui cerobong sampah. Semuanya membangkitkan kenangan. Terbayang sekali Gandrung yang begitu kesepian sejak perpisahan mereka. Sebuah gulungan tergeletak di atas meja makan. Dimas mengambil gulungan berikat tali rami kemudian melepaskannya. Gulungan itu kosong. Tidak ada tulisan apapun di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa Gandrung meninggalkan gulungan naskah kosong ?” Dimas membolak-balik naskah kosong itu. Tidak petunjuk apaapun ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kira-kira apa maksudnya ?” Raji mulai berpikir keras. Hal yang benar-benar ajaib terjadi padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gandrung kan berdarah campuran Narapati dan Sinar Avedi. Dan seumur-umur dia sangat menyukai teka-teki Sinar Avedi. Pasti dia melakukan hal yang sama. Dia membuat pintu ruangan ini hanya bisa dilihat jika dekat dengan Cincin Kebenaran. Lalu menyembunyikan pintu-pintu ruang keinginan dari orang yang tidak pernah mengingat dan mengenalnya. Pasti juga dia membuat naskah ini tidak terbaca oleh siapapun kecuali yang dikehendakinya.” Pafi mengusap kertas naskah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang dia inginkan dari kita, kalau seandainya kau adalah Gandrung.” Dimas melontarkan pertanyaan pada Raji dan Pafi juga pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jelas dia membuatkan kita ruang keinginan yang sama persis dengan yang ada di kota Sundabuana. Artinya dia menginginkan kita pergi ke suatu tempat. Dia juga menyuruh kita datang pada waktu yang masih dia rahasiakan dalam bentuk kalimat rahasia. Dia juga membuat sebuah pintu langsung menuju ruangan yang persis dengan rumahnya dulu, artinya dia ingin kita mengingatnya dan petualangan-petualangan yang pernah kita lalui bersamanya. Dan dia meninggalkan naskah kosong, untuk kita…….” Pafi tidak dapat meneruskan kata-katanya lagi. Tidak ada yang terpikirkan olehnya maksud dari naskah kosong itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ingat ! saat terakhir kita berpisah dengannya. Aku menyerahkan naskah Agung Sinar Avedi padanya untuk melanjutkan pencarian tempat di dunia tengah. Mungkin dia menginginkan kita ke dunia tengah dengan naskah ini ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pafi berjalan mengelilingi ruangan, Raji memeriksa tiap kamar. Sementara Dimas masih memegangi naskah kosong itu. Saat Raji dan Pafi berada di ruangan yang lain tiba-tiba naskah itu bersinar mengeluarkan tulisan-tulisan bahasa Sinar Avedi yang bergerak liar. Dimas berteriak memanggil kedua sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raji, Pafi! Cepat kemari!” Raji dan Pafi bergegas menghampiri Dimas. Tetapi semua aksara itu hilang begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi muncul tulisan-tulisan Sinar Avedi di atas naskah ini. Sama persis dengan naskah Sinar Avedi yang baru dibuka. Aksaranya bergerak liar tidak beraturan.” Dimas mencoba menjelaskan apa yang dilihatnya. Tapi Raji dan Pafi tidak melihat apapun kecuali naskah kosong seperti yang sebelumnya mereka lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa hilang ? apakah kau melakukan sesuatu tadi ?” tanya Pafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, aku tidak melakukan apa-apa. Semuanya hilang begitu saja saat aku memanggil kalian berdua.” Dimas tidak dapat menjelaskan. Raji dan Pafi malah tambah bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin lebih baik kita kembali ke kamar saja. Kita lanjutkan semuanya besok.” Usul Pafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, lebih baik begitu.” Raji setuju usulan Pafi. Dimas tidak lagi bisa berkata apa-apa. Apa yang baru saja dilihatnya benar-benar tidak dimengerti. Setelah menggulung kembali naskah itu. Mereka meninggalkan ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Agar lebih cepat sepertinya kita bisa menggunakan pintu-pintu ini untuk sampai lebih cepat ke kamar tidur.” Kata Raji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ide yang bagus, ayo kita mulai!” Sambil mengucapkan tujuan mereka masing-masing mereka membuka pintu bersama-sama. Akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan gelap yang penuh dengan tempat tidur yang berjajar rapi. Kemudian mengendap-enap menuju tempat tidur masing-masing.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5289373966309588824-1253562956792615134?l=amukhsara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amukhsara.blogspot.com/feeds/1253562956792615134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5289373966309588824&amp;postID=1253562956792615134' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/1253562956792615134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5289373966309588824/posts/default/1253562956792615134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amukhsara.blogspot.com/2008/03/bagian-1-pintu-gaib-pagi-begitu-cerah.html' title='BAGIAN 1 - MIMPI-MIMPI DIMAS'/><author><name>Sundabuana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Q2p7Csus8FQ/SB6wP2eHV1I/AAAAAAAAAEU/brecGoXR5cQ/S220/pict0001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
